Kesemsem Gadis Desa

Kesemsem Gadis Desa
Episode 42


__ADS_3

Tok......


Tok... Clara mengetuk pintu ruangan pak Rayhan.


“Langsung masuk saja semuanya,” teriak Vicky sang manager yang sudah duluan masuk di dalam rungan pak Rayhan.


“Silahkan kalian duduk dulu di sana,” Ucap Vicky yang mengarahkan menyuruh mereka duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.


“Baiklah pak, terikamasih,” jawab Clara dengan santai.


Mereka pun duduk di sofa itu dengan posisi berjejer seakan-akan membentuk barisan antri di dalam. Satu persatu dari mereka di panggil untuk proses tanda tangan di meja pak bos. Yang sebenarnya mereka semua masih belum tau tentang apa dokumen yang akan ditanda tangi oleh mereka nantinya.


Sembari menunggu antrian Clara dan Siti saling bertatapan mata melihat keberadaan Tono yang duduknya persis di depan mereka, seolah-olah mata mereka berbicara. Clara masih penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Siti kepadanya, seorang Tono yang polos begitu bisa memperlakukan wanita dengan mesra seakan-akan Tono sudah sangat berpengalaman dalam hal itu.


Vicky memanggil nama mereka mulai dari, Clara, Siti, Bunga, Supri, Tono dan yang lainnya, setelah semua selesai dan keluar dari dalam ruangan itu, mereka kembali berpencar menuju tempat mana yang sudah di bagi sebelumnya untuk dikerjakan.


“Eh mbak kirain tadi itu dokumen apa an, sampai-sampai pak bos datang jam segini ke hotel biasanya kan gak pernah jam segini,” ucap Siti.


“Iya benertuh, apalagi itu dokumen perpanjangan kontrak kerja kita ya kan,” jawab Clara yang ikut terheran sama seperti Siti.


Bunga yang mendengar pembicaraan antara Siti dan Clara, melihat jam tangan mungil yang melilit pergelangan tangan sebelah kirinya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang seperempat. “Emang ak biasa ya mbak pak Rayhan datang ke hotel jam segini?,” Tanya Bunga terhadap Clara karena Clara adalah senior dari mereka semua.


“Iya Bunga, ini pertama kalinya pak Rayhan datang selarut ini, biasanya pak Rayhan datang ke hotel paling lama pukul depalan, kalau sudah lewat dari pukul delapan pak bos gak bakal datang lagi, makanya aku heran tadi,” jawab Clara dengan menjelaskan jadwal kunjungan pak Rayhan biasanya ke hotel.


“Heyyyy kalian bertiga sana capatan kerja jangan Cuma asik menggibah, kalau menggibah terus kapan selesainya kerjaan kita,” Sindir Supri dengan keras.


Mendengar kalimat itu tiga pasang mata langsung menoleh dan melotot ke arah Supri.


“Iya supri ini juga kami mau gerak,” Ucap Clara yang merasa jengkel terhadap Supri padahal mereka masih tanggung banget dalam pembicaraan.


“Ya udah yuk mbak, kita ke sana,” ajak Bunga kepada Clara.

__ADS_1


“Yukkkkk,,,,,,, ,” ucap Clara dengan refleksnya.


Selesai semua pekerjaan para anggota ship malam kini beristirahat dengan mencari posisi nyaman masing-masing, tidak ada satupun pekerjaan yang terlewatkan oleh mereka.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


Pagi hari biasanya Bunga tergesa-gesa untuk pulang ke kosannya karena ia masih harus memasak sarapn untuknya sebelum berangkat menuju kampus, tapi kini ia agak bisa santai soalnya ia telah tinggal denga keluarga pak Rayhan.


Suasana pagi memang indah. Bunga dari hotel menuju arah pulang sangan menikmati perjalannya menaiki sepeda motor dengan santainya, sambil mendengar kicauan burung bernyanyi, dan segarnya embun pagi, pohon –pohon disepanjang jalan seperti berbicara terhadap Bunga.” Selamat pagi Bunga’’.


