Kekhilafan Terindah

Kekhilafan Terindah
Kekhilafan Terindah Bab 33.


__ADS_3

Pukul sebelas malam Suganda tiba di rumah sakit dan langsung ditangani tim dokter yang sudah dihubungi Fikri sejak di rumah tadi. Kondisinya sangat kritis karena terlalu banyak kehilangan darah.


Beruntung Fikri datang disaat yang tepat, dia mendobrak pintu kamar karena curiga terjadi sesuatu pada Suganda yang tak kunjung menyahut panggilannya.


Dan ternyata kecurigaan Fikri benar, dia menemukan Suganda tergeletak di lantai kamar mandi dalam kondisi yang sangat lemah. Untuk bernafas saja dia kesulitan.


"Om, bagaimana keadaan Ayah?" tanya Roni panik. Tadi dia baru tiba di kediamannya. Saat hendak turun dari mobil, tiba-tiba Fikri menghubungi dan mengatakan apa yang terjadi dengan Suganda.


Roni merasa bersalah atas apa yang terjadi pada ayahnya. Meski banyak kebencian yang bersarang di hatinya, tapi dia tidak bisa memungkiri betapa sayangnya dia pada Suganda. Bahkan saat menikahi Zahira tempo hari, itu semata-mata demi menjaga kesehatan sang ayah. Dia belum siap kehilangan setelah apa yang dia lalui sebelumnya.


"Maafkan aku Ayah, maaf." desisnya penuh penyesalan. Dia merasa bodoh karena tidak berpikir sejauh ini, untuk apa berdebat jika akhirnya Suganda lah yang harus menderita?


Dalam kekalutan yang merongrong di dadanya, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Roni menyapu wajahnya dengan cepat dan berhamburan menghampiri seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan ICU.


"Bagaimana keadaan Ayah saya, Dok?" tanya Roni panik.


"Beliau dalam kondisi kritis, terlalu banyak darah yang terbuang sia-sia." jawab sang dokter.


"Ambil darah saya, Dok! Golongan darah kami sama," tekan Roni.

__ADS_1


"Baik, kalau begitu ikutlah dengan saya!" ajak dokter itu.


Tanpa pikir, Roni lekas mengangguk. Mereka memasuki ruangan lain bersama seorang suster yang ikut menyusul.


Setelah melakukan berbagai tes, dokter menggeleng lemah. Keadaan Roni tidak sebaik perkiraannya. Dia tidak bisa melakukan transfusi darah, itu akan membahayakan dirinya.


Ya, sebelumnya Roni sudah beberapa kali melakukan operasi besar. Sebab itulah dokter tidak berani mengambil resiko.


Setelah mereka meninggalkan ruangan itu, Fikri menghampiri dan bertanya. "Apa transfusi bisa dilakukan?"


"Tidak Om," geleng Roni dalam keputusasaan, begitupun dengan dokter yang ikut menggeleng lemah.


Tanpa pikir, Fikri langsung menjauh dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia menghubungi Zahira karena tidak memiliki nomor Zayn di kontaknya.


Setelah cukup lama menunggu, Zahira mengangkat panggilannya. Fikri menceritakan semua yang terjadi dan meminta tolong agar Zahira mau membujuk Zayn. Tidak ada waktu lagi, semakin dibiarkan, keadaan Suganda akan semakin memburuk.


Setelah panggilan itu terputus, Roni mendekat dan marah pada Fikri. Dia tidak setuju dengan tindakan asisten pribadi ayahnya itu. Kenapa harus meminta bantuan pada anak itu? Masih banyak orang lain yang memiliki golongan darah yang sama.


Lantas bagaimana dengan keadaan Suganda? Dia butuh donor darah secepatnya. Fikri pun tak bisa menahan diri, ini kali pertama baginya meninggikan suara di hadapan Roni.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak bisa memberi solusi, lebih baik kamu pulang! Ayahmu sekarat Roni, tolong jangan turuti egomu disaat-saat seperti ini! Kemana kita harus mencari pendonor malam-malam begini? Apa kita harus menunggu Ayahmu mati terlebih dahulu, iya?" bentak Fikri tersulut emosi.


Roni terdiam dan terhenyak di atas kursi. Dia tidak mau kehilangan Suganda secepat ini, tapi dia juga tidak ingin Zayn merasa menang jika Fikri meminta bantuannya. Ini benar-benar rumit, kepala Roni ingin meledak dibuatnya.


Di apartemen, Zahira masih berupaya membujuk Zayn. Dia yakin Zayn memiliki hati yang luas, dia tidak mungkin tega membiarkan ayahnya mati sia-sia.


"Biarkan saja, aku tidak peduli mau dia sakit atau mati sekalipun." Zayn malah tidur tanpa peduli pada keadaan Suganda yang dia tau tengah sekarat di rumah sakit.


"Zayn, tolong jangan butakan hatimu. Sejahat apapun dia di masa lalu, dia tetap ayahmu. Darahnya mengalir di tubuhmu," jelas Zahira.


"Sudahlah sayang, lebih baik tidur! Untuk apa memikirkan manusia kejam seperti dia itu?" kesal Zayn.


"Dia tidak kejam Zayn, dia sebenarnya baik. Sekali saja berdamai lah dengan keadaan, tunjukkan bahwa kamu anak yang berbakti. Jangan sampai kamu menyesal setelah dia tidak ada!"


Zayn tidak menyahut, dia memilih memicingkan mata menelaah kata-kata Zahira barusan. Berat rasanya memaafkan kesalahan fatal yang sudah dilakukan Suganda padanya, dia yang seharusnya hidup nyaman malah hidup dalam kesengsaraan. Berjuang sendiri meraih apa yang dia ingin, tidak ada tempat mengadu dan berkeluh kesah.


Akan tetapi setelah dia pikirkan lagi, dia belum siap kehilangan Suganda, dia ingin merasakan kasih sayang seorang ayah kandung sekali saja.


"Ayo, kita ke rumah sakit sekarang!" Zayn melompat turun dari kasur dan bergegas mengenakan pakaian. Zahira mengulas senyum, dia tau hati suaminya itu sebenarnya sangat lembut. Terkadang ego yang memaksanya untuk berpura-pura membatu.

__ADS_1


__ADS_2