
"Nona cantik, sebaiknya kamu menurut saja. Kalau kamu melawan, maka kami tidak akan segan segan membunuh kalian".
Mendengar ancaman para penjahat. Kedua wanita itu ketakutan.
"Ha,, ha,, ha,, "
salah seorang dari 7 pria yang ingin melakukan kejahatan kepada wanita itu, tertawa terbahak bahak.
Mereka berkata, "Kali ini tidak ada yang dapat menolong kalian".
"Jangan tuan, tolong lepaskan kami. Aku akan memberikan sejumlah uang asalkan kalian melepaskan kami".
Para penjahat itu memicingkan mata mendengar tawaran kedua wanita itu.
"Omong kosong. kalian tidak usah mengulur waktu kami".
"Ha,, ha,, ha,," mereka secara serentak tertawa dan bergegas mendekati kedua wanita itu. Salah seorang penjahat bermata picak berusaha memeluknya.
"Sruuttt,, Sruuttt,,"
Terdengar suara samar samar.
"Bukkk,, bukkk,,"
2 orang penjahat yang berusaha memeluk kedua wanita itu langsung jatuh ke tanah. Daun telinga mereka berdarah dan lutut mereka langsung terluka..
"Aahkkk,,, Aahkkk,,,"
Suara kesakitan dari kedua penjahat.
Kedua wanita itu tercengang. "Kenapa mereka langsung jatuh dan terluka ?
Siapa yang melakukanya?".
Kelima penjahat yang berdiri melihat temannya yang terluka tanpa di ketahui siapa yang telah melakukannya. Mereka semua tercengang. Penuh kebingungan
Mereka menatap sekelilingnya mencari tahu siapa yang membuat kedua temannya terluka.
Dengan ketakutannya, mereka berlima berteriak.
"Siapa yang telah melukai temanku? kamu jangan jadi pengecut. Keluarlah, jangan bersembunyi !"
Seberkas cahaya menghantam seorang penjahat yang memegang pedang.
"Buk,,, buk,,, buk,,,"
penjahat itu melayang 9 langkah. Semua para penjahat ketakutan. Diantaranya ada sampai kencing celana.
Sesosok pemuda muncul di hadapan mereka. Wajahnya yang sangat tampan, bersih dan penuh karisma, ternyata orang itu adalah Xin Chen, dengan aura membunuh Xin Chen melangkah ke hadapan kedua wanita itu.
Para penjahat tercengang dan bingung. Mereka bertanya, "Apa kamu yang telah melukai ke tiga temanku ?"
Dengan suara lantang, " Heii bajingan ! Apa kamu tuli ?" Ucap salah seorang temannya.
Mendengar penghinaan para penjahat, Xin Chen memicingkan matanya.
Xin Chen menjentikkan jarinya. Sebuah kayu kecil seukuran jarum melayang menembus pipi penjahat. "Sreettt"
"Ahhhkk,,," pipi penjahat itu tertusuk kayu kecil. penjahat itu merintih kesakitan.
Xin Chen tetap tenang dan tidak berkata apa-apa. Tetap melangkah menuju kedua wanita itu.
"Ka,, Kamu ?" Ucapan yang Terdengar sangat gugup dari seorang penjahat.
__ADS_1
Xin Chen mengangguk kecil sebagai bentuk ucapan bahwa dia yang melakukan semuanya.
Ternyata yang sedang diganggu oleh para penjahat adalah Fei Yin dengan saudaranya yang bernama Fei Yun, dia adalah calon tunangan Xin Chen.
Fei Yin menatap lekat Xin Chen. "Kenapa kamu bisa kakak di sini ? Apa yang membuatmu ke sini ?".
Mendengar beberapa pertanyaan dari Fei Yin. Xin Chen berkata, "kebetulan aku lewat. Aku mendengar teriakan. Tidak kusangka itu kalian". Melihat Fei Yin berbicara dengan seorang pemuda. Fei Yun, merasa bingung. Dalam hati bertanya. "Sejak kapan adikku mengenal pria di luar sana ?"
Fei Yun berkata kepada adiknya.
"Adik, Pemuda itu siapa ? Dari keluarga mana ?". Fei Yin tersenyum menatap kakaknya. Sebelum Fei Yin ingin menjawab pertanyaan Fei Yun. Penjahat itu menyerang secara bersamaan.
