
"Tok Tok Tok"
Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Zahira yang baru saja terlelap seketika terbangun dan bangkit dari pembaringannya. Dia sengaja tidak membangunkan Zayn karena tau suaminya sangat lelah dan butuh waktu untuk istirahat. Semalam Zayn harus begadang karena Zahira minta dielus terus. Jika tidak, matanya sulit sekali dipejamkan.
Setelah turun dari tempat tidur, Zahira berjalan meninggalkan kamar lalu membukakan pintu depan.
Tiba-tiba kening Zahira mengkerut menyaksikan siapa yang datang bertamu ke rumahnya.
"Bu Lina?" sapa Zahira sesaat setelah pintu terbuka. Matanya menyipit menyambut kedatangan wanita paruh baya itu. Beberapa detik kemudian dia mengalihkan pandangan ke arah Suganda yang tengah duduk di kursi roda. "Ayah?" imbuhnya dengan tatapan kebingungan.
Untuk apa mantan ayah mertuanya itu datang ke rumah suaminya? Ada apa? Sederet pertanyaan tiba-tiba muncul di benak Zahira. Mungkinkah kedatangan Suganda ada hubungannya dengan Roni?
"Zahira, boleh Ayah masuk?" tanya Suganda membuyarkan lamunan Zahira.
"I-Iya Ayah, silahkan masuk!" jawab Zahira terbata, lalu bergeser dari tempatnya berdiri.
Karena sudah mendapatkan izin, Lina pun mendorong kursi roda Suganda memasuki rumah. Seketika hati Suganda mencelos menatap setiap sudut rumah kecil sederhana yang ditempati putra dan mantan menantunya itu.
Wanita yang dia harapkan akan melahirkan cucu dari putra sulungnya, kini malah akan melahirkan cucu dari putra bungsunya.
Hidup yang sebelumnya bergelimang harta, kini malah berubah apa adanya. Ada perasaan bahagia sekaligus sedih kala mengingat kemelut yang terjadi diantara kedua putranya.
Andai waktu itu Suganda tidak membuang Zayn, mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Keduanya tidak mungkin berseteru memperebutkan wanita yang sama.
"Silahkan duduk Bu, Ayah! Maaf kalau rumah ini membuat kalian tidak nyaman." ucap Zahira merasa tidak enak hati. Dia tidak mempunyai kursi tamu, terpaksa Lina duduk di lantai yang hanya beralaskan tikar.
"Tidak apa-apa," jawab Lina sembari tersenyum kecil.
Setelah Lina duduk di samping kursi roda Suganda, Zahira meninggalkan ruangan sejenak. Dia masuk ke dapur dan membuatkan teh untuk mereka berdua.
Tidak lama berselang, Zahira kembali membawa sebuah nampan dan menaruhnya di depan Lina.
"Minum Bu, Yah," tawar Zahira.
"Iya, terima kasih." sahut Lina dan Suganda bersamaan.
Sejenak ruangan tiba-tiba menjadi hening, ketiganya terdiam dalam pemikiran masing-masing.
"Zahira, apa kamu bahagia bersama Zayn?" tanya Suganda memecah kebuntuan.
Zahira terperanjat dan mendongak menatap Suganda. Apa pertanyaan barusan ada hubungannya sama Roni? Apa mantan suaminya itu meminta bantuan pada Suganda untuk membujuknya kembali?
"Zahira bahagia Ayah, Zahira sangat bahagia. Zayn orang yang baik. Meski hidupnya tidak seberuntung Mas Roni, tapi dia sangat menghargai Zahira. Dia memberikan semua yang tidak pernah Zahira dapatkan dari Mas Roni." ungkap Zahira dengan mata berkaca.
"Apa kamu mencintainya?" tanya Suganda lagi.
"Iya Ayah, Zahira sangat mencintai Zayn. Meski umur kami berbeda jauh, tapi Zayn memiliki sifat yang lebih dewasa dari umurnya. Zahira nyaman bersama Zayn." terang Zahira.
Suganda menghela nafas lega mendengar itu, seulas senyum terukir di bibirnya. Meski gagal menjadikan Zahira sebagai menantu sulungnya, tapi dia bahagia karena Zahira masih menyandang status menantu untuknya.
Terlepas Zayn putra kandungnya atau bukan, tetap saja dia bersyukur karena janjinya pada almarhum ayah Zahira tidak sirna begitu saja.
__ADS_1
"Dimana Zayn? Apa dia tidak ada di rumah?" Suganda bertanya lagi.
"Ada Ayah, Zayn sedang tidur." jawab Zahira.
Suganda memutar leher ke arah pintu kamar, tatapannya nampak sendu. Jika dia bisa berjalan, dia ingin sekali menemui Zayn secara langsung dan membangunkan tidurnya. Sayang pergerakan Suganda dibatasi oleh keadaan.
"Boleh Ayah bertemu dengan Zayn?" tanya Suganda meminta izin.
Zahira membulatkan mata. Untuk apa Suganda ingin bertemu dengan suaminya? Dia takut Suganda meminta Zayn menceraikannya dan memaksanya kembali pada Roni.
Kemudian Zahira menoleh ke arah Lina. Wanita paruh baya itu mengulas senyum sembari mengangguk pelan, pertanda Lina tidak keberatan dengan permintaan Suganda.
"Boleh Ayah, kalau begitu tunggu sebentar." Zahira bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamar.
Dengan wajah sedikit gelisah, Zahira mendekati ranjang dan duduk di sisinya.
"Sayang..." ucap Zahira sembari mengguncang lengan Zayn.
