
Setelah Zahira merasa tenang, Zayn membawanya turun ke bawah untuk sarapan. Sedikit disayangkan masakan Zahira sudah keburu dingin akibat insiden tadi, tapi Zayn tetap menghargainya. Dia makan dengan sangat lahap sambil menyuapi Zahira yang kini tengah duduk di atas pangkuannya.
Zahira melingkarkan tangan di pinggang Zayn, dia tidak mau melepaskan pria itu walaupun sebentar. Entah itu cinta atau tidak, yang jelas Zahira ingin selalu berada di sampingnya.
Zayn memiliki daya tarik tersendiri di mata Zahira. Dia pria penyayang dan pengertian, seperti ada sosok seorang ayah di dalam dirinya. Seketika Zahira terlihat seperti anak kecil yang bergelantungan di pelukan ayahnya.
"Zayn, setelah makan kita pergi dari sini ya. Aku takut Roni datang lagi. Tadi untung saja ada kamu, jika tidak mungkin aku-"
"Sssttt... Jangan mikir aneh-aneh!" Zayn menempelkan jari telunjuk di bibir Zahira. "Kita pasti akan pergi, tapi kemana aku harus membawamu? Aku tidak mempunyai tempat yang layak, kamu tidak mungkin betah. Aku tidak punya apa-apa selain gubuk sederhana yang aku tempati sekarang."
"Zayn... " Zahira menangkup tangan di pipi pria itu.
"Maafkan aku Zahira, aku benar-benar minta maaf. Harusnya aku tidak pernah datang di dalam hidupmu, sekarang kamu harus menderita karena aku." lirih Zayn dengan tatapan sendu.
"Tidak Zayn, jangan bicara seperti itu! Aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu, justru aku sangat bersyukur. Jika hari itu tidak ada kamu, entah apa yang akan terjadi padaku, mungkin saja aku sudah mati." selang Zahira dengan mata berkaca.
"Aku mau ikut kamu, Zayn. Tidak masalah gubuk bambu sekalipun, yang penting ada kamu bersamaku." kata Zahira.
"Kamu yakin?" Zayn mengerutkan kening.
"Iya, aku yakin." angguk Zahira mengulas senyum.
"Ya sudah kalau kamu memang yakin. Tapi nanti jangan menyesal ya, di rumahku tidak ada AC, tidak ada kamar mandi di kamar, kasurnya juga keras dan banyak nyamuk. Aku yakin kamu tidak akan betah," Zayn mengulum senyum.
"Tidak apa-apa, kan ada kamu yang bisa mengipasi aku. Kalau mau ke kamar mandi juga ada kamu yang menemani, terus kalau kasurnya keras aku kan bisa tidur di atas tubuh kamu. Kita coba saja dulu. Lagian kita tidak mungkin ke rumahku, Roni bisa saja mencari ku ke sana." ungkap Zahira menahan tawa.
__ADS_1
"Hehe... Maunya, bilang saja gak bisa jauh dari aku." Zayn tertawa kecil sembari mencubit pipi Zahira, lalu meneguk kopi yang sudah dingin setelah nasi goreng buatan Zahira tadi tandas olehnya.
"Aaaaakk..."
Zayn sendawa besar yang membuat Zahira gemas, lalu menggigit bibir prianya itu. "Tidak sopan,"
"Hahahaha... Habisnya masakan kamu enak, lama-lama aku bisa gendut kalau dimasakin begini setiap hari." seloroh Zayn. Dia tertawa terbahak-bahak.
Setelah sarapan, keduanya kembali ke kamar. Zahira bersiap-siap mengemasi barang-barang, Zayn pun membantunya.
Sementara di villa lain, Roni nampak frustasi setelah apa yang terjadi tadi. Bisa-bisanya dia kalah saing dengan bocah ingusan seperti Zayn. Tentu saja dia tidak bisa menerima ini. Dia yang seharusnya memiliki Zahira, bukan Zayn si bocah miskin itu. Begitulah makian yang keluar dari mulut Roni sembari menghancurkan perkakas yang ada di hadapannya.
Dia tidak bisa menerima ini, padahal sebelumnya dia sudah berusaha keras agar perceraiannya tidak dikabulkan oleh pengadilan tapi ternyata Zahira mendapat sokongan dari Amira. Hal itulah yang membuat Roni tiba-tiba murka dan melampiaskan sakit hatinya pada Amira yang merupakan istri pertamanya.
Pukul satu siang mobil mewah yang dikemudikan Zayn masuk ke dalam sebuah gang. Mobil itu kemudian berhenti tepat di depan sebuah rumah kecil nan imut dan memiliki pekarangan yang cukup lapang.
