Kekhilafan Terindah

Kekhilafan Terindah
Kekhilafan Terindah Bab 8.


__ADS_3

Zahira : "Zayn, kamu pulanglah dulu! Bawa saja mobil itu bersamamu, nanti aku hubungi lagi!"


Zayn : "Kenapa Zahira? Apa Roni menyakitimu?"


Zahira : "Tidak, dia tidak menyakitiku. Kamu tidak perlu khawatir. Datanglah ke cafe menggantikan aku, aku sudah membicarakannya dengan manager cafe."


Zayn : "Kenapa harus aku?"


Zahira : "Karena aku percaya padamu. Kamu tidak usah takut, cafe itu seratus persen milikku."


Zahira : "Aku ada acara di luar kota untuk beberapa hari. Aku serahkan tanggung jawabku padamu."


Setelah mengirim pesan itu, Zahira menonaktifkan iPhone miliknya.


Tidak lama setelah Zayn meninggalkan rumah itu, Zahira menyeret kopernya keluar kamar. Roni menyusul di belakang tanpa berucap sepatah kata pun.


Setelah sampai di pintu utama, Zahira menghentikan langkah dan berbalik. "Maaf atas kebodohan yang sudah aku perbuat. Aku pamit, aku tunggu surat cerai dari Mas."


Setelah mengatakan itu, Zahira melanjutkan langkahnya menuju taksi online yang sudah menunggu di depan gerbang. Saat Zahira hendak masuk, Roni menyorakinya hingga Zahira urung menaiki taksi tersebut.


"Zahira, tunggu!"


Roni berlari menghampiri Zahira dan memeluknya dengan erat. "Jangan pergi!" lirih Roni.


Zahira tersenyum getir. "Maaf Mas, aku harus pergi. Semua sudah berakhir, aku tidak pantas lagi mendampingi Mas."


"Tidak Zahira, kamu masih pantas. Mas tidak akan mempermasalahkan hal itu. Kita berdua sama-sama sudah melakukan kesalahan. Kita mulai dari awal lagi ya!" pinta Roni. Dia tidak sanggup kehilangan Zahira, dia masih ingin menyelamatkan rumah tangganya.


"Maaf Mas, aku benar-benar tidak bisa. Wanita kotor sepertiku tidak layak untuk Mas, Mas berhak mendapatkan yang terbaik." Zahira mendorong dada Roni dan segera menaiki taksi online itu.


"Zahira, tolong jangan pergi! Mas sayang sama kamu," ungkap Roni.


"Aku juga sayang sama Mas, tapi jalan kita sudah berbeda. Aku pergi, jaga diri Mas baik-baik!" Zahira menutup pintu mobil dan meminta sang sopir meninggalkan tempat itu. Sesaat setelah mobil itu melaju, Roni berteriak dan tersungkur di aspal.


"Zahira..."


Apa Roni menyesal?


Jawabannya sangat, Roni sangat menyesal. Jika saja dia berani jujur dari awal, mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Zahira pasti bisa menerima kenyataan itu. Sayang ketakutan Roni menjadi boomerang untuk dirinya sendiri, Zahira sampai tergelincir ke lobang dosa karena kesalahannya.


...****************...


"Pagi Zayn," sapa manager cafe yang bernama Lusi.

__ADS_1


"Pagi, apa ada kabar tentang Zahira?" tanya Zayn.


"Tidak ada," jawab Lusi.


Zayn mengusap wajah dan menghela nafas berat lalu masuk ke ruangannya.


Dengan tatapan mata sendu Zayn berdiri di dekat jendela. Dia sudah mati langkah mencari keberadaan Zahira yang sampai sekarang tidak tau dimana keberadaannya.


Hari dimana Zahira meninggalkan semua kenangannya, hari itu juga Zayn mendapat pesan terakhir. Zahira meminta Zayn mengelola cafe dan membebankan tanggung jawab itu sampai dia kembali. Sebab itulah Zayn masih setia di cafe itu, berharap Zahira akan kembali secepatnya.


Sayang sampai detik ini penantian Zayn tidak kunjung berakhir. Sudah tiga bulan dia menunggu, tapi bayangan Zahira bahkan tak pernah muncul di hadapannya.


Zayn akhirnya memutuskan untuk datang ke kediaman Roni, mungkin saja pria itu tau dimana Zahira berada. Atau bisa saja Zahira sudah berbaikan dengan suaminya, sebab itulah Zahira menjauhi Zayn.


Saat memasuki gerbang, kebetulan sekali Roni baru keluar dari pintu. Keduanya berpapasan saat Roni hendak memasuki mobil.


"Permisi," sapa Zayn dengan tubuh tegap yang terlihat sangat proporsional dalam balutan kemeja putih dan celana hitam.


