
Setelah Zayn selesai memasak, dia menata makanan itu di atas meja kecil yang ada di sudut dapur. Dia tidak memiliki meja makan seperti orang-orang pada umumnya. Dia biasa makan sambil duduk bersila di dasar lantai.
Zayn berharap agar Zahira tidak keberatan dengan ini, bagaimanapun Zahira sudah terbiasa hidup mewah. Akankah Zahira betah tinggal bersamanya dalam keadaan seperti ini? Zayn benar-benar ragu memikirkannya.
Setelah semua beres, Zayn berjalan memasuki kamar dan duduk di sisi ranjang. Dia membungkukkan punggung dan mengecup kening Zahira sembari mengelus perut wanitanya yang sudah membuncit itu.
"Zahira, makan dulu yuk! Bayinya nangis tuh, katanya Mama nakal karena tidak mau ngasih makan." seloroh Zayn dengan bangganya. Bagaimana tidak, sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah dari bayi yang dikandung wanita yang dia cintai.
"Hmm... Aku ngantuk Zayn, lima menit lagi ya." Zahira menarik tangan Zayn dan memeluk lengannya dengan erat. Tubuh Zayn sampai merosot di samping Zahira.
"Tidur ya tidur, tidak perlu narik aku juga kali. Oh, sengaja ya mau menggodaku. Mau aku makan sekarang?" Zayn melompat naik ke kasur dan menindih tubuh Zahira.
"Zayn, jangan! Ini masih siang loh," gumam Zahira dengan mata yang masih terpejam.
"Kenapa kalau siang? Yang penting rasanya kan?" goda Zayn. Dia menenggelamkan wajah di leher Zahira dan menggelitiknya dengan lidah.
"Hihihi... Zayn, geli. Aakhh..." Zahira nyaris menjerit karena tidak kuat menahan geli, matanya pun seketika terbuka.
"Makanya bangun, kalau masih tidur aku pindah ke bawah ya. Jangan menjerit kalau keenakan!" gertak Zayn mengulum senyum.
"Jangan dong Zayn, aku tidak akan kuat. Nanti suaraku melengking sampai ke luar. Mau kamu digebukin sama warga sekitar?" ucap Zahira.
"Tidak masalah, paling disuruh nikah setelah itu." jawab Zayn enteng sembari mengulas senyum.
"Yee, itu mah maunya kamu." Zahira mencebik bibir.
Tiba-tiba senyuman Zayn memudar seketika itu. "Iya, kamu benar. Aku memang maunya begitu. Aku ingin mempertanggung jawabkan perbuatanku, aku tidak ingin anakku mendapat julukan anak haram. Akan tetapi aku juga tidak bisa memaksakan kehendak ku, aku tidak mempunyai kekuatan untuk itu."
Zayn mengangkat tubuhnya dan menjauh dari Zahira. Dengan mata berkaca dia meninggalkan kamar dan kembali ke dapur, tubuhnya tiba-tiba merosot di lantai.
Entah apa yang dia pikirkan, tapi yang pasti Zayn merasa dirinya terlalu bodoh mengharapkan Zahira menjadi istrinya. Dibandingkan dirinya, Roni jauh lebih layak dan mampu memenuhi kebutuhan Zahira.
"Zayn... Kamu kenapa?" Zahira tiba-tiba datang dan berjongkok di depan Zayn.
Segera Zayn menyapu wajahnya agar Zahira tidak melihat air mata yang baru saja jatuh di pipinya. "Tidak apa-apa. Ayo, sebaiknya kita makan dulu!" Zayn berkilah dan mengangkat tubuh Zahira dari jongkoknya, lalu membawanya duduk di lantai yang sudah dialas dengan tikar. "Tunggu di sini ya, aku ambilkan nasi dulu!"
Zahira menilik punggung Zayn dengan tatapan tak biasanya. Dia sepertinya tau apa yang dipikirkan oleh Zayn, lalu Zahira bangkit dari duduknya dan berhamburan ke pelukan Zayn yang tengah menyendok nasi dari rice cooker.
"Zayn..." lirih Zahira dengan pagutan yang sangat erat.
__ADS_1
"Loh, kenapa ke sini? Biar aku saja yang ambilkan, kamu harus banyak istirahat." ucap Zayn. Aktivitasnya terhenti seketika.
"Tidak mau, aku maunya begini saja." tolak Zahira dengan manja.
"Zahira..." Zayn menggertakkan gigi.
"Zayn..." Zahira menajamkan tatapan, nyali Zayn langsung menciut seketika itu juga.
"Ya sudah, peluk saja sepuasnya. Bila perlu tidak usah dilepas selamanya." Meski kesusahan tapi Zayn tetap melanjutkan aktivitasnya.
Setelah mengambil nasi, Zayn berjalan menuju meja sambal. Langkahnya seperti robot yang baru saja kehabisan baterai. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak berani menentang keinginan Zahira. Siapa tau itu merupakan ngidam Zahira yang sempat tertunda.
