
Keesokan hari pernikahan Zayn dan Zahira dilangsungkan di kantor KUA setempat. Tidak ada pesta tidak ada resepsi seperti pernikahan yang diidamkan banyak orang.
Meski Zayn sudah berulang kali meminta maaf, Zahira tetap tidak mempermasalahkan hal tersebut. Bukankah resepsi itu tidak wajib? Zahira tidak ingin menuntut apa-apa, yang penting status mereka jelas dan anak yang dikandungnya mendapatkan hak atas nama ayahnya.
Setelah akad nikah selesai diselenggarakan, Zayn memasangkan cincin kawin di jari manis Zahira. Memang bukan perhiasan mahal tapi Zahira sangat senang memakai cincin itu, begitu juga dengan Zayn.
Selepas menandatangani surat nikah, Zayn dan Zahira menyalami dan mencium punggung tangan Santos dan istrinya. Ketua RT itu menjadi salah satu saksi atas pernikahan Zayn yang baru saja dilangsungkan.
"Selamat ya, semoga kalian berdua berbahagia." ucap Santos.
"Terima kasih banyak atas bantuan dan dukungan Bapak, saya berhutang budi banyak pada Bapak dan Ibu." sahut Zayn dengan tatapan sendu.
"Tidak masalah, ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai ketua RT. Sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, kalian berdua sudah resmi menjadi suami istri. Jadilah suami yang baik dan bertanggung jawab untuk istri dan anakmu kelak!" pesan Santos.
"Iya Pak, saya akan mengingat amanah dari Bapak. Bapak sudah seperti keluarga bagi saya."
Setelah semua beres, mereka berempat berpamitan pada penghulu dan staf KUA yang ikut meramaikan akad nikah tersebut. Kebetulan mereka datang bersamaan dengan mobil milik Zahira dan pulang pun berbarengan.
Selepas menurunkan Santos dan istrinya di depan rumah mereka, Zayn langsung melajukan mobil itu menuju rumahnya yang hanya berjarak sepuluh rumah saja dari sana.
Zayn turun lebih dulu setelah memarkirkan mobil, dia membukakan pintu untuk Zahira dan tak segan menggendongnya dan berjalan memasuki rumah.
"Zayn, apa yang kamu lakukan? Malu tau," kata Zahira dengan pipi bersemu merah. Dia mengalungkan tangan di tengkuk Zayn dan menyembunyikan wajah di leher suaminya itu.
"Kenapa musti malu? Yang digendong istri sendiri kok," jawab Zayn enteng.
"Iya juga sih, tapi tidak di luar rumah juga kali. Apa kata tetangga nanti?" keluh Zahira.
"Jika ingin rumah tangga kita aman dan bahagia, tidak perlu mendengar omongan orang!" tegas Zayn penuh penekanan.
"Hahahaha... Iya juga sih," Zahira tertawa kecil dan mempererat pelukannya.
Setelah Zayn berhasil membuka pintu, dia masuk dan menutupnya kembali lalu membawa Zahira ke dalam kamar dan membaringkannya di atas kasur.
Zayn ikut berbaring dengan posisi miring, tangan kanannya membentuk segitiga siku-siku dengan telapak tangan menopang kepala. Sementara tangan kirinya asik mengelus wajah Zahira mulai dari pipi, hidung, dagu dan bibir. Tatapannya terlihat sendu mematut manik mata istri yang baru dinikahinya itu.
"Maaf ya, aku belum bisa memberikan apa yang kamu inginkan." lirih Zayn.
"Cukup minta maafnya! Bosan tau," keluh Zahira dengan bibir mengerucut.
"Hehehehe... Habisnya tidak tau harus ngomong apa lagi," Zayn tertawa kecil dan mencubit pipi Zahira, lalu mengecup keningnya.
__ADS_1
"Sekarang kita berdua sudah resmi menjadi suami istri. Apa yang menjadi milikku berarti milikmu juga. Mulai sekarang aku percayakan cafe padamu, kelola cafe itu dengan baik. Aku tidak mau lagi memikirkan pekerjaan, aku ingin fokus sama kamu dan anak kita. Aku mau menjadi Ibu rumah tangga saja," terang Zahira.
"Apa kamu yakin? Kenapa segitu percayanya sama aku? Kamu tidak takut aku memanfaatkan keadaan ini?" Zayn mencoba menakut-nakuti Zahira.
"Tidak, untuk apa aku takut? Kalau kamu berkhianat, siap-siap saja kehilangan aku dan anak kamu. Kami tinggal pergi sejauh mungkin dan tidak akan kembali lagi." jawab Zahira gamblang.
Mendadak air muka Zayn berubah keruh. "Jangan dong sayang, aku lebih baik tidak punya apa-apa asal kamu dan anak kita tetap berada di sisiku!"
