
"Bibi, Paman" Xin Chen menyapa kedua Suami Istri yang sangat di rindukannya.
Semenjak Ibunya meninggal, Paman Fei dan Bibi Lie Lian yang membesarkannya. Mereka merawat Xin Chen seperti anak kandungnya sendiri. Xin Chen tersenyum menatap mereka.
Melihat sosok wanita cantik yang sedang menatapnya Xin Chen sedikit canggung, "Xin Chen !" Tegur Bibi Lie Lian sedang berjalan mendekatinya. "Iya Bibi" jawab Xin Chen.
Bibi Lie Lian memegang tangan Xin Chen dan memeluknya seperti anak kandungnya sendiri. Xin Chen sangat merasakan kasih sayang Bibi Lie Lian.
Paman Fei berkata, "Xin Chen ! Akhirnya kau datang juga kami semua sangat merindukanmu. Oh ya, kenalkan gadis cantik ini, namanya Fei Yin. Anak saudara tua Paman. Ayahnya bernama Fei Hung" Xin Chen mengangguk pelan menatap Fei Yin. "Halo !" Sapa Xin Chen. Fei Yin sedikit malu, pipinya kemerahan menahan rasa malunya.
"Halo kakak ! Saya Fei Yin. Senang mengenal kakak". Xin Chen tersenyum menatap Fei Yin yang begitu Cantik. Bibi Lie Lian berkata, "Fei Yin memiliki saudari bernama Fei Yun. Calon tunangan kamu". Mendengar perkataan Bibi Lie Lian, Xin Chen sedikit canggung.
Dirinya sebenarnya belum siap untuk menikah, akan tetapi perjodohan ini sudah di tetapkan oleh Ibunya semasa Ibunya hidup, Xin Chen tetap mengikuti keinginan Ibunya, agar kehidupan Ibunya di akhirat bisa tenang.
"Iya Paman" jawab Xin Chen penuh rasa malu. Dalam pikiran Xin Chen, "Adiknya sangat cantik. Apakah kakaknya juga cantik ? Husss" Xin Chen sedikit tersenyum kecil memikirkan hal ini. Ada perasaan malu pada diri sendiri.
"Paman, Bibi ! Ada yang ingin aku bicarakan kepada kalian berdua sebentar" tegur Xin Chen.
Melihat suasana kepulangan Xin Chen, dan pertama kalinya mereka bertemu, Fei Yin merasa tidak enak hati. Dirinya berpamitan pulang. "Terima kasih atas jamuan paman dan Bibi !" Fei Yin tersenyum kepada paman Fei dan Bibi Lie Lian. "Terima kasih atas kunjungannya" Ucap paman Fei dan Bibi Lie Lian. Fei Yin membungkuk memberi hormat kepada Paman Fei dan Bibi Lie Lian , lalu beranjak pergi.
Di depan pintu, Bibi Lie Lian berkata, "Sampaikan salam kami kepada orang tuamu. Setelah kami mengunjungi kubur Ibu Xin Chen, kami akan berkunjung ke rumahmu".
" Baik Paman, Bibi aku jalan pulang". Ucap Fei Yin sambil berjalan meninggalkan rumah kediaman Paman Fei dan Bibi Lie Lian.
Melihat kepergian Fei Yin, Xin Chen berkata, "Paman, Bibi aku ingin menyampaikan sesuatu hal". Bibi Lie Lian melihat Xin Chen dengan penuh keseriusan. Lalu berkata, "Apa yang ingin kamu sampaikan ?".
Xin Chen memikirkan sesuatu hal lalu bertanya, "Apa kalian ingin pindah ke ibukota Provinsi ? Aku berencana membangun sebuah perusahaan. Ini adalah impian Ibuku sewaktu masih hidup"
Mendengar perkataan Xin Chen, Paman Fei berkata, "Aku sangat mendukung upaya kamu untuk membangun sebuah perusahaan. Tapi rumah ini peninggalan dari leluhur Bibimu
Semua kenangan di sini tidak bisa kami tinggalkan" Ucap Paman Fei, Xin Chen mengangguk mendengar ucapan Paman Fei.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku akan membangun perusahaan di Desa San San. Perusahaanku akan menjadi perusahaan Dunia, Desa San San akan berkembang jadi pusat kota Dunia"
Paman Fei dan Bibi Lie Lian tercengang melihat Xin Chen begitu semangat berbicara. Dalam hati mereka, "Bukankah membangun sebuah perusahaan butuh biaya sangat besar ! Apalagi ingin memasuki kanca internasional, apa Xin Chen membual ? Di sisi lain Desa San San sangat kecil, tidak ada yang dapat menopang perusahaan dari hasil bumi di Desa San San untuk berkembang" Bisik hati Paman Fei
Dengan sikap tenang, Paman Fei dan Bibi Lie Lian tersenyum kecil, takut membuat Xin Chen kecewa. Paman Fei berkata, "Apa kamu sudah memiliki persiapan untuk membangun sebuah perusahaan ?"
Mendengar pertanyaan Paman Fei. Xin Chen menatap bibinya. Xin Chen mengangguk pelan dan berkata, "Aku sudah mempersiapkan semua untuk membangun perusahaan" Mendengar jawaban Xin Chen, Bibi Lie Lian memeluk Xin Chen seperti anak yang masih kecil. Bibi Lie Lian berkata, "kamu harus menjaga dirimu dengan baik". Xin Chen mengangguk mendengar perkataan Bibi Lie Lian.
