
"Mm... Enak," sanjung Zahira yang kini sudah kembali ke meja makan setelah merapikan pakaian di dalam lemari. Aroma masakan Zayn tercium hingga ke hidungnya, membuat cacing yang berkembang biak dalam perutnya memberontak.
"Ya sudah, kalau begitu makan yang banyak." Zayn mengisi piring Zahira lagi dengan nasi dan lauk.
"Cukup sayang, jangan banyak-banyak!" Zahira menahan tangan Zayn. "Nanti kalau lapar, aku makan lagi. Sekarang cukup segini dulu," imbuhnya. Dia takut muntah kalau kekenyangan.
Zayn mengukir senyum dan menaruh makanan itu di piringnya. Sejak satu bulan terakhir selera makan Zayn juga ikut bertambah, dia tidak pernah muntah lagi seperti awal-awal mengetahui kehamilan Zahira.
Usai makan, Zahira membantu Zayn membereskan meja dan mencuci piring kotor, setelah itu keduanya masuk ke kamar dan bersiap-siap.
Rencananya Zayn ingin ke cafe sendirian, tapi Zahira malah merengek minta ikut. Dia tidak mau jauh-jauh dari Zayn, dia takut kejadian seperti kemarin terulang lagi. Mau tidak mau, Zayn terpaksa mengiyakannya.
Satu jam kemudian tibalah mereka di cafe, kedatangan keduanya disambut hangat manager cafe dan para pelayan.
Kian hari cafe itu kian berkembang di tangan Zayn, dia juga menambahkan beberapa menu terbaru agar pengunjung tidak bosan dengan menu yang itu itu saja.
Selain mampu memanjakan lidah Zahira, Zayn juga berhasil memanjakan lidah pengunjung yang sudah menjadi pelanggan setianya. Cafe juga didesain sesuai kebutuhan dan kenyamanan para pengunjung.
"Itu dia orangnya." seorang pengunjung wanita menunjuk ke arah Zayn. "Katanya dia itu awalnya cuma pelayan, tapi sekarang dia sudah menjadi suami dari pemilik cafe ini. Beruntung ya dia,"
"Bagaimana tidak beruntung? Orang dia tampan begitu, wajar saja pemilik cafe ini tertarik padanya."
"Lagian siapa yang tidak tergiur dengan wanita itu, sudah cantik, mandiri, ramah lagi."
"Tapi yang aku dengar, katanya mereka itu pasangan selingkuh. Mereka berhubungan saat wanita itu masih sah jadi istri orang,"
"Masa' sih? Kelihatannya dia itu wanita baik-baik."
__ADS_1
"Ya mana aku tau, aku cuma dengar kabar burung yang beredar akhir-akhir ini."
"Sudah, untuk apa bergosip? Mau mereka pasangan selingkuh atau apalah, itu tidak ada hubungannya dengan kita. Lagian mana kita tau apa yang terjadi sebenarnya."
"Iya juga sih. Ayo, lanjut makan saja!"
Begitulah obrolan yang terjadi di sebuah meja yang diduduki oleh tiga orang wanita pengunjung cafe itu.
Ternyata desas-desus mengenai asal mula hubungan Zayn dan Zahira sudah merebak ke mana-mana. Manager cafe dan para pekerja juga sudah sering mendengarnya tapi mereka semua sengaja menutup mulut.
Tidak ada yang berani berpendapat mengingat status mereka yang hanya pekerja. Mereka tidak ingin kehilangan pekerjaan karena mempermasalahkan hubungan bos mereka. Lagipula selama ini Zahira sangat baik pada mereka semua, cafe juga berkembang pesat saat dikelola oleh Zayn.
"Kamu dengar kan apa yang mereka bicarakan tadi?" tanya Zahira saat keduanya tengah menaiki anak tangga menuju lantai dua. Zahira mendengar jelas saat ketiga wanita tadi menggosipkan dirinya.
"Sudah, biarkan saja. Untuk apa mendengarkan ucapan mereka?" sahut Zayn. Dia tidak peduli dan tidak mau ambil pusing dengan pandangan orang-orang terhadap dirinya.
"Lalu aku harus bagaimana, sayang? Apa aku harus mengusir mereka, memarahi mereka, atau memukuli mereka? Kamu mau suamimu ini dipenjara?" Zayn mengerutkan dahi sesaat setelah keduanya masuk ke dalam ruangan.
