Kekhilafan Terindah

Kekhilafan Terindah
Kekhilafan Terindah Bab 17.


__ADS_3

Pagi hari Zahira sudah bangun dan keluar dari kamar setelah menyadari bahwa Zayn tidak ada di sampingnya.


Saat membuka pintu, dia mendapati Zayn yang tengah tidur di luar hanya beralaskan tikar. Zahira mencebik dan berjalan menghampiri Zayn, lalu berbaring di sampingnya.


Zayn tersentak saat tangan Zahira menyentuh pipinya. Terasa hangat dan lembut di kulit, Zayn mengulas senyum sembari membuka mata perlahan.


"Selamat pagi, sudah bangun?" gumam Zayn dengan suara serak dan mata separuh terbuka.


"Hmm... Kenapa tidur di luar?" tanya Zahira dengan air muka cemberut.


"Tidak apa-apa, hanya sementara saja sampai kamu benar-benar resmi menjadi milikku." Zayn kembali tersenyum dan mendekap Zahira dengan erat.


Zahira memicingkan mata saat wajahnya tenggelam di dada Zayn.


Beberapa menit berselang keduanya merenggangkan pelukan, Zayn lekas bangkit dari lantai.


"Aku masakin air hangat dulu ya, biar kamu bisa mandi." ucap Zayn. Dia hendak berdiri tapi Zahira mencegahnya.


"Tidak usah, aku bisa sendiri kok." tolak Zahira. Dia merasa tidak enak hati merepotkan Zayn terus menerus. Sudah seperti ratu saja dilayani setiap saat.


"Jangan dong, kamu tidak boleh capek. Duduk manis saja, aku yang akan melayani mu dan anak kita." kata Zayn.


"Zayn..." Zahira menajamkan tatapan.


"Iya sayang, jangan bandel kalau dibilangin!" Zayn mengulas senyum dan mencubit dagu Zahira, lalu memberikan kecupan selamat pagi di bibir wanita itu.


"Zayn..." Zahira tersipu malu dengan pipi bersemu merah.


"Apa sayang? Mau lagi?" goda Zayn sembari mengedipkan sebelah mata.


"Mau, tapi yang itu." tunjuk Zahira ke arah perut Zayn.


"Aish, jangan dong sayang. Katanya tunggu sah dulu," Zayn menghela nafas berat dan membuangnya dengan kasar.

__ADS_1


Pagi-pagi sudah diajak olahraga jantung saja sama Zahira, apalagi adiknya langsung bereaksi mendengar ucapan wanitanya itu.


"Tapi aku maunya sekarang Zayn, bayinya yang minta bukan aku." alibi Zahira agar Zayn mau memberikannya.


"Sayang..." Zayn menyipitkan mata sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Ayolah, aku janji tidak akan berisik." desak Zahira.


"Zahira, nanti ya. Pikirkan bayinya di dalam sini, dia masih lemah sayang!" Zayn mengusap perut Zahira, dia tidak ingin bayinya kenapa-napa.


Zayn selalu beringas saat memasuki diri Zahira, dia takut hal itu menjadi pemicu terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Dia ingin anak itu dilahirkan ke dunia ini dengan selamat.


"Ya sudah, tapi nanti mandiin ya." pinta Zahira dengan manja.


"Iya, kalau itu tidak masalah. Aku masakin air dulu ya, kamu duduk saja di sini!"


Zayn mengecup kening Zahira, lalu bangkit dari duduknya dan segera memasak air panas. Dia tau keadaan rumahnya tidak layak untuk Zahira dan bayinya, tapi dia akan melakukan yang terbaik untuk mereka berdua.


Selepas memasak air, Zayn menyiapkannya di dalam baskom besar. Dia juga meletakkan bangku kecil untuk Zahira duduk dan menggantung handuk di belakang pintu, lalu keluar memanggil Zahira.


Setelah Zahira melepaskan pakaian dan duduk di bangku kecil yang dia sediakan, Zayn pun lekas memandikannya, menyabuni tubuhnya dan menuang shampo di rambut Zahira. Zayn menggosoknya seperti tengah memandikan anak kecil, kemudian membilasnya.


"Sudah, ayo bangun!" Zayn membantu Zahira berdiri dan mengeringkan tubuh serta rambut Zahira, lalu membawanya ke kamar.


"Pasang bajunya bisa sendiri kan?" imbuh Zayn setelah mereka berdua tiba di kamar.


