
Pagi hari Zahira sudah bangun dan selesai membersihkan diri. Dia nampak cantik dengan balutan dress pendek motif bunga yang membungkus tubuh mungilnya. Setelah rapi dia meninggalkan kamar dan turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Berhubung stok di kulkas sudah habis, Zahira hanya bisa membuat nasi goreng dengan memanfaatkan sisa nasi semalam yang ada di dalam rice cooker lalu Zahira menggoreng telur ceplok dan kerupuk udang.
Setelah masakannya matang, Zahira menatanya di atas meja. Tak lupa pula dia membuatkan kopi hitam untuk Zayn yang masih berada di dalam kamar mandi.
Saat Zahira tengah duduk di meja makan, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki yang semakin dekat. Zahira pikir itu Zayn dan membiarkan orang itu memeluknya dari belakang. Tapi ketika menoleh alangkah terkejutnya Zahira mendapati siapa pria itu.
Ya, dialah Roni. Pria yang baru saja resmi bercerai dengan Zahira. Sontak wanita itu terperanjat, dia lekas berdiri dan berusaha keras melepaskan kalungan tangan pria itu dari tengkuknya.
"Jangan takut Zahira, aku tidak akan menyakitimu!" bisik Roni tepat di telinga Zahira.
"Lepas Roni, jangan kurang ajar!" bentak Zahira sembari meronta, sayang Roni tak mengindahkan permintaannya.
"Aku kangen kamu Zahira, biarkan aku memelukmu sebentar!" ucap Roni dengan suara serak. Sepertinya pria itu benar-benar merindukan Zahira yang kini bukan miliknya lagi.
"Jangan ngawur kamu, kita sudah bercerai dan aku bukan istrimu lagi!" tegas Zahira penuh penekanan.
"Perceraian itu hanya sekedar status semata. Kamu saja bisa tidur dengan pria lain saat masih resmi menjadi istriku, kenapa aku tidak bisa? Bukankah aku juga boleh meniduri mu?" bisik Roni mengulas senyum licik. Dia tidak akan tinggal diam setelah apa yang terjadi sebelumnya. Bagaimanapun caranya, dia harus bisa mendapatkan Zahira kembali.
"Jangan gila kamu Roni, aku bukan wanita murahan yang akan tidur dengan siapa saja. Jika sebelumnya aku tidur dengan pria lain, semua itu karena kesalahan yang sudah kamu lakukan. Jadi jangan pernah berpikir yang tidak-tidak tentangku!" Zahira mencoba menyikut perut Roni tapi pria itu malah mencengkram rahangnya dan menggendong Zahira menuju sofa.
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu, kamu harus tetap menjadi milikku." Roni melempar tubuh Zahira di sofa lalu merangkak naik mengukung tubuhnya.
"Jangan Roni, jangan lakukan ini padaku! Tolong lepaskan aku, aku tidak mau!" tolak Zahira. Dia berusaha mempertahankan diri dan mendorong tubuh Roni tapi tenaganya tak sebanding dengan pria itu.
"Zayn... Tolong aku!" teriak Zahira sangat lantang, tangisannya pecah seketika itu juga.
"Percuma berteriak, tidak akan ada yang menolong mu." Roni mengulas senyum miring lalu mengangkat dress yang dikenakan Zahira. Seketika mata Roni membulat menyaksikan betapa mulusnya paha mantan istrinya itu.
Jika saja dari awal dia fokus memperhatikan Zahira, mungkin kejadian itu tidak akan pernah terjadi. Pasti sekarang dia sudah memiliki Zahira seutuhnya.
"Bajingan, jangan sentuh aku!" Zahira hendak melayangkan tangan ke wajah Roni tapi pria itu dengan cepat menangkapnya. Dia menggabungkan kedua tangan Zahira dan menahannya di atas kepala. "Zayn... Zayn... Tolong aku!" pekik Zahira.
Zayn baru saja keluar dari kamar mandi, tak sengaja telinganya sayup-sayup mendengar suara teriakan Zahira. Sontak dia terperanjat dan menyisir seisi kamar tapi tak menemukan Zahira di mana-mana.
__ADS_1
"Zahira..." Mendadak air muka Zayn berubah panik, tanpa pikir dia langsung berlari meninggalkan kamar.
"Roni jangan!" Zahira memekik saat Roni berusaha mencium bibirnya. Zahira memutar leher ke kanan dan ke kiri untuk menghindari aksi yang dilayangkan Roni.
