Kekhilafan Terindah

Kekhilafan Terindah
Kekhilafan Terindah Bab 27.


__ADS_3

Beberapa jam berlalu, Zayn dan Zahira akhirnya tiba di rumah sakit. Setelah menanyakan ruangan Suganda di meja resepsionis, mereka langsung menuju ruang inap sesuai arahan petugas.


Tepat di depan pintu, langkah keduanya tiba-tiba terhenti saat menangkap siluet seorang pria yang tengah berdiri di sisi brankar.


Zayn dan Zahira urung memasuki ruangan itu dan memilih menunggu di luar saja. Keduanya duduk di kursi tunggu yang ada di depan pintu ruangan VIP itu.


"Tidak Ayah, ini tidak lucu." bentak Roni. Pria itu meninggikan suara, dia nampak syok sembari memijat dahi. Pengakuan Suganda barusan tidak masuk dalam logikanya.


Bagaimana mungkin Zayn adalah adiknya? Ini benar-benar di luar nalar, Roni tidak bisa menerima kenyataan ini. Apalagi selama ini dia sangat membenci anak itu, anak yang dia anggap sebagai perusak keharmonisan keluarganya.


Gara-gara anak itu ibunya meninggal, wanita yang dulunya sangat dia sayangi hingga akhirnya berubah menjadi wanita yang sangat dia benci.


Semua hancur sejak anak itu hadir di dalam kandungan sang ibu. Dia kehilangan keceriaan masa kecilnya, dia kehilangan kasih sayang seorang ibu dan dia juga kehilangan perhatian seorang ayah yang hanya terbaring lemah di atas ranjang bertahun-tahun lamanya.


Bahkan kini anak itu juga yang dia anggap telah menghancurkan rumah tangganya dengan Zahira, menyentuh miliknya dan merebutnya dengan cara licik.


Mana mungkin Roni bisa berdamai dengan kenyataan? Dia sudah terlanjur benci pada Zayn, fakta apapun tidak akan sanggup merubah keadaan.


"Tidak Ayah, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai adikku. Ayah jangan bodoh, dia pasti punya maksud tersembunyi dibalik semua ini." tuding Roni.


"Terserah kamu saja, faktanya dia adalah adikmu. Terima tidak terima, dia tetaplah adikmu. Ayah akan melakukan tes DNA dengannya. Jika hasilnya cocok, kamu harus siap menerima dia di keluarga kita!" tegas Suganda.


"Ayah jangan gila, bagaimana mungkin aku bisa menerima dia di keluarga kita? Dia sudah menghancurkan rumah tanggaku dengan Zahira, bagiku dia tetaplah musuh." tekan Roni.


"Bukan dia yang menghancurkan rumah tanggamu, tapi kamu sendiri yang gagal mempertahankannya. Ingat Roni, Ayah sudah memilihkan yang terbaik untukmu tapi kamu sendiri yang menyia-nyiakan istri sebaik Zahira. Jangan limpahkan kesalahan yang sudah kamu perbuat kepada orang lain, Zayn hanya mengikuti kata hatinya dan dia mampu membuktikan bahwa dia lebih layak untuk Zahira." ucap Suganda.


"Layak dari mananya Ayah? Dia bahkan tidak mampu menafkahi Zahira." sahut Roni.


"Iya, itu karena dia tidak tau siapa dia sebenarnya. Setelah kenyataan ini terungkap, dia pasti bisa menafkahi Zahira. Dia dan kamu punya hak yang sama atas aset yang Ayah miliki."


"Deg!"


Zayn yang mendengar itu tiba-tiba mengusap dada. Jantungnya seakan berhenti untuk berdetak.


"Zayn..." lirih Zahira. Dia menggenggam tangan suaminya, dia ikut terkejut mendengar perdebatan yang terjadi di dalam sana.


"Zahira, aku-"


"Iya sayang, aku juga mendengarnya." potong Zahira. Tatapan keduanya menyatu dengan mata yang tiba-tiba berkaca.


"Jadi aku-"


Mendadak air mata Zayn jatuh membasahi pipinya. Zahira lekas bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Zayn. Tangisan Zayn pecah di perut Zahira yang sudah semakin membuncit.


"Ternyata yang dikatakan Bu Lina itu benar, aku punya Ayah dan aku juga punya Kakak. Tapi kenapa selama ini aku hidup sendiri, apa aku-"


"Sssttt... Jangan berpikir aneh-aneh, mungkin yang dikatakan Bu Lina waktu itu juga benar. Ada kesalahpahaman sehingga kamu harus dikucilkan." selang Zahira menenangkan suaminya. Dia memeluk kepala Zayn dan mengusap rambutnya.


