Kekhilafan Terindah

Kekhilafan Terindah
Kekhilafan Terindah Bab 23.


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu dan kini perut Zahira sudah semakin membesar. Beberapa bulan menjelang persalinan hubungan Zayn dan Zahira nampak semakin harmonis, keduanya selalu bersama kemanapun Zayn pergi.


Hari ini Zahira ada kunjungan ke rumah sakit untuk cek kehamilan. Seperti biasa Zayn selalu menemani istrinya karena sudah tak sabar ingin melihat jenis kelamin bayi mereka.


Saat mengantri di kursi tunggu, manik mata seseorang tak sengaja menangkap keberadaan mereka berdua. Sinar kebencian terpancar jelas di wajah pria itu.


"Ada pasangan tidak tau malu rupanya," seru Roni dengan tatapan tajam seperti mata elang. Ingin sekali dia menghajar Zayn tapi keadaannya tidak memungkinkan.


Zayn dan Zahira memutar leher, betapa terkejutnya mereka berdua saat mendapati Roni yang tengah berdiri tegak tak jauh dari tempat mereka duduk.


"Zayn... Dia di sini," gumam Zahira dengan air muka memucat. Trauma itu masih ada dan Zahira sangat takut melihat mantan suaminya itu.


"Tidak apa-apa, ada aku." jawab Zayn. Dia menggenggam tangan Zahira dengan erat.


Zayn sengaja tidak menghiraukan ucapan Roni. Dia sadar dimana posisinya, dia tidak ingin membuat kegaduhan yang bisa saja mengganggu kenyamanan rumah sakit.


"Hei, kenapa diam saja? Malu?" sindir Roni dengan senyum mengejek. "Tentu saja malu, kamu kan wanita tukang selingkuh dan kamu pria perebut istri orang." Roni menunjuk Zahira dan Zayn secara bergantian.


"Dasar pendosa, sudah berzina dan sekarang malah bangga mengandung anak haram itu. Kalian memang sama-sama tidak-"


"Cukup!" bentak Zayn dengan suara yang sangat lantang. Semua orang yang ada di sekitarnya menatap heran dengan tatapan bertanya-tanya.


Zayn tidak bisa lagi mengendalikan emosinya. Tidak apa jika dirinya dihina, tapi dia tidak akan tinggal diam jika pria itu terus saja menghina istri dan bayinya.


"Sebelum menilai orang, lihat dulu siapa dirimu. Apa kamu tidak punya kaca di rumah?" Zayn bangkit dari duduknya tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Zahira. "Kenapa? Menyesal setelah menyia-nyiakan wanita yang kini sudah menjadi istriku?" Zayn tersenyum mengejek.


"Ingat, bukan salahku jika merebut istrimu dan menjadikannya milikku. Dia pantas dicintai, bukan dikhianati seperti yang sudah kamu lakukan padanya. Kamu yang menduakan dia dan tidak pernah memberinya nafkah batin. Suami seperti apa itu?" ejek Zayn. Kini semua mata beralih menatap Roni, pria itu nampak gugup dan bingung harus menjawab apa.


"Seorang istri tidak hanya memerlukan nafkah lahir saja. Apa kamu tidak sadar banyak yang tidak kamu penuhi sebagai seorang suami? Lalu apa yang salah jika dia mendapatkan semua itu dariku? Aku memang tidak punya uang, tapi aku punya cinta yang besar untuknya. Kenapa menyalahkan kami atas dosa yang lebih dulu kamu perbuat? Sadar, sekarang hubungan kalian sudah berakhir. Dia istriku dan kamu tidak punya hak untuk mencampuri urusan kami."


Setelah berbicara panjang lebar, Zayn membantu Zahira berdiri dan membawa istrinya menjauh dari tempat itu. Zayn sudah kehilangan semangat, dia ingin membawa Zahira ke rumah sakit lain saja.


Saat keduanya berjalan menuju lobby, langkah mereka tiba-tiba terhenti saat berpapasan dengan Lina. Wanita paruh baya itu tengah mendorong kursi roda Suganda, sepertinya pria itu baru saja menjalani perawatan.

__ADS_1


Suganda terlihat lebih gemuk dari sebelumnya, air mukanya juga nampak lebih segar dan bercahaya.


"Bu Lina..." sapa Zayn dan Zahira bersamaan.


"Ayah..." lanjut Zahira menyapa Suganda, pria yang dia ketahui sebagai mantan mertuanya.


"Zayn, Zahira..." sahut Lina.


