
Zayn duduk di atas ayunan yang ada di balkon kamar dan mengayunkannya perlahan. Baru beberapa menit saja tiba-tiba perutnya kembali mual, dia ingin muntah dan berlari ke kamar mandi.
"Huweeek..."
Kali ini Zayn hanya memuntahkan cairan saja, terakhir muntah kuning yang terasa sangat pahit di lidah.
"Zayn..."
Zahira menyusul masuk ke kamar mandi dan mengusap punggung Zayn, lalu memijat tengkuknya.
"Zayn, sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kenapa dari tadi muntah terus?" tanya Zahira khawatir. "Aku panggilkan dokter ya," imbuhnya.
"Tidak usah Zahira, aku tidak apa-apa." Zayn menyalakan kran dan mencuci mulutnya.
Lemas, tentu saja tubuh Zayn sangat lemas. Dia kehilangan tenaga karena muntah terus-terusan dalam keadaan perut kosong.
"Aku ambilkan makanan ya, kamu berbaring saja di kasur. Ayo, aku bantu!" Zahira melingkarkan tangan di lengan Zayn dan memapahnya ke kasur.
Saat Zayn menempelkan bokong di sisi ranjang, dia teringat dengan mangga muda yang baru saja dia lihat dari balkon tadi.
"Zahira, tadi aku lihat ada pohon mangga di bawah sana. Boleh aku memintanya?" tanya Zayn.
Zahira menautkan alis. " Belum ada yang matang Zayn. Kalau kamu mau, kita beli saja ya." tawar Zahira.
"Tidak usah, aku maunya mangga yang masih muda." tolak Zayn.
"Mangga muda?" Zahira lagi-lagi menautkan alis.
Apa Zayn ngidam? Tapi kenapa? Bukankah yang hamil itu Zahira? Dia bahkan belum pernah merasakan ngidam sejak pertama kali mengetahui kehamilannya. Apa ngidamnya pindah pada ayah dari anak yang dia kandung?
Ya, sekitar dua bulan yang lalu Zahira berkunjung ke rumah sakit untuk melakukan cek kesehatan rutin. Siapa sangka dia justru mendengar berita itu setelah dokter memeriksanya.
Sesaat setelah mendapatkan hasil tes yang akurat, Zahira berniat untuk kembali dan mengatakan itu pada Zayn tapi dia tidak punya keberanian. Dia takut Zayn menolak anak itu, dia juga takut Roni akan menyakiti Zayn setelah tau bahwa istrinya tengah mengandung anak dari pria lain.
"Zahira... Kenapa bengong?" Zayn mengipas kan tangan di depan wajah Zahira.
Mata Zahira berkedip beberapa kali." Tidak apa-apa Zayn, ayo turun!" Zahira menarik lengan Zayn.
__ADS_1
Sesampainya di halaman, Zahira duduk di bangku kayu yang tidak jauh dari pohon tersebut. Zayn nampak bersemangat melihat buah mangga yang bergelayutan di ranting pohon, segera dia memanjat dan memetik beberapa biji.
Zahira yang melihat hanya tersenyum, Zayn terlihat sangat lucu seperti seekor monyet yang sangat lihai bergelantungan di dahan pohon.
"Bug!"
Zahira tersentak dan berlari menghampiri Zayn, dia pikir Zayn terjatuh tapi ternyata pria itu sengaja melompat untuk mengerjai Zahira.
"Zayn..." Zahira memukul lengan Zayn, bibirnya mengerucut saking kesalnya.
"Hahahaha... Panik ya?" Zayn tertawa terbahak-bahak.
"Siapa yang gak panik? Aku pikir kamu jatuh," lirih Zahira.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Jangan cemberut gitu! Ayo masuk," ajak Zayn, lalu keduanya meninggalkan halaman dan berjalan menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Zayn meminta Zahira duduk di kursi. Dia kemudian berjalan menuju wastafel dan mencuci buah mangga yang ada di tangannya untuk menghilangkan getah yang menempel di kulit mangga tersebut. Setelah itu Zayn mengambil piring dan pisau. Dia duduk di samping Zahira dan mengupas mangga itu.
"Zayn..."
"Mmm..."
"Kenapa? Kamu tidak suka?" Zayn mengerutkan kening.
