Kekhilafan Terindah

Kekhilafan Terindah
Kekhilafan Terindah Bab 12.


__ADS_3

Saat Zahira tengah asik mencari pakaian di dalam lemari, Zayn mendekat dan melingkarkan tangannya di perut Zahira. Wanita itu terperanjat tatkala tangan Zayn bergerak menggerayangi perut dan naik ke gundukan kembar miliknya.


Seketika alat pernafasan Zahira terasa menyempit, dadanya tiba-tiba sesak. Sekujur tubuhnya merinding menikmati sentuhan lembut Zayn yang tengah asik meremas gundukan kenyal miliknya.


Zayn mengecup pundak Zahira dengan bibir panasnya yang mampu memporak-porandakan benteng pertahanan Zahira. "Aku ingin sayang, aku rindu." gumam Zayn dengan suara serak menahan libi*do yang sudah membuncah.


Karena tidak ada jawaban, Zayn kemudian mengangkat tubuh mungil wanitanya itu. Zayn berjalan menuju ranjang dan membaringkan Zahira di atas kasur.


"Zayn..." lirih Zahira dengan pandangan nanar.


Zayn merangkak di atas tubuh Zahira lalu mengukung nya. "Aku rindu sayang, aku benar-benar rindu." Zayn melebarkan handuk yang melingkar di tubuh Zahira hingga pemandangan indah itu menganga memanjakan penglihatannya.


Zayn tidak bisa lagi menahan, dia membuka pakaian dan melemparnya ke sembarang tempat lalu mendatangi bibir Zahira dan mengesap nya dengan nafas yang kian memburu. Keduanya saling melu*mat, saling membelit lidah dan berbagi air liur.


"Zayn..." des*ah Zahira saat bibir Zayn sudah tiba di pucuk dadanya.


Zayn hanya tersenyum dan melahap dua gundukan kenyal itu secara bergiliran. Zahira menggeliat sambil menggigit bibir saat merasakan sensasi yang luar biasa, sudah lama sekali dia merindukan saat-saat seperti ini.


Ketika Zayn turun dan mengecup perut Zahira, matanya menyipit memperhatikan perut wanitanya itu. Terlihat sedikit bulat dan berisi, tapi Zayn pikir itu karena tubuh Zahira yang mengalami peningkatan berat badan.


Lalu Zayn turun dan menekuk kaki Zahira. Dia merenangi inti wanitanya itu dengan jilatan mematikan, Zayn menghisapnya dan memainkan lidahnya dengan liar. Hal itu membuat Zahira mabuk kepayang menikmati rasa yang entah, kakinya bergetar dan sekujur tubuhnya merinding.


Saat Zayn hendak memasuki dirinya, Zahira menahan pergerakan Zayn. Dia lekat duduk menangkup tangan di pipi pria muda itu.


"Kenapa?" tanya Zayn dengan suara serak. Libi*do nya sudah di ujung tanduk tapi Zahira malah menghentikannya. "Kamu tidak mau?" Jelas air muka Zayn berubah gusar seketika itu juga.


"Bukan, aku mau tapi-"

__ADS_1


"Tapi kenapa? Apa karena aku tidak layak untukmu?" Zayn menjauhkan diri dan memungut pakaiannya. Kecewa, tentu saja. Tidak ada yang lebih menyakitkan dibanding ketika hasrat seseorang tiba-tiba terhenti di tengah jalan.


Saat Zayn hendak melangkah ke kamar mandi, Zahira melompat turun dari ranjang dan melingkarkan tangan di perut Zayn.


"Aku mau Zayn, aku juga ingin. Aku sudah lama merindukan saat-saat seperti ini. Tapi ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, tolong dengar dulu!" Zahira menggerakkan tangan di perut hingga dada Zayn, sontak junior Zayn semakin mengeras dibuatnya.


"Zayn... A-Aku..." Zahira ingin melanjutkan tapi suaranya tercekat di tenggorokan, sulit sekali mengatakannya. Sementara Zayn sendiri hanya diam menunggu apa yang ingin disampaikan oleh Zahira.


"Zayn... Aku hamil, aku mengandung anakmu." Akhirnya kalimat itu keluar seiring air mata yang mengalir di sudut mata Zahira.


"Deg!"


