
Sore hari, Zayn dan Zahira turun ke bawah setelah mandi bersama dan berganti pakaian.
Setelah merenovasi ruangan itu beberapa waktu yang lalu, mereka sengaja menambahkan kasur, lemari dan perabot lain yang dibutuhkan. Tak lupa pula mereka menyediakan pakaian di dalam lemari untuk berjaga-jaga apabila hal seperti tadi terjadi tanpa diduga.
Sesampainya di bawah, keduanya tersenyum memperhatikan keadaan cafe yang tengah ramai dipadati pengunjung. Para pelayan nampak sibuk keluar masuk dapur untuk menyiapkan pesanan.
Tak ingin ongkang ongkang kaki begitu saja, keduanya masuk ke dapur membantu dua orang chef yang tengah kelabakan menyelesaikan banyaknya pesanan yang menumpuk. Bahkan untuk istirahat menghela nafas saja tidak ada waktu.
Setelah memasang celemek, Zayn mulai berjibaku menyiapkan makanan sedangkan Zahira membantu menyiapkan minuman. Keduanya terlihat kompak seperti chef profesional.
Saat menjelang malam, cafe mulai sepi. Keduanya memilih istirahat dan duduk menikmati matahari yang mulai terbenam. Langit yang menguning menambah indah suasana petang itu.
Tengah asik bersenda gurau layaknya anak muda yang tengah berpacaran, tiba-tiba mereka berdua dikagetkan dengan kedatangan sebuah mobil mewah yang berhenti di parkiran. Seorang pria dan wanita paruh baya yang sangat mereka kenali turun dari mobil itu, seorang pria lain menyusul turun dan duduk di kursi roda.
Zayn menatap malas dan memutar lehernya ke arah Zahira. "Masuk yuk!" ajaknya.
"Tapi Zayn-"
__ADS_1
"Aku tidak ingin bertemu mereka," Zayn bangkit dari duduknya dan melangkah pergi begitu saja. Dia sengaja meninggalkan Zahira, biar istrinya saja yang menyambut kedatangan mereka.
Zahira menatap punggung Zayn yang mulai menjauh dari pandangannya, beberapa detik kemudian dia mengalihkannya ke arah tiga orang yang sudah berada di hadapannya.
"Zahira..." sapa Lina sembari tersenyum.
"Iya Bu, silahkan duduk!" sahut Zahira dengan sopan. "Ayah..." imbuh Zahira menyapa Suganda.
"Kalau begitu aku permisi," timpal Fikri setelah mendorong kursi roda Suganda. Dia menjauh dari mereka bertiga dan memilih menunggu di dalam mobil.
"Ada apa Bu, Ayah? Tumben kalian berdua datang ke sini," tanya Zahira memulai percakapan. Sebenarnya dia sudah tau tapi berpura-pura tidak tau untuk menghindari kecanggungan diantara mereka.
"Ayah ingin bertemu dengan Zayn, apa Zayn ada?" tanya Suganda langsung ke intinya. Dia tidak ingin berbelit-belit, dia sudah tidak sabar membawa Zayn pulang ke rumahnya.
"Maaf Ayah, Zayn tidak bisa diganggu. Dia-"
"Dia kenapa?" potong Suganda.
__ADS_1
Zahira memicingkan mata barang sejenak dan menghela nafas sebanyak-banyaknya. Sulit baginya untuk bicara, tapi dia sendiri tidak bisa berbohong, itu bukan dia.
Mau tidak mau Zahira terpaksa jujur agar masalah ini tidak berlarut-larut. Dia hanya ingin Zayn tenang menjalani hidupnya, terlalu banyak beban derita yang ditanggung Zayn selama ini. Dia tidak ingin suaminya tambah menderita.
"Maaf Ayah, Zayn tidak ingin bertemu dengan Ayah." ungkap Zahira merasa tidak enak hati, air mukanya tiba-tiba menggelap.
"Kenapa Zahira? Apa Ayah-"
"Zayn sudah tau semuanya, kami mendengarnya saat di rumah sakit kemarin. Ini tidak adil untuknya, apalagi kemarin Mas Roni mendatangi rumah kami dan menghajar Zayn tanpa belas kasih. Zayn tidak mengharapkan keluarga seperti ini, dia tidak ingin menjadi bagian dari keluarga kalian. Biarkan kami hidup dengan cara kami sendiri!" jelas Zahira dengan mata berkaca.
Dengan pandangan mengabur, Suganda memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa ngilu. Rongga pernafasannya menyempit mendengar itu, ini sangat menyakitkan untuknya. Terlebih saat tau apa yang dilakukan Roni pada Zayn. Suganda benar-benar marah sehingga lupa mengontrol emosinya.
"Lina, bawa aku pulang!" pintanya dengan nafas tercekat di tenggorokan. Dia hanya ingin bertemu Roni dan memberi pelajaran pada anak biadabnya itu.
"Iya, baiklah." angguk Lina.
Setelah berpamitan, Lina mendorong kursi roda Suganda menuju mobil. Zahira menyandarkan punggung pada sandaran kursi dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
__ADS_1