"Tidak, melihatnya saja sudah membuat air ludahku jernih." Mata Zahira kembali mengerinyam.
"Ya sudah, lihat saja kalau begitu!" Zayn menusuk potongan mangga tersebut dengan garpu lalu mencocol nya ke garam halus. " Hmm... Enak sekali, rasanya sangat manis."
"Manis dari mananya? Asam begitu dibilang manis," Zahira meneguk ludahnya sendiri dengan susah payah.
Setelah menghabiskan potongan mangga tersebut, Zayn mengajak Zahira kembali ke kamar. Kali ini matanya benar-benar mengantuk, dia ingin tidur barang sejenak.
"Huaaaaaaah..." Zayn menguap dengan mulut terbuka lebar. Dia berbaring dan memeluk Zahira dengan erat. Tidak lama matanya mulai terpejam, begitu juga dengan Zahira.
...****************...
"Dasar wanita tidak tau diri! Kalian semua sama saja, tidak bisa dipercaya." Roni terus saja mengumpat dalam berkendara. Kemarahannya memuncak setelah melihat wajah Zayn pagi tadi.
__ADS_1
Meski perceraiannya dengan Zahira sudah ketok palu, tapi dia tidak akan membiarkan Zahira bahagia hidup bersama Zayn. Zahira tidak boleh bahagia di atas penderitaannya.
Dari awal Roni memang tidak pernah menginginkan Zahira, tapi entah kenapa sejak melihat Zahira bersama Zayn hatinya menjadi panas bak terbakar di dalam bara api yang menyala.
Cemburu?
Cinta?
Apa mungkin?
Sepertinya diam-diam Roni sudah menaruh hati pada Zahira, sayang kebobrokannya ketahuan sebelum perasaan itu bersambut. Zahira berbeda dengan Amira, dia tidak mudah ditaklukkan.
"Kalian tidak akan bahagia, aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi!" Roni mengulas senyum licik dengan tangan mengepal erat sambil melajukan mobil menuju villa.
Ya, Roni juga memiliki villa di kawasan tersebut. Meski sedikit berjauhan, setidaknya dia bisa melihat perkembangan hubungan Zahira dan Zayn. Dia yakin Zayn sudah tiba di sana setelah mendapat informasi dari Amira tadi.
Di kediaman Roni, Amira tengah menangis di kamarnya. Sebenarnya dia juga sudah tidak sanggup hidup bersama Roni, tapi bagaimana dengan bayinya? Dia tengah mengandung pewaris pria psikopat tersebut.
Jika saja dari awal dia bisa tegas seperti Zahira, mungkin dia tidak akan terluka sedalam ini. Dia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya itu.
Kenapa Roni menikahi dua wanita jika hanya untuk disakiti? Roni tidak memiliki cinta untuk siapapun, dia hanya ingin menunjukkan kehebatannya pada wanita yang dia nikahi.
Sore menjelang magrib mobil Roni berhenti di gerbang villa Zahira, dia mematut setiap sudut dengan tatapan tajam penuh kebencian.
"Berbahagia lah, tertawa lah sepuasnya sebelum aku menghancurkan hidupmu sampai tak bersisa! Berani sekali kamu mengkhianati ku dan memberikan tubuhmu pada pecundang itu. Kalian akan membayar lunas semua ini!"
Setelah mengatakan itu, Roni mengulas senyum sinis. Dia melajukan mobil dan masuk ke gerbang villa yang berjarak sekitar sepuluh kilometer dari villa Zahira.
Sementara di kamar, Zayn baru bangun dari tidurnya. Matanya melebar saat mendapati kasur yang sudah kosong.
Zayn berhamburan dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi.
"Braaak!"
Pintu terbuka lebar, Zahira terperanjat dan bergegas meraih handuk. Sementara Zayn sendiri nampak mematung menyaksikan tubuh wanitanya yang polos tanpa sehelai benang pun.
"Zayn, kamu mengagetkanku saja." keluh Zahira sambil menyelipkan ujung handuk di belahan dadanya. Setelah bagian intinya tertutupi, Zahira melangkah keluar dan melewati Zayn begitu saja.
__ADS_1
Zayn meneguk ludah dengan susah payah, lalu mengusap wajah dengan kasar. Nafasnya memburu dengan jantung berdegup kencang.
Bersambung...