Kekhilafan Terindah

Kekhilafan Terindah
Kekhilafan Terindah Bab 6.


__ADS_3

Pagi menjelang, suara alarm di iPhone Zahira bersenandung memekakkan telinga. Dengan mata yang masih terpejam, Zahira meraba-raba ponselnya yang ada di atas nakas tapi tidak menemukannya.


Ternyata Zayn sudah lebih dulu mengambilnya dan mematikan alarm itu. Dia tau Zahira masih lelah hingga kembali tertidur di dada bidangnya.


Zayn mendekap tubuh polos yang dibungkus selimut itu dengan erat. Setelah kejadian semalam, dia tidak bisa lagi mengendalikan diri. Subuh tadi mereka berdua melakukannya sekali lagi. Zahira benar-benar kehilangan tenaga setelah pergulatan panas itu, sebab itulah dia masih setia dalam tidurnya.


Satu jam kemudian, Zahira menggeliat dan membuka mata perlahan. Paginya disambut Zayn dengan senyuman cerah secerah sinar mentari di luar sana. Sejak satu jam yang lalu Zayn tak lepas mematut wajah Zahira. Tidak hanya cantik, manis, imut, tapi juga meneduhkan. Mungkinkah Zayn sudah jatuh cinta pada wanita itu?


"Pagi," sapa Zayn dengan senyum yang sangat memikat.


"Pagi, kamu siapa? Apa yang kamu lakukan di kamarku?" cerca Zahira menautkan alis.


"Deg!"


Zayn terperanjat dengan mata melebar sempurna, jantungnya nyaris lepas mendengar pertanyaan Zahira.


Apa Zahira mengalami amnesia setelah kejadian semalam? Lalu bagaimana dengan pergumulan itu? Apa Zahira juga telah melupakannya?


Zayn merenggangkan pelukannya, dia beringsut dan menurunkan kaki dari ranjang lalu memungut pakaiannya dan melangkah ke kamar mandi.


Di dalam sana, Zayn mengepalkan tinju. Ingin sekali dia melayangkannya ke cermin tapi urung dia lakukan. Dia tidak ingin menimbulkan kegaduhan, lagipula dia tidak akan mampu membayar ganti rugi.


Selepas mandi dan mengenakan pakaian, Zayn keluar dengan air muka datar bak papan tulis. Tidak ada kata yang terucap, Zayn merasa seperti ban serap yang hanya dijadikan pelampiasan sesaat.


Setelah merapikan rambut dan mengantongi android miliknya, Zayn menatap Zahira sesaat lalu berpamitan.


"Aku permisi, terima kasih untuk malam yang-"


"Zayn, apa yang kamu bicarakan? Aku hanya bercanda tadi, kemarilah!" panggil Zahira sembari menggerakkan tangan di udara.


"Zahira..." Zayn menggertakkan gigi. Ingin sekali dia memakan wanita itu sekali lagi, tapi tidak mungkin mengingat Zahira yang sudah tak bertenaga.

__ADS_1


"Hehehe... Jangan marah! Aku hanya ingin menggoda mu saja," Zahira tertawa kecil, lalu menutup mulut.


Zayn menggeleng-gelengkan kepala, hampir saja Zahira membuat emosinya tersulut. Beruntung dia bukan tipe pria kasar dan pemarah.


Dengan tatapan yang sulit dimengerti, Zayn mengayunkan kaki menghampiri Zahira. Dia duduk di sisi ranjang dan menatap muka bantal Zahira dengan intens.


Zahira mengulas senyum tipis, lalu melingkarkan tangan di lengan Zayn. "Jangan pergi ya! Katanya tidak akan melepaskan aku setelah melakukan itu," lirih Zahira.


Zayn menghela nafas berat, lalu mengusap rambut Zahira dengan lembut. "Aku tidak ada maksud untuk pergi, tadi aku sangat kecewa mendengar pertanyaanmu. Aku pikir-" Zayn menjeda ucapannya.


"Aku tau ini salah, aku juga tau dimana posisiku. Aku merasa tidak pantas ada di sisimu. Selain umurku yang lebih muda darimu, aku juga tidak memiliki apa-apa untuk membahagiakanmu." ungkap Zayn. Ibarat langit dan bumi, tidak akan mungkin bersatu kecuali saat kiamat tiba.


"Tidak Zayn, jangan berpikir seperti itu! Aku tidak membutuhkan materi darimu, cukup hargai aku dan perlakukan aku dengan baik. Aku hanya butuh seseorang tempat bersandar ketika lelah, tempat berlindung saat aku takut. Itu saja," Tak terasa air mata Zahira lepas dari kelopak matanya.