Melihat keempat para penjahat menyerang Xin Chen. Fei Yin dan Fei Yun ketakutan.
Fei Yin berteriak. "Kakak Xin Chen hati hati!".
Mendengar teriakan Fei Yin, Xin Chen mengangguk kecil dan merasa hangat di perhatikan oleh calon adik iparnya.
"Hiaaaakkk".
Terdengar suara teriakan ke empat
penjahat itu.
Mereka memegang pedang, golok dan tombak. Semua senjata itu
di arahkan ke Xin Chen.
Melihat para penjahat mengacungkan pedang, golok, dan tombak ke arahnya. Xin Chen tersenyum mengejek. Xin Chen mencibir. "Dasar sampah! Tidak tahu kapasitas diri sendiri"
Xin Chen kembali menjentikkan jari jarinya.
"Sreet,,, sreettt,,, sreettt,,,".
Terdengar suara suara tidak jelas dari jari jemari Xin Chen.
"Aahkkk,,, aahkkk,,, aahkkk,,,"
Satu persatu para penjahat jatuh ke tanah. Lutut mereka semua berdarah dan sobek..
Semua penjahat meraung kesakitan.
Fei Yun dan Fei Yin tercengang melihat para penjahat di kalahkan tanpa di sentuh.
Semua penjahat terbaring di tanah. Mereka tidak mampu untuk berdiri.
Fei Yin menatap dalam dalam Xin Chen, lalu memujinya " Wah kakak sungguh hebat, kakak bisa mengalahkan mereka tanpa menyentuhnya". Mendengar pujian Fei Yin. Xin Chen hanya tersenyum, lalu berkata. "Aku hanya sedikit bermain dengan mereka.
Kelak mereka tidak akan melakukan hal serupa lagi".
Fei Yun berkata, "Tuan! Terima kasih pertolongannya. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa ?".
Fei Yun membungkukkan diri mengucapkan terima kasih.
Xin Chen terdiam melihat wanita sangat cantik. Belum pernah Xin Chen melihat wanita secantik Fei Yun.
"Kakak,,," Fei Yin menggigit bibirnya merasa malu melihat kakaknya Fei Yun membungkukkan diri kepada Xin Chen. Padahal Xin Chen adalah calon tunangannya, namun Fei Yun belum mengetahuinya.
Fei Yin ingin menjelaskan tentang Xin Chen kepada Fei Yun, bahwa Xin Chen adalah calon tunangannya. Tetapi Xin Chen menggelengkan kepalanya pelan pelan. menunjukkan isyarat untuk tidak memberitahu Fei Yun. Melihat Xin Chen menggelengkan kepalanya. Fei Yin terdiam menahan ucapannya.
Mendengar sekelompok orang orang datang mendekat. Xin Chen segera pergi. Dia berkata kepada Fei Yin dan Fei Yun. "Kalau begitu aku pergi dulu, kalian segeralah kembali kerumah kalian!".
Xin Chen berjalan memasuki semak belukar, lalu menghilang. Xin Chen bersembunyi beberapa puluh meter untuk memastikan siapa yang datang. Salah seorang berkata "Di mana penjahat itu ?
__ADS_1
Kita harus segera menangkapnya".
"iya,, iya,, iya,, aku mengerti", jawab teman disampingnya.
Terdengar suara percakapan beberapa orang. Mereka adalah sekelompok para pria paruh baya berjumlah lebih dari 10 orang. Mereka mencari keberadaan Fei Yin dan Fei Yun.
Mendengar suara yang familiar. Fei Yun berteriak. "Ayah, Paman, Aku di sini bersama adik Fei Yin".
Mendengar suara Fei Yun berteriak.
Fei Hung, ayah Fei Yun segera mendekati sumber suara.
Sekumpulan orang orang mengikuti Fei Hung mendekati sumber suara itu.
" Bangggg,,,"
Mereka tercengang melihat kondisi di sekitar Fei Yun dan Fei Yin.
Beberapa pria tergeletak di tanah, berlumuran darah tidak dapat berdiri. Lengkap dengan senjata tajam. Fei Hung dan orang orang yang ikutan mencari kebingungan.
