
Satu bulan telah berlalu sejak kecelakaan itu terjadi. Kini Roni harus duduk di kursi roda karena mengalami keretakan pada tulang kakinya. Entah itu kebetulan atau karma yang harus dia tanggung atas semua kesalahannya.
Saat di rumah sakit tempo hari, Zayn lah yang menyelamatkan hidupnya. Darah Zayn mengalir di dalam tubuhnya. Dia pun seperti kehilangan muka di hadapan Zayn dan Zahira.
Roni yang sekarang tak lagi sama dengan Roni sebelumnya, keangkuhannya lenyap seketika. Dia lebih banyak menyendiri dan jarang berbicara.
"Kasihan sekali ya, sekarang dia harus duduk di kursi roda seperti Ayah dulu." ucap Zahira saat duduk di balkon kamar. Dia dan Zayn sengaja berjemur menikmati matahari pagi, lalu tak sengaja melihat Roni yang duduk termenung di halaman rumah.
"Hmm... Ini mungkin hukuman untuknya." Zayn menghela nafas dan membuangnya kasar. "Kenapa? Sedih lihat mantan suami seperti itu?" imbuh Zayn dengan tatapan tak biasa.
"Apaan sih?" Zahira mengerucutkan bibir sambil menepuk lengan Zayn dan memeluknya setelah itu. "Kamu jangan seperti itu ya, aku tidak tau bagaimana jadinya aku tanpa kamu." lirih Zahira dengan tatapan sayu.
"Tergantung kamu nya sih," ucap Zayn mengulum senyum.
"Loh, kok tergantung aku sih? Memangnya apa yang sudah aku lakukan?" Zahira menautkan alis menatap lekat pada Zayn.
"Tidak ada, cuma pengen servisnya ditingkatkan lagi." bisik Zayn tersenyum nakal.
"Hihihi... Dasar otak mesum, pikirannya kotor mulu ih." geram Zahira mengulum senyum.
"Mesum sama istri sendiri boleh dong. Lagian sebentar lagi mau lahiran kan, pasti puasanya lama. Jadi sebelum itu puas-puasin dulu biar nanti tidak terlalu kepikiran." terang Zayn sembari memainkan rambut yang menutupi kening Zahira.
"Hehehe... Dasar suami gila," umpat Zahira terkekeh, lalu masuk ke dalam dekapan Zayn. Zayn pun ikut terkekeh dan memeluk Zahira erat.
Di bawah sana, Fikri menghampiri Roni yang masih setia menyendiri. Hari ini adalah jadwal kontrol ke rumah sakit. Setelah mengatakan itu pada Roni, Fikri membantunya memasuki mobil.
Sepanjang perjalanan, Roni hanya diam mematut jalanan yang mereka lalui. Dia merasa hidupnya sudah hancur dalam sekejam mata.
Tidak hanya perasaan bersalah pada Zayn dan Zahira, tapi juga menyesal karena telah menyia-nyiakan istri sebaik Amira. Setelah dia tidak sanggup berdiri, disitulah semuanya terasa menyakitkan.
Dia merasa sendiri, tidak ada yang memahami bagaimana perasaannya saat ini. Melihat rumah tangga Zayn dan Zahira yang begitu berwarna, disitulah timbul penyesalan besar di dirinya.
__ADS_1
Kenapa dulu dia tidak memperlakukan Zahira selayaknya istri? Kenapa dulu dia tidak pernah menghargai Amira? Kini kedua wanita itu sudah pergi dari hidupnya, dia merasa hampa.
Setibanya di rumah sakit, Fikri lekas mengambil nomor antrian. Sementara Roni hanya diam di kursi roda sembari menatap sekelilingnya.
"Deg!"
Tiba-tiba darah Roni berdesir dengan jantung berdetak kencang. Apa dia berhalusinasi? Tidak, tidak, Roni dalam keadaan sadar, dia pasti tidak salah lihat.
Segera Roni menggerakkan mesin kursi rodanya, dia mengikuti brankar seseorang yang tengah didorong menuju ruang bersalin.
"Sakit Sus, tolong... Aku tidak kuat lagi," rintih seorang wanita dengan suara memilukan.
Barusan dia hendak memeriksakan diri di rumah sakit itu, tapi setibanya di parkiran dia malah berteriak meminta tolong. Perutnya mendadak mulas, sepertinya dia sudah mau melahirkan.
"Sabar ya Bu, Ibu harus kuat!" ucap seorang suster yang mencoba menenangkannya.
