Kekhilafan Terindah

Kekhilafan Terindah
Kekhilafan Terindah Bab 22.


__ADS_3

"Kamu lagi kamu lagi." Lina menatap Fikri dengan tatapan malas, dia mulai muak melihat pria itu berkepanjangan.


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dari anak itu? Sudah aku bilang bahwa aku tidak mau mengatakan apa-apa, kenapa belum paham juga?" Lina meninggikan suara, kesabarannya benar-benar diuji melihat kegigihan Fikri yang belum menyerah sampai detik ini.


"Seribu kali Anda menolak mengatakan keberadaan anak itu, dua ribu kali aku akan datang kemari untuk mendapatkan jawaban." tegas Fikri. Dia tidak akan menyerah sampai Lina bicara jujur.


"Mungkin niat Anda baik, tapi belum tentu baik juga untuk anak itu. Dia berhak tau siapa dirinya dan dia juga berhak atas warisan ayahnya. Pikirkan lagi jika memang Anda menyayangi anak itu. Tidak ada yang akan menyakitinya, nyawaku sebagai jaminannya." imbuh Fikri penuh penekanan.


Seketika Lina terdiam. Apa benar bahwa mereka tidak akan menyakiti anak itu? Tapi Lina masih belum yakin sepenuhnya, dia harus memastikan terlebih dahulu.


Lina tidak ingin anak yang dia besarkan berhadapan dengan masalah serumit ini. Kenapa tidak mereka biarkan saja anak itu bahagia dengan kehidupannya sekarang? Tapi Lina juga ingin anak itu mendapatkan hak nya.


"Kalau begitu bawa aku bertemu dengan ayah dari anak itu!" pinta Lina penuh keyakinan.


"Tidak masalah, ayo ikut aku!" ajak Fikri.


Fikri melangkah meninggalkan ruangan, Lina dengan cepat menyambar tasnya dan berjalan menyusul pria itu.


Sekitar setengah jam berlalu, mobil yang dikendarai Fikri tiba di depan sebuah rumah mewah. Lina bergeming sejenak, matanya membulat menyaksikan pemandangan yang terpampang di depan matanya.


Tak disangka bahwa anak asuhnya ternyata memiliki rumah semewah itu, bisa dipastikan sang pemilik bukanlah orang sembarangan.


"Ayo turunlah!" ucap Fikri setelah membukakan pintu untuk Lina.


Lina mengerjap sembari mengangguk pelan, lalu menurunkan kakinya dari mobil. Dia pun mengikuti langkah Fikri memasuki rumah mewah itu.


Sesampainya di dalam, Lina memutar manik matanya ke segala penjuru rumah. Tidak hanya mewah tapi juga luas dan memiliki arsitektur gaya Eropa, perkakas dan pernak-pernik yang ada di sana memiliki nilai jual tinggi dan unik, bukan kaleng-kaleng.


"Ayo, silahkan!" ucap Fikri setelah membuka sebuah pintu kamar. Lina mengerjap dan masuk mengikuti langkah pria itu.

__ADS_1


Baru beberapa langkah berjalan, mata Lina seketika melebar. Seorang pria paruh baya nampak terbujur lemah di atas ranjang. Tubuhnya terlihat kurus dengan rambut yang hampir memutih seluruhnya. Kulitnya sudah keriput dengan kantong mata yang menghitam.


Sejenak Lina kembali ke masa lalu dimana mereka berdua pernah dekat dan menjalin hubungan spesial, tapi hubungan itu berakhir karena orang tua Suganda tak merestui mereka.


Lina hanya gadis biasa tamatan SMA sementara Suganda adalah seorang pengusaha muda yang tengah naik daun. Saat itu dia berhasil merintis usahanya sendiri dan mengangkat derajat kedua orang tuanya. Sayang kesuksesan Suganda membuat orang tuanya lupa diri dan menentang hubungan mereka.


"Ma-Mas Suganda?" lirih Lina dengan mata berkaca.


Meski sudah puluhan tahun tak bertemu tapi Lina tidak akan pernah lupa dengan cinta pertamanya itu. Jantungnya masih berdebar ketika menatapnya, tidak ada yang berubah.


"Li-Lina?" gumam Suganda dengan reaksi yang sama. Dia juga tidak lupa dengan Lina, wajah itu masih tetap cantik seperti dulu meski kulitnya sudah mulai keriput.


Entah apa yang sedang Tuhan rencanakan? Kenapa mereka berdua bertemu kembali setelah sekian lama?


Keduanya terdiam sejenak dengan mata saling memandang satu sama lain. Ada perasaan rindu yang mendalam di hati masing-masing.


Tak disangka ternyata pria yang Fikri maksud adalah Suganda, pria yang pernah menjadi bagian terpenting di hidup Lina.