Fei Hung bertanya kepada Fei Yun dan Fei Yin. "Anakku!" Siapa yang melakukan semua ini ? Mengapa orang orang ini kondisinya seperti itu ? Apa yang telah terjadi ?".
Mendengar pertanyaan demi pertanyaan. Fei Yun menggigit bibirnya. Dia takut berbicara sehingga salah. Dia melirik Fei Yin untuk menjelaskan semuanya.
Melihat kakaknya Fei Yun meliriknya. Fei Yin tidak berdaya. Fei Yin memberanikan dirinya untuk berbicara. "Ada seseorang lewat menolong kami. Orang itu yang telah membuat penjahat ini terluka".
Mendengar penjelasan anaknya. Fei Hung dan orang orang yang ikutan mencari menganggukkan kepalanya lalu berkata, "Lalu kemana perginya orang itu?".
Fei Yin berkata "Dia sudah pergi Ayah".
"Siapa orang itu ? Aku harus berterima kasih kepadanya, karna telah menolong kalian". Tanya Fei Hung. Fei Yun dan Fei Yin hanya terdiam mendengar perkataan Ayahnya, Fei Yin memilih untuk tidak mengatakan apapun tentang Xin Chen.
Fei Hung berkata. "Baiklah, semua telah terjadi dan kedua putriku baik baik saja. Aku berterima kasih kepada kalian telah membantu mencari putriku". Fei Hung melihat orang orang di sekelilingnya yang telah membantu mencari kedua putrinya.
Salah seorang pria paruh baya berkata. "Kita bawa penjahat ini ke kantor polisi untuk di adili". Semua ikut menimpali "iya,,, iya,,, iya"
Para penjahat di bawa ke kantor polisi.
Xin Chen mengamati orang orang yang ada di tempat kejadian itu. Lalu tatapannya mengarah ke Fei Yun. Terasa hatinya tenang melihat senyuman wanita itu. "Tak kusangka ternyata tunanganku sangat cantik, banyak wanita cantik yang kutemui tak pernah aku melihat wanita secantik dia, wanita ini terlihat santun". Xin Chen menggelengkan kepalanya, lalu berkata. "Mengapa aku jadi kefikiran akan hal hal seperti ini".
Xin Chen pergi meninggalkan tempat kejadian dan segera menemui Cai Ning yang sedang mempelajari kondisi lahan yang akan di bangun. "Nona Cai". Tegur Xin Chen.
Mendengar seseorang menegurnya. Cai Ning berbalik melihat Xin Chen.
Cai Ning berkata, " Tuan Muda Chen, tuan sudah kembali ?"
"Xin Chen mengangguk dan berkata, "iya, maaf karna telah membuatmu menunggu Aku". Xin Chen dan Nona Cai Ning asyik mengobrol membahas kelanjutan rencana pembangunan.
Di sebuah hotel. Terlihat seorang wanita berenang di kolam renang hotel. Dia berkata, "Sampai kapan kamu akan menemaniku di hotel ?" Shao Yu menjawab, hal itu aku tidak tahu, Semua ini sudah di atur oleh Tuan Muda Chen. Aku hanya mengikuti perintah".
Long'er berfikir sejenak mencermati keadaan.
"Aku baru pertama kali bertemu dengannya. Tapi dia begitu baik terhadapku. Mengapa dia melakukan semua ini ? Apalagi sewa hotel ini lumayan mahal pasti Statusnya tidak biasa".
Shao Yu hanya tersenyum menatap Long'er.
Long'er berkata. "Bisakah kamu menghubungi Tuan Muda Chen ? Aku ingin bertemu dengannya". Shao Yu segera menghubungi Xin Chen.
"Haloo,,"
Di ujung telefon Xin Chen berkata. "Ada apa Nona Shiao ?". Shiao Yu menjawab. "Nona Long'er ingin bertemu dengan anda Tuan".
Ternyata selama Xin Chen berada di rumah Paman dan Bibinya, Xin Chen melupakan keberadaan Long'er yang beberapa hari lalu ikut bersamanya di desa San San dan kemudian menyewakan hotel untuknya.
__ADS_1
Xin Chen berkata, " Katakan kepada nona Long'er, setelah urusan aku di sini selesai, aku akan ke sana".
"Baik Tuan". Jawab Nona Shiao Yu