"Kau?" Roni mengulas senyum miring. "Berani sekali kau menginjakkan kaki di rumahku,"


"Maaf, aku ke sini dengan niat baik. Aku butuh kepastian tentang Zahira." ucap Zayn dengan air muka serius. Dia tidak ingin berdebat dan tidak bermaksud mencari masalah. Tujuannya hanya ingin mengetahui keberadaan Zahira.


"Kenapa? Merasa kehilangan?" sindir Roni dengan senyum mengejek.


"Heh, menyedihkan sekali hidupmu. Sudah dijadikan tempat pelampiasan sesaat, lalu ditinggal pergi begitu saja." ejek Roni.


"Tidak masalah jika aku hanya dijadikan tempat pelampiasan, setidaknya aku sangat menghargai Zahira. Aku tidak pernah menyakitinya." sindir Zayn.


"Kau menyindirku?" Roni mengepalkan tinju, rahangnya mengerat kuat.


"Tidak, kalau kau merasa tersindir berarti itu masalahmu. Aku hanya ingin tau dimana Zahira berada, aku butuh bicara empat mata dengannya." jawab Zayn.


"Kalaupun aku tau, aku tidak akan mengatakannya padamu." ucap Roni.


"Kenapa? Kau cemburu padaku? Atau tidak rela Zahira menjadi milikku?" sindir Zayn.


"Jangan lancang mulutmu!" Roni mengangkat kerah kemeja Zayn dan mengangkat tinju di udara.


"Pukul saja! Kenapa berhenti?" tantang Zayn tanpa gentar sedikitpun.


"Bug!"


Zayn termundur saat tinju Roni melayang di wajahnya. Seketika darah segar mengucur deras di hidungnya.

__ADS_1


"Ayo, pukul terus!" tantang Zayn lagi.


"Cukup menguji kesabaran ku, atau aku pastikan namamu saja yang akan keluar dari gerbang ini!" ancam Roni dengan tatapan mematikan.


"Lakukan saja jika itu bisa membuatmu senang! Aku lebih baik mati dari pada harus kehilangan wanita yang aku cintai." Zayn tak hentinya menantang Roni yang sudah tersulut emosi.


"Bug!"


Kali ini Zayn tidak hanya termundur tapi juga tersungkur di tanah. Darah segar kembali mengucur hingga mengotori kemejanya.


"Sudah ku bilang jangan menguji kesabaranku!" geram Roni.


Roni hendak melayangkan tinjunya lagi tapi tiba-tiba seorang wanita mendekat dan berdiri di hadapannya.


"Mas, apa yang kamu lakukan?" tanya wanita yang ternyata adalah Amira. Istri pertama Roni yang kini sudah tinggal di rumah itu.


Roni membuka tinjunya dan mengusap wajah dengan kasar. "Masuk ke dalam, ini bukan urusanmu!"


"Bagaimana mungkin ini bukan urusanku, kamu sudah bertindak semena-mena terhadap orang lain. Sadar Mas, ini bukan kamu!" ucap Amira yang bermaksud mengembalikan kesadaran Roni.


"Cukup Amira, aku bilang masuk ke dalam!" bentak Roni dengan nada meninggi.


"Baik, aku akan masuk. Tapi sebelum itu biarkan aku bicara dengan pria ini." pinta Amira.


"Aku tidak mengizinkannya, cepat masuk!" Roni menarik paksa tangan Amira dan menyeretnya masuk ke dalam.


"Lepas Mas, sakit." lirih Amira tapi tak diacuhkan oleh Roni.


"Zayn, Mas Roni dan Zahira sudah resmi bercerai kemarin. Sekarang Zahira ada di villa milik ayahnya, dia ada di daerah Bogor. Cepat cari dia!" teriak Amira sekencangnya. Berharap Zayn bisa mendengarnya dengan jelas.


Zayn mendengar itu, dia mendengarnya dengan jelas. Lalu dia mengusap darah yang mengalir di hidungnya, tiba-tiba perutnya terasa mual mencium bau amis tersebut.


"Huweek..."


Zayn berlari keluar gerbang dan memuntahkan semua isi perutnya di dekat got. Dadanya nyeri, matanya berkaca, setengah cangkir cairan kuning keluar dari mulutnya. Apa itu efek dari pukulan Roni tadi?


Tapi tidak apa, Zayn tidak masalah meski dipukul sampai sekarat sekalipun. Yang penting dia sudah tau dimana Zahira berada.


Segera Zayn masuk ke dalam mobil dan melesat pergi menuju arah tujuannya.


"Aku datang Zahira, aku akan membawamu kembali." gumam Zayn berderai air mata. Bahkan rasa sakit di bibir dan hidungnya sudah tak terasa lagi.


Dia hanya ingin bertemu dengan Zahira, dia ingin mengutarakan betapa sangat rindunya dia pada wanita itu. Dia ingin memeluknya, mengecup keningnya dan mengatakan bahwa dia mencintai Zahira. Dia ingin Zahira menjadi istrinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2