Dia tidak membutuhkan harta dan kemewahan dunia. Dia hanya butuh dicintai dan dianggap ada. Dia juga ingin memiliki keluarga yang utuh seperti orang-orang di luar sana.


"Tapi aku hanya pria miskin Zahira, apa yang kamu harapkan dariku?" Zayn menangkup tangan di pipi Zahira, lalu menyapu air matanya.


"Apa aku seburuk itu Zayn? Apa aku tidak pantas untuk dicintai? Kenapa tidak ada yang mau mengerti keinginanku?" isak Zahira berderai air mata.


Zayn terdiam sesaat, dia sangat mengerti bagaimana perasaan Zahira saat ini. Hidup sebatang kara dan dikhianati oleh suaminya sendiri. Zayn bahkan tidak sanggup membayangkan betapa rapuhnya hati Zahira menerima kenyataan ini.


"Sudah, jangan menangis lagi! Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri. Tapi tolong selesaikan urusanmu dengan pria itu secepatnya, aku tidak mau dicap sebagai perebut istri orang." ucap Zayn. Dia membawa Zahira ke dekapan dadanya, lalu memeluknya erat.


"Janji?" Zahira mengacungkan jari kelingking.


"Iya janji," Zayn mengaitkan jari kelingking mereka berdua.


"Sudah, jangan cengeng! Malu sama umur," seloroh Zayn, lalu menarik hidung Zahira gemas.


Sekilas Zayn terlihat jauh lebih dewasa dari umurnya. Dia tidak seperti pria seusianya yang masih labil dan bertingkah semaunya sendiri. Hal itulah yang membuat Zahira merasa nyaman sejak pertama kali melihat Zayn di cafe.

__ADS_1


Zayn mampu menjadi sosok pelindung saat Zahira terluka. Dia juga bisa menjadi sosok penyemangat ketika Zahira terpuruk. Apalagi Zahira sudah menyerahkan semua miliknya pada Zayn, dia berharap Zayn tidak akan mengecewakannya seperti yang dilakukan Roni terhadap dirinya.


Setelah Zahira tenang, Zayn menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi. "Mandi dulu ya, aku tunggu di luar." ucap Zayn setelah menurunkan Zahira di bawah shower.


"Janji tidak akan pergi," Zahira menajamkan tatapan.


"Iya janji, aku cuma mau ngopi doang kok." Zayn mengulas senyum dan mengacak rambut Zahira dengan sayang.


Terlihat aneh bukan, masa' Zayn berani menyentuh kepala seorang wanita yang lebih tua darinya. Tapi sekarang perbedaan usia sudah tidak menjadi alasan lagi untuk mereka. Jika seorang wanita dan pria sudah bersama, tetap saja pria yang berdiri sedikit lebih tinggi.


Setelah Zayn meninggalkan kamar mandi, Zahira lekas membersihkan diri. Dia tidak ingin berlama-lama karena sangsi Zayn akan pergi diam-diam darinya.


Sepuluh menit kemudian, Zahira sudah keluar dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya. Tubuhnya hanya dililit handuk dengan jalan sedikit mengangkang, sisa pergulatan semalam membuat intinya mengalami lecet apalagi itu merupakan pengalaman pertama untuknya.


Saat manik mata Zahira menangkap kamar yang kosong tak berpenghuni, jantungnya tiba-tiba melemah. Tubuh Zahira hampir saja merosot sebelum mendapati pintu balkon yang terbuka.


"Zayn..." teriak Zahira sangat lantang.


Zayn yang tengah duduk di balkon langsung terperanjat dan berlari memasuki kamar.


"Zahira... Kamu kenapa?" tanya Zayn panik.


Zahira menghela nafas lega saat menangkap keberadaan Zayn. Dia pun berhamburan ke pelukan pria itu. Sepertinya pengkhianatan itu sudah membuat Zahira berubah menjadi sedikit sensitif.


"Aku kira kamu pergi meninggalkan aku, aku takut sendirian." gumam Zahira dengan manja.


"Astaga Zahira, aku pikir kamu kenapa-kenapa tadi. Bikin jantungan saja," Zayn mengelus dada dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Setelah Zahira mengenakan pakaian, Zayn membawanya ke balkon. Mereka berdua duduk berdekatan, lalu Zayn memberikan secangkir teh ke tangan Zahira.


Saat menyeduh kopi tadi Zayn juga sekalian membuatkan teh untuk wanita yang sekarang belum jelas statusnya di hati Zayn. Tapi yang pasti Zayn juga merasa nyaman saat bersamanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2