Kekhilafan Terindah

Kekhilafan Terindah
Kekhilafan Terindah Bab 42.


__ADS_3

Setelah satu jam lamanya menunggu, seorang bayi perempuan menangis dengan lantang. Amira tak kuasa menahan rasa haru di hatinya, tangisannya pecah mendengar suara itu.


Begitupun dengan Roni yang tiba-tiba menitikkan air matanya. Alangkah bodohnya dia menyia-nyiakan bayi yang tak berdosa itu. Selama di dalam kandungan tak sekalipun dia mempedulikannya.


"Maaf Bu, tolong jangan menangis! Itu menyulitkan kami menjahit perut Ibu." ucap seorang dokter yang tengah menyelesaikan pekerjaannya.


Roni yang mendengar itu dengan cepat meraih tangan Amira. Dia menggenggamnya erat dan meletakkan di pipinya. "Berhentilah menangis, aku mohon!" lirih Roni berderai air mata.


"Kenapa kamu masih di sini, Mas? Pergilah! Aku dan putriku tidak membutuhkanmu." ucap Amira. Dia menarik tangannya dari genggaman Roni lalu menyeka pipinya.


Bak disambar petir di siang bolong, hati Roni hancur mendengar itu. Tapi dia tidak bisa menyalahkan Amira, wajar Amira berkata seperti itu setelah apa yang dia lakukan selama ini. Roni pun hanya diam tanpa berkata apa-apa.


Setelah suster membersihkan sang bayi, dia membawanya ke hadapan Roni dan Amira. "Selamat ya Pak, Bu, bayi kalian cantik sekali. Bobotnya tiga koma delapan kg dengan panjang lima puluh cm." ucap suster itu mengulas senyum.


"Sini, Sus!" pinta Roni sembari menampung kedua tangannya. Suster itupun meletakkan bayi itu di tangan Roni.


Sejenak Roni bergeming menatap wajah polos bayi itu. Ya, hatinya terenyuh. Bisa-bisanya dia tidak mempedulikan darah dagingnya sendiri selama ini.


Tanpa pikir panjang, Roni langsung mendekap bayi itu. Dia mendekatkan mulutnya ke telinga bayi mungil itu dan lekas mengazaninya. Amira yang melihat itu tak sanggup menatapnya, dia memalingkan wajahnya sembari menangis tersedu-sedu.


Setelah mengazani bayinya, Roni mendekapnya sambil berkata. "Maafkan Papa ya, Nak. Papa bersalah sama kamu dan Mama. Tolong beri Papa kesempatan untuk menebus semua kesalahan yang sudah Papa perbuat. Papa janji tidak akan menyia-nyiakan kalian lagi. Papa sungguh-sungguh,"


Secara tidak langsung mungkin ucapan Roni itu sengaja dia tujukan pada Amira melalui bayinya yang tidak mengerti apa-apa, berharap Amira mau memaafkannya dan memberinya kesempatan kedua.


Setelah satu jam berlalu, Amira siap dipindahkan ke ruang inap. Dua orang suster mendorong brankar dan Roni tetap memeluk putri kecilnya di dekapannya, lalu menyusul ke ruangan Amira.


"Makasih, Sus." ucap Roni saat kedua suster itu berbalik hendak meninggalkan ruangan.


"Sama-sama, Pak." jawab dua suster itu serentak, lalu melanjutkan langkah mereka.


Setelah punggung kedua suster itu menghilang dari pandangannya, Roni mendekatkan kursi rodanya ke brankar dan menaruh putri kecil mereka di samping Amira.

__ADS_1


"Pergilah dari sini, tinggalkan kami berdua!" usir Amira tanpa berani menatap muka Roni, dia memfokuskan matanya pada putri mungilnya yang tengah tertidur lelap.


Mendengar itu, Roni tersenyum getir. Dia memang pantas diperlakukan seperti itu, suami macam apa dia? Sekalipun dia tidak pernah berlaku lembut pada Amira, dia selalu mengasarinya dan menyakiti perasaannya. Bahkan dia tidak pernah menganggap ada bayi yang dikandung Amira selama ini.


Tapi kali ini Roni tidak akan menyerah semudah itu. Sebenci apapun dan sesakit apapun Amira memperlakukannya, dia akan menerimanya tanpa protes. Dia memang pantas mendapatkannya.


"Kenapa diam saja, Mas? Apa kamu tuli?" Amira meninggikan volume suaranya.


"Maaf Amira, kali ini Mas tidak akan melepaskan kalian. Mas sudah kehilangan kalian sekali, Mas tidak ingin kehilangan lagi." jawab Roni yakin.


