
Pukul sepuluh pagi sepasang suami istri itu sudah terbangun dari tidur mereka. Zayn mengulas senyum saat mendapati wajah Zahira yang masih menempel di dadanya, perut buncit Zahira ikut melekat di pinggangnya.
Meski kepalanya masih terasa sedikit pusing, tapi Zayn berusaha melengahkannya. Nanti juga akan hilang dengan sendirinya.
"Meluknya jangan kencang-kencang sayang, nanti dedek bayinya kejepit." ucap Zayn seraya mencubit hidung Zahira gemas, dia beringsut sedikit memberi ruang agar perut Zahira tidak terlalu tertekan olehnya.
"Tidak kok, kan dedek bayinya yang minta." jawab Zahira mengulum senyum.
"Kapan? Masa' ngomongnya sama Mama doang? Sama Ayah tidak, pilih kasih ih." Zayn membuang muka seraya menggembungkan pipinya.
"Hehehe... Ayah cemburu ya?" tawa Zahira menggelegar memenuhi seisi kamar, lalu dia turun dari tempat tidur dan mengikat rambutnya dengan karet.
Sebelum meninggalkan kamar, Zahira memasuki kamar mandi terlebih dahulu. Dia mencuci muka dan menggosok gigi hingga bersih dan wangi.
"Loh, kok cuci muka doang? Gak mandi?" tanya Zayn sesaat setelah menyusul Zahira.
"Malas, gak mandi pun tetap cantik kan?" seloroh Zahira mengukir senyum, lalu meninggalkan kamar mandi lebih dulu.
Melihat kepedean Zahira yang begitu besar, Zayn geleng-geleng kepala sembari mengacak rambutnya sendiri. Ada benarnya juga yang dikatakan istrinya itu, tidak mandi pun tidak apa, Zahira tetap cantik di matanya.
Setelah kepergian Zahira, Zayn lekas membuka pakaian dan mengguyur tubuhnya di bawah shower. Setelah itu dia keluar dan mengenakan pakaian bersih lalu menyusul Zahira ke dapur.
Seketika mata Zayn menyipit saat menangkap keberadaan Zahira yang tengah mengocok telur, tidak biasanya Zahira melakukan ini. Untuk apa?
"Bikin apaan sayang? Sini, biar aku bantu!" ucap Zayn sembari meraih gelas yang ada di tangan Zahira.
"Tidak usah, biar aku saja!" tolak Zahira menahan gelas yang ada di tangannya.
"Capek loh, itu ngocoknya harus sampai mengembang kan?" balas Zayn.
"Iya, biar busanya banyak." sahut Zahira sembari terus mengocok telur itu.
__ADS_1
Setelah telur itu mengembang memenuhi gelas, Zahira lekas memanaskan air yang sudah dicampur dengan teh. Sesaat setelah mendidih, dia kemudian menuangkan teh itu ke dalam gelas. Tak lupa pula Zahira menambahkan susu kental manis dan sedikit perasan jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis.
"Nih, teh telur spesial untuk suamiku tercinta." ucap Zahira sembari menaruh gelas itu di hadapan Zayn.
"Dicoba dulu biar tau spesial atau tidaknya," jawab Zayn seakan meremehkan kemampuan istrinya.
"Ya sudah, coba saja. Kalau gak enak, buang!" ketus Zahira dengan bibir mengerucut, lalu kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan. Dibilang sarapan tapi sudah telat, dibilang makan siang tapi kecepatan. Terserah saja lah, intinya bisa makan.
Tepat pukul sebelas, Zahira mematikan kompor dan menata masakannya di atas meja. Seketika matanya menyipit mendapati gelas teh telur yang sudah kosong di hadapan Zayn.
"Ck... Ternyata gelasnya bocor," sindir Zahira dengan senyum mengejek.
"Hmm... Sepertinya harus beli gelas baru," sahut Zayn menahan tawa. Saking enaknya teh telur buatan Zahira, gelas itu sampai licin beserta busa-busanya.
Zahira mencebik dengan mata menatap tajam. "Makanya jangan meremehkan kemampuan istri, besok-besok beli sendiri saja di warung. Jangan pernah minta dibuatin lagi!" kesal Zahira.
"Hehe... Jangan gitu dong sayang, buatan istri itu rasanya lebih nikmat." sanjung Zayn melepas tawa.
