
Pukul sembilan pagi Zahira dan Zayn check out dari hotel. Sesampainya di parkiran, keduanya tidak sengaja berpapasan dengan Roni yang juga baru keluar bersama istri pertamanya.
Zahira sengaja memalingkan muka, dia memeluk lengan Zayn dengan erat dan menyandarkan kepala di lengan pria muda itu.
Seharusnya Roni tidak masalah kan? Tapi ternyata darahnya mendidih melihat itu. Wajar memang, bagaimanapun Zahira masih istri sah nya. Tapi wanita itu sudah berani mengumbar kemesraan dengan pria lain yang bukan siapa-siapa.
"Sayang, antar aku pulang dulu ya! Aku mau mengambil barang-barang di rumah orang itu," pinta Zahira dengan manja.
Zayn sebenarnya sangat canggung dengan situasi ini. Bagaimanapun dia bersalah telah menjalin hubungan terlarang dengan istri orang, apalagi suami Zahira ada di depan mata kepalanya saat ini.
Tapi Zayn juga tidak bisa mengecewakan Zahira, dia tau wanita itu sangat terluka setelah melihat kejadian semalam. Zayn ingin berusaha melindungi Zahira semampunya.
"Iya, ayo masuk!" Zayn membukakan pintu untuk Zahira. Setelah Zahira duduk, Zayn mengitari mobil dan duduk di bangku kemudi lalu melesat pergi meninggalkan tempat itu.
Sesaat setelah mobil itu pergi, Roni menendang ban mobilnya. Panas, tentu saja. Tubuh Roni seperti terbakar oleh kemarahan, bukan cemburu tapi merasa tidak rela melihat istrinya bersama pria lain.
Lalu Roni masuk ke dalam mobil dan melajukan nya dengan kencang.
"Mas..." ucap Amira. Wanita yang duduk di samping Roni.
Roni tak menyahut. Dadanya sesak dan panas memikirkan kelakuan Zahira.
Sekilas hubungan Zahira dan Zayn terlihat sangat intim. Apa Zahira sudah memberikan dirinya pada pria itu? Makin diingat makin mendidih pula darah Roni dibuatnya.
Setengah jam kemudian, mobil yang dikendarai Zayn tiba di depan kediaman Roni. Zahira turun dan meminta Zayn untuk ikut bersamanya tapi Zayn menolak. Setelah apa yang terjadi dia merasa tidak pantas menginjakkan kaki di rumah mewah itu.
Sepuluh menit setelah Zahira masuk ke rumah itu, Roni muncul selepas mengantarkan Amira ke rumah mertuanya. Tatapan Roni sangat tajam, lebih menakutkan dari tatapan harimau yang tengah kelaparan.
Zayn yang menunggu di dalam mobil mulai ketar ketir melihat air muka Roni yang mematikan. Bukannya takut tapi Zayn sangsi, bisa saja Roni menyakiti Zahira di dalam sana.
Zayn menggoyang-goyangkan kaki dan mengetuk-ngetuk pahanya. Dia tidak tau harus bagaimana melindungi Zahira. Sudah pasti akan terjadi perang dunia ke tiga di rumah itu.
"Braaak!"
Roni membanting pintu kamar dengan kasar, lalu menguncinya dan menyimpan anak kunci di sakunya.
Zahira yang tengah memindahkan pakaian ke koper terperanjat melihat kedatangannya. Zahira pikir pria bajingan itu tidak akan pulang tapi dia salah.
"Mau kemana kamu?" hardik Roni dengan tatapan membunuh, tangannya mengepal erat.
Zahira tak menyahut, dia terus saja melanjutkan aktivitasnya.
__ADS_1
"Zahira, jawab aku! Mau kemana kamu?" bentak Roni dengan suara menggelegar mengguncang seisi kamar.
"Kenapa masih bertanya?" teriak Zahira dengan suara tak kalah menggelegar.
"Kamu tidak akan kemana-mana. Selama kamu masih menjadi istri sah ku, tempatmu di sini bersamaku!" tegas Roni.
"Kalau begitu ceraikan aku sekarang juga! Tinggal talak aku maka semuanya akan berakhir." geram Zahira sambil menutup resleting kopernya.
"Tidak akan, aku tidak akan pernah menceraikan kamu." tekan Roni dengan rahang mengerat kuat.
"Dasar rakus! Apa wanita itu tidak mampu memuaskan mu?" umpat Zahira.
"Puas tidak puas, kamu akan tetap menjadi istriku." ucap Roni.
Meski tidak ada cinta tapi dia tidak rela kehilangan Zahira. Satu bulan terakhir Zahira sudah melayaninya dengan sangat baik, dia tidak ingin kehilangan perhatian itu.
"Egois kamu Mas, aku tidak mau dimadu dan aku juga tidak mau jadi pelakor. Sekarang hubungan ini sudah berakhir, biarkan aku pergi!" Zahira menarik koper ke arah pintu, sayang pintu tidak bisa dibuka.
"Silahkan pergi kalau kamu bisa!" Roni mengulas senyum miring.
"Jangan kurang ajar kamu, cepat buka pintunya!" pekik Zahira dengan lantang.
