Kekhilafan Terindah

Kekhilafan Terindah
Kekhilafan Terindah Bab 32.


__ADS_3

"Ayah, dari mana saja malam-malam begini baru pulang?" tanya Roni yang kebetulan baru sampai di kediaman Suganda. Dia ingin melihat keadaan sang ayah setelah keluar dari rumah sakit sore tadi.


Bukannya langsung pulang, Suganda malah menyuruh Fikri mengantarnya ke rumah Zayn. Karena rumah dalam keadaan kosong, akhirnya Suganda meminta Fikri mengantarnya ke cafe.


Akan tetapi, Suganda harus menelan kekecewaan setelah tau apa yang terjadi sebelumnya. Dia benar-benar marah pada Roni, dia bahkan tidak menyahut pertanyaan putra sulungnya barusan.


Lalu dia membuka sepatu dan melemparkannya ke muka Roni. Sepatu itu tepat mengenai dada bidang pria itu.


"Bug!"


"Aww..."


"Apa-apaan ini, Ayah?" Roni menggertakkan gigi, kesal karena tiba-tiba saja Suganda melemparnya tanpa tau apa yang sudah terjadi sebenarnya.

__ADS_1


"Setelah apa yang kamu lakukan, masih berani kamu bertanya?" geram Suganda dengan tatapan membunuh.


"Memangnya apa yang sudah aku lakukan? Kenapa Ayah-"


"Ingat Roni, Zayn itu adikmu. Untuk memastikannya, Ayah akan melakukan tes DNA dengannya. Terima tidak terima, kamu harus siap menerima kenyataan ini." potong Suganda menekankan. Dia sangat yakin bahwa Zayn adalah putranya dan dia akan menebus segala dosa yang sudah dia lakukan di masa lampau.


"Heh, dia lagi dia lagi. Segitu sayangnya Ayah pada anak sialan itu sehingga menelantarkan putra Ayah yang lainnya." kesal Roni yang merasa dianak tirikan oleh ayahnya sendiri.


"Apa kamu tidak salah berucap? Kapan Ayah menelantarkan kamu? Masih belum cukup apa yang Ayah berikan untuk kamu selama ini?" Suganda menempelkan punggungnya pada sandaran kursi roda dan mengurut dada.


"Ck... Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengakui dia sebagai adikku, dia itu anak pembawa sial. Ibu meninggal gara-gara dia dan Ayah sakit-sakitan juga ulah dia. Aku kehilangan masa kecilku karena anak itu." Roni merutuki Zayn dan melemparkan semua kesalahan pada anak yang tidak tau apa-apa itu.


"Bukan dia yang pembawa sial, tapi Ayah. Ayah yang salah, Ibumu meninggal karena Ayah dan semua yang terjadi ulah Ayah. Jika kamu ingin marah, marah pada Ayah bukan Zayn. Dia tidak tau apa-apa, dia hanya korban dari keegoisan Ayah." Suganda meninggikan suara, dia tidak terima Zayn dikatakan anak pembawa sial oleh kakaknya sendiri.

__ADS_1


"Ayah yang menuduh Ibumu berselingkuh dan bertengkar dengannya. Dia mengalami pendarahan hebat hingga akhirnya menutup mata setelah melahirkan Zayn. Bayi tak berdosa itu dibuang oleh Ayahmu ini, aku yang biadab. Kenapa selalu dia yang disalahkan?" bentak Suganda penuh penyesalan. Kali ini dia tidak bisa mengendalikan diri, semua kenangan buruk itu tiba-tiba muncul di ingatannya.


Suganda memajukan kursi rodanya menuju kamar, dia tidak kuat menghadapi sikap Roni dan mengingat kebodohannya di masa lalu. Jika dia bisa sedikit mengendalikan emosi, tentu hal seperti itu tidak akan terjadi. Layla tidak akan mati dan Zayn tidak mungkin menderita.


Jika Roni ingin menyalahkan seseorang, maka Suganda lah yang harus disalahkan. Dia penyebab utama dari kehancuran keluarganya sendiri.


Sesampainya di kamar, Suganda mengunci pintu dan masuk ke kamar mandi. Dia menyalakan shower dan duduk di bawahnya berjam-jam lamanya.


Jika kematian mampu menebus dosanya di masa lampau, dia akan mati dengan senang hati dan meminta maaf kepada Layla atas kesalahannya.


"Bug!"


Tiba-tiba tubuh ringkih Suganda jatuh ke lantai. Kepalanya membentur sudut keramik sehingga mengalami luka yang cukup besar.

__ADS_1


Karena air masih mengalir, darah segar pun tak henti keluar hingga Suganda kehilangan banyak darah dan terkulai lemah tanpa ada yang tau apa yang terjadi dengannya.


__ADS_2