Kekhilafan Terindah

Kekhilafan Terindah
Kekhilafan Terindah Bab 9.


__ADS_3

"Bug!"


Tubuh Amira terseret ke meja sofa saat Roni mendorongnya dengan kasar. Tatapan pria itu nampak menyala mengobarkan percikan api yang membara.


"Dasar wanita sialan, berani sekali kamu menentangku di hadapan pria itu. Apa kamu ingin merasakan bagaimana rasanya disiksa?" bentak Roni.


"Lakukan saja jika itu bisa membuatmu bahagia, bunuh sekalian agar kamu puas! Dasar psikopat," umpat Amira meninggikan suara.


"Plaaak!"


Sebuah tamparan keras mendarat bebas di wajah Amira. Sakit, tentu saja, pipinya terasa kebas seketika.


"Aku bersyukur karena Zahira sudah bercerai denganmu. Jika tidak, dia pasti akan lebih menderita dariku... Aww..."


Roni mencengkram rahang Amira dengan kuat, dia tidak terima nama Zahira disebut-sebut diantara mereka. "Diam, atau aku hancurkan mulutmu yang berisik ini!"


"Aku tidak akan diam sampai kamu menyesali perbuatanmu itu. Kamu ini tidak pantas menjadi sosok seorang suami. Pertama kamu menipuku, kedua kamu menipu Zahira dengan mulut manismu itu. Beruntung Zahira tidak lemah sepertiku, tunggu saja kehancuranmu sebentar lagi akan tiba!" ucap Amira dengan susah payah.


"Bug!"


Tubuh Amira terpelanting ke belakang saat Roni mendorongnya sekuat tenaga. Amira hanya tersenyum meski tubuhnya terasa remuk, dia tidak akan menangis. Air matanya sudah mengering sejak tau siapa Roni sebenarnya.


Ya, enam bulan yang lalu mereka berdua dipertemukan di sebuah acara resmi perusahaan besar. Amira adalah seorang karyawan dari salah satu anak perusahaan Roni. Malam itu tidak sengaja terjadi insiden kecil di dalam gedung, Amira merupakan salah satu korban yang harus dilarikan ke rumah sakit.


Tapi ternyata Roni memanfaatkan kesempatan itu untuk kepentingan pribadinya. Diam-diam Roni menyuruh dokter mencocokkan ginjal semua korban dengan ginjalnya. Ternyata ginjal Amira lah yang paling cocok dengan dirinya.


Dari sana Roni mulai memberikan perhatian lebih pada Amira. Dia juga memindahkan wanita itu ke kantor pusat agar bisa bersama-sama dengan dirinya.


Seiring berjalannya waktu, Amira mulai merasa nyaman bersama Roni. Cinta itu tumbuh dan bersemi di dalam hatinya. Disaat bersamaan, Roni harus diopname di rumah sakit. Dengan bujukan mautnya, Roni berhasil meyakinkan Amira hingga akhirnya mendonorkan ginjalnya pada pria itu.


Satu bulan setelah selesai operasi, Roni menikahi Amira. Hal itu tepat satu minggu sebelum Roni menikahi Zahira.


Yang dikatakan Roni pada Zahira tiga bulan yang lalu memang benar adanya. Dia memang tidak mencintai Amira, pernikahan itu hanya bentuk balas budi semata. Tapi untuk masalah anak yang dikatakan Roni, itu semua bohong. Amira belum pernah menikah sebelumnya, dari mana dia memiliki anak? Itu hanya akal-akalan Roni saja agar Zahira percaya padanya. Tapi sayang Zahira sudah tidak mau melanjutkan pernikahan mereka.

__ADS_1


...****************...


Siang hari sebuah mobil sedan mewah masuk ke gerbang sebuah villa. Mobil siapa lagi kalau bukan mobil Zahira yang sejak tiga bulan terakhir dipakai oleh Zayn.


Zayn berhasil mendapatkan alamat villa itu dari penjaga villa lain. Sebelumnya Zayn sudah mendatangi tiga villa dan bertanya pada penjaga masing-masing villa. Di villa ketiga itulah dia mendapatkan petunjuk.


Setelah memarkirkan mobilnya, Zayn turun dengan kaki gemetaran. Dadanya berdenyut ngilu mengingat wajah Zahira yang sangat dia rindukan. Tiga bulan bukan waktu yang singkat baginya menunggu kepulangan Zahira, tapi sayang penantiannya berakhir sia-sia.


Beruntung Zayn datang ke kediaman Roni hingga mendapatkan petunjuk dari Amira. Bahkan pukulan yang dilayangkan Roni tadi sudah tidak terasa sama sekali.


