
"Zayn..." panggil Zahira. Dia memilih duduk di samping suaminya yang tengah termenung sendirian di teras rumah yang mereka tempati sekarang.
Sadar akan kedatangan Zahira, Zayn dengan cepat menyapu jejak air mata yang mengalir di pipinya. Dia tidak mau terlihat lemah di hadapan istrinya.
"Iya sayang, kenapa?" Zayn melingkarkan tangan di lengan Zahira, lalu menariknya ke sisi lengan dan mengecup keningnya.
"Sayang..." lirih Zahira.
"Hmm... Kenapa? Kangen ya?" seloroh Zayn mengukir senyum.
"Tidak, bukan itu. Aku kepikiran dengan ucapan Bu Lina tadi siang.
Kalau yang dia katakan itu benar, berarti kamu anak orang kaya dong. Apa kamu akan meninggalkan aku jika sudah bertemu dengan keluargamu? Aku-"
"Sssttt... Ngomong apa sih? Mau aku anak raja sekalipun aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan anak kita. Kalian berdua harta paling berharga yang aku miliki." Zayn mendekap erat tubuh Zahira dan kembali mengecup keningnya.
"Benarkah?"
"Iya sayang, ini janjiku pada kalian berdua. Aku lebih baik tidak bertemu dengan mereka dari pada harus kehilangan kalian berdua." tegas Zayn.
"Terima kasih, aku senang mendengarnya. Ingat ya, janji harus ditepati!" Zahira mengulas senyum dan melingkarkan tangan di pinggang Zayn.
"Iya janji, aku bisa gila jika sedetik saja tidak melihat istriku yang cantik ini." Zayn membalas senyuman Zahira dan menarik hidungnya gemas. "Masuk yuk! Udara malam tidak baik untuk kesehatan bumil,"
Zayn bangkit dari duduknya sembari membantu Zahira berdiri, lalu keduanya melangkah masuk ke dalam rumah. Segera Zayn mengunci pintu dan berjalan ke kamar untuk istirahat. Keduanya berbaring di kasur dengan posisi saling berpelukan berbagi kehangatan.
...****************...
__ADS_1
Malam berlalu begitu saja, kicau burung mulai bernyanyi merdu seiring mentari pagi yang mulai menampakkan sinarannya.
"Pagi baby," sapa Zayn mengukir senyum. Sudah hampir satu jam dia terbangun tapi dia enggan sekali beranjak dari posisinya. Dia masih ingin menatap muka bantal Zahira yang menggemaskan, apalagi sekarang pipi Zahira semakin tembem dan berisi. Zayn suka sekali melihat perubahan fisik istrinya.
"Hmm... Kamu sudah bangun?" gumam Zahira mengucek mata. Kelopak matanya terasa sangat berat tapi dia berusaha menahannya.
"Tidur saja kalau masih ngantuk, hari ini kita tidak usah ke cafe. Biar Lusi dan karyawan lain yang mengurusnya sampai ruangan kita selesai direnovasi. Aku ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan istriku yang manja ini." ungkap Zayn sembari mengusap dan mengecup pucuk kepala Zahira.
Zahira mengangguk lemah, sebenarnya dia juga sangat malas kemana-mana. Entah kenapa sejak Zayn kembali dalam hidupnya, dia ingin selalu berdekatan dengan suaminya itu. Sedetik pun dia tidak mau lepas darinya.
Mungkin karena selama ini Zahira sudah lama tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian seperti yang diberikan Zayn padanya, jadi ada ketakutan di diri Zahira kehilangan momen itu.
Zayn tidak hanya menjadikan Zahira sosok seorang istri yang selalu dimanja dan disayang, Zayn juga seperti sosok ayah yang mampu melindungi dirinya. Zahira bersyukur bertemu dengan Zayn. Meski awalnya hubungan mereka bermula dari dosa, tapi akhirnya dosa itu mampu menyatukan cinta mereka. Berbagi kesedihan dan hukuman atas apa yang sudah mereka lakukan sebelumnya. Ada hikmah yang bisa mereka ambil dari kekhilafan yang pernah mereka lakukan.
"Sayang, kita pergi honeymoon yuk. Tidak usah jauh-jauh, dekat juga tidak apa-apa asal berdua sama kamu." ajak Zahira.
"Terserah apapun namanya, yang penting tujuannya sama saja kan?" kata Zahira dengan bibir mengerucut.
