Kekhilafan Terindah

Kekhilafan Terindah
Kekhilafan Terindah Bab 24.


__ADS_3

"Bagaimana keadaan kandungan istri saya, Dok?" tanya Zayn saat menatap layar monitor yang menyala di depan matanya.


"Baik, sangat baik. Bayinya juga sehat, Anda bisa lihat sendiri. Bayinya sangat lincah." ucap dokter yang tengah melakukan USG pada Zahira.


Zayn terperangah saat dokter itu mengarahkan alat medisnya pada wajah bayi mereka. Bulat dan montok seperti Zahira yang kini sudah kelebihan BB kurang lebih delapan kilogram.


Mata Zayn berkaca memandangi layar monitor, begitu juga dengan Zahira. Tak terbilang betapa bahagianya mereka menyaksikan wajah bayi yang sedang berkembang itu.


"Mirip ibunya," seloroh dokter itu.


"Tidak masalah, yang penting bayi kami sehat." Zayn mengulas senyum. Mirip dia ataupun Zahira sama saja menurutnya, yang penting bayi itu jelas darah dagingnya.


"Jenis kelaminnya apa ya, Dok?" imbuh Zayn yang sudah tidak sabar ingin mengetahui jenis kelamin bayinya.


Lalu dokter itu menggerakkan alat medisnya ke sisi lain perut Zahira. Sebuah tonjolan seperti burung perkutut nampak jelas pada layar monitor.


"Laki-laki?" seru Zayn dengan mata berkaca.


"Iya, Anda benar. Bayi kalian laki-laki," angguk dokter itu.


Zayn mengusap wajah dengan kasar, tarikan nafasnya terdengar berat. Dia rasanya ingin berteriak untuk mengungkapkan rasa syukurnya yang tak terhingga.


Sebenarnya Zayn tidak menuntut Zahira untuk melahirkan anak laki-laki. Baginya laki-laki atau perempuan sama, tetap saja anak itu anugerah untuknya.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, keduanya memilih pulang ke rumah untuk beristirahat.


...****************...


"Lina, aku sudah berusaha sembuh sesuai janjiku padamu. Sekarang giliranmu untuk menepati janjimu padaku." tagih Suganda saat mereka sudah tiba di kediaman mewah miliknya.


Lina terdiam sejenak. Setelah apa yang dia dengar di rumah sakit tadi, apa harus dia mengatakan yang sebenarnya pada Suganda? Bagaimana jika Suganda tidak bisa menerima kenyataan ini? Apa itu artinya Zayn harus kehilangan jati dirinya lagi?


"Belum saatnya Mas, tunggu kondisi kamu benar-benar pulih terlebih dahulu." jawab Lina mencari-cari alasan untuk mengulur waktu.

__ADS_1


"Tidak Lina, aku tidak bisa menunggu lagi. Aku harus bertemu dengan putraku, aku harus meminta maaf dan membawanya kembali." balas Suganda.


"Bagaimana jika anak itu ternyata bukan darah daging kamu? Apa kamu akan tetap menganggapnya sebagai putramu? Tidak mungkin kan?" tanya Lina berandai-andai.


Dia sangsi Suganda tidak akan mengakuinya. Apalagi jika dia tau bahwa putra bungsunya sudah merebut menantunya dari putra sulungnya.


"Tidak masalah, mau dia putraku atau tidak, dia tetaplah anak dari Layla. Dia punya hak yang sama atas harta yang aku miliki." terang Suganda.


Lina menghela nafas lega setelah mendengar itu. Setidaknya dia tau bahwa Suganda tidak akan menyakiti Zayn. Tapi bagaimana dengan Roni, dia pasti tidak akan bisa menerima ini. Pria itu sangat membenci Zayn setelah apa yang terjadi sebelumnya.


Tapi apapun alasannya, Zayn juga berhak tau siapa keluarganya. Sudah cukup dia menderita selama ini tanpa tau bahwa dia masih memiliki seorang ayah dan kakak laki-laki.


"Sebenarnya-" Lina merasa berat untuk mengatakannya.


"Sebenarnya apa?" Suganda mengerutkan kening menanti penjelasan Lina.


"Sebenarnya kamu sudah pernah bertemu dengannya, sayang kamu tidak mengenalinya dan dia pun begitu. Kalian seperti orang asing yang tidak memiliki ikatan darah sama sekali." ungkap Lina.