Dengan penuh semangat Xin Chen mengeluarkan sebuah pil berwarna biru kemerah merahan, Xin Chen memberikan kepada mereka, namanya pil Yuangjin.
"Paman, Bibi ! Kalian minumlah pil itu.
Pil itu sangat bermanfaat buat tubuh kalian. kalian sudah sangat lama bekerja sebagai petani. Tubuh kalian pasti mengalami perubahan"
Paman Fei dan Bibi Lie Lian melihat pil Yuangjin. Tanpa ragu dan bertanya, mereka langsung meminumnya. Pil Yuangjin langsung larut di mulut, terasa arus hangat mengalir ke dalam kerongkongan dan masuk ke tubuh memenuhi sel sel yang rusak.
Kulit mereka tampak memutih dan bersih, bekas luka mereka hilang. Beberapa rambut putih mereka kembali hitam, tenaga terasa seperti anak berusia 20 tahunan.
Dengan rasa senang dan emosional Paman Fei berkata, "Xin Chen ! Dari mana kamu mendapatkan pil itu ?" Xin Chen tersenyum senang dan bahagia melihat perubahan mereka.
Xin Chen berkata, "Aku sendiri yang membuatnya. Ibuku yang mengajariku membuatnya lalu aku menyempurnakannya"
Sewaktu Ibu Xin Chen masih hidup, dirinya berusaha menyempurnakan pil Yuangjin, tapi keterbatasan kultivasi, Ibu Xin Chen tidak mampu menyempurnakan pil Yuangjin.
Setelah bertahun-tahun lamanya Kultivasi Xin Chen berhasil menyempurnakan pil Yuangjin.
Xin Chen berkata, "Ibuku memberikan sebuah buku pengobatan Kuno, konon katanya buku itu di tulis oleh orang orang kepercayaan penguasa Bumi" Mendengar penjelasan Xin Chen, Paman Fei dan Bibi Lie Lian mengangguk pelan. Paman Fei berkata, "Kamu harus menjaga buku itu dan jangan memberitahu orang lain. Kami takut kamu akan di lukai orang lain"
Mendengar perkataan Paman Fei, Bibi Lie Lian meneteskan air mata. Dirinya takut Xin Chen terluka, apalagi sampai terbunuh di sebabkan ilmu pengetahuan tentang obat.
"Kalian jangan takut, aku akan baik baik saja. Tidak ada yang dapat melukaiku"
__ADS_1
"Iya iya, tidak ada yang akan melukaimu" paman Fei menimpali.
Tidak ingin istrinya bersedih, istrinya menganggap Xin Chen seperti anak kandungnya sendiri.
Terlihat Begitu tulus dan sayangnya kepada Xin Chen. Sampai takut Xin Chen terluka.
Paman Fei menarik nafas dalam melihat ketulusan dan kasih sayangnya terhadap Xin Chen. "Kring,, kring,, kring,," terdengar suara telepon, Xin Chen melirik nomor telefon yang masuk. Ternyata komandan Liu Yan menelfon.
Xin Chen berkata, "Paman, Bibi aku angkat telepon dulu" Xin Chen menjauh agar percakapan dengan Liu Yan tidak terdengar oleh Paman Fei dan Bibi Lie Lian.
Xin Chen menjawab, "ada apa komandan Liu ?"
" Maaf panglima muda, sesuai perintah, aku telah membeli beberapa aset dan mengakuisisi beberapa perusahaan kecil di 3 wilayah, Utara, Timur, dan Selatan.
Sisa daerah Barat yang belum. Apa perlu aku mengutus seseorang untuk membeli beberapa aset dan mengakuisisi perusahaan di Barat ?"
Mendengar perkataan komandan Liu Yan, Xin Chen sangat bersemangat lalu berkata, "tidak usah, untuk wilayah Barat biar aku yang menanganinya. Kirim seseorang yang sangat pandai dalam hal bisnis perusahaan"
"Baik panglima muda. Ada satu hal lagi beberapa master dari negeri Sangyang telah ku tangkap. Sekarang mereka telah di interogasi oleh bawahanku"
"Bagus !" Ucap Xin Chen di telepon.
"Sudah dulu, aku lagi sibuk dengan Paman dan Bibiku Ttuuut,, ttuuut" Terdengar suara telepon mati. Terdengar suara bunyi piring dan sendok di dalam rumah.
Xin Chen dan paman Fei lagi sementara makan malam.
Dengan kekuatan Xin Chen, dirinya mampu mendengar suara di luar rumah dan suara seseorang melangkah di atap rumah.
Xin Chen memicingkan mata, lalu berkata kepada Paman Fei dan Bibi Lie Lian. "Aku sudah berhenti makan, paman, Bibi kalian teruskan makan, aku ingin keluar menghirup udara malam" Paman Fei dan Bibi Lie Lian mengangguk pelan. Xin Chen melangkah keluar rumah, tiba tiba sebuah pisau melayang ke arahnya.
Dengan wajah tenang, Xin Chen menangkap pisau itu dengan 2 jari. Kemudian menjentikkan jarinya, sebuah batu kecil melayang dengan kecepatan yang sangat cepat.
__ADS_1
"Brukkk" tubuh orang yang bersembunyi di sebuah batang pohon langsung terjatuh. Matanya terbelalak, darah mengalir di keningnya. Mati mengenaskan. Beberapa pembunuh tercengang bahkan ketakutan