
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Zayn lekas membuatkan teh hangat untuk Zahira. Dia tidak ingin istrinya sakit sehabis hujan-hujanan tadi.
Setelah itu Zayn duduk di samping Zahira yang masih bersedih, kakinya ditekuk di lantai, dia memeluk lututnya erat dengan tatapan kosong.
Zayn menaruh cangkir yang dia bawa di lantai lalu menarik Zahira ke dalam dekapannya. Dia mengusap pundak Zahira yang masih bergetar, dia benar-benar menyesal karena sudah menjadi manusia yang super bodoh.
Tidak seharusnya dia menyesali nasib yang sudah Tuhan gariskan untuknya. Semua sudah terjadi, mana mungkin bisa diulang kembali.
Sementara di hadapannya saat ini sudah ada kebahagiaan yang tengah menanti. Ada istri dan calon anaknya yang sangat membutuhkan kehadirannya.
"Maafkan suamimu yang bodoh ini, maaf." lirih Zayn penuh penyesalan. Air mukanya nampak kusut dengan netra berbinar mengandung air mata.
"Aku tidak ingin kehilangan kamu Zayn, aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Aku ingin kita berdua menjadi orang tua yang lengkap untuk anak ini. Apa aku salah? Apa aku terlalu berlebihan? Aku hanya ingin bahagia bersama kalian berdua, aku-"
"Iya, aku mengerti. Aku juga tidak mau kehilangan kalian berdua, aku mencintai kalian lebih dari nyawaku sendiri. Aku menyesal, aku janji akan menjadi pria kuat untuk kalian berdua. Aku akan menjaga kalian sampai ajal menjemputku." potong Zayn. Dia mempererat pelukannya dan menempelkan bibirnya di leher Zahira.
Setelah Zahira tenang, Zayn menjauhkan diri dan mengangkat cangkir teh yang tadi dia buat lalu membantu Zahira meneguknya. Setelah itu dia membawa Zahira ke kamar untuk istirahat sembari menunggu makanan yang baru saja dia pesan untuk makan malam.
Di atas kasur, Zahira memeluk Zayn dengan erat. Dia tidak ingin jauh-jauh dari suaminya, dia takut Roni datang lagi dan Zayn diam saja diperlakukan seperti tadi.
"Besok kita pindah dari sini ya, kita tinggal di apartemen saja. Aku takut Roni datang lagi, aku tidak mau kamu-"
"Iya, kita akan pindah. Apapun yang kamu mau, aku akan menurutinya. Sekarang jangan sedih lagi, kasihan dedek bayinya." bujuk Zayn. Dia tidak ingin Zahira stres memikirkan kejadian tadi, dia takut hal itu akan mempengaruhi pertumbuhan calon anaknya.
Tidak lama setelah hujan reda, seorang kurir makanan datang mengantarkan pesanan. Setelah mengambilnya, Zayn berjalan ke dapur dan menyiapkannya di piring lalu membawanya ke kamar.
"Makan dulu ya," ucap Zayn. Dia duduk di sisi tempat tidur dan mulai menyuapi Zahira.
__ADS_1
Setelah makanan di piring itu habis, Zayn kembali ke dapur dan mulai mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Selepas itu dia merapikan dapur dan mencuci piring kotor, lalu kembali ke kamar untuk istirahat.
...****************...
Malam berlalu begitu cepat, kokok ayam sahut sahutan membangunkan sekelompok manusia yang masih tertidur di pembaringan mereka.
Zayn dan Zahira salah satu pasangan yang ikut terbangun. Keduanya meninggalkan kamar dan masuk ke kamar mandi membersihkan diri.
Usai mandi, Zayn mulai mengemasi barang-barang mereka. Pagi ini juga dia berniat meninggalkan rumah dan pindah ke apartemen milik Zahira yang tidak diketahui oleh Roni. Semua itu dia lakukan demi menjaga kesehatan Zahira dan juga calon anaknya.
