
Sebuah mobil sedan mewah yang tengah melaju kencang dengan seenaknya mencuri jalan di tengah padatnya kendaraan yang berlalu lalang. Tanpa disadari tiba-tiba sebuah truk bermuatan berat datang dari arah berlawanan, sang sopir tidak bisa membanting stir sembarangan sehingga terjadilah kecelakaan beruntun yang membuat jalanan macet total.
Mobil sedan yang menjadi pemicu kecelakaan itu terguling sehingga menyebabkan si pengemudi terpelanting ke luar, sementara tiga mini bus lainnya terseret beberapa meter memenuhi badan jalan dan ada juga beberapa motor yang terjatuh menghindari kecelakaan naas itu.
Tidak berselang lama, suara sirine ambulans berpacu memekakkan telinga. Mobil polisi juga sudah standby di tempat kejadian, beberapa orang polisi mengamankan pengemudi truk agar tidak diamuk massa yang suka main hakim sendiri.
"Brengsek, kau pikir jalanan ini milik nenek moyangmu hah?"
"Sopir sialan, bawa mobil muatan berat beraninya ugal-ugalan."
"Penjarakan saja dia Pak, jangan beri ampun!"
"Pasti simnya nembak, bawa mobil seenak udelnya sendiri."
Begitulah hiruk pikuk dari beberapa orang saksi dan korban yang mengumpat pada pengemudi truk itu. Beruntung pukulan yang mereka layangkan tidak mengenai sasaran.
"Aku tidak salah Pak, mobil sedan itu yang mencuri jalanku. Kemana aku harus menghindar? Jika aku banting stir ke kanan, di sana ada jurang. Kalaupun aku pilih ke kiri, akan semakin banyak korban yang berjatuhan. Coba lihat posisi mobilku, mobilku di jalur yang benar!" terang sopir itu.
Ya, sopir itu sama sekali tidak menyalahi aturan berlalu lintas. Muatannya pun sesuai standar yang sudah ditetapkan. Akan tetapi, tetap saja yang kecil menyalahi yang besar karena mereka pikir truk itulah penyebab utamanya.
"Iya, nanti saja dijelaskan saat di kantor. Sekarang ikuti saja proses hukum yang berlaku, kami akan melakukan olah TKP terlebih dahulu." jawab seorang polisi yang mencoba menyembunyikan sopir itu dari banyaknya massa yang mendekat.
Dalam keadaan ricuh yang mulai sulit dikendalikan, mobil yang dikendarai Zayn tiba di lokasi. Dia bergegas turun disusul Suganda di belakangnya.
__ADS_1
"Pak, dimana Kakak saya?" seru Zayn kepada beberapa orang polisi yang tengah melakukan olah TKP.
"Anda siapa?" tanya salah seorang polisi.
"Saya Zayn, tadi Ayah saya mendapat telepon dari nomor Kakak saya. Seseorang mengaku polisi yang mengatakan bahwa Kakak saya mengalami kecelakaan." jelas Zayn dengan raut panik.
Tadi saat masih mengobrol di ruang tengah, tiba-tiba ponsel Suganda berdering. Dia langsung mengangkatnya karena berpikir telepon itu dari putra sulungnya. Sayangnya bukan Roni yang bicara tapi seorang polisi yang mengabarkan kecelakaan itu.
Saking paniknya, Suganda hampir saja drop. Beruntung Zayn bisa menguatkannya. Mereka berdua langsung menuju TKP dan meninggalkan Zahira di rumah bersama Fikri.
"Ya, saya yang menelepon tadi." ucap seorang polisi seraya berjalan mendekati Zayn.
"Bagaimana keadaan putra saya, Pak? Apa yang terjadi sebenarnya?" timpal Suganda yang sudah bingung memikirkan keadaan Roni. Meski anak itu pembangkang dan keras kepala, tapi Suganda sangat menyayanginya. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada putranya itu.
Seketika mata Suganda membulat dan berkaca, jantungnya melemah melihat putranya yang terbaring tak berdaya dengan banyaknya darah yang menempel di bajunya.
