Kekhilafan Terindah

Kekhilafan Terindah
Kekhilafan Terindah Bab 34.


__ADS_3

Pukul dua dini hari mobil yang dikendarai Zayn tiba di parkiran rumah sakit. Keduanya melangkah masuk dengan tangan saling menggenggam satu sama lain.


"Om, bagaimana keadaan Ayah?" tanya Zahira sesaat setelah tiba di depan pintu ruangan. Tentu saja dia panik, bagaimanapun Suganda adalah mantan mertuanya. Dan jika benar Zayn adalah anak kandungnya, itu artinya Zahira masih menantunya meski dari putranya yang berbeda.


"Harapannya sangat kecil, beliau kehilangan banyak darah." jawab Fikri dengan tatapan menyayat hati. Sedangkan Roni yang masih berada di sana memilih membuang muka saat menangkap kedatangan Zayn dan Zahira.


Meski Roni ingin sekali mengusir mereka berdua, tapi hal itu tidak mungkin dia lakukan. Bagaimana jika darah Zayn ternyata memang cocok dengan Suganda? Hanya dia harapan mereka saat ini.


"Periksa saja darahku, kalau cocok ambil berapapun yang kalian butuhkan!" timpal Zayn penuh keyakinan saat seorang dokter keluar dari ruangan, dokter itu memberitahu bahwa keadaan Suganda semakin memburuk.


"Tunggu apalagi, ayo cepat!" desak Zayn yang mulai resah memikirkan keadaan Suganda. Kemarahan di hatinya sedikit mereda untuk saat ini, dia tau ini bukan waktu yang tepat untuk saling menyalahkan.


Lalu dokter itu membawa Zayn ke ruangan lain untuk diperiksa. Setelah mendapatkan sampel dan darah Zayn dinyatakan cocok, seorang suster mulai melakukan pendonoran. Tidak tanggung-tanggung, Zayn harus merelakan tiga kantong darahnya untuk pria yang sudah menyia-nyiakan dirinya itu.


Enam puluh menit kemudian, suster itu menarik jarum yang tadinya menyedot darah Zayn lalu membawa darah itu ke ruangan Suganda.


Dengan tatapan nanar dan berkunang-kunang, Zayn turun dari brankar dan meninggalkan ruangan dengan langkah terhuyung. "Ayo sayang, kita pulang sekarang!" ajak Zayn. Baginya mendonorkan darah itu sudah cukup untuk membantu Suganda melewati masa kritisnya, tidak perlu menunggu ataupun menemuinya.


"Tapi Zayn-"


"Please sayang, ayo!" potong Zayn sembari memeluk pinggang Zahira dan merebahkan kepala di pundak istrinya itu. Tenaga Zayn cukup tersedot seiring darah yang cukup banyak diambil dari tubuhnya.


"Tidak apa-apa Zahira, bawa saja Zayn pulang. Dia butuh waktu untuk istirahat," timpal Fikri. Pria itu menghampiri Zayn dan menepuk pundaknya. "Terima kasih untuk bantuannya, kamu memang anak yang baik." imbuhnya dengan perasaan haru. Dia tidak percaya kenapa bisa Suganda membuang anak sehebat itu, alangkah bodohnya majikannya itu. Sekarang betapa menyesalnya dia jika tau bahwa anak yang dibuangnya lah yang telah menyelamatkan hidupnya.


Setelah kepergian Zayn dan Zahira, Roni ingin menyusul tapi Fikri dengan cepat mencegahnya. "Jangan membuat masalah, Zayn tidak punya tenaga untuk melayani mu!" tegasnya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Heh, baru darah segitu sudah membelanya setengah mati. Om dan Ayah sama saja," ketus Roni dengan senyum mengejek. Dia merasa seperti pecundang yang tidak bisa melakukan apa-apa, sedangkan Zayn berhasil menjadi malaikat penolong dalam ketidakberdayaannya. "Aku mau pulang, besok aku ke sini lagi." imbuhnya sembari berlalu begitu saja.


Melihat betapa angkuhnya sikap Roni, Fikri geleng-geleng kepala dibuatnya. Entah kapan pria itu akan mengerti dan mengubah pandangannya terhadap Zayn? Padahal jelas Zayn hanya korban dari keegoisan Suganda di masa lalu.


Sulit bagi Fikri mengartikan hubungan yang kian hari kian memanas diantara kedua anak majikannya itu.


...****************...