"Bisa, tapi aku maunya dipasangin." pinta Zayn dengan air muka memelas.


Zayn hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Zahira, benar-benar seperti anak kecil yang menggemaskan.


Segera Zayn mengambil pakaian di dalam lemari dan memakaikannya ke tubuh Zahira, sekilas nampak seperti pasangan suami istri pada umumnya bahkan melebihi. Beruntung Zayn merupakan tipe laki-laki penyabar dan penyayang, jika tidak mungkin Zahira tidak akan diperlakukan seperti ini.


"Sudah cantik," sanjung Zayn setelah merapikan pakaian Zahira dan menyisir rambutnya. Dia pun mengecup pucuk kepala Zahira dengan sayang.

__ADS_1


Lalu Zayn meninggalkan kamar dan masuk ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Hanya nasi goreng dan telur ceplok saja untuk pagi ini menjelang Zayn berbelanja setelah ini.


Usai memasak, Zayn menyiapkannya di meja kecil dan menyuruh Zahira makan terlebih dahulu. Zayn memilih mandi untuk menyegarkan tubuhnya, setelah itu baru dia bergabung dengan Zahira.


"Kok gak dihabisin, tidak enak ya?" Zayn mengerutkan kening mendapati piring Zahira yang masih penuh dengan nasi goreng.


"Enak, tapi aku maunya disuapi." sahut Zahira dengan bibir mengerucut.


Zayn menggaruk dahi. "Ya sudah, sini!"


Setelah mengambil piring Zahira, Zayn menyuapinya dan sesekali menyuapnya sendiri. Mereka berdua menghabiskan nasi goreng itu hingga tandas.


...****************...


"Fikri, datanglah ke panti asuhan Kasih Ibu. Cari tau tentang seorang bayi laki-laki yang ditaruh di depan panti asuhan itu pada tanggal 20 November 2002. Apapun caranya, kamu harus bisa mendapatkan informasi tentang bayi itu!" titah Suganda yang merupakan ayah kandung dari Roni.


"Baik Pak, segera saya laksanakan." jawab Fikri yang merupakan tangan kanan dari Suganda. Pria paruh baya itu sudah bekerja dengan Suganda sejak tiga puluh tahun yang lalu, seumuran dengan Roni.


Saat Fikri hendak meninggalkan kamar Suganda, dia berpapasan dengan Roni. Roni mengerutkan kening saat menatap wajah pria itu. "Untuk apa Ayah menyuruh Pak Fikri mencari anak sialan itu?" tanya Roni dengan mata memerah.


"Bapak tidak tau, Bapak hanya menjalankan tugas." jawab Fikri sembari mengangkat bahu, lalu melanjutkan langkahnya.


Roni menggertakkan gigi dan berbalik menatap punggung Fikri, setelah itu dia menghampiri Suganda yang terbaring lemah di atas ranjang.


"Untuk apa Ayah menyuruh Pak Fikri mencari anak itu? Bukankah sudah jelas bahwa anak itu bukan darah daging Ayah? Dia itu bukti dosa yang sudah dilakukan wanita itu. Apa Ayah tidak sadar bahwa anak itulah yang menjadi petaka buat keluarga kita? Seharusnya Ayah bunuh saja dia setelah dilahirkan ke dunia ini, kenapa hanya membuangnya?" cerca Roni dengan sederet pertanyaan.


Roni terlihat begitu murka, tatapannya sangat tajam seperti seekor harimau liar yang kelaparan. Tujuannya datang ke kediaman Suganda untuk mencari ketenangan sesaat, tapi justru otaknya semakin dipaksa untuk bekerja keras.


"Ayah hanya ingin memastikan sesuatu sebelum pergi meninggalkan dunia ini. Ayah tidak ingin pergi membawa beban, Ayah harus memastikan apakah anak itu darah daging Ayah atau bukan. Seharusnya dari awal Ayah melakukan tes DNA dengan anak itu, tapi kemarahan membuat Ayah buta sehingga harus kehilangan keduanya." jelas Suganda dengan mata berkaca.


Penyesalan terbesar di dalam hidupnya adalah mempercayai ucapan orang lain sebelum memastikan kebenaran. Dia hanya ingin memastikan sebelum pergi menyusul istrinya ke sisi Sang Pencipta.


"Terserah Ayah saja," Roni memijat dahi dan berlalu begitu saja meninggalkan kamar Suganda. Dia tidak ingin berdebat, takut hal itu memperparah kondisi ayahnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2