"Roni..." lirih Suganda. Dia hendak mendekat tapi para tim medis berupaya menghalanginya.
"Tunggu saja di sini, biar kami melakukan tugas kami terlebih dahulu!" ucap salah seorang pria berpakaian serba putih.
"Ayah, tolong kendalikan diri Ayah! Biarkan mereka melakukan tugas mereka, Ayah berdoa saja untuk kebaikan Roni." ucap Zayn menenangkan Suganda. Dia merengkuh pundak sang ayah dan mengusapnya pelan.
Meski sebenarnya Zayn tidak suka dengan sikap angkuh Roni, tapi tetap saja dia tidak ingin kakaknya itu terluka. Roni kakaknya dan selamanya akan tetap seperti itu.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, para tim medis memutuskan untuk membawa Roni ke rumah sakit. Di sana akan lebih mudah untuk menangani pria itu. Satu persatu ambulans itu langsung melaju meninggalkan TKP.
"Ayo Ayah, kita langsung ke rumah sakit saja!" ajak Zayn, lalu dia dan Suganda lekas kembali ke mobil yang terparkir cukup jauh. Setelah keduanya duduk, Zayn dengan cepat melajukan mobilnya mengiringi ambulans yang melaju di hadapannya.
Sesampainya di rumah sakit, Roni langsung dilarikan ke ruang ICU. Zayn dan Suganda menyusul dan terpaksa menunggu di depan pintu karena hanya tim medis yang boleh masuk ke dalamnya.
Diwaktu bersamaan Zahira menelepon menanyakan kabar Roni, sebagai mantan istri dia tentu saja khawatir memikirkan keadaan pria itu. Apalagi sekarang sudah jelas bahwa Roni adalah kakak iparnya, kakak kandung dari suaminya Zayn.
Setelah Zayn menjelaskan apa yang terjadi, sambungan telepon itupun diputus. Zahira kemudian mencoba menghubungi Amira, barangkali istri Roni itu belum tau apa yang terjadi dengan suaminya.
Akan tetapi setelah panggilan itu tersambung, Amira malah tidak peduli sedikitpun. Dia mengatakan pada Zahira bahwa hubungan mereka sudah berakhir. Amira sudah pergi dari rumah dan memulai hidupnya yang baru dengan calon buah hatinya yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.
Tentu saja pengakuan Amira itu membuat Zahira terkejut, dia pikir Amira masih bertahan bersama Roni tapi ternyata wanita itu lebih memilih mengikuti jejaknya. Urusan perceraian akan diselesaikan setelah Amira melahirkan nanti, tidak ada gunanya bertahan dengan pria tidak punya hati seperti dia.
Setelah sambungan telepon itu terputus, Zahira membaringkan diri di atas kasur. Dia kepikiran bagaimana nasib anak yang tengah dikandung oleh Amira itu.
Apakah nasibnya akan berakhir seperti Zayn? Kehilangan kasih sayang seorang ayah dan hidup tanpa tau dari mana asalnya.
Sekilas air mata Zahira tampak menetes, dia mengusap perutnya perlahan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika anaknya yang mengalami hal itu. Beruntung dia mempunyai suami yang bertanggung jawab seperti Zayn, tidak sama dengan Roni yang pernah menyia-nyiakan ketulusannya.
Sementara di tempat lain, Amira menangis tersedu-sedu setelah bicara dengan Zahira tadi. Dia sebenarnya sedih, dia juga khawatir, tapi apa yang bisa dia lakukan jika Roni saja tidak menginginkan dia dan anaknya.
Sudah cukup Amira bersabar selama ini. Bukannya berubah, Roni malah semakin menjadi-jadi. Tidak masalah jika Roni tidak mencintainya, tidak masalah jika Roni tidak menginginkannya, tapi apa ada seorang ayah yang tidak menginginkan darah dagingnya? Bahkan sebelum anak itu sempat dilahirkan ke dunia ini.
__ADS_1
Dari pada di kemudian hari anaknya menderita memiliki ayah seperti Roni, maka lebih baik dia tidak usah tau siapa ayahnya. Itu akan lebih baik untuk semua orang.