Setelah memasukkan koper ke dalam bagasi, Zayn menggenggam tangan Zahira meninggalkan rumah. Dia mengunci pintu dan masuk ke dalam mobil.
Di tengah perjalanan, Zayn memarkirkan mobil di depan supermarket untuk membeli kebutuhan yang mereka perlukan sesampainya di apartemen nanti.
Zayn memilih beberapa macam bahan pokok dan makanan cepat saji yang bisa disimpan lama di dalam kulkas. Zahira memilih beberapa kebutuhan lain seperti susu ibu hamil, kosmetik dan berbagai macam cemilan.
"Astaga sayang, ini satu trolly isinya makanan semua?" Zayn membuka mata lebar-lebar, sedetik kemudian menyipitkannya.
"Tidak apa-apa, kalau banyak begini tidak perlu repot-repot lagi keluar masuk apartemen." jawab Zahira enteng.
Zayn dibuat geleng-geleng dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Setelah membayar semua barang yang mereka beli, seorang petugas membantu membawakan dua kantong besar belanjaan mereka ke dalam mobil. Keduanya menyusul masuk dan melanjutkan perjalanan.
Lima belas menit kemudian, sampailah mereka di parkiran apartemen. Zayn membantu Zahira turun dan menurunkan semua barang yang ada di dalam mobil. Kemudian Zayn meminta beberapa orang petugas yang berjaga mengantarkan barang-barang itu ke unit mereka.
Sesampainya di unit yang ada di lantai sepuluh, Zayn memberikan tips untuk petugas yang sudah membantunya sembari mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Setelah petugas itu meninggalkan mereka, Zayn lekas menutup pintu dan menyeret koper mereka ke kamar. Setelah itu dia kembali dan membawa barang belanjaan tadi ke dapur.
Ada beberapa yang Zayn susun di dalam kulkas ada juga yang dia susun di rak dan meja makan. Zahira hanya tersenyum melihat aktivitas Zayn. Dia sengaja hanya duduk sembari mematut pekerjaan suaminya.
Setelah menanak nasi menggunakan rice cooker, Zayn duduk sejenak memikirkan apa yang ingin dia masak.
"Mau makan apa, sayang?" tanya Zayn pada Zahira yang masih terpaku mengamati pergerakannya.
"Makan kamu," jawab Zahira tanpa sadar dengan dagu yang bertumpu di punggung tangan.
Zayn menyipitkan mata, bingung mendengar jawaban istrinya yang tidak masuk akal.
"Astaga, masih pagi sudah melamun." geram Zayn. Dia beranjak dari tempat duduknya dan berdiri di samping Zahira.
"Yakin mau makan aku?" Zayn membungkukkan punggung dan berbisik di telinga Zahira.
Sontak Zahira terperanjat saat merasakan hembusan nafas Zayn yang menerpa telinganya, lalu dengan cepat Zahira menepis lamunannya.
"Kenapa Zayn?" tanya Zahira dengan air muka datar. Dia lupa dengan apa yang baru saja dia ucapkan.
"Kenapa?" Zayn mengerutkan kening, giginya menggertak kuat saking kesalnya mendengar pertanyaan Zahira. "Melamun saja terus," ketus Zayn sembari menegakkan punggungnya, lalu memilih memasuki dapur dan menyiapkan makanan sembari menunggu nasi yang dia tanak tadi matang.
Zahira yang melihat itu hanya bergeming dengan mata menyipit. Salahnya apa coba? Kenapa Zayn terlihat seperti orang marah begitu?
Lalu Zahira mencebik sambil mengangkat bahu. Dia memilih pergi meninggalkan meja makan dan masuk ke dalam kamar.
Di dalam sana Zahira lekas membuka pintu lemari, lalu membuka koper dan menyusun pakaian mereka dengan rapi sembari menunggu makanan yang disiapkan Zayn matang.
__ADS_1
Zayn memang pandai memasak, sebab itulah Zahira sangat doyan dengan masakan apa saja yang dibuat suaminya itu. Mungkin karena itu juga berat badan Zahira semakin naik.