"Hmm..." Zayn menggeliat dan membuka mata perlahan. "Kenapa sayang?" tanya Zayn sembari mengucek mata.
"Ada tamu, ayo bangun!" ajak Zahira.
"Siapa?" Zayn balik bertanya.
"Bu Lina sama Ayah. Eh, maksud aku pria yang tadi kita lihat di rumah sakit. Mantan mertua aku," jelas Zahira gugup.
"Maksud kamu Ayahnya Roni?" Zayn membuka mata lebar-lebar. Zahira mengangguk sebagai jawaban. "Untuk apa dia ke sini? Apa ini ada hubungannya dengan Roni?" tiba-tiba suara Zayn sedikit meninggi.
"Sssttt... Jangan kencang-kencang, nanti mereka dengar." Zahira menekan bibir Zayn dengan telunjuknya.
Segera Zayn bangkit dari pembaringannya dan mengusap wajah dengan kasar, lalu mereka berdua meninggalkan kamar untuk menemui Lina dan Suganda.
Saat keduanya tiba di luar, Zayn mengernyitkan kening. Jelas ada keraguan di hatinya saat mematut wajah Suganda. Berbeda saat dirinya menatap Lina, ada senyum tipis terukir di bibirnya.
"Bu Lina," sapa Zayn, lalu dia duduk berhadapan dengan wanita itu. Zahira pun ikut duduk di sampingnya.
Sementara Suganda sendiri nampak berkaca-kaca mematut wajah Zayn, sekilas dia seperti berkaca pada dirinya di waktu muda. Bodohnya dia karena tak bisa merasakan apa-apa saat bertemu di rumah sakit sebelumnya.
Setelah memperhatikan wajah Zayn dengan seksama, hatinya mencelos. Dadanya berdenyut ngilu dengan jantung berdegup kencang. Ada perasaan yang seakan menusuk dada, tiba-tiba Suganda merasa sesak. Setetes cairan bening jatuh di sudut matanya.
"Za-Zayn..."
"Bug!"
Suara benturan keras membuat Zayn, Zahira dan Lina terperanjat. Tiba-tiba saja tubuh Suganda sudah tergeletak di lantai dengan tangan menjulur meraih Zayn.
"Mas..."
"Ayah..."
"Pak..."
__ADS_1
Suara Lina, Zahira dan Zayn sahut menyahut meneriaki Suganda, mereka bertiga panik melihat keadaannya.
"Za-Zayn... Putraku..." lirih Suganda, sedetik kemudian matanya tertutup tak sadarkan diri.
"Mas..." pekik Lina dengan suara lantang memecah gendang telinga. Dia mengguncang lengan Suganda tapi tak mendapat respon sedikitpun.
Seketika Zayn dan Zahira mematung tanpa tau harus berbuat apa. Keduanya saling memandang dengan air muka kebingungan.
Apa mereka tidak salah dengar? Barusan keduanya mendengar Suganda memanggil Zayn dengan sebutan putraku. Apa telinga mereka berdua bermasalah?
"Zayn, tolong bantu Ibu! Bawa Ayah ke mobil," pinta Lina panik.
"Ayah?" Zayn mengerutkan kening, tentu saja dia semakin bingung.
"Cepat Zayn, jangan mengulur-ngulur waktu!" desak Lina dengan mata berkaca. Suganda tidak boleh berakhir sebelum tau kebenarannya.
"I-Iya..." Zayn mengangguk pelan.
Lalu Lina berlari memanggil Fikri yang tengah menunggu di dekat mobil.
Setelah Fikri masuk ke rumah, dia dan Zayn membopong Suganda ke dalam mobil. Lina duduk di sebelahnya memegangi Suganda agar tubuhnya tidak merosot.
"Zayn, Zahira, kalian berdua harus ikut ke rumah sakit!" seru Lina sebelum pintu ditutup.
Zayn mengerutkan kening. "Untuk apa-"
"Jangan banyak tanya, susul Ibu ke rumah sakit sekarang!" Lina meninggikan suara.
"I-Iya, kami akan menyusul." jawab Zahira cepat, lalu menutup pintu.
Setelah mobil itu menghilang, Zayn menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Kenapa kamu mengiyakan permintaan Bu Lina?" Zayn menajamkan tatapan ke arah Zahira.
"Zayn, aku-" Zahira tergugu tanpa tau harus menjawab apa.
"Sepertinya kamu sangat mengkhawatirkan mantan mertuamu itu, atau malah sengaja ingin bertemu dengan putranya?" tuding Zayn yang sudah termakan api kemarahan.
"Zayn..." bentak Zahira. Dia tidak terima dituduh seperti itu. Dia memang mengkhawatirkan Suganda, tapi semua itu tidak ada hubungannya dengan Roni.
"Tidak perlu mencari alasan," Zayn melangkahkan kakinya dan meninggalkan Zahira begitu saja.
"Zayn..." pekik Zahira, tapi tak mendapat respon sedikitpun.
Mendadak air mata Zahira jatuh begitu saja, dia tak menyangka Zayn akan menuduhnya seperti itu.
Zahira kemudian menyusul masuk ke dalam rumah dan melewati Zayn yang tengah duduk di dasar lantai. Zahira lekas memasuki kamar dan membanting pintu dengan kasar, lalu mengurung diri sembari menangis tersedu-sedu.
Selama menikah, baru kali ini Zahira menangis karena tuduhan Zayn yang sangat menyakitkan. Apa salahnya jika Zahira mengkhawatirkan keadaan Suganda? Selama ini pria itu sangat baik terhadap dirinya. Kenapa hal itu harus dikait-kaitkan dengan Roni?
Bersambung...
__ADS_1