
Puas berbagi kehangatan melepas rasa rindu, Zayn melepaskan pelukannya dan menyapu pipi Zahira yang sudah sembab. Zayn mengecup kening, kedua mata, hidung, sepasang pipi, dagu dan berakhir di bibir Zahira. Zayn melu*matnya dengan penuh kelembutan.
"Sudah ya, jangan menangis lagi! Sekarang ada aku di sini," ucap Zayn setelah melepaskan pagutan nya.
Zahira terdiam mematut wajah Zayn. "Zayn, bibir kamu kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu terluka?" tanya Zahira sambil mengelus ujung bibir Zayn dan bandar hidungnya yang membiru.
"Tidak apa-apa, ini cuma luka kecil saja. Besok juga sembuh," Zayn menangkup tangan di pipi Zahira dan menyatukan kening mereka.
"Tapi kemeja kamu berdarah Zayn, apa yang terjadi sebenarnya?" Zahira bertanya lagi.
"Butuh sedikit perjuangan agar bisa sampai di sini. Tadi aku ke rumah Roni, ya beginilah akibatnya." Zayn tersenyum seperti tak pernah terjadi apa-apa.
"Zayn, kenapa kamu ke sana? Dia itu jahat Zayn. Beberapa waktu lalu aku bertemu dengan Amira, dia sudah menceritakan semuanya padaku. Dia juga yang memberikan bukti-bukti kelicikan Roni hingga perceraian kami dikabulkan pengadilan." jelas Zahira.
"Kamu nanya?" Zayn mengulas senyum dengan mata melebar.
"Zayn, aku serius." Zahira mencebik bibir.
"Aku ke sana demi kamu, aku tidak sanggup lagi menahan rasa rindu ini. Tiga bulan Zahira, itu bukan waktu yang singkat untukku." Zayn mengusap wajah dan menghela nafas berat.
"Aku juga rindu," Zahira menumpukan lututnya di lantai lalu mengalungkan tangan di tengkuk Zayn.
Mendadak dada Zayn terasa sesak saat wajahnya hilang di belahan dada Zahira. Tubuhnya memanas ketika bibirnya menyentuh dua gundukan kenyal milik wanita itu. Zayn meraba pinggang Zahira, tangannya bergerak semakin liar.
"Zahira..." gumam Zayn dengan tatapan tak biasa.
"Hehehehe... Ayo bangun, mandi dulu biar segar!" Zahira melepaskan pelukannya dan mengangkat tubuh Zayn.
"Zahira..." lirih Zayn yang sudah seperti orang linglung.
"Sssttt... Mandi dulu sana!" Zahira mengulum senyum dan mendorong dada Zayn.
"Tapi Zahira-"
"Tidak ada tapi-tapi. Cepat mandi dulu, kamu bau." Zahira menjauh dan berjalan menuju lemari. Dia mencari pakaian untuk Zayn, sayang tidak ada pakaian pria di dalam sana. Mau tidak mau Zahira terpaksa mengeluarkan piyama miliknya.
"Pakai ini saja dulu," Zahira menyerahkan piyama bermotif bunga terompet kepada Zayn.
"Zahira, kamu yakin menyuruhku memakai ini?" Zayn mengerutkan kening.
"Tidak apa-apa Zayn, hanya aku yang akan melihatnya." ucap Zahira.
"Ya sudah kalau begitu," Zayn menyambar piyama itu dan berjalan menuju kamar mandi.
Selagi Zayn tengah membersihkan diri di dalam sana, Zahira duduk di sisi ranjang. Dia mengambil iPhone miliknya dan memesan pakaian untuk Zayn. Setelah itu dia meninggalkan kamar dan turun menuju dapur. Zahira memasak makanan untuk mereka berdua, kebetulan dia belum makan sedari pagi. Melihat Zayn mendadak selera makannya muncul.
Beberapa menit kemudian Zayn keluar dari kamar mandi, kepalanya celingak-celinguk mencari keberadaan Zahira yang sudah tidak ada di dalam kamar. Tiba-tiba darah Zayn berdesir, air mukanya berubah panik, tanpa pikir Zayn langsung berlari meninggalkan kamar.
"Zahira..." teriak Zayn saat tiba di ujung tangga. Dia berlari menuruni anak tangga terburu-buru.
__ADS_1
"Zahira..." teriak Zayn sangat lantang.
"Iya, aku di dapur Zayn." sahut Zahira.
Zayn berlari ke dapur setelah mendengar sahutan dari Zahira.
"Astaga Zahira," Zayn memeluk wanitanya itu dari belakang. Zayn sangat takut, dia benar-benar takut ditinggalkan lagi oleh Zahira.
"Zayn, lepaskan aku! Aku lagi masak loh ini," keluh Zahira yang sudah mati langkah di dalam pelukan Zayn.
"Begini saja, aku takut kamu pergi lagi." lirih Zayn dengan suara tertahan. Dia menyibakkan rambut Zahira ke samping, lalu mengecup tengkuk wanitanya itu.
"Hehehe... Geli Zayn, jangan seperti ini!" Zahira menggeliat sambil tertawa kecil.
"Tapi kamu suka kan sayang," Mendadak panggilan itu keluar begitu saja dari mulut Zayn.
"Deg!"
Zahira mematung dengan jantung berdegup kencang. Seumur-umur baru kali ini dia mendengar seseorang memanggilnya dengan sebutan sayang. Benar-benar diluar dugaan tapi Zahira suka mendengarnya.
