
Usai mendapat transfusi darah dari Zayn dua hari yang lalu, kini keadaan Suganda sudah semakin membaik. Semangatnya kian berkobar setelah membaca secarik kertas yang diberikan Fikri ke tangannya.
Ya, malam saat Zayn mendonorkan darahnya untuk Suganda, disitulah timbul sebuah ide di benak Fikri untuk melakukan tes DNA. Setelah berkonspirasi dengan dokter, Fikri berhasil mendapatkan jawaban atas semua yang bercakak di benaknya selama ini.
Dari hasil lab yang sudah ada di tangan Suganda, DNA Zayn dinyatakan cocok 99,99 persen. Itu artinya Zayn adalah anak kandung Suganda, darah dagingnya yang telah dia buang dan dia sia-siakan selama dua puluh tahun lamanya.
Tak terbilang betapa terharunya Suganda saat membaca tulisan yang diketik di kertas itu. Ada perasaan bahagia, sedih dan juga penyesalan yang teramat dalam di hatinya.
Kenapa dia bisa seceroboh ini di masa lalu? Demi mengindahkan ucapan orang lain yang ingin merusak kebahagiaannya, dia malah membuat keputusan bodoh yang kini menjadi penyesalan terbesar di hidupnya.
Selama dua puluh tahun Zayn kehilangan jati dirinya, dia kehilangan kasih sayang seorang ayah yang harusnya menjadi tempat untuknya bersandar, berkeluh kesah dan berbagi canda tawa.
Selama itu pula Roni menyimpan dendam dan kemarahan atas kehancuran keluarganya, menjadikannya sosok pria arrogant dan penuh misteri seperti saat ini.
Semua merupakan kesalahan Suganda yang gagal mempertahankan keutuhan rumah tangganya, kedua putranya lah yang menjadi korban atas kebobrokannya.
"Fikri, bawa aku bertemu dengan Zayn! Aku harus membawa putra dan menantuku itu pulang ke rumah mereka." pinta Suganda dengan semangat berkobar. Dia ingin menebus segala dosa yang pernah dia lakukan dan menyatukan kedua putranya agar berdamai dengan keadaan.
"Maaf Pak, sepertinya Zayn sudah tidak tinggal di rumah itu. Biar aku pastikan dulu dimana mereka tinggal sekarang," sahut Fikri, lalu merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah telepon genggam.
Fikri sedikit menjauh dari brankar yang ditiduri Suganda, dia mencoba menghubungi Zahira untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan mereka. Itupun kalau Zahira bersedia memberitahunya.
Setelah berkali-kali menghubungi Zahira, Fikri menoleh ke arah Suganda seraya menggelengkan kepalanya. Sepertinya Zahira sengaja tidak mengangkat panggilan darinya. Mungkin Zahira tidak ingin Zayn marah karena berhubungan dengan orang yang sangat dia benci.
Lalu Fikri berinisiatif membawa Suganda ke cafe milik Zahira, barangkali mereka berdua ada di sana.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam lebih, tibalah mobil yang dikendarai Fikri di parkiran cafe itu.
Dia turun lebih dulu dan membantu Suganda duduk di atas kursi roda, lalu mendorongnya memasuki tempat itu.
__ADS_1
"Permisi Dek, apa Zayn dan Zahira ada?" tanya Fikri pada seorang pelayan cafe yang tidak sengaja berpapasan dengan mereka.
Pelayan itu bergeming, dia mematut Fikri dan Suganda bergantian. "Maaf, kalian siapa ya?" tanya pelayan itu menautkan alis.
Sebelumnya Zayn sudah menginstruksikan kepada manager dan para pelayan cafe untuk tidak sembarangan menerima tamu, dia dan Zahira butuh privasi. Siapapun yang datang mencari mereka harus izin terlebih dahulu.
"Saya Fikri," pria itu mengulurkan tangan sebagai salam perkenalan. "Dan ini bos saya, Bapak Suganda. Beliau ayah dari Zayn." jelas Fikri setelah berjabat tangan dengan pelayan itu.
Sontak mata pelayan itu melebar, yang dia tau Zayn adalah anak yatim piatu. Ini benar-benar aneh, dari penampilan Suganda terlihat jelas bahwa dia bukanlah orang sembarangan. Apa Zayn sebenarnya orang kaya?
"Adek..." panggil Fikri, pelayan itu tersentak dari lamunan singkatnya.
"I-Iya Pak, tunggu sebentar." jawab pelayan itu terbata, lalu mempersilahkan kedua pria itu duduk.