"Huhuhu... Jangan...!" isak Zahira pecah saat bibir Roni berlabuh di lehernya.
"Bug!"
Tiba-tiba tubuh Roni terpental saat Zayn menerjangnya dengan sekuat tenaga.
"Bajingan, berani sekali kau datang ke sini dan menyakiti Zahira ku."
Dengan amarah yang memuncak, Zayn menghampiri Roni dan menghajarnya tanpa ampun. Bagaimana kemarin Roni menghajarnya, begitu pula Zayn membalasnya hingga baku hantam pun terjadi diantara mereka berdua.
Zayn mengangkat tubuh Roni yang tergeletak di lantai, lalu meninju perutnya hingga kembali tersungkur. Roni tak menyerah, dia lekas bangkit dan meninju wajah Zayn.
"Bug!"
"Aaaaa..." Zahira menjerit ketakutan, sekujur tubuhnya bergetar melihat perkelahian itu.
"Zahira, kembali ke kamar!" suruh Zayn sembari memutar leher, saat itu juga Roni meninju perutnya hingga Zayn terpental ke belakang.
"Kembalilah ke kamar, jangan pedulikan aku! Ingat, ada anak kita di dalam sana." bisik Zayn.
"Tapi Zayn-"
"Dengar aku, tolong!" potong Zayn.
Zahira mengangguk lemah dan menjauh dari Zayn. Dia berlari menaiki anak tangga dan segera masuk ke kamar lalu mengunci pintu.
"Cih, hanya segitu kemampuanmu hah." tantang Roni dengan mata merah menyala. Dia mengepalkan tinju dan berjalan menghampiri Zayn.
"Bug!"
Sebelum Roni menyentuhnya, Zayn lebih dulu mengait tungkai kaki Roni hingga tubuh pria itu terhempas ke lantai. Dengan segala kekuatan yang dia miliki, Zayn duduk di atas perut Roni dan menghajarnya habis-habisan.
__ADS_1
"Pergi dari sini sebelum kesabaranku hilang!" hardik Zayn saat Roni sudah tak berdaya lagi melawannya. Zayn kemudian bangkit dan menendang pinggang Roni.
"Bug!"
"Aahh..." rintih Roni dengan wajah yang sudah babak belur dihajar Zayn. Mau tidak mau dia terpaksa pergi dari tempat itu, dia tidak ingin mati sia-sia sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Sekarang kau boleh menang, tunggu pembalasanku!" ancam Roni dengan tatapan tajam, lalu meninggalkan villa terburu-buru.
Setelah Roni dan mobilnya menghilang, Zayn berlari menaiki anak tangga. Dia tidak peduli dengan luka yang ada ditubuhnya, yang penting baginya hanyalah keselamatan Zahira dan calon anaknya.
"Tok Tok Tok"
Zahira yang masih bersandar di daun pintu tersentak kaget. Air mukanya tiba-tiba memucat, takut yang mengetuk pintu itu adalah Roni.
"Zahira, buka pintunya! Ini aku, Zayn." sorak pria itu.
"Zayn..." sahut Zahira gemetaran.
"Iya sayang, ini aku. Ayo, buka pintunya! Bajingan itu sudah pergi," terang Zayn.
Mendengar itu, Zahira pun menghela nafas lega. Segera dia memutar anak kunci dan membukakan pintu untuk Zayn.
"Zayn..." lirih Zahira menitikkan air mata.
Dia langsung berhamburan ke pelukan Zayn. Dia takut, dia sangat takut Zayn kenapa-napa.
"Zayn... Aku pikir-"
"Sssttt... Jangan berpikir yang tidak-tidak! Selagi ada kamu dan anak kita, aku akan tetap hidup untuk kalian berdua." potong Zayn. Dia memeluk Zahira dengan erat dan mengecup kening wanitanya dengan sayang.
"Aku takut Zayn, aku sangat takut." Tubuh Zahira masih saja gemetaran di pelukan Zayn.
"Sudah, tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku akan melindungi kalian semampuku," Zayn mengusap kepala Zahira untuk menenangkannya.
"Zayn dia pasti kembali lagi, aku tidak mau melihatnya. Dia itu jahat, dia hampir saja-"
__ADS_1
"Yang penting tidak terjadi apa-apa kan? Sudah, jangan dipikirkan!" Tanpa aba-aba, Zayn langsung saja mengangkat tubuh mungil Zahira dan membawanya ke sofa. Zayn duduk dan meletakkan Zahira di atas pangkuannya.
Bersambung...