"Ish, jangan ngambek gitu dong. Jelek tau, kamu mau baby-nya menjiplak bibir kamu? Dower dong nanti," Zayn menahan tawa dan melabuhkan kecupan hangat di bibir Zahira.
"Biarin, yang penting mirip Mamanya. Hihihi..." Zahira tertawa malu-malu.
"Curang ih, mirip Ayah dong. Kan Ayah yang berjuang sampai titik peluh penghabisan." Zayn menggembungkan pipi seolah tengah merajuk.
"Tapi tetap saja Mama yang mengandung, hehe..." Zahira tetap tak mau kalah, dia terus saja menyelang perkataan Zayn.
"Ya sudah, iya iya. Baby-nya mirip Mama, Ayah cuma dapat capeknya doang." Zayn mengulum senyum dan mencubit pipi Zahira. Kian hari dia kian gemas melihat pipi chubby istrinya.
__ADS_1
Setelah mandi dan berganti pakaian, Zayn menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua. Lagi-lagi Zahira hanya ingin makan kalau disuapi suaminya. Rasanya begitu nikmat saat makan melalui tangan laki-laki yang sangat dia cintai.
Cinta?
Ya, diam-diam Zahira sudah memendam perasaan itu untuk Zayn. Hanya saja dia belum berani berkata jujur, biarkan waktu saja yang akan menjawabnya.
...****************...
"Bagaimana? Apa ada titik terang tentang keberadaan anak itu?" tanya Suganda saat Fikri masuk ke kamarnya mengantarkan sarapan pagi.
"Belum Pak, wanita itu masih saja tutup mulut. Sepertinya dia takut aku akan menyakiti anak itu, dia salah paham menilai maksud kedatanganku." jelas Fikri.
"Cari cara lain memangnya tidak bisa, waktuku sudah tidak banyak. Jika aku mati sebelum sempat bertemu dengannya, Roni lah yang akan menguasai semua aset milikku. Aku tidak percaya padanya, sudah berkali-kali dia mengecewakanku dengan perilakunya yang memalukan itu. Sikapnya tidak pantas menjadi seorang pemimpin, aku yakin perusahaan dan bisnis ku yang lain akan hancur di tangannya."
Meski selama ini Suganda hanya terbaring lemah di kamarnya, tapi dia tau apa saja kelakuan Roni di luar sana. Dia juga sangat menyayangkan perpisahan yang sudah terjadi diantara Roni dan Zahira. Walaupun dia sangat kecewa, tapi dia tidak pernah menyalahkan Zahira.
Jika ada yang patut disalahkan, itu adalah dirinya. Dia yang memohon agar Zahira mau melanjutkan perjodohan itu. Berharap Roni akan berubah di tangan wanita yang tepat, sayang Roni malah menduakan Zahira tanpa sepengetahuan dirinya. Dia juga tidak bisa menyalahkan Amira, wanita itu juga korban seperti Zahira.
"Aku janji akan menemukan anak itu secepatnya. Bapak jangan pesimis, yakinlah bahwa Bapak masih sanggup untuk bertahan. Aku yakin anak itu adalah putra Bapak, darah daging Bapak. Bapak harus sembuh demi dia. Apa Bapak tidak ingin menebus waktu yang pernah terbuang sia-sia?" jelas Fikri.
"Kenapa kamu bisa seyakin itu?" Suganda menilik manik mata Fikri dengan kening sedikit mengkerut.
"Karena aku tau Bu Layla bukan wanita murahan seperti yang Bapak tuduhkan waktu itu. Hanya orang-orang iri yang mengatakan itu pada Bapak, mereka ingin menghancurkan rumah tangga dan kesuksesan Bapak. Buktinya mereka berhasil kan?"
"Tidak hanya menghancurkan rumah tangga Bapak, mereka juga berhasil menjatuhkan perusahaan. Membuat Bapak terbaring lemah seperti ini, membuat Bu Layla pergi untuk selamanya. Mereka juga berhasil mengubah karakter Roni yang dulunya penurut menjadi anak yang tidak bisa diatur, lalu memisahkan Bapak dengan putra bungsu Bapak sendiri. Apa Bapak belum sadar juga?"
Seketika Suganda terdiam mendengar semua itu. Ada benarnya juga yang dikatakan Fikri barusan, semua itu tidak mungkin terjadi secara kebetulan kan? Pasti ada seseorang dibalik semua yang terjadi.
__ADS_1
Bersambung...