
Selama tiga hari Amira di rumah sakit, Roni tidak pernah pulang dan memberi kabar pada Suganda. Bahkan Fikri sendiri tidak tau dimana keberadaannya saat ini.
Sejak kehilangan Roni hari itu, Fikri memilih pulang dan menceritakan bahwa Roni tiba-tiba menghilang di rumah sakit. Tentu saja Suganda sangat khawatir, begitu juga dengan Zayn.
Apa Roni benar-benar tersiksa dengan penderitaan yang dia tanggung setelah kecelakaan itu? Tapi kemana dia pergi? Di rumahnya juga tidak ada.
Tapi hari ini Roni memutuskan untuk kembali ke rumah Suganda setelah Amira diizinkan pulang oleh dokter.
Dia sengaja memesan taksi online, bermaksud memberi surprise pada Suganda dan adiknya Zayn.
Sesampainya di depan kediaman Suganda, Roni menggendong putrinya dengan sebelah tangan, sedangkan sebelahnya lagi melingkar di pinggang Amira. Keduanya memasuki rumah bersamaan.
"Siang Ayah," sapa Roni dengan tubuh berdiri tegap seperti biasanya. Suganda melongo tak percaya melihat Roni yang sudah bisa berdiri dan berjalan kembali. Terlebih kehadiran Amira membuatnya semakin terkejut.
"Roni, Amira..." gumam Suganda yang masih mematung di sofa.
"Siang Ayah, bagaimana kabar Ayah?" tanya Amira mengukir senyum, lalu menghampiri Suganda dan mencium punggung tangannya.
"Ba-Baik Nak, kalian-" Suganda kesulitan dalam mengeluarkan kata-kata, dia tergagap tak percaya.
Setelah Roni dan Amira duduk, Suganda menatap bayi mungil yang ada di dalam dekapan Roni. Hatinya mencelos, apa sekarang dia sudah resmi jadi kakek?
"Roni, ini-" Suganda menunjuk bayi cantik itu dengan tangan gemetaran.
"Iya, ini putri Roni dan Amira. Dia cucu Ayah," jelas Roni, lalu meletakkan putrinya di pangkuan Suganda.
Setelah itu Roni berlutut di bawah kaki Suganda sembari memegang lutut pria paruh baya itu. "Tolong ampuni segala salah dan dosa Roni selama ini, Roni menyesal telah melawan Ayah. Sekarang Roni sadar betapa besarnya kasih sayang seorang Ayah pada anaknya."
Mendengar itu, Suganda merasa terharu. Dia bahagia melihat Roni yang sudah menyadari kesalahannya. "Tidak perlu minta maaf, Ayah sudah memaafkan kamu sejak lama. Kamu tidak salah, semua berawal dari Ayah. Ayah yang seharusnya minta maaf, keluarga kita hancur karena keegoisan Ayah." lirih Suganda sembari mengusap kepala Roni.
Setelah mendengar jawaban Suganda, hati Roni menjadi lega. Kemudian dia kembali duduk diantara Suganda dan Amira.
Amira sendiri sangat bahagia melihat suaminya yang benar-benar sudah mengakui kesalahannya, dia berharap Roni tidak akan menyakitinya lagi.
Setelah menceritakan apa yang terjadi saat dia menghilang, Suganda mulai fokus pada bayi mungil yang ada di pangkuannya. Dia terkekeh-kekeh mengajak cucunya berbicara.
Dari atas sana, Zayn tidak sengaja mendengar suara sang ayah yang tengah tertawa terbahak-bahak. Karena penasaran, dia pun mengajak Zahira turun ke bawah.
Setibanya di ruang tengah, mata Zayn membulat melihat sosok Roni dan Amira, begitu juga dengan Zahira yang tidak kalah terkejutnya.
"Zayn, Zahira..." sapa Roni yang tak sengaja menangkap kedatangan keduanya.
__ADS_1
"Kak, kalian-" ucapan Zayn tiba-tiba terhenti saat Roni bangkit dari duduknya dan berjalan mendekatinya. Kembali mata Zayn membulat melihat Roni yang sudah bisa berjalan seperti biasanya.
Tanpa pikir panjang, Roni langsung mendekap Zayn. Hal itu membuat kening Zayn mengernyit bingung. "Zayn, tolong maafkan kakakmu ini! Aku menyesal atas apa yang pernah aku lakukan padamu dan Zahira selama ini." lirihnya penuh penyesalan, matanya sontak berkaca.
"Tidak Kak, aku yang seharusnya minta maaf. Aku yang salah karena sudah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Kakak dan Zahira." sahut Zayn, dia pun membalas pelukan Roni seraya menepuk-nepuk pundaknya.
"Kamu tidak salah, aku yang bodoh karena menjadikan Zahira sekedar istri pajangan. Aku tidak pernah memenuhi tanggung jawabku sebagai seorang suami. Dia pantas bahagia bersamamu, kamu yang lebih layak untuknya." terang Roni, kini dia sudah ikhlas melepaskan Zahira untuk Zayn. Dia ingin fokus pada Amira dan putri kecilnya.
Setelah Roni melepaskan pelukannya, dia beralih menatap Zahira. Wanita itu menatapnya takut dan mencengkeram lengan Zayn kuat.
"Maaf untuk segala kesalahan yang sudah aku perbuat, tolong jangan membenciku!" Roni sadar Zahira bukan istrinya lagi, dia tidak berani memeluknya dan memilih menangkup tangannya di depan dada, tatapannya nampak sendu.
