
Setelah cukup lama berdiam diri di luar sana, Zayn bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu kamar. Sedikit rasa bersalah tersirat di wajahnya, tidak seharusnya dia berkata seperti tadi pada Zahira.
"Tok Tok Tok"
"Sayang, buka pintunya! Aku mau masuk," seru Zayn dari luar sana.
Zahira yang tengah berbaring sengaja tidak mengacuhkannya. Dia masih marah karena ucapan Zayn di halaman tadi. Bisa-bisanya dia menuduh Zahira masih memikirkan Roni, jika Zahira mau sudah dari kemarin-kemarin dia kembali pada pria itu.
"Sayang..." teriak Zayn dengan lantang.
Zahira malah menarik selimut dan bergulung di dalamnya. Persetan dengan Zayn, mau jungkir balik sekalipun Zahira tidak peduli.
"Sayang, maafkan aku. Tadi itu-"
Zayn terdiam sejenak, dia ingat kunci kamarnya hanya menggunakan kayu yang diputar. Dia kemudian berjalan menuju dapur dan mengambil pisau, lalu kembali dan mencongkel tepi pintu yang sedikit merenggang.
Setelah pintu terbuka, Zayn menaruh pisau itu di sudut lantai dan berjalan menghampiri Zahira yang sudah hilang di dalam selimut.
Zayn mengulas senyum melihat itu, lalu berbaring di samping Zahira dan memeluknya dengan erat.
"Jangan peluk-peluk!" ketus Zahira dari dalam selimut. Meski sesak dia berusaha menahannya.
"Kenapa tidak boleh? Kan yang dipeluk istri sendiri?" goda Zayn mengulum senyum.
"Cukup Zayn, aku tidak sedang bercanda. Lepasin aku, jika tidak-"
"Jika tidak apa?" potong Zayn.
"Aku akan pergi dari sini," sambung Zahira.
"Mau kemana?" tanya Zayn.
"Kembali pada Roni. Itu kan yang kamu tuduhkan?" jawab Zahira enteng.
"Jadi ceritanya mau CLBK sama dia?" Zayn mengerutkan kening.
"Iya..." Zahira mengeluarkan wajahnya dari selimut, kemudian menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dadanya benar-benar sesak bergulung di dalam selimut barusan.
Sesaat setelah tatapan mereka bertemu, Zahira menggembungkan pipi. Dia hendak turun dari tempat tidur tapi Zayn malah menariknya hingga terjatuh di atas dada Zayn.
"Mau kemana?" Zayn membelit tubuh kecil Zahira dan menguncinya.
"Lepas Zayn, aku tidak mau disentuh olehmu." ketus Zahira dengan tatapan membunuh.
"Maunya disentuh sama siapa?" Zayn menyipitkan mata.
"Siapa saja, asal jangan kamu." jawab Zahira asal.
"Oh, jadi ceritanya tidak butuh aku lagi?" Zayn menajamkan tatapan.
__ADS_1
"Tidak..." geleng Zahira.
"Yakin?" Zayn mengulum senyum.
"Iya..." angguk Zahira.
"Okey, kalau begitu pergilah!" Zayn melepaskan pelukannya.
"Baiklah, selamat tinggal." Zahira lekas beranjak dari tubuh Zayn dan turun dari tempat tidur. Saat tiba di ambang pintu dia berbalik tapi Zayn malah membuang pandangannya ke arah lain.
Kesal karena Zayn tidak mencegahnya, Zahira melanjutkan langkah dan membanting pintu dengan kasar.
"Dasar suami tidak punya hati! umpat Zahira penuh kekesalan. Dia benar-benar melangkah menuju pintu depan dan berjalan meninggalkan rumah.
"Zayn, aku benci kamu." geram Zahira dengan tangan mengepal erat, lalu berjalan mendekati mobil yang terparkir di halaman.
Seketika bibir Zahira mengerucut karena tak berhasil membuka pintu mobil. Kuncinya saja ada pada Zayn, bagaimana caranya untuk pergi?
Di kamar sana, Zayn mengintip dari tirai jendela. Dia tertawa terpingkal-pingkal saat menangkap air muka Zahira yang menggemaskan.
"Dasar keras kepala, pakai acara sok-sokan mau pergi segala. Kamu pikir gampang ninggalin suamimu ini, kamu tidak akan sanggup sayang." gumam Zayn menghentikan tawa.
Lalu Zayn berjalan meninggalkan kamar dan menyusul Zahira ke halaman. "Kenapa berdiri saja? Katanya mau pergi," seru Zayn dari teras rumah.
Zahira terperanjat dan menoleh ke arah Zayn. "Iya, aku akan pergi. Kamu tidak usah khawatir,"
Tanpa pikir Zahira langsung berbalik dan berjalan menuju pagar. Air matanya menetes karena merasa bahwa Zayn benar-benar mengusirnya.
"Selamat tinggal," lirih Zahira berderai air mata. Sedetik kemudian tiba-tiba saja tubuhnya terasa melayang di udara.
"Aaaaa..." pekik Zahira panik.