"Apapun alasannya, tetap saja aku bukan anak yang diharapkan. Pria itu sudah membuangku, terlambat jika dia harus menyesal sekarang. Kenapa tidak dari dulu dia mencariku dan membawaku kembali? Ini tidak benar Zahira, aku tidak bisa menerima ini. Ayo, sebaiknya kita pulang saja. Aku tidak ingin bertemu mereka," Zayn melepaskan pelukannya dari pinggang Zahira, dia menyeka pipi yang sudah banjir dengan air mata lalu menarik tangan Zahira.

__ADS_1


"Tapi Zayn-" Zahira menahan tangan suaminya.


"Tolong mengertilah, aku tidak ingin bertemu mereka." lirih Zayn dengan tatapan pilu.


"Baiklah," angguk Zahira. Dia tidak ingin memaksa Zayn untuk tetap berada di sana. Dia tau bahwa ini sangat berat untuk Zayn. Pria yang sejak dulu hidup sederhana dan apa adanya, ternyata merupakan pewaris keluarga ternama. Anak dari mantan mertuanya dan adik dari mantan suaminya. Zahira juga syok mengetahui kebenaran ini, kenapa dunia sesempit ini?


Sesampainya di mobil, Zahira meminta Zayn untuk duduk di samping bangku kemudi. Dia tidak ingin Zayn mengemudi dalam pikiran kacau seperti saat ini.


Beberapa menit berselang, tibalah mereka di kediaman sederhana Zayn. Keduanya turun dari mobil, Zayn memilih duduk di bawah pohon seri yang tumbuh rindang di pekarangan rumahnya.


"Aku buatkan teh ya," tawar Zahira.


"Tidak perlu, aku ingin sendiri dulu untuk beberapa saat. Kamu masuklah dan istirahat!" jawab Zayn dengan tatapan kosong. Raganya memang berada di sana tapi pikirannya entah dimana sekarang. Dia merasa seperti kapal yang terombang-ambing di lautan luas, tidak tau kemana harus berlabuh.


"Tapi Zayn-"


"Zahira tolong!" potong Zayn dengan suara bergetar.


"Baiklah," angguk Zahira. Dia terpaksa meninggalkan Zayn sendiri dan masuk ke dalam rumah.


Sebenarnya Zahira agak kecewa dengan perlakuan Zayn yang seakan tidak menghargai keberadaannya, tapi Zahira tidak ingin egois. Zayn mungkin memang butuh waktu untuk sendiri, tidak mudah bagi Zayn menerima ini.


Setelah punggung Zahira menghilang dari pandangannya, air mata Zayn kembali jatuh tanpa bisa dia tahan.


Tidak hanya memikirkan hubungannya dengan Suganda dan Roni, Zayn juga khawatir akan hubungannya dengan Zahira.


Apa ini hukuman atas dosa yang sudah dia perbuat sebelumnya? Dia telah meniduri istri kakaknya sendiri. Adik seperti apa dia?


Dalam kegalauan yang tengah menggerogoti hatinya, tiba-tiba sebuah mobil mewah masuk ke pekarangan rumahnya. Zayn mengangkat kepalanya, matanya membulat melihat siapa yang tengah turun dari mobil itu.


Ya, pria itu adalah Roni. Selepas berdebat dengan Suganda di rumah sakit tadi, dia langsung meminta alamat Zayn pada Fikri. Tatapan tajam keduanya bertemu untuk sejenak.


"Bajingan," umpat Roni setelah berhadap-hadapan dengan Zayn yang kini sudah bangkit dari duduknya.


"Siapa bajingan?" tanya Zayn sembari memutar leher ke kiri dan ke kanan seolah-olah ada orang lain yang berdiri di sampingnya. Setelah menatap Roni kembali, seringai tipis melengkung di sudut bibirnya.


"Bug!"


Tanpa aba-aba Roni dengan cepat mendaratkan bogem mentahnya ke wajah Zayn.


Zayn termundur beberapa langkah, hampir saja tubuhnya tersungkur ke tanah.


"Puas kamu hah. Jangan katakan bahwa ini adalah rencana busukmu untuk menghancurkan keluargaku!" geram Roni dengan tangan yang masih mengepal hendak memukul Zayn sekali lagi.


Zayn tersenyum getir sembari menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya. "Kenapa Kak? Marah setelah tau kenyataan yang sebenarnya?"


"Diam, atau jangan salahkan aku jika-"


"Jika apa Kak?" potong Zayn yang masih saja tersenyum tanpa merasa sakit sedikitpun.

__ADS_1


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, aku bukan kakakmu." bentak Roni.


"Sudah ku duga," Zayn kembali tersenyum. "Aku juga tidak mau menjadi adikmu, tapi sayang kenyataannya aku adalah adikmu." Zayn ikut meninggikan suara.


"Bug!"


Kembali Roni melayangkan bogem mentahnya hingga tubuh Zayn akhirnya tersungkur ke tanah.


"Hehe... Pukul terus, bila pergi sampai aku mati di tanganmu!" tantang Zayn sembari menyeringai.


"Jangan menguji kesabaranku!" kali ini Roni melayangkan kakinya di pinggang Zayn. Tetap saja Zayn tersenyum tanpa merasa sakit sedikitpun.