Sontak Amira tersenyum sinis mendengar itu. "Apa kamu waras? Jangan-jangan kecelakaan itu sudah membuat otakmu bergeser. Berobat sana biar pulih kembali!" ketus Amira menatap kesal pada Roni.


Bukannya marah Roni malah tersenyum mendengar itu. "Ya, mungkin kecelakaan itu sudah menggeser otak Mas, tapi Mas suka seperti ini." jawab Roni enteng.


"Huh, dasar gila." umpat Amira, lalu membuang muka ke arah lain.


Sejenak ruangan itu menjadi hening, baik Amira maupun Roni tidak ada yang bersuara satupun. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.


Ya, dia marah mendengar itu. Dia tidak mau bercerai dengan Amira, dia ingin memperbaiki hubungan mereka dan menjadi orang tua utuh untuk putrinya.


Dari Suganda dia belajar, ternyata anak adalah segalanya. Dia tidak ingin putrinya kehilangan kasih sayang seorang ayah seperti yang dirasakan Zayn selama ini. Mata hatinya sudah terbuka dan dia akan tetap mempertahankan rumah tangganya.


"Sampai lebaran monyet sekalipun, Mas tidak akan pernah menceraikan kamu. Kamu istri Mas dan selamanya akan tetap seperti itu." tegas Roni penuh penekanan.


"Tapi sayangnya aku tidak mau lagi jadi istri kamu," tukas Amira dengan tatapan tajam.


"Terserah, yang pasti Mas tidak akan pernah mengabulkan permintaan kamu." tekan Roni.


"Cukup membuatku tersiksa! Apa lagi yang ingin kamu lakukan padaku? Selama ini aku sudah memberimu kesempatan tapi kenyataannya kamu tidak berubah sedikitpun. Aku lelah Mas, tolong lepaskan aku, biarkan aku memilih jalanku sendiri!" pinta Amira memohon.


Setelah mendengar itu, Roni berusaha bangkit dari duduknya dengan susah payah. Meski kakinya terasa sakit tapi dia mencoba kuat, dia harus bisa berdiri seperti sebelumnya demi buah hatinya.

__ADS_1


"Aakh..." erang Roni saat kakinya berhasil berdiri tegak meski harus bertumpu pada sisi brankar.


Lalu Roni membungkukkan punggungnya dan mencium putrinya yang masih tertidur dengan pulas. Setelah itu Roni mendekatkan wajahnya ke pipi Amira, tapi wanita itu dengan cepat membuang mukanya.


Tak ingin menyerah, Roni pun meraih pipi Amira dan memutarnya ke arahnya. Sejenak tatapan keduanya beradu pandang.


"Lihat Mas!" ucap Roni sembari menangkup tangannya di pipi Amira. "Mas tau selama ini kamu sangat menderita karena kelakuan Mas, tapi tolong beri kesempatan buat Mas untuk memperbaikinya. Mas janji akan berubah, Mas tidak ingin kita berpisah." lirih Roni dengan tatapan sendu.


"Aku tidak percaya, orang seperti Mas tidak akan... Mmphh..."


Tiba-tiba ucapan Amira terhenti, Roni membungkam mulutnya dengan ciuman lembut. Dia juga melu*matnya tanpa kekerasan seperti yang dia lakukan sebelumnya.


"Untuk kali ini saja Mas mohon. Maafkan segala salah dan dosa Mas, biarkan Mas membuktikan kalau Mas benar-benar sudah berubah. Tetaplah menjadi istri Mas, paling tidak tolong lakukan ini demi putri kita. Dia berhak bahagia bersama kedua orang tuanya." bujuk Roni melembutkan suaranya.


"Tapi-"


"Sssttt..." Roni menaruh telunjuknya di bibir Amira, beberapa detik kemudian mengesapnya kembali. Sontak air mata Amira jatuh berderai. Baru kali ini dia merasakan kelembutan yang disuguhkan Roni padanya.


"Demi putri kita, tolong!" imbuh Roni memohon.


Melihat cara Roni yang tidak seperti biasanya, hati Amira mendadak tersentuh. "Cuma satu kali," gumamnya dengan bibir mengerucut.


"Iya, cuma sekali. Mas janji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini." yakin Roni mengulas senyum.


"Tapi kalau Mas berulah lagi aku-"


"Tidak akan, kali ini Mas sungguh-sungguh." potong Roni lalu mendaratkan ciuman sayang di kening Amira.


Amira pun memicingkan mata menerima itu lalu membukanya kembali dan memeluk tengkuk Roni dengan erat.


Seketika Roni menghela nafas lega dan mengecup pipi Amira bergantian. Dia janji akan memperbaiki semuanya dan menjadi suami serta ayah yang baik untuk buah hatinya.

__ADS_1


__ADS_2