"Sini, biar aku saja yang masak!" Zayn mengangkat tubuh Zahira dan mendudukkannya di atas meja. "Ahh... Berat sekali," Zayn mengernyitkan dahi saat mengangkat tubuh Zahira.
"Sepertinya kamu gendutan, malam itu tubuhmu tidak seberat ini." keluh Zayn dengan nafas tersengal.
"Tentu saja, aku kan-" Zahira menghentikan ucapannya dengan cara membungkamnya dengan tangan.
"Tidak apa-apa," Zahira mengulas senyum dan mematut wajah Zayn dengan intens. Pria itu terlihat sangat tampan dengan pakaian yang dia kenakan. Auranya terpancar memakai piyama bermotif bunga terompet itu.
"Jangan melihatku seperti itu! Nanti jatuh cinta, repot jadinya." seloroh Zayn mengulum senyum sambil melanjutkan masaknya.
"Entahlah Zayn, sepertinya aku memang sudah jatuh cinta padamu." Zahira ingin mengatakan itu tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Dia masih ragu dengan perasaannya sendiri tapi yang pasti dia senang menerima kehadiran Zayn.
Beberapa menit berlalu, Zayn berhasil menyelesaikan masaknya. Dia menyiapkan piring dan menatanya di atas meja.
"Ayo, makan dulu!" Zayn menggendong Zahira dari meja dan mendudukkannya di atas kursi.
Setelah mengisi piring dengan makanan, Zayn menarik kursinya hingga berdekatan dengan Zahira lalu meminta wanitanya itu membuka mulut.
"Aak..." Zayn menyodorkan sendok ke mulut Zahira.
"Aku bisa makan sendiri Zayn," tolak Zahira.
"Jangan begitu, ayo buka mulutnya!" desak Zayn.
"Tapi Zayn-"
"Buka sayang, kalau tidak aku yang akan memakan mu di ruangan ini!" ancam Zayn dengan tatapan tajam.
"I-Iya, aku makan." Zahira segera membuka mulut, dia takut Zayn benar-benar membuktikan kata-katanya.
__ADS_1
Zayn mengulas senyum dan menyuapi Zahira sampai makanan di piring itu tandas. Setelah menyuapi Zahira, kini giliran Zayn yang makan.
"Huweeek..."
Baru makan beberapa sendok, perut Zayn tiba-tiba mual. Dia berlari ke toilet dan memuntahkan semua makanan yang baru saja dia makan.
"Zayn, kamu kenapa?" tanya Zahira. Dia berlari menyusul Zayn dan mengusap punggungnya.
"Aku tidak apa-apa Zahira, mungkin masuk angin. Beberapa hari ini aku kurang tidur karena memikirkan kamu." ucap Zayn.
Setelah perutnya merasa enakan, Zayn membawa Zahira keluar. Nafsu makannya tiba-tiba hilang, dia ingin tidur saja barang sejenak.
Sesampainya di kamar, Zayn langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur. Wajahnya terlihat pucat, sehari ini sudah dua kali dia muntah. Apalagi sekarang perutnya masih dalam keadaan kosong.
"Mau aku kerokin?" tawar Zahira.
"Boleh," sahut Zayn. Dia bangkit sejenak dan membuka piyama yang dia kenakan.
Setelah Zayn berbaring dengan posisi tengkurap, Zahira duduk di sampingnya sembari memegang balsem dan koin seribuan lalu mulai mengerok punggung Zayn.
"Ahh... Pelan-pelan sayang, sakit." rintih Zayn.
"Ini sudah pelan Zayn, kalau lebih pelan lagi mana bisa anginnya keluar." Zahira mengulanginya dengan pelan.
Selepas mengerok punggung Zayn, Zahira membantunya mengenakan piyama tadi lalu keduanya tidur di kasur yang sama dengan posisi saling berhadapan.
Zayn mematut wajah Zahira sejenak, lalu turun memandangi tubuh wanitanya yang terlihat lebih berisi dari sebelumnya.
"Tiga bulan tidak bertemu, kamu semakin cantik saja. Tubuhmu juga jauh lebih berisi, apa kamu bahagia saat aku tidak ada di sampingmu?" lirih Zayn dengan tatapan sendu.
"Tidak, mana mungkin aku bahagia. Sebenarnya sejak dua bulan yang lalu aku ingin kembali, tapi aku takut." sahut Zahira.
"Takut kenapa?" Zayn mengerutkan kening.
"Takut kamu tidak mau menerimaku. Lagian waktu itu aku belum resmi bercerai dari Roni. Aku tidak mau kamu kena masalah gara-gara masalahku yang waktu itu belum selesai." jelas Zahira.
"Kalau sekarang bagaimana? Apa kamu masih takut?" tanya Zayn menuntun penjelasan.
"Tidak, kami sudah bercerai. Sekarang aku sudah resmi menjadi janda," lirih Zahira.
"Kalau begitu menikahlah denganku!" pinta Zayn penuh keyakinan.
"Zayn..."
"Kenapa?" Zayn menangkup sebelah tangan di pipi Zahira. "Apa aku tidak layak menjadi suamimu?" Zayn terdiam sejenak. "Tentu saja aku tidak layak, aku hanya seorang pria miskin. Mana bisa aku membahagiakanmu dan memenuhi semua kebutuhanmu?"
Zayn menarik tangannya dari pipi Zahira, dia beranjak dari kasur dan berjalan menuju balkon, tatapannya terlihat sendu.
Bersambung...
__ADS_1