"Kapan aku bertemu dengannya? Kenapa kamu diam saja? Kenapa tidak mengatakannya langsung padaku?" cerca Suganda. Ada sedikit kekecewaan terlukis di wajahnya.


"Bicara yang jelas Lina, aku tidak mengerti maksudmu." desak Suganda.


Lagi-lagi Lina terdiam untuk sejenak. Apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya pada Suganda?


"Mas, aku akan mengatakannya padamu. Tapi untuk saat ini cukup kita berdua saja yang tau menjelang kebenarannya terungkap. Kita harus melakukan tes DNA agar posisi anak itu jelas. Bisakah kamu membantuku merahasiakan ini dari Roni?" pinta Lina.


"Baik, aku tidak akan menceritakan apa-apa padanya. Sekarang katakan padaku siapa anak itu," tegas Suganda.


"Di-Dia..."


Lina menghela nafas berat dan membuangnya dengan kasar.


"Dia pria yang tadi kita jumpai di rumah sakit." Lina mengatakannya dengan susah payah. "Ya, anak itu adalah Zayn yang sekarang sudah menikah dengan mantan istri Roni. Zayn anak yang kamu buang dua puluh tahun yang lalu. Aku membesarkannya selama lima tahun dan setelah itu dia diadopsi." terang Lina.

__ADS_1


"Zayn?" seketika mata Suganda melebar dengan jantung bergemuruh kencang.


"Iya, Zayn adalah anak itu. Anak yang kehilangan jati dirinya karena kesalahan yang telah kamu perbuat. Sekarang dia sudah bahagia bersama istri dan calon anaknya. Tolong jangan pisahkan mereka!" lirih Lina dengan mata berkaca.


Suganda tiba-tiba tersandar dengan guratan penyesalan di wajahnya, dadanya mendadak sesak. Satu kesalahan yang sudah dia perbuat ternyata menyebabkan kemelut diantara kedua putranya.


Akankah Roni sanggup menerima kenyataan ini? Bagaimana kalau kebenciannya terhadap Zayn semakin mendalam setelah tau bahwa Zayn adalah adiknya. Pria yang selama ini dia salahkan atas kehancuran keluarganya.


"Ya Tuhan, tolong ampuni aku! Semua ini salahku, tapi kenapa harus anak-anakku yang menanggung hukumannya." tak terasa air mata Suganda mengalir begitu saja di sudut matanya, menyesal pun tidak ada gunanya.


"Lina, antar aku ke rumah Zayn sekarang juga!" pinta Suganda. Dia dengan cepat menyeka wajah dan mengatur nafas untuk menenangkan dirinya.


"Tapi Mas-" ucapan Lina seketika dipotong oleh Suganda.


"Tidak ada tapi tapi, bawa aku ke sana atau aku akan pergi sendirian." ancam Suganda.


"I-Iya, aku akan mengantar Mas ke sana." angguk Lina.


Setelah meminta bantuan pada Fikri, Suganda berhasil didudukkan di bangku belakang. Lina duduk di sampingnya dan Fikri lekas mengendarai mobil menuju kediaman Zayn yang cukup jauh dari kediaman majikannya.


Sepanjang perjalanan Suganda hanya diam dalam pemikirannya sendiri. Selain menyesal dia juga merasa bersalah karena menuruti egonya di masa lampau.


Jika saja dia tidak terpancing dengan hasutan orang, mungkin kejadian itu tidak akan pernah terjadi.


Layla tidak akan meninggal secepat itu dan Zayn belum tentu dibuang olehnya. Begitu juga dengan Roni yang tidak mungkin berubah jadi pria yang tidak punya hati seperti saat ini.


Roni tumbuh dalam dendam dan menganggap adik dan ibunya lah penyebab kehancuran keluarganya. Kini semua orang jadi korban atas sikap semena-mena dirinya.


"Maafkan aku Layla, maaf." batin Suganda dengan mata berkaca. Meski dia tidak pernah mencintai ibu dari putranya itu, tapi Suganda tetap memperlakukannya dengan baik.


Sikap Suganda sangat berbanding terbalik dengan Roni. Suganda sangat menghargai wanita, dia tidak pernah menyakiti Layla kecuali saat pertengkaran dahsyat itu terjadi. Itupun hanya cekcok mulut saja.


Berbeda dengan Roni yang jika marah dia tidak akan segan melayangkan tangannya kepada Amira. Beruntung Zahira cepat terlepas dari jeratannya dan terhindar dari mulut manisnya yang penuh tipu daya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2