Roni kembali mengulas senyum dan berjalan mendekati Zahira. "Aku akan memberikan hak mu, sebagai gantinya tinggalkan pria itu!" tawar Roni.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Roni, pria itu hanya tersenyum dan menekan pipinya dengan lidah.
"Dasar manusia picik! Kamu pikir aku wanita apaan? Jika aku menginginkan itu, maka sudah sejak awal aku memintanya. Sayang aku tidak sudi memberikan diriku padamu." Zahira mengecoh kenop pintu berulang kali tapi pintu itu tak kunjung terbuka.
"Sudah ku bilang, aku akan memberikan hak mu. Kenapa masih bersikeras ingin pergi?" Roni mengukir senyum licik dan menarik tangan Zahira ke sisi ranjang.
"Jangan, aku tidak mau! Lepaskan aku!" pinta Zahira sembari meronta. Dia mencoba melawan tapi kekuatannya tidak sebanding dengan Roni.
"Diam lah, aku suamimu. Apa yang kamu takutkan?" Roni mengelus pipi Zahira dan mengikis jarak diantara mereka. Tiba-tiba saja tubuh mereka berdua sudah berada di atas kasur.
Roni hendak mengesap bibir Zahira, wanita itu dengan cepat memutar kepalanya.
"Lepaskan aku, aku mohon! Kamu sudah terlambat, aku bukan milikmu lagi." lirih Zahira dengan mata berkaca.
"Deg!"
Roni tersentak dan segera menjauhkan diri. Jantungnya tidak bisa menerima pernyataan Zahira. Panas dan sakit bak ditusuk seribu jarum.
__ADS_1
"Zahira... Apa kamu-"
Zahira lekas berdiri dan merapikan pakaiannya. "Ya, aku kotor. Aku sudah menyerahkan diriku pada pria lain. Pengkhianatan mu membuatku lupa diri, aku sakit, aku terluka. Aku pikir kamu akan menjadi sandaran hidupku, tapi ternyata kamu sendiri yang menghancurkan aku." Zahira menyapu cairan yang mengalir di sudut matanya.
"Selama ini aku tidak pernah menuntut apa-apa darimu. Aku menghormatimu, aku melayani mu, aku bahkan tidak pernah berpikir untuk menduakan mu. Tapi kebohonganmu sudah merubah segalanya, impianku hancur. Apalagi yang tersisa dariku?" Zahira terisak sembari meremas dadanya yang terasa sangat ngilu.
"Maafkan aku, aku sudah gagal mempertahankan rumah tangga kita. Sekarang lepaskan aku, kita tidak bisa bersama lagi!" lirih Zahira.
Roni mengepalkan tinju setelah mendengar itu, lalu melayangkannya ke dinding. "Apa yang sudah kamu lakukan Zahira? Kenapa kamu sebodoh itu? Tidak bisakah kamu menungguku untuk menjelaskan semuanya terlebih dahulu?"
"Maaf Mas, aku-"
"Craaang!"
Serpihan kaca berhamburan di lantai setelah Roni meninju cermin yang terpajang di meja rias.
"Aaaaa..."
Zahira berteriak histeris sambil menutup mata dan telinga. "Maaf Mas, aku minta maaf." isak Zahira penuh ketakutan.
"Dengan siapa kamu melakukannya? Apa pria tadi?" bentak Roni sangat lantang.
Dia mengeluarkan anak kunci dan membuka pintu terburu-buru. Saat Roni hendak keluar, Zahira dengan cepat menahan tangannya.
"Jangan Mas! Dia tidak tau apa-apa, aku lah yang salah. Aku yang memaksanya, aku yang menggodanya dan aku juga yang memulainya. Pukul saja aku jika kamu ingin marah!" isak Zahira. Dia tidak mau Zayn kena imbas karena kebodohannya sendiri.
Roni terdiam mendengar itu. Tubuhnya merosot di pintu kamar dengan kaki ditekuk. Dia mengacak rambutnya dengan kasar dan memukul kepalanya berulang kali.
"Kita berdua memang tidak saling mencintai, tapi hubungan ini tidak main-main. Kenapa kamu melakukan ini padaku?" Roni menyapu wajahnya yang sudah basah.
"Aku juga tidak mencintai Amira, tapi aku harus melakukan tanggung jawabku sebagai seorang suami. Amira membutuhkan donor sumsum tulang belakang untuk putrinya. Ayah dari anak itu sudah meninggal, dia harus melahirkan untuk membantu putrinya."
"Aku juga tidak mau seperti ini, tapi Amira juga pernah membantuku. Aku bertahan hidup sampai detik ini karena Amira, ada ginjalnya di dalam tubuhku. Sebab itulah aku menikahinya seminggu sebelum kita menikah."
"Selama ini aku juga tidak pernah menyentuhnya, aku terpaksa melakukan itu untuk membalas budi padanya." jelas Roni berderai air mata.
"Deg!"
Tubuh Zahira ikut merosot setelah mendengar itu, jantungnya semakin nyeri bak ditusuk seribu pisau.
Menyesal?
__ADS_1
Tentunya sudah terlambat, amarah dan kebencian sudah membuatnya buta dan kehilangan akal sehat.
Bersambung...