
Hari berikutnya Fikri datang lagi ke panti asuhan. Dia berharap kali ini Lina sudah berubah pikiran dan mau mengatakan dimana anak itu sekarang.
Dengan harapan yang begitu besar, Fikri mengetuk pintu dan masuk ke ruangan Lina.
Namun sayang seribu kali sayang, Lina masih kekeh dengan pendiriannya. Dia tidak akan buka mulut sebelum bertemu dengan anak itu dan meminta pendapat darinya.
Lina tidak ingin salah dalam mengambil keputusan, apalagi ini menyangkut keadilan bagi seorang anak yang sudah ditelantarkan sejak bayi.
Setelah Fikri meninggalkan ruangannya, Lina bergegas meraih tas dan bersiap-siap untuk keluar mengunjungi kediaman anak yang pernah dia besarkan dengan penuh kasih sayang selama lima tahun lamanya.
Lina kemudian menitipkan anak-anak panti pada adiknya dan segera meninggalkan tempat itu. Dia menyetop sebuah taksi dan menaikinya terburu-buru. Setelah duduk dan menyebutkan alamat yang ingin dia tuju, sang sopir melajukan taksi itu sesuai permintaan Lina.
Sepanjang perjalanan, wajah Lina terlihat gusar dan kacau. Ada ketakutan yang bersemayam di dirinya mengingat kedatangan pria asing itu. Lina sangsi apakah yang dikatakan pria itu benar atau akal-akalan nya saja untuk menjebak anak tak berdosa itu.
Bisa saja tujuannya untuk melenyapkan anak itu atau menghancurkan hidupnya. Bukannya Lina ingin berburuk sangka, tapi segala kemungkinan tentu saja bisa terjadi.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, tibalah taksi itu di depan sebuah rumah kecil yang sangat sederhana. Rumah yang merupakan peninggalan kedua orang tua angkat dari anak itu.
Lina lekas turun dari taksi itu dan membayar tagihan. Setelah taksi itu pergi, Lina berjalan dengan langkah gontai menuju pintu masuk.
"Tok Tok Tok"
Dengan tangan bergetar, Lina mengetuk pintu sembari memutar leher ke sana kemari melihat situasi. Sayang tak ada seorang pun yang keluar membukakan pintu.
Lina semakin khawatir dan kembali mengetuknya. Tapi sayang keadaannya masih tetap sama, rumah itu tampak sepi. Sepertinya memang tidak ada orang di dalamnya.
Lalu Lina meninggalkan rumah itu dan berjalan ke warung yang tidak jauh dari sana. Lina menyapa penjaga warung dan menanyakan dimana pemilik rumah itu sekarang. Akhirnya Lina menghela nafas lega setelah mendapatkan alamat dimana sang empunya rumah berada.
Setelah mengucapkan terima kasih, Lina meninggalkan warung itu dan berjalan ke depan. Di depan gang sana banyak ojek yang tengah mangkal, Lina bisa memanfaatkan itu untuk sampai di tempat tujuannya.
"Ojek!" panggil Lina.
Seorang tukang ojek menyalakan motor dan lekas menghampiri wanita paruh baya itu.
Setelah Lina menyebutkan alamat yang ingin dia datangi, dia naik ke atas motor dan mengenakan helm yang diberikan kang ojek padanya. Dalam hitungan detik ojek itu langsung melaju menyisir jalan raya.
__ADS_1
...****************...
"Sayang, makan dulu yuk! Ini sudah siang," ajak Zayn. Hari ini mereka berdua datang ke cafe untuk memeriksa keadaan di sana. Keduanya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan dari pada di luar.
"Aku mau makan nasi Padang. Pengen sambal rendang dan gulai nangka," sahut Zahira mengutarakan keinginannya.
"Boleh, mau makan di tempat apa mau dibungkus?" tanya Zayn. Dia duduk di gagang sofa dan membelai rambut Zahira.
"Bungkus saja, aku lagi mager. Pengen tidur-tiduran dulu sembari menunggu nasi bungkusnya tiba." jawab Zahira sambil merebahkan kepala di paha Zayn.
"Loh, katanya mau nasi bungkus. Kalau begini mana bisa aku bergerak?" Zayn mengerutkan kening sambil mengusap pucuk kepala Zahira.
"Suruh orang saja sayang, kamu tidak boleh kemana-mana!" Zahira melingkarkan tangan di pinggang Zayn dan memeluknya dengan erat.
Memasuki usia kandungan yang hampir genap empat bulan, Zahira merasa ada yang aneh dengan dirinya. Dia maunya bergelayutan terus di tubuh Zayn, dia tidak mau jauh-jauh dari suaminya itu bahkan untuk ke kamar mandi sekalipun.
Sementara Zayn sendiri masih sering mual-mual dan ngidam sesekali. Mungkin karena Zahira jarang sekali merasakan itu, jadi pengaruh hamilnya berpindah pada Zayn.
"Ya sudah, lepas dulu! Aku mau mencari Heru dan menyuruhnya membelikan nasi bungkus yang kamu inginkan." ucap Zayn.
Zahira melepaskan pelukannya, lalu Zayn segera berdiri dan meninggalkan ruangan sejenak untuk mencari keberadaan Heru yang dulunya adalah rekan kerja Zayn.
