
Usai pertempuran panas itu, Zayn terkapar di atas sofa dengan tubuh yang sudah basah bermandikan keringat. Begitu juga dengan Zahira, tapi dia lekas beranjak dan langsung masuk ke kamar lalu memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lima belas menit berlalu, Zahira keluar dengan tubuh yang lebih segar dari sebelumnya. Inilah alasan kenapa dia malas mandi waktu bangun tadi, ujung-ujungnya pasti mandi lagi. Dia sudah semakin hafal bagaimana isi otak Zayn, suaminya.
Setelah mengenakan pakaian bersih dan menyisir rambut, Zahira kembali ke luar dengan langkah sedikit sempoyongan. Ternyata menguasai permainan sepenuhnya membuat sendi engsel Zahira berasa ingin lepas dari tempatnya, tapi Zahira sangat menikmatinya, rasanya lebih menggigit.
Sesampainya di luar, Zahira lekas duduk di meja makan lalu memanggil Zayn yang masih merebahkan diri di sofa. "Sayang, kamu tidak mandi. Kok masih tiduran sih? Apa kamu tidak lapar?"
"Boleh mandinya nanti saja gak? Makan dulu gitu," jawab Zayn dengan mata separuh terbuka. Dia benar-benar lelah, apalagi semalam dia baru saja mendonorkan darah untuk Suganda. Satu gelas teh telur belum cukup untuk mengembalikan staminanya, tapi miliknya sudah lebih dulu minta dijepit.
"Mana boleh, mandi dulu sana! Kalau belum mandi, jangan harap bisa makan!" tegas Zahira penuh penekanan.
"Capek loh sayang, kamu tidak kasihan sama suami kamu ini?" keluh Zayn dengan air muka memelas.
"Loh, bukannya tadi kamu sendiri yang maksa. Sudah dibilangin nanti masih ngeyel minta cepat, kenapa sekarang nyalahin aku?" omel Zahira dengan bibir mengerucut, tentu saja dia kesal mendengar ucapan Zayn. Dia yang pengen dia pula yang mengeluh.
Dengan kaki yang masih gemetaran, terpaksa Zayn bangkit dari sofa. Dia meninggalkan ruangan dan berjalan menuju kamar, lalu membersihkan diri di kamar mandi.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Zayn keluar dengan pakaian lengkap dan duduk di samping Zahira. Tenaganya benar-benar terkuras, goyangan Zahira tadi membuatnya lupa dengan kondisinya yang masih lemah. Li*bidonya semakin terpacu menikmati permainan nakal Zahira yang tak biasa.
Bagaimana tidak, sejak menikah baru kali ini Zahira mencoba posisi di atas seperti tadi. Selama ini selalu Zayn yang mendominasi permainan, tapi kali ini Zahira menguasai Zayn sepenuhnya. Dia mencoba berbagai macam gerakan yang dia sukai, tentu saja Zayn sangat suka melihat istrinya yang semakin leluasa saat menemukan posisi yang paling enak. Rasanya sangat legit, terasa nikmat hingga ubun-ubun.
Setelah Zayn duduk, dia mematut wajah Zahira dengan intim. Rasa sayangnya semakin besar terhadap istrinya itu, dia menyukai apa saja yang ada di diri Zahira.
__ADS_1
"Sayang, suapi dong!" pinta Zayn dengan manja, dia menyatukan kursi mereka dan bersandar di lengan Zahira.
Zahira lantas mengukir senyum dan mengacak rambut Zayn yang masih basah. "Aak..." tuntun Zahira membuka mulut.
Karena tidak ada penolakan dari Zahira, Zayn pun membuka mulutnya lebar. Satu sendok nasi beserta lauk masuk ke dalam mulutnya.
"Mmm... Enak," puji Zayn sembari mengunyah makanannya. Zahira memang pandai memanjakan lidahnya, tapi Zayn tidak pernah mau merepotkan istrinya itu. Biasanya dia yang lebih sering menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Zayn tidak ingin Zahira kelelahan, dia maunya Zahira fokus pada kandungannya yang sudah semakin membesar.
"Lagi," pinta Zayn sesaat setelah menelan makanannya.
Dengan senang hati Zahira menyuapi suaminya itu hingga nasi yang ada di piringnya tandas, lalu Zahira menambahnya lagi sampai dua kali.