"Kamu masak sendiri?" tanya Zahira saat Zayn membuka tudung saji.
"Iya, tadi belanja di warung ujung. Maaf ya, cuma ada ini." lirih Zayn.
Ya, meski selama tiga bulan terakhir ini Zayn sudah berhasil mengelola dan mengembangkan cafe milik Zahira, tapi Zayn tidak pernah memakai uangnya sepeser pun. Zayn hanya mengambil gaji sesuai jerih payahnya sendiri, sementara penghasilan cafe dia masukkan ke rekening khusus yang sengaja di buat untuk Zahira.
Zayn tidak ingin dicap sebagai pria mata duitan yang sengaja mendekati Zahira karena uang, sedikitpun dia tidak pernah berniat seperti itu. Apa yang dia lakukan dari awal murni karena rasa kemanusiaan yang akhirnya berujung khilaf dan mengubah segalanya.
"Zayn... Jangan minta maaf terus bisa gak sih, capek aku dengarnya. Aku akan makan apapun yang kamu masak untukku, paham!" Mendadak Zahira meninggikan suara yang membuat Zayn terdiam.
Lalu Zahira merampas piring yang ada di tangan Zayn. Setelah mengisinya dengan telur bulat balado dan sayur kangkung bening, Zahira meninggalkan Zayn begitu saja. Dia duduk di dasar lantai dengan posisi memunggungi Zayn. Setetes cairan bening jatuh di sudut matanya.
Zayn mengerutkan kening sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, lalu berjalan menghampiri Zahira dan duduk di hadapannya.
"Apa lihat-lihat?" omel Zahira saat menyadari tatapan Zayn yang tak biasa.
Ingin marah tapi Zayn gemas melihatnya. Zahira sangat imut dalam mode cemberut dan jutek seperti itu.
"Cantik," gumam Zayn mengulum senyum.
"Jangan menggombali ku kalau aku sedang marah!" ketus Zahira dengan tatapan mematikan sembari menusuk telur balado yang ada di piring hingga hancur.
"Kenapa? Mau membunuhku? Tidak masalah, aku siap mati di tanganmu." kata Zayn enteng.
"Zayn..." bentak Zahira menggembungkan pipi.
"Apa sayang?" sahut Zayn mengulum senyum.
__ADS_1
Tiba-tiba Zahira terdiam mendengar itu. Kata sayang yang terucap dari mulut Zayn membuatnya ingin menjerit sekencangnya. Seumur-umur hanya Zayn yang berani memanggilnya sayang seperti tadi.
Segera Zahira menaruh piringnya di lantai, lalu membuang tubuhnya ke pelukan Zayn.
"Hehehe... Jangan kencang-kencang sayang, nanti bayinya kaget." Zayn mengusap pipi Zahira dengan jemarinya, lalu mengecup bibir Zahira dengan lembut.
"Zayn..." gumam Zahira dengan tatapan sendu.
"Hmm... Kenapa?" sahut Zayn mengulas senyum.
"Apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Zahira memastikan.
"Pertanyaan aneh," decis Zayn menyipitkan mata.
"Jawab Zayn!" desak Zahira.
"Apanya yang mau dijawab? Apa yang aku lakukan belum cukup untuk membuktikannya? Aku bukan tipe pria pengobral cinta, sudah dikatakan sekali ya sudah. Aku tidak akan pernah mengulanginya." jawab Zayn apa adanya.
"Tapi aku ingin mendengarnya lagi," lirih Zahira dengan bibir mengerucut.
"Untuk apa? Apa kamu sengaja ingin membuatku merasa bodoh karena mencintai wanita yang sama sekali tidak mencintaiku?" Zayn tersenyum getir.
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya ingin mendengarnya sekali lagi." Zahira menggigit bibir sembari memainkan ujung-ujung kukunya.
"Iya, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu dan ingin menjadikanmu istriku. Aku ingin membangun keluarga kecilku bersamamu dan calon anak kita. Aku tau aku tidak layak mengatakan ini, tapi-"
"Aku mau menjadi istrimu. Aku juga mau membangun keluarga kecil bersamamu." potong Zahira sebelum Zayn selesai berbicara.
"Kamu yakin?" Zayn mencoba memastikan, keningnya mengkerut menunggu jawaban.
"Iya, aku yakin." angguk Zahira.
"Serius?" Zayn menyipitkan mata.
"Iya, aku serius. Nikahi aku secepatnya!" pinta Zahira.
"Oh, baby. Kenapa tidak ngomong dari kemarin sih?" Zayn mengikis jarak dan mencengkram tengkuk Zahira dengan lembut lalu mengesap bibir wanitanya itu dengan penuh perasaan.
"Cukup!" Zahira mendorong wajah Zayn hingga tautan bibir mereka terlepas. "Mulai sekarang jangan sentuh-sentuh, tunggu sah dulu!"
__ADS_1
"No, aku tidak bisa janji. Enak saja main larang-larang," Zayn menjulurkan lidah dan kembali melu*mat bibir merekah Zahira.
Bersambung...