"Canda kok sayang, masa' dimasukin hati gitu sih? Masukin yang lain saja biar enak," Zayn menarik tangan Zahira dan mendudukkan istrinya itu di atas pangkuannya.
"Lepas Zayn, aku lagi marah loh ini." geram Zahira dengan tatapan membunuh.
"Marah saja, pengen lihat seberapa kuat wanita buncit ini marah sama suaminya." seloroh Zayn memagut erat tubuh istrinya itu. Tangannya bergerak ke permukaan dada Zahira yang kini semakin bulat dan berisi, sementara bibirnya tenggelam di tengkuk Zahira. Zayn meniupnya pelan, hembusan nafasnya yang hangat membuat bulu roma Zahira berdiri tegak.
"Zayn..." de*sah Zahira dengan nafas tercekat di tenggorokan. Dia menggeliat sehingga bokongnya tak sengaja menggesek milik Zayn.
Sontak Zayn memicingkan mata, lalu membukanya lagi dan menghela nafas berat. Zahira bisa merasakan ada yang mengganjal di bokongnya.
"Zayn..." gumam Zahira menautkan alis.
"Hehe... Pengen sayang," ucap Zayn menyeringai menampakkan barisan giginya yang sangat rapi.
__ADS_1
"Apaan sih? Makan dulu, sudah jam berapa ini?" tegas Zahira sembari beranjak dari pangkuan Zayn.
"Tapi ini sudah tegangan tinggi, sayang. Tega ya menyiksa suami sendiri," keluh Zayn dengan air muka memucat, kepalanya cenat cenut menahan li*bido yang sudah memuncak.
"Siapa yang menyiksa? Makan dulu, nanti baru mikirin itu." sahut Zahira sembari duduk berhadapan dengan Zayn.
"Tapi pengennya sekarang, sayang. Please, di sini juga tidak apa-apa." Zayn bangkit dari duduknya dan menurunkan celananya, mata Zahira langsung membulat melihat tongkat berurat milik Zayn yang tengah menunjuk ke arahnya.
"Hihihi..." Zahira menutup mulutnya menahan tawa.
"Jangan diketawain sayang, mau tidak? Kalau tidak, terpaksa aku bermain solo di kamar mandi." kembali Zayn menaikkan celananya dan berbalik hendak melangkah ke kamar mandi.
"Iya, iya, tapi di sofa saja ya." Zahira terpaksa mengangguk, punya istri kenapa harus main solo? Bisa rugi dong Zahira.
Mendengar jawaban sang istri, seketika seringai tipis melengkung di sudut bibir Zayn. Dengan langkah besar, dia lekas menghampiri Zahira dan menggendongnya ke sofa.
Kegilaan Zayn muncul saat tubuh Zahira sudah polos tanpa sehelai benang pun. Perutnya yang buncit dan buah dada yang bulat terlihat begitu seksi di mata Zayn.
Tanpa aba-aba Zayn dengan cepat melu*mat bibir Zahira. Keduanya saling mengesap, membelit lidah dan bertukar air liur.
Lalu Zayn turun menggigiti leher jenjang Zahira, keringat yang asin terasa manis di lidah Zayn.
Puas membuat beberapa jejak kepemilikan, Zayn turun lagi dan meremas kedua gundukan kenyal milik Zahira lalu melahapnya dan menggigit kecil puncak dada berwarna pink kecoklatan itu.
"Aaugh..." de*sah Zahira menikmati rasa yang entah, sekujur tubuhnya merinding meresapi permainan Zayn.
Lalu Zayn meminta Zahira duduk di atas perutnya. Dengan pipi merona merah, Zahira mengangguk lemah dan memposisikan diri di atas daging tak bertulang milik Zayn.
"Aaakh..." de*sah Zahira saat milik Zayn masuk perlahan ke dalam intinya.
Tak hanya sekali, Zahira justru tak hentinya mende*sah saat pinggulnya mulai berayun dengan leluasa. Rasanya begitu nikmat, Zahira benar-benar mabuk kepayang dibuatnya. Apalagi saat pinggul Zayn ikut berayun dari bawah sana. Manik mata Zahira hilang timbul seiring jerit kenikmatan yang melompat keluar dari mulutnya.
__ADS_1