Seketika suasana berubah canggung, Fikri yang menyadari itu segera meninggalkan kamar. Alangkah baiknya dia menunggu di luar saja.


Setelah Fikri menghilang dan menutup pintu, Lina maju beberapa langkah dan duduk di sisi ranjang. Setetes cairan bening jatuh di sudut matanya.


"Mas, kenapa kamu jadi seperti ini? Apa yang dikatakan pria itu benar?" lirih Lina. Dia tak kuat melihat keadaan Suganda, air matanya semakin tak bisa dibendung.


"Hmm... Semua itu benar. Aku menjadi bodoh setelah perjodohan itu dan aku tidak terima dikhianati." Suganda mencoba meraih tangan Lina dengan tangannya yang tinggal kulit pembalut tulang. "Jadi kamu lah pengurus panti itu?" imbuhnya.


"Iya, aku pengurus panti itu. Sudah tiga puluh tahun lamanya." angguk Lina. Dia menggenggam tangan Suganda dengan erat, rasanya dia ingin menjerit dan meraung sejadi-jadinya.


Sejak Lina memutuskan hubungan mereka, dia benar-benar mengubur semua kenangan yang pernah mereka lewati. Bahkan sampai detik ini Lina tidak pernah menikah sekalipun.

__ADS_1


Dia memilih sendiri dan mendedikasikan hidupnya sebagai orang tua asuh dari anak-anak terlantar dan kurang mampu. Beruntung ada saja uluran tangan dari para dermawan yang membantu panti yang dia kelola.


Setelah puas berbasa-basi, Suganda mulai menceritakan semua yang terjadi dengan dirinya dan pernikahannya. Dia juga menjelaskan bagaimana bisa anak itu dibuang dari keluarganya.


Mata hati Suganda benar-benar tertutup karena hasutan dan fitnahan dari orang yang tidak bertanggung jawab. Apalagi pernikahan yang dia jalani bukan berdasarkan cinta melainkan keterpaksaan semata.


"Apapun alasannya, kamu tetap salah Mas. Anak itu tidak berdosa dan kamu menelantarkan dia begitu saja. Dia kehilangan jati diri dan kasih sayang seorang ayah." ucap Lina.


"Kamu benar, mungkin karena itulah Tuhan menghukum ku sampai seperti ini. Aku kehilangan semuanya disaat bersamaan, aku menyesal. Bantu aku bertemu anak itu sekali saja, aku ingin minta maaf dan menebus semua kesalahan yang sudah aku lakukan." jelas Suganda penuh penyesalan.


"Bagaimana jika anak itu tidak mau memaafkan kamu, Mas?" Lina mengusap punggung tangan Suganda dengan lembut.


"Selama dua puluh tahun dia hidup tanpa tau siapa dirinya dan darimana dia berasal. Dia juga berjuang sendiri setelah kematian kedua orang tua angkatnya. Sekarang dia baru saja menemukan kehidupan baru, dia sudah menikah dan sebentar lagi akan memiliki anak. Aku rasa dia tidak membutuhkan pengakuan dari Mas." imbuh Lina.


"Menikah?" Suganda mengulangi kata itu dengan kening mengkerut.


"Iya, dia sudah menikah. Sekarang istrinya sedang hamil empat bulan." terang Lina.


"Apa itu artinya aku akan menjadi seorang kakek?" Darah Suganda berdesir, jantungnya berdegup kencang mendengar itu. Alangkah bodohnya dia selama ini, kenapa tidak dari dulu saja dia mencari keberadaan anak itu? Kenapa egonya terlalu besar hingga melewatkan momen bahagia seperti ini?


"Lina, aku mohon sekali ini padamu. Tolong pertemukan aku dengannya, anggap saja ini permintaanku yang terakhir." pinta Suganda penuh harap. Tatapannya nampak sendu.


Lina terdiam sejenak sembari mematut wajah sendu Suganda, "Akan ku coba, tapi Mas janji dulu untuk tidak menyerah. Berjuanglah untuk sembuh, jangan menemuinya dalam keadaan seperti ini!"


Suganda mengangguk cepat, "Iya, aku akan berjuang untuk sembuh tapi kamu harus janji dulu."


"Iya, aku janji." angguk Lina.


Mendengar itu, garis bibir Suganda tiba-tiba terangkat naik. Setelah sekian lama akhirnya senyuman itu kembali terukir di bibirnya.

__ADS_1


Sedikit harapan membuat Suganda bersemangat untuk sembuh, dia tidak ingin mati sekarang. Dia harus bertemu dengan putra yang sudah dia buang, dia ingin menebus dosanya dan bertemu dengan cucu yang sedang dikandung menantunya.


Bersambung...


__ADS_2