"Maka dari itu, tunjukkan pada kami bahwa kamu bisa sukses seperti laki-laki lain di luar sana! Aku yakin kamu pasti bisa dan jangan pernah sekalipun mengkhianati kepercayaan yang sudah aku berikan. Aku ingin kamu hanya melihatku saja, jangan mengulangi apa yang pernah dilakukan Roni padaku. Kamu tau sendiri aku tidak akan memaafkan seorang pengkhianat." tekan Zahira.
"Tidak akan, aku janji tidak akan pernah mengkhianati cinta kita. Asal kamu dan anak kita ada di sampingku, aku akan melakukan apa saja untuk kalian. Aku akan berusaha menjadi sosok suami dan ayah yang baik, tidak akan ada wanita lain selain kamu. Kamu yang pertama dan terakhir untukku, kamu juga satu-satunya yang akan menemaniku sampai ajal menjemput ku."
"Buktikan, jangan bisanya ngomong doang!" Zahira mengulum senyum.
"Baiklah, akan ku buktikan. Sekarang kasih bukti fisik dulu ya, nanti yang lain menyusul."
Tanpa pikir Zayn langsung saja mengangkat dagu Zahira dan mengesap bibirnya. Zahira hanya pasrah dan membiarkan Zayn berbuat sesuka hatinya, lagian sekarang sudah tidak ada ketakutan akan dosa yang pernah mereka lakukan.
Satu persatu pakaian Zahira dan Zayn mulai lepas dari tubuh mereka. Hawa kamar ikut memanas menyaksikan pergulatan yang mereka tampilkan di atas ranjang tersebut.
Dinding kamar menjadi saksi bisu bersatunya dua insan yang tengah menggila itu.
Setelah puas mengesap bibir dan membuat tanda kepemilikan di leher Zahira, Zayn mulai fokus menyambar dua gunung kenyal milik istrinya. Zayn menghisap puncaknya dan mengitarinya dengan lidah. Desa*han tipis lolos dari mulut Zahira seketika itu juga.
"Kenapa sayang?"
"Cepat Zayn, aku sudah tidak kuat. Kamu membuatku merinding,"
"Panggil sayang dulu!"
"Tapi kan-"
"Ya sudah aku main di atas saja,"
"Sayang, ayolah!"
"Nah gitu dong,"
Zayn mengulum senyum saat Zahira memanggilnya dengan sebutan sayang, rasanya sangat membahagiakan.
Lalu Zayn turun dan menyelami inti Zahira yang sudah mulai basah, Zayn menjilatinya dan menghisapnya dengan rakus. Aroma khas yang menyeruak membuat Zayn semakin candu dengan bagian itu.
__ADS_1
"Aughhh... Sayang..."
Zahira menjerit kecil sembari memicingkan mata, sekujur tubuhnya bergetar saat sesuatu mengalir dari intinya.
"Sayang, cepat! Aku-"
"Jleb!"
Tanpa menunggu lama, Zayn langsung masuk dan bergerak dengan leluasa. Tidak hanya jeritan tapi desa*han Zahira tak henti mengalun memenuhi seisi kamar.
Zayn semakin candu melihat reaksi Zahira. Zayn merasa bangga karena berhasil memuaskan hasrat istrinya.
Lalu Zayn menarik diri, Zahira terdiam dan menatapnya dengan tatapan kecewa. "Kenapa berhenti?"
"Gantian," jawab Zayn enteng. Dia menyandarkan punggung di kepala ranjang, lalu meminta Zahira duduk di atasnya. "Ayo, naik!"
"Tapi kan-"
"Tidak ada tapi-tapi, mau ngerasain yang lebih nikmat lagi kan?"
"Iya,"
"Makanya naik, ntar juga ketagihan!"
Dengan raut kebingungan, Zahira mengikuti arahan Zayn. Dia menyatukan diri dan mulai bergerak semaunya.
"Aughhh... Sayang... Ini-"
"Ini kenapa?"
"Ini gila sayang, aku benar-benar... Aughhh..." Zahira menjerit kecil saat sesuatu keluar dari intinya. Dia memeluk tengkuk Zayn erat sembari meremas rambutnya. "Aughhh..."
"Gimana? Enak?"
"Iya, aku lemes banget sayang. Sudah ya,"
"Jangan dong, tunggu suami dulu. Masa' main tinggal saja,"
Zayn memeluk pinggang Zahira dan menjatuhkannya di kasur, lalu Zayn menekuk kaki istrinya dan menggempur intinya tanpa ampun.
"Aughhh... Sayang... Ya ya ya..." racau Zahira dengan mata memicing, lalu menggigit bibir.
__ADS_1
"Aakhh..." Zayn mengerang dahsyat setelah menumpahkan cairannya di inti Zahira. Tubuhnya tumbang dan terbaring lemah di samping istrinya.
Bersambung...