"Oh ya, Ibu sendirian saja? Suami Ibu mana?" tanya suster lainnya.
"Maksud Ibu-"
"Aaaaakh... Sus, sakit..." teriak wanita itu lantang. Sepertinya dia sudah tidak bisa menahan lagi, perutnya benar-benar mulas.
Setelah memasuki ruang bersalin, seorang suster hendak menutup pintu tapi tiba-tiba Roni menahannya dengan cepat. "Maaf Sus, apa wanita tadi mau melahirkan?" tanyanya panik.
"Iya Pak, Bapak siapa ya?" suster itu mengerutkan kening.
"Tidak penting saya siapa, tolong beritahu siapa nama pasien itu!" pinta Roni dengan air muka penuh kekhawatiran.
"Maaf Pak, kami tidak bisa memberikan data pasien kepada sembarang orang. Itu peraturan rumah sakit ini." ucap suster itu.
"Tapi ini penting Sus, apakah dia istri saya? Amira... Ya, nama istri saya Amira." ungkap Roni yang mulai kehilangan akal.
__ADS_1
Sesaat suster itu terdiam. Benar nama wanita itu Amira, tapi bukankah barusan wanita itu bilang tidak punya suami?
"Maaf Pak, mungkin Bapak salah orang." setelah mengatakan itu, pintu pun ditutup dan Roni hanya bisa mematung di depan pintu.
Dia sangat yakin bahwa itu Amira, dia tidak mungkin salah lihat. Karena penasaran, Roni pun memilih menunggu di sana. Sedangkan di lobby rumah sakit, Fikri mulai kelimpungan mencari Roni yang entah kemana rimbanya.
Setelah hampir satu jam menunggu, pintu kembali terbuka. Seorang dokter keluar bersama seorang suster, raut muka keduanya nampak panik. "Cepat Sus, tidak ada waktu lagi!" ucap dokter itu, lalu keduanya berlarian meninggalkan tempat itu.
Roni yang mendengar itu tiba-tiba tersentak dari duduknya. Apa maksud dokter tadi? Dia pun semakin khawatir jika itu memang Amira. Apa Amira kesulitan melahirkan bayinya?
Tidak lama, dua orang suster keluar sembari mendorong sebuah brankar. Seketika mata Roni terbelalak melihat wanita yang terbaring lemah tak berdaya.
"Amira..." lirih Roni dengan tatapan mengabur, matanya dipenuhi cairan yang menggenang.
Amira yang sudah kehilangan tenaga sontak menoleh ke arah Roni, setetes cairan bening tiba-tiba jatuh di sudut matanya. Namun beberapa detik kemudian Amira membuang pandangannya ke arah berlawanan. Hatinya terasa perih, dadanya ngilu menatap mata itu.
Pelan-pelan brankar itu mulai menjauh dari hadapan Roni. Roni pun segera menyusulnya dengan mempercepat laju kursi rodanya.
Sesaat setelah brankar itu dimasukkan ke ruang operasi, Roni menahan langkah seorang suster yang hendak menutup pintu dan berkata dengan lantang. "Biarkan aku masuk, aku suaminya!"
Terang saja suster itu melongo. "Maaf Pak, kata pasien dia tidak punya suami."
"Itu karena dia marah padaku, sebelumnya kami sempat bertengkar." jelas Roni, lalu menyelonong masuk tanpa permisi.
Sesampainya di dalam, Roni lekas menghampiri Amira yang baru saja diberi suntikan anestesi. Operasi harus disegerakan untuk menyelamatkan bayi yang ada di dalam kandungan Amira. Detak jantung bayi itu melemah.
"Pergilah, aku tidak menginginkan kehadiranmu!" lirih Amira saat menangkap kedatangan Roni, lalu dia memalingkan wajahnya ke arah lain.
Roni memajukan kursi rodanya lalu menggenggam tangan Amira dengan erat dan mengecupnya. "Maafkan aku, Amira. Aku menyesal,"
Amira tidak menyahut, dia malah menangis sembari menarik tangannya dari genggaman Roni. Dia memilih memejamkan mata sembari menunggu dokter selesai membedah perutnya.
__ADS_1
Percuma Roni meminta maaf padanya, dia tidak ingin lagi bersama pria itu. Selama hampir dua bulan Amira hidup luntang lantung tapi tak sekalipun Roni berniat mencarinya. Sudah jelas bahwa Roni tidak menginginkan dia dan putrinya.