
Pagi yang cerah menyambut dari baliknya tirai jendela yang perlahan menerobos ke dalam melewati celah-celah kecil yang menyilaukan dan berhasil membangunkan Agam yang nampak sedang tidur dengan memeluk Ranum.
''Ah, sudah pagi ternyata.'' ucapnya dalam hati. Lalu, beralih pada sosok perempuan di sebelahnya yang masih tertidur dengan pulas.
''Pasti dia lelah setelah apa yang terjadi semalam.'' ucapnya lagi.
Agam merapikan selimut mereka yang sedikit berantakan agar dapat menutupi tubuh Ranum yang masih polos tanpa sehelai benang pun. Lagi, Agam mencium lembut kening wanita di sebelahnya, kecupan lembut itu pun membuat Ranum sedikit terusik dari tidurnya.
Buru-buru Agam membelai lembut puncak kepala Ranum dengan penuh kasih sayang. Ia tidak ingin mengganggu tidurnya. Ia eratkan kembali pelukannya pada Ranum.
''Rasanya benar-benar nyaman seperti ini.'' gumamnya dalam hati.
Ingin rasanya lebih lama lagi ia memeluk Ranum, namun sesuatu di bawah sana memaksanya untuk segera beranjak dari ranjangnya guna menuntaskan hajatnya di toilet.
Setelah selesai dengan ritualnya di kamar mandi, Agam segera naik ke atas ranjang lagi. Namun pergerakannya kali ini berhasil membangunkan Ranum.
''Kamu sudah bangun?'' ucap Ranum dengan suara serak khas orang bangun tidur.
''Hm. Apa aku membangunkan mu?''
''Ah, tidak..'' jawab Ranum.
''Aku akan pesankan makanan untuk sarapan. Sekarang kamu mandilah dulu. Biar aku yang membereskan tempat ini.'' kata Agam yang berhasil membuat wajah Ranum merona kembali.
Ya, kamar mereka saat ini benar-benar berantakan. Entah apa yang sudah terjadi, semalam sepertinya mereka berdua benar-benar larut dalam dahsyatnya gelora api asmara.
''Aku juga sudah siapkan air hangat untukmu berendam, kamu pasti lelah kan?''
''Hm. Terima kasih.'' jawab Ranum sambil menutupi tubuhnya dengan selimut sambil memunguti pakaiannya menuju kamar mandi.
''Setelah ini, aku akan segera menikahi mu.'' ucap Agam dengan mantap begitu Ranum menutup pintu kamar mandinya.
Empat puluh menit sudah berlalu. Ranum baru saja selesai membersihkan dirinya. Setelah berendam tadi, tubuhnya terasa lebih nyaman. Ia pun segera keluar dari kamar mandi. Namun ketika ia baru saja menutup pintu kamar mandi, Ranum melihat sesuatu yang berbeda. Seperti ada atmosfer lain yang tiba-tiba memenuhi ruangan itu. Nampak Agam sedang berdiri membelakanginya dengan menghadap jendela yang menampilkan pemandangan pohon-pohon hijau di luar sana.
''Agam?'' panggil Ranum dengan hati-hati. Namun, tidak ada jawaban.
Dari balik tubuh bidang itu, Ranum menyadari sepertinya telah terjadi sesuatu yang tidak ia ketahui apa yang sebenarnya.
''Katakan, siapa kamu sebenarnya?'' tanya Agam dingin dengan tetap membelakangi Ranum.
''A-apa maksud mu?'' ucap Ranum dengan tergagap.
__ADS_1
Agam pun membalikkan tubuhnya dan menatap Ranum dengan tatapan yang sangat mematikan. Nampak raut kemarahan tergambar di garis wajah Agam.
Lalu, Agam mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah kartu identitas milik Ranum.
''Siapa kamu sebenarnya dan apa mau mu!'' seru Agam dan berhasil membuat Ranum ketakutan.
''A aku bisa jelaskan.'' ucap Ranum dengan terbata.
''Apa kau sengaja menjebak ku! Apa tujuanmu sebenarnya? Harta? Uang? Katakan berapa yang kau inginkan!'' ucap Agam dengan memandang rendah ke arah Ranum.
''Aku tidak serendah itu.'' ucap Ranum dengan geram.
''Sudah berulang kali aku mencoba mengatakan yang sebenarnya. Namun kamu tidak pernah mau mendengarkan apa yang ingin aku katakan.'' ucap Ranum.
''Penipu!'' maki Agam.
''Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku bisa jelaskan semuanya.''
''Cih!''
''Agam dengarkan aku, aku mohon.''
''Agam, maafkan aku. Awalnya aku memang menggantikan Frisca untuk menemui kamu, namun aku benar-benar terpaksa melakukannya. Aku tidak bermaksud untuk menipumu. Dan setelah tiga bulan kebersamaan kita, aku jatuh cinta kepadamu. Sungguh aku mencintaimu.'' terang Ranum dengan air mata yang jatuh membasahi wajah cantiknya.
''Sandiwara kuno!''
''Tenang saja tujuanmu telah tercapai. Setelah ini akan aku kirimkan uang ke nomor rekening mu. Anggap saja sebagai bayaran yang semalam!'' ucap Agam dengan memandang jijik ke arah Ranum.
Plak! Sebuah tamparan keras mendarat sempurna di wajah tampan Agam.
''Jaga mulutmu!'' teriak Ranum yang mulai tersulut amarah.
''Beraninya tangan kotor mu itu menyentuh wajahku!'' geram Agam dengan mengepalkan tangannya.
''Pergi dari hadapanku!''
''Jangan pernah sekali pun kau berani muncul atau ada di hadapanku!''
''Anggap tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita!'' usir Agam dengan amarahnya.
Dengan cepat Ranum mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Agam dengan tangisnya yang tertahan.
__ADS_1
...----------------...
''Ranum, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal.'' pinta Agam.
''Aku sudah menepati janjiku untuk berusaha menghindari mu. Sekarang, waktunya kamu untuk membuktikan apa yang pernah kau ucapkan!'' ucap Ranum.
''Tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita!'' ucap Ranum dengan menekankan setiap kata pada kalimat yang keluar dari mulutnya.
''Ranum, jangan seperti ini. Aku mohon, maafkan aku...''
''Semua sudah berlalu. Sebaiknya kamu membuktikan ucapan mu!''
''Beri aku satu kesempatan lagi, Ranum. Aku benar-benar mencintai kamu. Lima tahun ini aku tidak pernah benar-benar bisa melupakan mu.'' mohon Agam.
''Untuk apa lagi? Yang kamu cintai bukanlah aku, tapi Frisca!''
''Tidak! Aku mencintai kamu Ranum, bukan Frisca!''
''Pergilah, kita hanya dua orang yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya.'' ucap Ranum dengan mengalihkan pandangannya dari lelaki di hadapannya.
''Ranum, aku mohon jangan seperti ini. Aku benar-benar menyesal. Aku sangat tersiksa selama lima tahun belakangan ini, aku selalu memikirkan kalian.''
''Sudahlah, semua sudah berlalu. Dengan atau tanpa adanya kamu, tidak terlalu berpengaruh untukku. Lagi pula, kehadiran kamu saat ini tidak kami butuhkan lagi.'' ucap Ranum dingin. Sedingin hatinya yang sudah membeku.
''Tapi Elzein membutuhkan aku. Dia membutuhkan sosok ayah dalam hidupnya.''
''Ayah kamu bilang? Apa sebenarnya fungsi seorang ayah bagi anaknya?''
''Jangan pernah mengaku-ngaku!'' ucap Ranum dengan amarahnya.
''Aku salah! Aku minta maaf karena telah mencampakkan kalian selama ini.'' kata Agam dengan sungguh-sungguh. Nampak raut penyesalan di wajahnya.
''Aku juga mau minta maaf pada mu, karena telah membiarkan janin itu tetap tumbuh dan melahirkannya ke dunia tanpa persetujuan kamu.'' ucap Ranum.
Hati Agam benar-benar teriris. Ia bisa merasakan apa yang Ranum rasakan selama ini tanpa kehadirannya. Mengandung anak seorang diri tanpa sosok suami atau pun keluarga di sisinya. Belum lagi cemoohan orang yang mungkin melukai hati nuraninya. Agam benar-benar bisa membayangkan penderitaan apa saja yang mungkin telah Ranum lalui seorang diri.
''Aku sudah bahagia sekarang. Bersama El. Ya, hanya berdua saja dengannya sudah membuatku sangat bahagia dan bersyukur. Sekarang kita hanyalah sepasang orang asing yang kebetulan bertemu kembali. ''
''Jadi jangan pernah sekali pun kamu mengusik kebahagiaan kami.''
''Dan juga aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut El dari sisiku!'' ucap Ranum.
__ADS_1