"Ayo, hajar terus!" seru Zayn.


"Bug!"


"Bug!"


Berkali-kali Roni memukul dan menendang Zayn dengan membabi buta, tapi Zayn sama sekali tidak melakukan perlawanan hingga tubuhnya remuk. Tulang-tulangnya terasa lepas dari sendinya.


"Seharusnya aku ikut mati bersama Ibu. Kenapa dia tidak membawaku pergi bersamanya? Kenapa aku yang harus menanggung beban ini sendirian? Aku bahkan tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia ini. Untuk apa? Ibu meninggalkanku, Ayah membuangku dan Kakakku sendiri membenciku. Apa kesalahan yang sudah aku lakukan pada kalian? Lalu apa yang salah jika aku mencintai Zahira? Tidak bisakah aku bahagia walau sedetik saja. Kenapa kalian semua menganggapku seperti sampah?" lirih Zayn meringkuk dalam ketidakberdayaannya. Kenyataan ini membuatnya hancur sehancur hancurnya.


"Bunuh saja aku Kak, aku tidak ingin hidup seperti ini. Kenyataan ini sangat menyakitkan bagiku, tidak ada yang mengharapkan kehadiranku di dunia ini. Bahkan Kakak yang seharusnya menjagaku, malah dia sendiri yang menginginkan kematianku." setelah mengatakan itu, Zayn terbatuk dan memuntahkan darah dari mulutnya.


"Uhuuuk..."


"Ayo Kak, habisi aku sekarang juga. Biarkan aku menyusul Ibu, aku ingin memeluknya sekali saja." ucap Zayn dengan susah payah.


"Zayn..." pekik Zahira yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Matanya melebar mendapati tubuh suaminya yang sudah tergeletak tak berdaya di permukaan tanah. Sedetik kemudian dia berlari kencang menghampiri Zayn tanpa memikirkan janin yang ada di dalam kandungannya.


Zahira menjatuhkan diri di samping Zayn dan mengangkat kepala suaminya, lalu memeluk Zayn berderai air mata. "Cukup Mas, tolong jangan sakiti suamiku!" pinta Zahira memohon.


"Biarkan saja Zahira, biarkan dia membunuhku dengan tangannya sendiri. Ini lebih baik, aku ingin bertemu Ibu dan memeluknya sekali saja. Ibu pasti senang jika aku datang menemuinya, aku sudah lelah dengan hidup ini. Tidak ada yang menginginkan kehadiranku di sini," ucap Zayn dengan susah payah. Suaranya nyaris tak terdengar dengan air mata yang terus saja mengalir membanjiri pipinya.


"Tidak Zayn, jangan pedulikan mereka. Aku menginginkanmu, aku tidak mau kehilangan kamu Zayn. Kamu tidak boleh meninggalkanku, kamu tidak boleh pergi. Anak kita membutuhkan kamu Zayn, dia juga menginginkan kamu. Tolong bertahanlah!" tangisan Zahira pecah menyaksikan keputusasaan suaminya.


Kenapa hidup ini tidak adil bagi suaminya? Kenapa Zayn harus dihadapkan dengan masalah yang tak henti membelit hidupnya?


"Puas kamu Mas, senang kamu setelah menyiksa adikmu sendiri? Kamu tidak pantas dipanggil kakak, kamu itu binatang. Pergi dari sini, aku tidak ingin melihat mukamu lagi!" pekik Zahira dengan suara sangat lantang.


"Zahira..." Roni mencoba meraih pundak mantan istrinya itu tapi Zahira dengan sigap menepis tangannya.


"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu, aku bersumpah akan memenjarakanmu jika sesuatu terjadi pada suamiku. Harusnya kamu yang mati, manusia tidak punya hati sepertimu tidak pantas hidup di muka bumi ini." teriak Zahira.


Seakan bumi turut mendukung kata-kata yang dikeluarkan Zahira barusan, petir tiba-tiba menggelegar meluluh lantakkan seisi bumi. Air hujan turun dengan deras dan mengguyur tubuh mereka bertiga.


Lalu Roni berlari memasuki mobil, dia tidak bisa terkena air hujan. Sementara Zahira sendiri masih memeluk Zayn dengan tubuh basah kuyup dan pakaian yang sudah kotor kena percikan air yang sudah menyatu dengan tanah.


"Sayang, buka matamu. Kita masuk ke dalam ya, kamu harus kuat demi anak kita. Jika kamu mati, aku bersumpah akan ikut bersamamu. Aku akan mengikuti mu kemanapun kamu pergi." isak Zahira.

__ADS_1


Seketika mata Zayn terbuka perlahan, dia mengulas senyum dan menarik tengkuk Zahira hingga bibir mereka saling bertautan. Zahira memasrahkan diri dan membiarkan Zayn melu*mat bibirnya. Roni yang melihat itu dari kaca mobil segera memalingkan wajahnya.


__ADS_2