Kekhilafan Terindah

Kekhilafan Terindah
Kekhilafan Terindah Bab 18.


__ADS_3

"Permisi, perkenalkan nama saya Pak Fikri. Apa saya bisa bertemu dengan pengurus panti ini?" tanya Fikri pada seorang gadis kecil yang tengah menyapu di halaman. Gadis itu menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu mengantarkan Fikri ke ruangan Lina. Wanita yang sudah cukup sepuh tapi masih bersemangat mengurusi panti asuhan itu.


Ya, Fikri tidak mau menunda-nunda. Setelah mendapatkan perintah tadi, dia langsung meluncur ke TKP untuk menjalankan perintah.


Sebenarnya Fikri sangat menyayangkan kejadian yang terjadi dua puluh tahun silam. Waktu itu dia tengah berada di luar kota untuk menggantikan perjalanan bisnis Suganda. Jika tidak, dia sendiri yang akan merawat anak itu. Dia tidak akan tega membuangnya.


Akan tetapi nasi sudah menjadi bubur. Di detik-detik kebahagiaan yang dinanti para pasangan suami istri, Suganda malah bertengkar dengan istrinya sehingga Layla mengalami kontraksi hebat.


Anak itu berhasil dilahirkan tapi Layla malah tidak sanggup berjuang setelah mengalami pendarahan hebat. Selain stres dia juga kehilangan semangat untuk hidup hingga mengalami koma beberapa jam dan akhirnya meninggalkan dunia yang fana ini.


Seorang pria suruhan Suganda mengambil anak itu dari rumah sakit. Suganda bahkan tidak mau melihat wajah anak itu sekalipun. Anak itu diletakkan di depan pintu panti asuhan tanpa petunjuk apa-apa.


Setelah kepergian istrinya, Suganda mengalami stroke hingga kurang lebih selama lima tahun dia harus mendapatkan perawatan intensif. Seluruh tubuhnya mati rasa, bahkan untuk bicara pun dia tidak bisa.


Lima tahun kemudian, Suganda pernah mencoba mencari tau tentang perkembangan anak itu melalui orang suruhannya. Sayang anak itu sudah diadopsi oleh sepasang suami istri yang tidak diketahui identitas mereka. Lina menutup rapat-rapat kenyataan itu, dia ingin bocah laki-laki itu mendapatkan kebahagiaan bersama kedua orang tua angkatnya.


Kini penyesalan itu kembali datang disaat kondisi Suganda sudah semakin melemah. Dia ingin melihat anak itu untuk pertama dan terakhir kalinya. Dia ingin memastikan apakah anak itu darah dagingnya atau bukan. Jika benar anak itu darah dagingnya, dia ingin menebus kesalahan di masa lalu agar bisa beristirahat dengan tenang.


"Ini ruangan Bu Lina, Bapak masuk saja." ucap gadis kecil itu setelah mereka berdua tiba di depan pintu ruangan.


"Terima kasih, oh ya nama kamu siapa?" tanya Fikri dengan lemah lembut.


"Intan Pak, kalau begitu saya permisi dulu. Mau nyapu lagi," Gadis kecil itu tersenyum manis lalu berlari meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Fikri hanya tersenyum melihat dan memandangi punggung gadis kecil itu. Setelah dia menghilang, Fikri berbalik dan segera mengetuk pintu.


"Tok Tok Tok"


"Ya, masuk!" sorak Lina dari dalam sana.


Karena sudah mendapatkan izin, Fikri pun mendorong pintu perlahan. Dengan tubuh tegap dia berjalan memasuki ruangan itu.


"Maaf mengganggu waktunya. Apa benar Anda pengurus panti asuhan ini?" tanya Fikri berbasa-basi.


"Iya, Anda benar. Silahkan duduk!" sahut Lina mempersilahkan Fikri duduk.


Fikri mengangguk pelan, lalu duduk di kursi kosong yang ada di seberang meja Lina.


Lalu Fikri menjelaskan maksud kedatangannya, dia berbicara dengan sopan dan gamblang sesuai apa yang telah terjadi sebelumnya. Dia menerangkan secara detail bahwa ada kesalahpahaman diantara kedua orang tua anak yang telah ditinggal di panti asuhan waktu itu.