Setelah Fikri dan Suganda menunggu di sebuah meja, pelayan itu pamit undur diri. Dia berjalan ke arah tangga menuju ruangan Zahira yang ada di lantai atas.
"Sore Pak, Bu, ada tamu yang ingin bertemu." ucap pelayan itu membungkukkan punggung.
"Siapa?" tanya Zayn dan Zahira bersamaan. Keduanya mengerutkan kening dan saling menatap.
"I-Itu... Kalau tidak salah namanya Pak Fikri sama Pak... Pak Suganda." jelas pelayan itu sembari berpikir.
Seketika air muka Zayn berubah kusut mendengar nama itu, dia mengusap wajah dan menghela nafas sebanyak-banyaknya. "Baik, kembalilah ke bawah! Sebentar lagi kami turun," ucap Zayn dengan tatapan malas, pelayan itupun lekas pergi meninggalkan mereka berdua.
Untuk apa lagi orang tua itu datang mencarinya? Rasanya Zayn ingin pergi sejauh mungkin agar tidak ada lagi yang mengganggu hidupnya. Zayn lelah berurusan dengan mereka, ujung-ujungnya pasti dia yang akan menjadi sasaran kemarahan Roni.
"Pergilah temui mereka, katakan kalau aku tidak ada di sini!" ucap Zayn pada Zahira. Dia hendak berbalik tapi Zahira bergegas menahan pergelangan tangannya.
"Zayn..."
__ADS_1
"Mengertilah Zahira, aku tidak ingin bertemu dia." tegas Zayn menekankan bahwa dia tidak mau melihat laki-laki paruh baya itu.
"Sayang, tolong jangan seperti ini! Temuilah dia, barangkali dia mau berterima kasih atas apa yang sudah kamu lakukan kemarin." ucap Zahira.
"Aku tidak membutuhkan kata-kata itu darinya, anggap saja semua sudah impas." sahut Zayn.
"Sayang please, ayah tidak seburuk yang kamu pikirkan. Bukankah setiap manusia memiliki kesalahan masing-masing, dia juga berhak mendapatkan kesempatan kedua. Jangan sampai kamu menyesal setelah dia tidak ada!" terang Zahira yang membuat Zayn langsung terdiam menelaah kata-kata Zahira barusan. Dia tau semua manusia memiliki kesalahan, termasuk dirinya yang sudah pernah berbuat dosa.
Setelah cukup lama bercakak dengan pemikirannya sendiri, Zayn akhirnya mengalah. Dia menggenggam tangan Zahira dan membawanya turun ke bawah. Keduanya menghampiri meja yang ditunggu Suganda dan Fikri.
"Zayn..." lirih Suganda dengan perasaan yang tidak menentu. Air matanya menggenang, dia pikir Zayn tidak mau menemui dirinya setelah apa yang dia lakukan di masa lalu.
Entah kekuatan dari mana, tiba-tiba kaki Suganda bergetar hebat. Sekuat tenaga dia mencoba bangkit dari duduknya dan bertumpu pada sanding meja. Dia berusaha meraih tangan Zayn, dia ingin sekali memeluk putranya itu.
"Bug!"
Tubuh Suganda mendadak sempoyongan dan membentur meja, beruntung Zayn dengan cepat menangkapnya hingga Suganda tidak jadi tersungkur di lantai.
"Hati-hati," ucap Zayn spontan seraya menahan tubuh ringkih pria tua itu.
"Zayn... Putraku," lirih Suganda menitikkan air mata. Dia berupaya meluruskan tubuhnya dan mendekap Zayn dengan erat.
Zayn bergeming dengan pandangan linglung. Dia merasakan sesuatu yang aneh saat berada di pelukan pria itu.
"Maafkan Ayah Zayn, maaf." imbuh Suganda berderai air mata. Dia tidak mau melepaskan Zayn meski sesaat.
Fikri yang melihat pemandangan itu tiba-tiba terenyuh, dia terharu menyaksikan kehangatan pelukan ayah dan anak itu. Tapi seketika matanya terbelalak, dia baru sadar kalau saat ini Suganda tengah berdiri di atas kakinya sendiri.
"Pak, Anda bisa berdiri?" ucap Fikri seakan tak percaya. Setelah dua puluh tahun lamanya, ini kali pertama bagi Fikri melihat Suganda berdiri kembali. Suganda sendiri bahkan tidak menyadarinya.
__ADS_1