"Aaaaaaakg..." Zayn dengan cepat menutup mulutnya setelah mengeluarkan sendawa besar. Zahira sontak tertawa melihat kelakuan nyeleneh suaminya itu.
"Cukup sayang, kenyang." sahut Zayn sembari meraih gelas dan meneguk air putih yang ada di dalamnya sampai tandas.
Usai mengisi perut, Zahira merapikan meja makan dan membawa piring kotor ke tempat cucian piring. Setelah mencucinya dan menaruh di rak piring, Zahira meninggalkan dapur dan memilih duduk di sofa. Zayn pun mengikutinya dan duduk di samping Zahira.
Cukup lama mereka berdua terdiam hingga akhirnya Zahira membuka suara. "Zayn..." gumamnya pelan.
"Hmm..." sahut Zayn seraya menyandarkan kepalanya di lengan Zahira.
"Aku kepikiran sama Amira, bagaimana ya kabar dia sekarang?" lirih Zahira. Dia ingat Amira pernah membantunya hingga terlepas dari jeratan Roni yang bermuka dua, dia takut Amira diperlakukan tidak adil oleh mantan suaminya itu. Apalagi Zahira tau saat ini Amira tengah mengandung anak Roni.
__ADS_1
"Ingat Amira apa ingat suaminya?" celetuk Zayn. Dia tiba-tiba menjauh dan membuat jarak diantara mereka berdua. Jelas Zayn tidak suka mendengar Zahira membahas mereka.
"Apaan sih Zayn? Aku benar-benar khawatir dengan keadaan Amira, ini tidak ada sangkut pautnya dengan Roni. Bagaimanapun dia pernah membantuku di persidangan waktu itu. Kalau bukan karena dia, belum tentu aku bisa bercerai dengan Roni." jelas Zahira mengerucutkan bibir.
"Ya sudah, kalau begitu datang saja ke rumahnya. Sekalian reunian sama mantan suami," ketus Zayn membuang muka. Tetap saja dia tidak senang mendengar pembahasan istrinya itu.
"Astaga Zayn, kalau cemburu jangan begini juga kali. Kamu pikir aku ini wanita apaan? Aku istri kamu, kenapa jadi seperti anak kecil begini sih? Ingat, bagaimanapun keadaannya, Amira itu kakak ipar kamu!" geram Zahira, lalu memilih pergi meninggalkan Zayn. Percuma juga diteruskan kalau ujung-ujungnya jadi berdebat dan menimbulkan pertengkaran diantara mereka berdua.
Zahira kemudian memilih masuk ke dalam kamar dan melupakan pemikirannya terhadap Amira, lalu dia duduk di kasur dengan posisi bersandar pada kepala ranjang dan kaki selonjoran.
Dia sebenarnya juga tidak ingin memusingkan perihal Amira, tapi entah kenapa tiba-tiba saja dia teringat dengan wanita itu.
Sebagai sesama perempuan, wajar Zahira kepikiran dengan Amira. Apalagi dia tau pasti bahwa Roni itu sedikit tidak waras, otaknya henk dan susah ditebak. Bagaimana kalau Roni tega menyakiti Amira? Zahira mengkhawatirkan anak yang ada di rahim wanita itu.
"Marah?" seru Zayn yang tiba-tiba muncul di balik pintu, lalu melangkah menghampiri Zahira.
Zahira menatap Zayn sekilas, lima detik kemudian dia membuang pandangannya ke arah lain. "Untuk apa marah?" gumam Zahira pelan, tapi masih terdengar di telinga Zayn.
"Maaf sayang, aku yang salah. Tidak seharusnya aku-"
"Tidak perlu dibahas, aku mau tidur." Zahira lekas memperbaiki posisinya. Dia membaringkan diri dan memunggungi Zayn dengan air muka menggelap, lalu memicingkan mata.
Zayn mengulas senyum tipis dan ikut berbaring di samping Zahira, lalu Zayn memeluk istrinya itu layaknya guling. Sebelah tangan Zayn memeluk pinggang Zahira dan sebelah kakinya membelit paha Zahira. Zayn kemudian menenggelamkan wajahnya di tengkuk istri buncitnya itu.
__ADS_1
Seberapapun marahnya Zahira, kalau sudah begini dia pasti luluh juga. Seringai tipis melengkung di sudut bibirnya.