"Tidak apa-apa, aku sudah memaafkan Mas. Aku berharap Mas bisa menghargai Amira dan menyayanginya dengan setulus hati. Jangan lagi menyakitinya!" sahut Zahira.
"Tidak akan, aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku akan menyayangi dan mencintai Amira, tidak akan ada wanita lain selain dia." jelas Roni.
"Jangan hanya bicara saja, tapi buktikan bahwa Mas bisa menjadi suami yang baik. Jangan sampai menyesal setelah kehilangan!" imbuh Zahira.
"Ya, aku akan membuktikannya." angguk Roni.
Setelah mendapatkan maaf dari semua orang, Roni merasa hatinya jauh lebih tenang. Ternyata berdamai dengan keadaan lebih indah dari membenci ataupun menyimpan dendam.
Dua Minggu Kemudian...
Zayn yang masih berbaring di kasur sontak terkejut dan lekas membuka mata. Dia melompat turun dari kasur dan berlarian menghampiri Zahira.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Zayn panik bukan kepalang.
"Sakit Zayn, tolong..." rengek Zahira, lalu bergelayut di pundak Zayn.
"Apa sudah waktunya?" tanya Zayn lagi.
"Entahlah, mana aku tau?" ketus Zahira mencengkeram pundak Zayn.
"I-Iya, jangan marah-marah gitu dong! Aku kan jadi bingung," keluh Zayn, lalu mencoba menggendong Zahira. "Astaga, berat juga ternyata." gumam Zayn membopong Zahira meninggalkan kamar.
"Makanya jangan bisanya cuma bikin doang," kesal Zahira menjambak rambut Zayn.
"Aww... Sakit sayang, jangan dijambak!" keluh Zayn yang kesulitan melihat jalan.
"Makanya cepat, aku tidak tahan lagi." desak Zahira.
__ADS_1
"Iya sayang, ini sudah cepat. Kalau lari-larian takutnya jatuh." sahut Zayn yang mulai kehilangan akal.
Sesampainya di bawah, Zayn lekas memanggil Fikri untuk menyiapkan mobil. Semua orang terkejut melihatnya yang sudah kewalahan menggendong Zahira.
"Apa Zahira mau melahirkan?" tanya Amira.
"Sepertinya," jawab Zayn singkat, lalu bergegas menuju mobil.
Setelah Zayn dan Zahira duduk, Fikri lekas melajukan mobilnya. Yang lain menyusul di belakang dengan mobil lain.
Sesampainya di rumah sakit, Zayn lekas membaringkan Zahira di atas brankar. Beberapa suster berlarian menghampiri mereka setelah mendengar teriakan Zayn yang menggelegar seperti petir.
Lalu Zahira dibawa ke ruang bersalin untuk diambil tindakan.
"Aaaaaaah..." pekik Zahira saat mencoba mengikuti instruksi dokter. Dia menjambak rambut Zayn yang ikut menemaninya di dalam ruangan.
"Aaaaaaaah..." teriak Zahira untuk yang kedua kalinya, Zayn sendiri ikut berteriak karena jambakan Zahira yang sangat kasar. Beruntung Zahira adalah istrinya, jika tidak sudah dia hajar karena berani menarik rambutnya begitu kuat.
"Aakh..." lenguh Zahira saat perutnya terasa plong. Seorang bayi laki-laki keluar dari jalan lahirnya dengan bobot empat kg dan panjang lima puluh satu cm.
"Selamat ya, putra kalian begitu gembul. Pahanya saja seperti roti sobek." ucap dokter terkekeh.
"Yeay... Akhirnya aku jadi Ayah juga," begitu senangnya Zayn hingga melompat kegirangan.
"Heh, malu dilihatin dokter." desis Zahira menajamkan tatapan.
"Kenapa harus malu, sayang?" sahut Zayn menggembungkan pipi.
Setelah putranya berada di tangannya, Zayn lekas mengazaninya. Zahira terharu melihat Zayn yang sampai menitikkan air mata.
Beberapa jam setelah Zahira dibersihkan, dia kemudian dipindahkan ke ruang inap. Suganda dan yang lainnya langsung masuk untuk melihat menantu dan cucu laki-lakinya.
"Mana cucu Kakek?" seru Suganda setelah tiba di dalam ruangan. Dia lekas menghampiri brankar yang ditiduri Zahira dan cucunya.
"Ah, cucu Kakek tampan sekali." ucap Suganda yang terlihat begitu bahagia. Jarak dua minggu saja dia sudah mendapat dua cucu sekaligus.
"Selamat untuk kalian berdua," ucap Amira dan Roni berbarengan.
"Terima kasih, Kak." sahut Zayn dan Zahira bersamaan.
Sementara putranya ada di gendongan Suganda, Zayn tak hentinya menciumi pipi Zahira menunjukkan betapa bahagianya dia saat ini. Begitu juga dengan Roni yang tak melepaskan pinggang Amira sambil merayu putri kecilnya.
__ADS_1
Kini tidak ada lagi dendam diantara Zayn dan Roni. Mereka sudah akur dan fokus pada istri masing-masing. Untuk harta milik Suganda pun sudah dia serahkan pada keduanya, tidak ada yang berlebih dan tidak ada yang kurang. Suganda membaginya sama rata.
Mulai detik ini Suganda tidak akan ikut campur lagi masalah perusahaan atau asetnya yang lain. Dia ingin menikmati hari tuanya bersama kedua cucunya dan menyerahkan semua tanggung jawab pada Zayn dan Roni.