Bersyukur dai apa yang sudah dimilikinya, bersyukur dari berbagai nikmat hidup. Terutama nikmat sehat yang sangat mahal harganya, lebih mahal dari harta apa pun di dunia ini, apalah artinya kaya harta, tetapi badan saki-sakitan. Lebih nikmat lagi kaya harta dan tubuh pun sehat, tentu saja setiap manusia pasti memimpikan hal seperti itu.


Sampainya di rumah pak Rayhan, Bunga pun langsung menuju kamarya untuk segera siap-siap dengan merapikan barang apa saja yang kan dibawa menuju kampus.


Tok......


Tok.......


“Iya tante, Bunga udah siap kok,” Jawab Bunga yang langsung membukakan pintu untuk wanita yang sudah memanggilnya itu.


“Udah kita langsung kemeja makan ya, kita sarapan bareng,” ajak mama Bimu.


“Baiklah tante,” jawab Bunga dengan senyum lebarnya.


Mereka pun sarapan bersama di ruang makan, kali ini suasananya sudah agak sedikit berbeda dari sebelumnya karena sekarang sudah ada sepasang anak muda dalam keluarga Rayhan, bertambahnya Bunga di dalam rumah itu membuat semuanya menjadi bersemangat, apalagi Elly mama dari Bimu yang menganggap Bunga itu sudah seperti putrinya, Elly merasa bahwa hidupnya sudah cukup bahagia karena sudah mempunyai sepasang anak di dalam rumahnya.


“Tante, pak Rayhan Bunga pamit ya, Bunga ke kampus sekarang,” ucap Bunga sambil menyalam kedua orang tua yang ada dihadapannya itu.


“Kamu bareng sama Bimu aja biar gak capek naik motor terus, Bimu juga kan sendiri di mobilnya,” jawab Elly.


“Iya Bunga, kita bareng aja di mobil kan kamu bisa sedikit istirahat,” sahut Bimu.

__ADS_1


“Gak usah, tan Bim, aku naik sepeda motor ku aja, sudah terbiasa kok Bunga kan kuat,” jawab Bunga dengan melemparkan senyum manisnya.


Bunga pun mengeluarkan sepeda motornya dan berangkat menuju kampus tercinta, tapi di perjalanan Bunga terhenti.


Pandanganku sedikit terganggu saat petugas kebersihan membersihkan sisa sampah dipinggir jalan, sampah bekas adik-adik yang kebetulan mengadakan pertemuan, entah apa yang dibicarakan mereka saat itu. Aku hanya memandangi sesekali mata mereka melirik sekeliling dan sambil memainkan lirikan itu mereka membuang bungkus bekas es yang dikonsumsi.


Disinilah aku tergugah, kalau saja laskar kuning itu tidak ada, kemana perginya sampah-sampah itu? Sungai? Banjir akibat kelalaian manusia. Aku menghela nafas panjang, semerbak bau sampah masih mampir kehidungku.


“Busukkkkkkkkkk”, aku bergegas mengambil sepeda motorku dan menuju kampus karena hari semakin siang.


Melewati tingkah pola masyarakat di perkotaan membuatku rindu suasana desa. Ya aku kangen dengan mereka semua yang ada disana, belum lagi persawahan yang hijau dengan rimbun daun dan bunyi kerbau yang membajak, pemandangan yang hanya aku dapat saat aku punya waktu libur saja. Tapi aku tetap bersyukur hidup dikota, dengan pembangunan yang semakin menunjukkan tingginya sumber daya masusia.


Sesampainya aku di kampus memang benar aku hampir terlambat masuk kelas, hanya sampai di parkiran saja suara alarm handphone ku berdering jang menandakan bahwa waktu untuk masuk kelas sudah tiba, akupun langsung bergegas melangkahkan kakiku yang seperti berlari menuju kelas.


“Hey Bunga kok kamu telat lagi sih,” tanya Luna.


“Ada sedikit masalah yang ku perhatikan tadi disekitar salah satu perumahan,” jawab Bunga.


“Emang ada apa di sana?,” tanya Luna lagi yang masih penasaran.


“Tadi kan pas aku jalan, aku melihat sekelompok tim kuning sedang bekerja, terus aku berhenti,” ucap Bunga.


“terus....? ,” Sahut Luna.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Bersambung...


...Jangan Lupa Like, Vote & komentar yang membangun...


...😇😇😇😇...

__ADS_1


__ADS_2