Luka itu akan berganti dengan kebahagiaan, sakit itu akan berubah menjadi senyuman.


Dengan langkah gontai Zayn mengayunkan kaki memasuki villa itu. Kemeja yang sudah berlumuran darah tak akan bisa menghalangi tekatnya untuk bertemu dengan Zahira.


Sesampainya di dalam, suasana terlihat sepi seperti kuburan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana.


"Zahira..." teriak Zayn dengan suara sangat lantang. Suara itu menggema sampai lantai dua.


"Zahira, keluarlah! Ini aku, aku datang untukmu." teriak Zayn lagi. Sayang tidak ada sahutan sama sekali.


Sesampainya di ujung tangga, manik mata Zayn menyisir setiap sudut. Dia mendapati tiga pintu kamar yang sama-sama tertutup rapat.


Dengan keberanian yang sudah tertanam di dirinya, dia lekas membuka pintu kamar pertama. Sayang kamar itu kosong tanpa seorang pun di dalamnya.


Lalu Zayn mendekati kamar kedua, lagi-lagi hanya kamar kosong yang dia temukan.


Saat kakinya menghampiri kamar ketiga, telinga Zayn sayup-sayup mendengar suara tangisan dari dalam sana. Seketika hati Zayn mencelos, dia mengenali suara itu. Ya, dia sangat mengenali suara itu.


Dengan perasaan campur aduk tak tentu arah, Zayn bergegas menekan kenop pintu. Sesaat setelah pintu terbuka, mata Zayn melebar dengan sempurna.


Sosok yang dia cari kini sudah ada di depan mata kepalanya. Wanita yang dia rindukan ada di hadapannya. Tak terasa air mata Zayn meluncur bebas begitu saja.


"Zahira..." lirih Zayn sembari meremas dadanya yang terasa sangat ngilu, perih bak disayat sembilu tajam.

__ADS_1


"Zayn..." gumam Zahira dengan pandangan nanar. Manik mata keduanya bertemu, mereka saling menatap seakan tengah berbicara dari hati ke hati.


"Zahira..."


Zayn berhamburan memasuki kamar dan membawa Zahira ke dalam dekapan dadanya. Tangis itu tak bisa diredam lagi, dia tumpah sesuka hati hingga tak ada lagi yang tersisa.


"Kenapa menghukum ku seberat ini Zahira? Kenapa meninggalkan aku sendirian? Kenapa tidak membunuhku saja sebelum kamu pergi?"


Pecah, tangisan Zayn pecah mengiringi hati yang sudah hancur berkeping-keping.


"Zayn..."


"Aku tidak bisa hidup tanpamu Zahira, aku merindukanmu, aku sangat merindukanmu. Jika ini merupakan sebuah hukuman, kenapa tidak membaginya denganku? Kenapa malah meninggalkan aku? Apa pria miskin sepertiku tidak layak mendapatkan cintamu?"


"Zayn..."


"Aku mencintaimu Zahira, aku sangat mencintaimu. Aku hampir gila menahan perasaan ini, aku hampir mati menanggung beban kesendirian ini."


"Zayn... Aku-"


"Bunuh aku Zahira, bunuh saja aku dengan tanganmu ini!" Zayn melepaskan pelukannya, tubuhnya merosot di kaki Zahira. "Ayo, tunggu apalagi! Lebih baik aku mati daripada harus kehilangan dirimu,"


"Tidak Zayn, jangan berkata seperti itu! Aku juga akan mati jika kamu mati." Zahira menjatuhkan tubuhnya di hadapan Zayn. Keduanya saling berbagi luka dan air mata.


"Zayn, aku juga sangat merindukanmu. Aku takut kembali, aku takut kamu akan mencampakkan ku."


"Apa yang kamu katakan Zahira? Aku tidak akan mungkin mencampakkan mu setelah apa yang terjadi diantara kita. Sudah ku bilang aku tidak akan melepaskan mu setelah kita melakukan hubungan itu. Seharusnya akulah yang takut dicampakkan olehmu, aku tidak punya apa-apa untuk membahagiakanmu."


Zayn menangkup tangan di pipi Zahira, dia menghujani wajah itu dengan kecupan bertubi-tubi. "Kamu wanita istimewa Zahira, kamu mampu membuatku jatuh cinta hanya dalam waktu semalam saja."


"Zayn..."


Zahira melemparkan tubuhnya ke dalam dekapan dada Zayn. Zayn memeluknya dengan sangat erat. "Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku sendirian! Berjanjilah akan tetap di sisiku walau apapun yang terjadi!"

__ADS_1


"Iya Zayn, aku janji." angguk Zahira berlinangan air mata.


Bersambung...


__ADS_2