
Usai makan malam, mereka berempat bersiap-siap untuk pulang. Tadinya Zayn berniat pulang ke apartemen, tapi Suganda berupaya membujuknya dengan berbagai macam cara, akhirnya dia setuju untuk pulang ke rumah Suganda. Dia juga penasaran bagaimana kehidupan sang ayah sebenarnya. Dua mobil mewah itupun meninggalkan parkiran cafe beriringan.
Di dalam perjalanan pulang, Zahira hanya diam menatap lurus jalanan yang mereka tempuh. Sedikit ada keraguan di hatinya karena harus berurusan kembali dengan mantan suaminya, padahal mereka sudah berusaha menghindar dan memilih tinggal di apartemen.
Akan tetapi, Zahira tidak berani mengutarakan kekhawatirannya itu. Dia tidak ingin merusak suasana hati Zayn yang tengah berbahagia setelah membuka pintu maaf untuk Suganda, biarkan saja semua mengalir apa adanya.
"Sayang..." panggil Zayn seraya menoleh ke arah Zahira.
"Hmm..." gumam Zahira memutar leher. Tatapan keduanya bertemu sejenak sebelum Zayn kembali fokus menatap jalanan yang dia lalui.
"Kamu kenapa? Kok kelihatannya lesu begitu?" tanya Zayn yang kini tengah menggenggam tangan Zahira dengan sebelah tangannya. Dia yakin Zahira sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak apa-apa, aku hanya lelah." alibi Zahira agar tidak menimbulkan kecurigaan di hati Zayn.
"Yakin?" Zayn mencoba memastikan, keningnya mengernyit melirik Zahira.
"Hmm... Ngantuk akunya, pengen tidur." angguk Zahira.
Mendengar kata itu, Zayn sontak tertawa. "Hahaha... Sabar ya, nanti dikelonin sampai rumah." seloroh Zayn, lalu melepaskan genggamannya dan mengacak rambut Zahira gemas.
"Apaan sih Zayn? Jangan mikir aneh-aneh gitu!" tukas Zahira mengerucutkan bibir sembari menepis tangan Zayn dari kepalanya.
"Loh, apanya yang aneh sayang. Biasanya juga dikelonin terus kan?" imbuh Zayn mengulum senyum.
"Iya, iya, sekarang fokus saja nyetirnya. Tidak capek ngoceh mulu dari tadi?" keluh Zahira, lalu merebahkan jok dan bersandar sembari memejamkan mata.
Tidak terasa sudah setengah jam mereka di jalan, Zayn pun mengikuti mobil yang dikendarai Fikri memasuki sebuah gerbang. Manik mata Zayn berputar-putar memandang ke segala arah.
__ADS_1
"Apa aku salah mengikuti mobil?" batin Zayn kebingungan. Rasanya tidak mungkin rumah yang dia lihat sekarang punya Suganda. Apa ayahnya sekaya itu?
Rumah itu menjulang tinggi dengan dua lantai dan memiliki ukuran yang sangat luas. Pekarangannya saja bisa dimanfaatkan untuk bermain sepak bola. Sekilas terlihat seperti rumah konglomerat yang ada di film-film. Jangankan memasuki rumah semewah itu, membayangkannya saja Zayn tidak pernah.
Tidak, tidak, Zayn menggeleng-gelengkan kepalanya lalu memundurkan mobilnya. Dia hendak meninggalkan rumah itu tapi Suganda sudah keburu turun bersama Fikri.
Sontak Zayn menginjak pedal rem mendadak, Zahira yang tadinya tertidur langsung terbangun karena guncangan yang cukup mengejutkan.
"Zayn, ada apa?" tanya Zahira seraya mengucek mata. "Kita sudah sampai?" imbuhnya setelah memperhatikan keadaan di sekelilingnya.
Zayn memutar leher dan menatap Zahira dengan intens. "Jadi benar ini rumah Ayah?" tanya Zayn memastikan. Dia masih belum percaya sepenuhnya.
"Iya, memangnya kenapa?" jawab Zahira dengan pertanyaan pula.
"Tidak apa-apa, aku cuma kaget." sahut Zayn.
"Ayo, selamat datang di rumah kalian." ucap Suganda menyambut kedatangan putra bungsu dan menantunya itu. Senyum merekah terurai di wajahnya, apalagi sekarang dia sudah tidak perlu duduk di kursi roda lagi. Lengkap sudah kebahagiannya untuk saat ini.