"Zahira..." jawab Suganda.


Seketika tatapan Lina berubah seperti orang kebingungan dengan mata menyipit memandangi mereka bertiga bergantian. Sepertinya Suganda sangat mengenali Zahira, ada apa ini? Lina benar-benar tidak mengerti.


"Mas kenal sama Zahira?" tanya Lina penasaran.


"Hmm... Zahira adalah mantan menantuku, mantan istri Roni." angguk Suganda.


"Apa?" Lina nampak syok mendengar itu, matanya membulat dengan sempurna.


Bagaimana mungkin hal seperti ini bisa terjadi? Jika Zahira mantan istrinya Roni, itu artinya Zayn telah menikahi mantan kakak iparnya sendiri. Lina benar-benar bingung memikirkan situasi ini.


"Dasar pecundang," sorak Roni saat tiba di tempat itu.


Zayn yang mendengar itu sontak menghentikan langkahnya dan berbalik. "Bukan aku yang pecundang, tapi kamu Tuan Roni. Sebaiknya bertaubatlah sebelum terlambat, jangan pernah mencampuri urusan rumah tanggaku lagi!"


"Apa yang dikatakan suamiku benar, bertaubatlah dan urus saja keluargamu sendiri. Aku sudah bahagia bersama Zayn, lebih baik kamu menjauh dari kehidupan kami!" sambung Zahira.


Mendengar itu, Suganda terperanjat dan menatap Zahira dengan sendu. Harapannya lenyap seketika.


Dia pikir Zahira masih memiliki kesempatan untuk kembali menjadi menantunya, tapi kenyataan membuat dadanya mendadak sesak.


"Zahira, apa kamu sudah menikah lagi?" tanya Suganda ingin tau.


Zahira mengangguk yakin, "Iya Ayah, ini suamiku dan aku sedang mengandung anaknya. Meski suamiku bukan orang kaya seperti putra Ayah, tapi aku sangat bahagia menjadi istrinya. Dia memperlakukanku dengan sangat baik, dia juga memberikan kebahagiaan yang tidak pernah aku dapatkan dari pria itu." Zahira menunjuk Roni dengan telunjuk kidal.

__ADS_1


"Tolong katakan pada putra Ayah untuk tidak mengganggu aku dan suamiku lagi. Jika dia masih nekad, kami tidak akan segan melaporkan perbuatan jahatnya pada pihak yang berwajib!" tegas Zahira.


"Ck... Jangan mimpi, sampai kapanpun aku tidak akan pernah berhenti mengganggu hidup kalian." tantang Roni.


"Diam Roni!" hardik Suganda.


"Kenapa Ayah menyuruhku diam? Mereka berdua pendosa, mereka tidak boleh bahagia di atas penderitaanku." jawab Roni.


"Tidak ada yang membuatmu menderita, semua terjadi karena kesalahanmu sendiri. Ayah sudah menikahkan mu dengan wanita sebaik Zahira, tapi kamu sendiri yang merusak pernikahan kalian."


"Sekarang telan saja penyesalanmu itu. Zahira sudah menikah dan bahagia bersama suaminya. Jika kamu mengganggu mereka lagi, Ayah sendiri yang akan bertindak." ancam Suganda.


"Tapi Ayah-"


"Ayah sudah memberimu kesempatan, kenapa tidak kamu manfaatkan dengan baik? Kini fokus saja pada Amira, dia tengah mengandung darah dagingmu!" tekan Suganda.


"Tapi aku tidak mencintainya Ayah." keluh Roni.


"Berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Kamu sendiri yang memilih dia," tegas Suganda. "Zahira, kamu pergilah. Biar Roni menjadi urusan Ayah."


Zahira mengangguk lemah sembari menangkup kedua tangan, Zayn pun melakukan hal yang sama. "Permisi,"


Setelah Zahira dan Zayn menghilang, Roni mendengus kesal dengan mata melotot tajam. "Aku tidak akan pernah membiarkan mereka bahagia."


"Kalau begitu Ayah tidak akan memberimu sepersen pun dari harta yang Ayah miliki." sahut Suganda.


"Ayah, aku ini anakmu. Bagaimana mungkin Ayah tidak-"


"Pilihan ada di tanganmu,"


Setelah mengatakan itu, Suganda meminta Lina membawanya ke parkiran. Terapi hari ini sudah cukup membuatnya merasa nyaman.


Dia sudah berjanji untuk sembuh agar Lina mau mempertemukan dia dan putra bungsunya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2