Zayn turun setelah mematikan mesin mobil lalu membukakan pintu untuk Zahira. Zayn mengulurkan tangan, Zahira pun meraihnya. Keduanya masuk ke dalam rumah kecil nan sederhana milik Zayn. Meski kecil tapi rumah itu terlihat sangat rapi dan bersih.
"Ini rumah kamu?" tanya Zahira sambil memutar manik mata menyisir setiap sudut rumah.
"Iya, kamu tidak suka ya? Bukankah tadi sudah aku bilang bahwa-"
"Tidak Zayn, aku suka kok. Tidak apa-apa kecil yang penting nyaman untuk ditempati." potong Zahira sebelum Zayn menyelesaikan ucapannya.
"Di sini cuma ada satu kamar. Kalau kamu mau mandi atau buang air, kamar mandinya ada di belakang. Sekarang kamu istirahat dulu di kamar, aku mau nurunin barang-barang sebentar!" ucap Zayn.
__ADS_1
"Iya," angguk Zahira. Dia kemudian berjalan ke kamar Zayn dan mematut semua benda yang ada di dalam sana. Hanya ada ranjang kayu dan spring bed yang beralaskan seprai, lemari kayu dua pintu ukuran sedang dan sebuah cermin besar. Selain itu tidak ada apa-apa lagi selain pakaian Zayn yang tergantung di dinding.
Benar yang dikatakan Zayn tadi, rumahnya sangat sederhana dengan perkakas seadanya tapi Zahira merasa nyaman berada di rumah itu.
Suasananya terasa dingin, adem dan tenang. Sekilas seperti rumah-rumah yang ada di pedesaan, sejuk dan nyaman untuk ditempati.
Zahira kemudian membuka jaket yang dia kenakan dan menggantungnya di dinding, perutnya yang membuncit nampak jelas dibalik tank top yang melekat di tubuhnya.
"Aaaaah..." Zahira menghela nafas dan membuangnya kasar, lalu membuka ikat rambut dan berbaring di atas kasur Zayn. "Tidak terlalu keras," gumam Zahira pada dirinya sendiri, lalu memicingkan mata perlahan.
Tidak lama, Zayn datang sembari menyeret dua koper di tangan. Seulas senyum terukir di bibirnya saat menangkap wanita yang dia cintai sudah terlelap di atas kasur.
Sebenarnya Zayn tidak tega membawa Zahira ke rumahnya. Zahira tidak akan betah apalagi dalam keadaan hamil seperti ini. Dia butuh kenyamanan untuk saat ini tapi Zayn tidak punya pilihan lain. Jika mereka pulang ke rumah Zahira, Roni pasti dengan mudah menemukan mereka.
Zayn bukannya takut pada Roni, tapi Zayn khawatir dengan keadaan Zahira dan darah dagingnya yang sedang berkembang di rahim wanitanya.
Setelah menaruh koper dan menyusun pakaian di dalam lemari, Zayn keluar dan berjalan menuju warung yang tidak jauh dari rumah. Dia membeli beras, sayur, cabe, telur dan beberapa kebutuhan pokok lain yang dia butuhkan.
Saat hendak pulang, Zayn kebetulan berpapasan dengan ketua RT setempat. Mau tidak mau Zayn terpaksa memanggilnya dan menceritakan tentang Zahira yang kini sudah tinggal bersama dirinya. Zayn juga meminta tolong agar ketua RT itu mau membantunya mengurus surat nikah, Zayn tidak mau kehadiran Zahira menjadi bahan ghibah bagi warga setempat.
Setelah ketua RT itu menyanggupi permintaannya, Zayn menjabat tangan pria paruh baya tersebut. Dia berjanji akan mengantarkan dokumen pribadinya malam ini juga. Semakin cepat semakin baik agar status mereka jelas di mata hukum dan agama, dia tidak ingin anaknya disebut anak haram karena lahir tanpa status yang jelas.
Zayn tidak ingin nasib sial yang dia tanggung selama ini mengalir pada anaknya. Zayn memang dibesarkan oleh ayah dan ibu yang sangat menyayanginya, tapi tetap saja almarhum keduanya hanyalah orang tua angkat yang mengambil Zayn dari panti asuhan sejak dia masih berusia lima tahun. Kenyataan itu Zayn dengar saat dia berusia lima belas tahun, satu tahun sebelum ibu angkatnya meninggal dunia dan dua tahun sebelum ayah angkatnya menyusul.
Bersambung...
__ADS_1