Ternyata Zayn yang menggendongnya dan membawanya masuk ke rumah.
"Zayn, turunkan aku!" bentak Zahira sembari memukuli punggung suaminya itu.
Zayn tidak mengacuhkannya, dia terus saja memikul Zahira layaknya sebuah karung yang berisi beras.
Sesampainya di kamar, Zayn membaringkan Zahira di atas kasur, lalu Zayn menindih tubuh Zahira dengan seringai nakal yang terukir di bibirnya.
"Mau meninggalkan aku?" Zayn menggertakkan gigi dan membuka baju yang melekat di tubuhnya.
"Kamu yang mengusirku," ketus Zahira.
"Kapan? Bukankah kamu sendiri yang bersikeras ingin pergi?" balas Zayn dengan mata memerah seperti seekor harimau yang tengah kelaparan.
"Tapi kamu yang lebih dulu... Mmphh..." ucapan Zahira langsung terhenti saat Zayn membungkam bibirnya.
Zayn mengesap bibir Zahira dengan rakus, gairahnya membuncah setelah mendapat perlawanan terus menerus dari istrinya itu.
__ADS_1
Zahira yang awalnya menolak, kini mulai pasrah mengikuti alur permainan suaminya. Deru nafasnya memburu saat Zayn membelit lidahnya dan menghisapnya kuat.
Ditambah lagi saat Zayn menjelajahi lehernya dan menjilatinya. Sekujur tubuh Zahira merinding menahan rasa yang entah. Apalagi saat tangan Zayn meremas kedua gunung miliknya dan membuka kancing piyamanya satu persatu. Bulu roma Zahira langsung berdiri dibuatnya.
"Aughhh..." de*sah Zahira saat lidah Zayn menari-nari di puncak gunung miliknya. Zayn menghisapnya bergantian dan menggigitnya sesekali sembari terus meremasnya.
Puas menjelahi gunung kembar milik Zahira, Zayn turun dan melucuti celana serta segitiga pengaman Zahira. Zayn menekuk kaki Zahira dan menyelami inti istrinya dengan lidah.
"Aughhh... Ya..." de*sah Zahira dengan mata memicing. Dia menggeliat sembari mengangkat bokong menikmati rasa yang sungguh luar biasa. Sesekali dia menjerit saat Zayn menghisap kuat intinya.
Melihat reaksi Zahira yang menggemaskan, Zayn menghentikan aksinya sejenak. "Masih ingin pergi meninggalkan aku?" tanya Zayn dengan mata menyipit.
Sontak Zahira membuka mata, tatapan keduanya beradu pandang sejenak. Zahira pun menggelengkan kepalanya. Seringai tipis melengkung di sudut bibir Zayn.
Kembali Zayn melanjutkan aksinya yang membuat Zahira menggigit bibir.
Lalu Zayn menjauh dan lekas melucuti celananya yang sudah menyempit sedari tadi.
"Aughhh..." de*sah Zahira saat Zayn menyelupkan juniornya di inti Zahira.
Sembari mengayunkan pinggang, Zayn tak membiarkan gunung kembar milik Zahira menganggur. Dia meremas keduanya dan menghisap pucuk dadanya sesekali.
"Ya... Sayang... Aughhh..." de*sah Zahira tiada henti. Dia mendekap Zayn dan meremas rambutnya.
"Enak?" tanya Zayn dengan seringai nakal.
"Mmm..." gumam Zahira menganggukkan kepala.
Tidak hanya enak tapi mampu membuat Zahira melayang mencapai langit ke tujuh. Sekujur tubuhnya merinding dengan kaki gemetaran. Sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Beberapa kali Zahira dibuat menjerit karena tekanan yang menghentak hingga ubun-ubun. Bahkan Zahira sempat merengek meminta ampun.
"Kenapa? Masih ingin pergi dariku?" tanya Zayn lagi.
"Tidak sayang, aku tidak akan pergi. Sudah ya, aku lelah." jawab Zahira.
"Sayang sekali aku masih ingin berlama-lama. Ini hukuman untukmu karena sudah berani meninggalkan aku," Zayn tersenyum miring.
"Aughhh..." de*sah Zahira saat Zayn mempercepat tempo permainannya.
Zahira benar-benar kehilangan akal, berkali-kali dia mencapai puncak kepuasan yang membuat tubuhnya gemetaran. Dia kembali menjerit sembari mencengkram lengan Zayn dengan kuat.
"Akhhh..." erang Zayn. Akhirnya dia tumbang setelah menyebarkan benih baru di dalam diri Zahira.
Setelah menarik juniornya, Zayn menjatuhkan diri di samping Zahira dan memeluknya dengan erat. "Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku lagi!" gumamnya dengan nafas tersengal.
Zahira mengukir senyum dan balas memeluk Zayn. "Tidak, aku pikir kamu-"
"Jangan bodoh, aku tidak mungkin mengusirmu. Kita akan tetap bersama hingga menua nanti." Zayn menarik Zahira ke dekapan dadanya dan mengecup keningnya dengan sayang.
__ADS_1
Bersambung...