"Mas, kamu baru pulang?" tanya Amira sembari mengucek matanya. Dia terbangun saat mendengar suara pintu kamar yang dibanting dengan kasar.


"Apa peduli mu, hah?" ketus Roni dengan tatapan jijik dan suara meninggi. Hingga detik ini sikapnya terhadap Amira tidak kunjung berubah meski sudah ada anak yang tengah berkembang di rahim istrinya.


"Tentu saja aku peduli, kamu suamiku Mas. Tolong sekali saja pandang aku sebagai istrimu!" jawab Amira tegas dengan tatapan yang sulit dimengerti.


Amira mengusap wajah dan menghirup udara sebanyak-banyaknya, dia kemudian bangkit dari pembaringannya dan turun dari ranjang lalu berjalan ke arah lemari menyiapkan baju ganti untuk Roni.


Sesaat setelah Roni keluar, Amira mendekatinya dan memberikan pakaian yang ada di tangannya kepada Roni. "Ini, Mas."


"Plaak!"


"Jangan sok perhatian padaku!" bentak Roni setelah menepuk tangan Amira, baju yang ada di tangan wanita itu seketika berjatuhan di lantai.


Sontak Amira terperanjat dengan mata yang mendadak berkaca, kurang apa lagi dia sehingga tak sekalipun Roni menghargai setiap usahanya.


Rasanya Amira sudah tidak kuat lagi menghadapi rumah tangga seperti ini, dia pikir lambat laun Roni akan berubah tetapi kenyataannya Roni justru semakin membencinya. Bahkan perutnya yang semakin membesar tidak mampu meluluhkan hati batu suaminya itu.

__ADS_1


"Mas, aku mau kita berpisah saja. Aku tidak tahan lagi dengan sikap dingin mu ini, biarlah kita jalani hidup kita masing-masing. Aku sudah lelah, Mas." lirih Amira menitikkan air mata, mau tidak mau dia harus mengatakan itu.


"Ya sudah, kalau begitu pergilah!" jawab Roni dengan entengnya, tidak ada ketakutan dan keraguan sedikitpun di hatinya melepaskan istri yang tengah mengandung darah dagingnya itu. Bahkan untuk menatapnya saja Roni sangat enggan.


"Baik Mas, aku akan pergi." angguk Amira lemah.


Dengan deraian air mata yang jatuh membasahi pipinya, Amira melangkah mendekati lemari dan membukanya. Dia mengeluarkan koper dan mengisinya dengan pakaian seadanya.


Tidak pernah terbersit di pikirannya akan berpisah dengan cara seperti ini, tidak sedikitpun ada penyesalan di mata Roni melihatnya seperti ini. Dia juga tidak berniat mencegah Amira.


Lalu untuk apa berharap dalam ketidakpastian ini? Mungkin sudah takdirnya membesarkan anak yang belum sempat dilahirkannya itu seorang diri.


Seiring denting jam yang menunjukkan pukul enam pagi, Amira melangkah pergi meninggalkan kamar itu.


Sudah cukup dia menangis selama ini, biarlah semua berjalan sesuai keinginan suaminya itu. Ini lebih baik dari pada terus saja saling menyakiti.


Di apartemen, Zayn baru saja tertidur di pelukan Zahira. Transfusi darah tadi membuatnya benar-benar lemah hingga terlelap dengan sedikit dengkuran yang keluar dari mulutnya. Zahira yang melihat itu hanya tersenyum sembari mengusap kepala suaminya itu.


Zahira merasa senang dan bangga pada Zayn. Tidak penting sesakit apapun hidup yang pernah dia jalani di masa lampau, yang namanya orang tua tetaplah orang tua meski banyak sekali penderitaan yang sudah dia berikan pada Zayn.


Suaminya termasuk orang yang beruntung karena masih memiliki sosok ayah yang bisa dia lihat dengan nyata, berbeda dengan Zahira yang tidak akan pernah lagi melihat sosok kedua orang tuanya.


Hanya Zayn yang kini dia punya, tempatnya bersandar dan berbagi segala keluh kesah yang datang silih berganti menerpa kehidupannya.


Meskipun begitu, Zahira tetap bersyukur karena sosok Zayn mampu menjadi penerang dalam gelapnya dan pelipur lara dikala sedihnya. Zayn juga mampu menjadi sosok suami yang dia inginkan, menata masa depan bahagia yang sebentar lagi semakin sempurna dengan kehadiran putra pertama mereka.

__ADS_1


__ADS_2