Fikri juga mengatakan bahwa dia ingin mengetahui dimana keberadaan anak itu sekarang. Sang ayah ingin sekali bertemu dengan anak itu untuk menebus dosa yang pernah dia lakukan di masa lampau. Terlebih anak itu darah dagingnya atau bukan, sang ayah tetap ingin menemuinya.


Lina menatap tajam saat mendengar semua yang dikatakan Fikri. Dari awal dia sudah curiga saat menemukan anak itu dengan balutan bedong dan selimut mahal bermerek. Ternyata kecurigaannya benar, anak itu ternyata berasal dari keluarga terpandang. Bukan anak yang dibuang karena hasil perzinahan atau keluarga yang kurang mampu.


"Terlambat, sekarang anak itu sudah tidak ada lagi di sini." jawab Lina ketus.


Apapun alasannya, Lina tak membenarkan kelakuan tidak manusiawi ayah dari anak itu. Kalaupun anak itu hadir karena dosa yang dilakukan sang ibu, tetap saja anak itu tidak harus mendapatkan perlakuan seperti itu. Anak itu tidak berdosa, dia juga tidak meminta untuk dilahirkan ke dunia ini.

__ADS_1


"Saya mengerti bagaimana perasaan Ibu sebenarnya. Saya juga sama, saya marah dan tidak bisa menerima kenyataan itu. Andai saja waktu itu saya ada di sini, saya sendiri yang akan merawatnya dan membesarkannya. Tapi takdir berkata lain, saya mohon Ibu bermurah hati memberitahu saya dimana keberadaan anak itu. Ayahnya sudah sakit-sakitan, sekali saja dia ingin bertemu agar bisa pergi dengan tenang." terang Fikri memohon.


"Maaf, saya tidak bisa mengatakannya. Sebaiknya Anda pergi saja dari sini!" Lina masih kekeh dengan pendiriannya. Dia tidak akan buka mulut seperti lima belas tahun yang lampau saat seorang pria juga datang mencari anak itu.


"Tapi Bu-"


"Maaf, saya masih banyak pekerjaan. Tolong tinggalkan ruangan ini!" ucap Lina sembari menunjuk ke arah pintu.


Fikri memicingkan mata sejenak, sedetik kemudian dia membukanya kembali. Fikri tau bagaimana kecewanya wanita itu saat mengetahui kenyataan yang terjadi sebenarnya. Akan tetapi dia juga tidak bisa memaksa, mungkin sebaiknya dia mengalah dulu dan kembali lagi esok hari.


"Kalau begitu saya permisi dulu, saya harap Ibu mau memikirkannya kembali. Anak itu juga berhak tau darimana asalnya,"


Setelah mengatakan itu, Fikri bangkit dari duduknya lalu berjalan meninggalkan ruangan. Dia yakin lambat laun wanita itu pasti akan luluh. Lina bukannya orang yang kejam, tapi jiwa keibuan yang membuatnya marah dengan situasi itu.


Setelah Fikri menghilang dari pandangannya, Lina mengusap wajah dengan kasar. Hembusan nafasnya terdengar berat, bahkan dadanya mendadak sakit setelah mendengar semua fakta yang terjadi.


Malang sekali nasib anak itu. Selain kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dia juga kehilangan jati diri dan hak sebagai seorang pewaris kekayaan ayahnya.


Entah siapa yang salah, Lina tetap tidak bisa membenarkan tindakan tersebut.


Meski Lina tidak pernah menemui anak itu sejak dia diadopsi, tapi Lina selalu memantau perkembangannya. Lina bersyukur karena anak itu mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tua angkatnya.


Kini Lina mulai tidak tenang memikirkan keadaan anak itu, dia ingin menemuinya dan ingin mengatakan semuanya. Tapi apakah anak itu sanggup menerimanya? Bukankah ini terlalu menyakitkan? Lina benar-benar dilema dibuatnya. Situasi ini terlalu rumit untuknya, apalagi anak yang tidak tau apa-apa itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2