Setelah Heru mengiyakan perintah Zayn dan meninggalkan cafe, Zayn berbalik hendak kembali ke ruangan tapi suara seorang wanita tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Zayn..." seru wanita itu.
Zayn berbalik dan mengerutkan kening. "Iya," sahutnya bingung.
Tiba-tiba saja wanita itu memeluknya, Zayn benar-benar bingung karena tak merasa mengenal wanita itu. "Zayn, syukurlah Ibu bisa bertemu kamu di sini. Ibu mau bicara Nak, ada yang ingin Ibu sampaikan kepada kamu, ini sangat penting." terang wanita itu.
"Aku?" Zayn menunjuk dirinya sendiri sembari menyipitkan mata.
"Iya kamu, nanti Ibu jelaskan. Bisa kita duduk dulu!" ajak wanita itu, lalu melepaskan pelukannya.
"Bisa, tapi di ruangan saya saja ya Bu. Istri saya tidak bisa ditinggal lama-lama." ungkap Zayn, lalu berjalan menuju ruangannya. Wanita itu mengikuti dari belakang.
__ADS_1
"Kamu sudah menikah, Nak?" tanya wanita itu sambil terus mengikuti langkah Zayn.
"Sudah," jawab Zayn, meski tidak kenal Zayn tetap menjawabnya jujur.
"Syukurlah, Ibu senang sekali mendengarnya."
Setelah menaiki anak tangga, sampailah mereka berdua di ruangan Zahira yang kini sudah menjadi ruangan Zayn juga.
Zayn memberi izin wanita itu masuk dan mempersilahkannya duduk. Zahira yang sedang menunggu di sofa tiba-tiba menautkan alis. Siapa wanita yang datang bersama suaminya itu? Pikir Zahira tanpa mengutarakannya.
"Apa ini istri kamu, Nak?" tanya wanita itu setelah duduk di sofa.
"Iya, ini istri saya. Namanya Zahira," Zayn duduk di samping istrinya dan menatap bingung pada wanita itu, begitu juga dengan Zahira.
"Ibu siapa? Ada perlu apa Ibu dengan suami saya?" tanya Zahira.
"Jadi begini..."
Wanita yang ternyata adalah Lina itu mulai menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Start dari pertama kali dia menemukan Zayn, membesarkannya dan melepaskannya untuk diadopsi.
"Apa?" Zayn membuka mata lebar-lebar, dia sama sekali tak menyangka bahwa dia adalah seorang anak yang tidak diinginkan oleh orang tuanya sendiri. Begitu juga dengan Zahira yang sampai menutup mulut saking terkejutnya.
Lalu Lina melanjutkan ceritanya. Dia mengatakan kalau ayah Zayn ingin bertemu di sisa umurnya yang sudah tidak lama lagi. Dia juga mengatakan apa yang disampaikan Fikri bahwa telah terjadi kesalahpahaman hingga akhirnya Zayn menjadi korban. Fikri tau pasti bahwa majikan wanitanya bukan tipe wanita seperti itu. Itu hanya akal-akalan orang yang ingin menghancurkan keutuhan keluarga mereka.
Percaya tidak percaya Zayn harus legowo menerima kenyataan ini. Dunianya seakan runtuh, tiba-tiba saja tubuhnya merosot di lantai. Zayn menekuk kaki dan menyembunyikan wajah diantara lututnya, air matanya jatuh tak disangka-sangka. Dia bahkan meremas rambutnya seperti orang yang tengah frustasi.
Seketika Zahira dan Lina terperanjat, keduanya bergegas mendekati Zayn.
"Zayn, maafkan Ibu Nak. Ibu sayang sama kamu, Ibu yang membesarkan kamu selama lima tahun sebelum kamu diadopsi. Ibu ingin kamu memiliki keluarga yang utuh, makanya Ibu terpaksa melepaskan kamu. Tapi Ibu benar-benar tidak tau dari mana asal kamu." jelas Lina berderai air mata.
"Tidak, Ibu tidak salah. Ibu sudah berjasa karena tidak membiarkan aku mati kedinginan di luar sana. Aku berterima kasih untuk itu, Ibu sudah memberiku kehidupan kedua. Tapi kenapa mereka tega membuang ku? Apa salahku Bu?" isak Zayn.
"Sudah Ibu bilang, semua karena kesalahpahaman. Kamu anak orang kaya Zayn, Ayahmu masih hidup dan ingin bertemu. Sekarang beliau sudah sakit-sakitan, itu yang Ibu dengan dari orang suruhannya."
"Kenapa tidak dia saja yang datang sendiri? Kenapa harus menyuruh orang?"
__ADS_1
"Dia sudah tidak bisa berjalan sejak kematian Ibumu. Selama lima tahun kamu di panti, dia tergeletak di rumah sakit. Pernah sekali ada orang suruhannya yang datang, tapi kamu sudah keburu diadopsi. Ibu tidak tau apakah yang dikatakan pria itu benar atau tidak, tapi begitulah yang dia katakan pada Ibu. Ibu hanya ingin berpesan agar kamu menjaga diri. Jika itu benar, berarti hidupmu akan lebih baik setelah ini. Tapi jika itu salah, kamu harus berhati-hati!"
Bersambung...