Tubuh Zayn tiba-tiba berguncang seiring detak jantung yang mengalun dengan cepat. Kakinya bergetar hingga tubuhnya merosot di lantai.


"Aaaaa..." Zahira menjerit saat tubuhnya ikut terbawa.


"Maafkan aku Zayn, aku tidak bermaksud menyembunyikan ini darimu. Waktu itu aku masih berstatus istri Roni, aku tidak memiliki kekuatan untuk mengatakannya. Aku takut kamu tidak mau menerimanya," isak Zahira ikut pecah sembari terus memeluk Zayn dari belakang.


"Sedangkal itukah pikiranmu terhadapku? Aku memang bajingan karena sudah meniduri istri orang, tapi aku bukan pria brengsek yang akan menolak darah dagingku sendiri."


"Zayn, tolong maafkan aku! Aku benar-benar tidak tau harus berbuat apa waktu itu, tidak ada seorangpun tempatku berbagi. Aku pikir-"


Zayn membuka tangan Zahira yang masih melingkar di pinggangnya, dia berbalik dan duduk berhadap-hadapan dengan wanitanya itu.


"Kamu memiliki aku untuk berbagi, tapi sayang kamu sendiri yang menganggap ku tidak ada. Kenapa? Apa karena aku hanya pelampiasan sesaat bagimu? Kamu yang membuang ku, kamu yang tidak menginginkan kehadiranku. Bahkan setelah mengetahui itu kamu tidak berniat sedikitpun untuk kembali padaku. Aku sudah seperti orang gila menunggu dan terus menunggu, aku bahkan rasanya ingin mati mengharapkan kedatanganmu."


"Tidak Zayn, itu tidak benar. Aku tidak pernah menganggap mu sebagai pelampiasan sesaat. Aku mempertahankan anak ini karena aku masih berharap bisa kembali padamu. Aku hanya butuh waktu sampai perceraian itu selesai. Aku... Mmphh..."

__ADS_1


Ucapan Zahira tiba-tiba terhenti saat Zayn membungkam bibirnya. Zayn menggendongnya tanpa melepaskan pagutan itu, lalu membaringkan Zahira di atas kasur.


"Zayn..." lirih Zahira dengan sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipinya.


"Diam, biarkan aku melihat anakku terlebih dahulu!" hardik Zayn menajamkan tatapan.


Zayn kemudian mengusap perut Zahira dengan lembut. Terang saja dia merasa aneh dengan bentuk tubuh Zahira yang lebih berisi dari sebelumnya, ternyata ada anaknya, darah dagingnya yang tengah berkembang di dalam sana.


"Jangan nakal ya sayang, sekarang sudah ada Ayah di sini. Ayah tidak akan pernah meninggalkan kalian, Ayah janji." ucap Zayn, lalu mengecup perut Zahira dengan penuh kelembutan.


Zahira mengulas senyum sembari menyapu wajah, dia bahagia mendengar ucapan Zayn. Tidak salah dia mempertahankan anak yang ada di rahimnya itu, ternyata Zayn juga menginginkannya.


Tentu saja, mana ada seorang ayah tidak menginginkan anaknya. Hanya pria gila yang mampu melakukannya.


Lalu Zayn menekuk kaki Zahira, dia ingin berkenalan dengan anaknya untuk pertama kali.


Zahira menggigit bibir saat lidah Zayn kembali turun merenangi intinya. Hisapan pria itu membuat sekujur tubuh Zahira merinding merasakan sensasi yang sangat luar biasa, susah diungkapkan dengan kata-kata.


De*sahan Zahira pecah saat junior Zayn memasuki dirinya. Rindu itu terobati seiring gerakan pinggul Zayn yang membuatnya mabuk kepayang di dalam pergulatan panas itu.


Apalagi Zayn tidak hanya fokus pada intinya, pria itu menyambar buah dada Zahira dan memberikan hisapan yang memabukkan. Seperti sebuah racun yang siap mematikan sekujur tubuh Zahira.


"Aughhh... Zayn..." de*sah Zahira dengan suara yang sangat menggoda. Hal itu semakin memacu adrenalin Zayn yang sudah menggila di atas tubuhnya. Keringat pria itu mulai berjatuhan membasahi tubuh Zahira.


"Aakhh..." Zayn mengerang dengan mata terpejam. Kembali dia meninggalkan benihnya di dalam diri Zahira.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2