Sesampainya di ruang tengah, mereka berempat disambut dengan tatapan sinis oleh Roni. Pria itu sengaja pulang karena malas berada di rumahnya.
Akan tetapi, hatinya semakin mendongkol melihat sosok pria yang sangat dia benci. Siapa lagi kalau bukan Zayn, pria yang sudah jelas merupakan adik kandungnya sendiri.
"Hebat sekali, angin apa yang membawamu ke sini hah?" sergah Roni mengepalkan tinju. Ingin sekali dia melayangkan bogem mentahnya saat ini juga, tapi melihat keadaan Suganda tiba-tiba Roni mengerutkan kening. "Ayah sudah bisa berjalan?" tanyanya kebingungan.
Zayn yang melihat kebencian di mata Roni hanya tersenyum seraya menggenggam erat tangan Zahira. Dia malas meladeni kakaknya itu.
"Kenapa? Kamu tidak senang?" sahut Suganda, lalu mempersilahkan Zayn dan Zahira duduk.
__ADS_1
"Tentu saja aku senang Ayah, tapi ini terlalu mengejutkan." ucap Roni.
"Berterima kasihlah pada adikmu, ini semua berkat dia. Dia yang memberi kekuatan pada Ayah." jelas Suganda seraya menepuk pundak Zayn. Tentu saja Roni semakin kesal melihat itu, dia merasa tidak dianggap.
Roni menajamkan tatapan ke arah Zayn. "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengakui dia sebagai adikku, pria bajingan seperti dia tidak pantas menjadi adikku." tegas Roni penuh penekanan.
"Tapi kenyataannya dia adalah adikmu, adik kandungmu." tekan Suganda sembari menyodorkan sebuah amplop putih ke tangan Roni. "Hasil tes DNA membuktikan bahwa Zayn adalah anak kandung Ayah. Suka tidak suka, kamu harus menerimanya!" imbuh Suganda.
Setelah mengambil alih amplop itu dari tangan Suganda, Roni lekas membuka dan membacanya. Seketika sudut bibirnya bergerak membentuk senyuman tipis.
"Dasar tamak! Setelah merebut istriku, sekarang mau merebut ayahku juga. Jangan pikir aku akan diam saja!" cicit Roni, lalu melempar kertas itu ke wajah Zayn.
"Hanya ada dua pilihan untukmu," Roni menyeringai. "Pilih Zahira dan tinggalkan rumah ini, atau pilih rumah ini tapi tinggalkan Zahira!" tawar Roni.
Sontak tangan Zayn mengepal mendengar penawaran gila kakaknya itu. "Aku tidak akan pernah memilih. Zahira istriku dan Ayah adalah orang tuaku. Keduanya akan tetap bersamaku." geram Zayn.
"Benar-benar tamak!" sindir Roni, lalu berlalu pergi begitu saja. Otaknya ingin pecah jika kelamaan melihat Zayn.
"Mau kemana kamu?" seru Suganda saat Roni sudah menjauh darinya.
"Apa peduli Ayah? Bukankah kebahagiaan Ayah sudah ada di depan mata? Lalu untuk apa lagi pecundang sepertiku berada di sini? Oh, mungkin aku ini bukan darah daging Ayah kali ya? Miris sekali..."
Setelah mengatakan hal yang menyakiti hati Suganda, Roni benar-benar pergi dan menghilang dari pandangan semua orang. Suganda terdiam menundukkan kepalanya, entah apa yang salah dengan didikannya selama ini sehingga membentuk watak Roni yang sangat keras kepala.
"Sudah Ayah, tidak usah dipikirkan. Aku tau dia memang susah dikasih tau, aku tidak apa-apa kok." Zayn meletakkan tangannya di bahu Suganda dan mengusapnya pelan.
"Maafkan Ayah Zayn, semua ini salah Ayah." lirih Suganda mendongakkan kepalanya, lalu mematut Zayn dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Seandainya Roni bisa lebih dewasa seperti Zayn, Suganda tentu akan sangat bahagia. Tapi kenyataannya Roni bukan Zayn, Roni memiliki ego dan tempramen tinggi yang membuatnya terlalu ambisius dalam menginginkan sesuatu. Suganda takut hal itu yang akan menghancurkan dirinya sendiri.