Kekhilafan Terindah

Kekhilafan Terindah
Kekhilafan Terindah Bab 28.


__ADS_3

"Kamu kenapa Zayn? Kenapa membiarkan Roni menyakitimu sampai seperti ini?" lirih Zahira sembari mengobati luka di wajah Zayn.


Setelah membawa Zayn masuk ke dalam rumah barusan, Zahira lekas membuka pakaian Zayn yang sudah basah kuyup dan memakaikan pakaian kering lalu membantunya berbaring di atas tempat tidur.


"Zayn, kenapa diam saja? Kamu ini sebenarnya kenapa? Kamu rela mati di tangan bajingan itu, lalu bagaimana dengan aku dan anak kita? Kamu tidak memikirkan kami?" Zahira meninggikan suara, dia tidak habis pikir dengan kelakuan suaminya itu.


"Lalu aku harus apa Zahira? Apa yang bisa aku lakukan? Hidupku sudah hancur sejak aku masih kecil, mereka membuang ku, mereka tidak menginginkan aku. Untuk apa lagi aku hidup?" jawab Zayn dengan suara tak kalah tinggi.


"Deg!"


Zahira terperanjat dengan jantung berdetak kencang, bisa-bisanya Zayn berpikir sesingkat itu setelah mengetahui siapa dirinya. Apa Zahira tidak ada artinya sama sekali di mata Zayn?


Mendadak air mata Zahira jatuh membasahi pipinya. "Kamu benar Zayn, untuk apa kamu hidup? Bahkan kehadiran kami tidak ada artinya bagimu. Lalu untuk apa aku hidup? Tidak ada yang menginginkan aku dan anak ini."


Zahira menjauh dari Zayn dan berlari meninggalkan kamar.

__ADS_1


"Zahira tunggu!" sorak Zayn. Sayang Zahira tidak mau mendengarnya.


"Tidak ada yang menginginkan aku, bahkan suamiku sendiri ingin meninggalkan aku dan anak ini. Untuk apa aku hidup?" Zahira terus saja mengulangi kalimat itu. Dia membuka pintu dan berlari di tengah hujan yang masih setia mengguyur bumi.


"Zahira..." teriak Zayn saat tiba di ambang pintu. Dengan langkah gontai dia menguatkan diri menyusul Zahira yang hampir tiba di dekat pagar.


"Zahira tunggu!" teriak Zayn, tapi Zahira masih saja tak mendengar.


Terpaksa Zayn berlari mengejarnya, rasa sakit hilang begitu saja saat ketakutan kehilangan Zahira menggerogoti hatinya.


"Ciiit..."


"Bug!"


Hampir saja sebuah mobil menyenggol pinggang Zahira di tengah guyuran hujan yang membuat jalanan menjadi licin.

__ADS_1


Beruntung Zayn berhasil meraih pergelangan tangannya dan menariknya hingga mereka berdua terjatuh di pinggir jalan.


"Aaaaa..." pekik Zahira saat tubuhnya terjatuh tepat di atas tubuh Zayn.


"Apa kamu sudah gila?" bentak Zayn sembari mendekap Zahira dengan erat. Jantungnya hampir copot menyaksikan kejadian yang nyaris saja mencelakai istrinya itu.


"Hiks..." Zahira terisak sembari mencengkram dada Zayn. "Kenapa menyelamatkan aku? Biarkan saja aku mati, tidak ada yang menginginkan aku di dunia ini. Satu satunya orang yang aku miliki ingin pergi meninggalkan aku, lalu untuk apa kami hidup?" isak Zahira sesenggukan.


"Tidak sayang, jangan bicara seperti itu. Maafkan aku, aku menginginkan kalian." lirih Zayn penuh penyesalan.


"Bohong..." bentak Zahira. Nafasnya tercekat di tenggorokan.


"Kamu lebih memilih mati di tangan bajingan itu, lalu untuk apa aku hidup? Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu, kemana aku akan pergi jika kamu tidak ada?" mendadak suara Zahira melemah, dia memukuli dada Zayn berulang kali.


"Maafkan aku sayang, aku janji tidak akan seperti itu lagi. Aku akan tetap hidup untuk kalian berdua, sekarang ikut aku pulang ya." bujuk Zayn sembari bangkit dari aspal, lalu membantu Zahira berdiri dan memeriksa perut istrinya itu.

__ADS_1


"Anak Ayah tidak apa-apa kan? Maafkan Ayah ya, Ayah janji tidak akan bertindak bodoh lagi." lirih Zayn di perut Zahira, lalu mengecupnya dengan sayang.


__ADS_2