Lalu Zayn menarik tangan Zahira dan membawanya duduk di sofa. Zayn mendudukkan Zahira dengan posisi miring di atas pangkuannya dan mendekapnya erat.
"Dengar aku ya!" Zayn mengecup ujung bibir Zahira, setelah itu menyibakkan rambut Zahira ke belakang. "Jika kamu ingin hidup tenang dan damai, tidak perlu mendengar ocehan orang. Biarkan mereka bicara sesuka hati selagi itu tidak merugikan kita."
"Hmm..." Zahira hanya bergumam tanpa bicara apa-apa. Air mukanya mendadak berubah masam.
"Jangan cemberut dong sayang, jelek tau." goda Zayn, lalu mengesap bibir Zahira dengan kelembutan.
Zahira mengangkat sudut bibirnya dan balas mengesap bibir Zayn. Setelah itu dia mengalungkan tangan di tengkuk Zayn dan menenggelamkan wajah di leher suaminya itu.
__ADS_1
Tidak lama mata Zayn tiba-tiba menyipit, badannya menggeliat dengan nafas yang mulai tak beraturan. Bisa-bisanya Zahira memainkan lidah dan menggigit lehernya disaat seperti ini. Bukankah itu namanya membangunkan singa yang tengah kelaparan?
"Cukup sayang, ingat dimana kita sekarang!" keluh Zayn dengan suara berat menahan li*bido yang sudah memuncak.
Bukannya melepaskan Zahira malah semakin gencar menggigiti leher Zayn, beberapa cap merah terlukis jelas di sana.
"Sayang please, kamu mau aku ditertawakan orang-orang? Apa nanti yang mereka pikirkan tentang aku?" desis Zayn yang sudah mulai kehilangan kewarasan. Aliran darahnya kian berpacu dengan detak jantung yang berdetak tak menentu.
Tak sanggup menahan lagi, Zayn pun membanting manja tubuh Zahira di atas sofa dan duduk di atasnya. "Baiklah jika itu yang kamu inginkan," ucap Zayn dengan nafas yang kian memburu.
Zahira mengulum senyum dan pasrah saja saat Zayn memagut bibirnya. Suara decapan keduanya terdengar riuh memenuhi seisi ruangan. Lalu Zayn membuka kancing kemeja Zahira dan melahap dua gundukan kenyal milik istrinya bergantian. Zahira melenguh mengangkat bokong dan mende*sah dengan manja.
Di bawah sana, Roni sengaja datang untuk menemui Zayn. Pagi tadi dia mengunjungi kediaman Zayn tapi tak menemukan mereka di sana.
Setelah semalaman berpikir keras, dia memutuskan untuk bernegosiasi dengan adiknya itu. Tentu saja menurutnya hal yang ingin dia tawarkan ini akan menguntungkan bagi Zayn. Dia juga yakin Zayn akan menerimanya.
Seorang pelayan mengantarkan Roni untuk menemui Zayn, sayang langkah keduanya terhenti di depan pintu ruangan saat suara-suara aneh menembus gendang telinga mereka.
Pelayan yang tadinya hendak mengetuk pintu tiba-tiba bergidik ngeri, sekujur tubuhnya merinding.
Sedangkan Roni yang mendengar itu tiba-tiba mengepalkan tinju. Apa yang mereka lakukan di siang bolong seperti ini? Apa mereka tidak punya malu? Mata Roni memerah dibakar api cemburu dan kemarahan.
"Maaf Tuan, sepertinya Pak Zayn dan Bu Zahira sedang tidak bisa diganggu." ucap pelayan itu dengan susah payah.
"Hmm..." Roni hanya bergumam dan berlalu begitu saja. Puncak kemarahannya semakin menjadi-jadi saat memasuki mobil.
"Sial..." kesalnya sembari memukul stir mobil berulang kali. Tidak pernah terbersit di pikirannya untuk mendengar senandung kenikmatan yang sedang diraih oleh Zayn dan Zahira.
__ADS_1
Pikirnya, seharusnya dia dan Zahira yang melakukan hubungan itu. Dia yang semestinya memberikan kenikmatan pada Zahira, bukan adik brengseknya itu. Pria yang dia anggap sebagai penyebab utama kekacauan yang terjadi di dalam keluarganya.