Kekhilafan Terindah

Kekhilafan Terindah
Kekhilafan Terindah Bab 38.


__ADS_3

Setelah berbicara panjang lebar dan menjelaskan apa yang terjadi dua puluh tahun yang lalu, Suganda menjatuhkan diri di kaki Zayn. Dia berlutut dan menangkup tangan memohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan yang sudah dia lakukan.


Tidak ada niatnya untuk membuang Zayn jika dia tau bahwa bayi itu adalah putra kandungnya. Dia terbawa emosi dan memilih mempercayai kata-kata orang lain dari pada istrinya sendiri.


Apalagi selama yang dia tau Layla tidak pernah mencintainya, pernikahan mereka terjadi karena perjodohan yang diatur oleh kedua orang tuanya. Suganda pikir Layla benar-benar berselingkuh hingga hamil dengan pria yang dia cintai.


"Maafkan Ayah, Zayn. Tolong beri kesempatan pada Ayah untuk menebus segala dosa yang sudah Ayah perbuat! Ayah salah Nak, Ayah menyesal." lirih Suganda berlinang air mata. Dia tidak tau harus bagaimana lagi meyakinkan Zayn, dia benar-benar menyesal.


Melihat Suganda merendahkan diri di hadapannya, hati Zayn mencelos. Dia lekas berdiri dan mengangkat tubuh ringkih pria tua itu dari lantai. "Cukup Ayah, cukup!" ucap Zayn.

__ADS_1


Sesaat setelah Suganda berdiri sejajar dengan dirinya, Zayn pun mendekapnya erat seperti anak kecil yang sudah lama ditinggal sang ayah. Air matanya spontan jatuh membasahi pundak Suganda.


Seketika tubuh Suganda gemetaran saat mendengar Zayn memanggilnya ayah untuk pertama kali. Tidak terbilang betapa bahagianya dia mendengar itu.


"Sekali lagi maafkan Ayah, Zayn. Ayah menyesal," lirih Suganda mempererat pelukannya.


Zayn manggut-manggut tanpa berucap. Tenggorokannya terasa penuh, sulit baginya mengeluarkan kata-kata.


Hanya saja Zahira takut hal ini akan mempersulit hidup Zayn, Roni pasti tidak akan tinggal diam saat tau bahwa Zayn benar-benar adik kandungnya. Zahira hanya tidak ingin Roni menyakiti suaminya.

__ADS_1


Usai meluruskan semua kesalahpahaman yang terjadi, mereka berempat memilih makan malam terlebih dahulu. Zayn sendiri yang memasak untuk mereka berempat, dia ingin Suganda mencicipi masakannya untuk pertama kali.


Setelah masakan Zayn matang, Zahira membantunya menata di atas meja. Lalu mereka berdua kembali duduk dan mulai mengisi perut bersama Suganda dan Fikri.


"Ayo Ayah, makan yang banyak biar gendut!" seru Zayn dengan semangat empat lima. Dia mengisi piring Suganda lagi dan lagi.


"Cukup Zayn! Ini sudah kebanyakan Nak, nanti perut Ayah bisa meledak." keluh Suganda yang mulai kewalahan menghabiskan makanan yang ada di piringnya.


"Tidak apa-apa Ayah, lihatlah badan Ayah kurus begitu. Masa' kalah sih sama anaknya, berat badan Ayah saja mungkin hanya setengah dari berat badan Zayn. Apa Ayah tidak malu?" seloroh Zayn. Dia mulai leluasa dan kembali menjadi dirinya sendiri yang ceria dan usil. Dia bahkan tak sungkan menyuapi Suganda dengan sendok bekas mulutnya.

__ADS_1


Sontak keceriaan Zayn itu mengundang tawa Zahira dan Fikri, dia terlihat seperti bocah kecil yang ngeyel dan tidak mau mengalah. Mungkin karena selama ini Zayn tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya sendiri. Adapun dari ayah angkatnya, jelas rasanya berbeda.


Zayn juga tidak lama menghabiskan waktu dengan ayah angkatnya itu, beliau meninggal saat Zayn masih berusia sepuluh tahun. Wajar jika Zayn mendadak manja seperti saat ini karena menemukan kebahagiannya kembali setelah sekian lama.


__ADS_2