Kidung Renjana

Kidung Renjana
Tak Bisa


__ADS_3

Selepas peristiwa yang cukup mendebarkan yang terjadi di sekolah Elzein tadi, kini mereka bertiga telah sampai di halaman rumah Ranum.


Ranum pun segera turun dari mobil Agam dan membuka pintu rumahnya dengan lebar-lebar. Ia merasa sedikit lega karena masalah yang menimpa putranya bisa segera berakhir.


''Mama, maafkan Elzein ya. Mama pasti marah sama El...'' ucap Elzein dengan sendu dan ketakutan.


''Enggak sayang, mama nggak marah kok sama kamu. Mama yang seharusnya minta maaf sama kamu sayang.'' jawab Ranum dengan lembut.


''El... Mama cuma mau bilang sama kamu. Lain kali El tidak boleh berantem seperti itu lagi ya nak. Walaupun temen El melakukan kesalahan, kita harus sabar dan berlapang dada untuk memaafkan. Jangan jadi anak yang pendendam...'' kata Ranum.


''Iya, mama. Tadi di sekolah El juga udah minta maaf sama Erik, tapi Erik nggak mau maafin El dan malah marah-marah sama El.'' jawab Elzein dengan menundukkan kepalanya.


''Sudah, nggak apa-apa sayang. Yang penting lain kali tidak boleh seperti itu lagi ya nak.'' ucap Ranum.


''Iya, mama. El janji tidak akan berantem lagi.'' jawab Elzein.


''Mama sayang sekali sama El...'' ucap Ranum dengan membelai lembut puncak kepala putranya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.


''El juga sayang banget sama mama.'' jawab Elzein yang langsung memeluk mamanya itu dengan sangat erat.


Melihat sepasang ibu dan anak yang sedang berpelukan itu, membuat Agam hanya bisa mengangkat bibirnya dan memulas senyuman, dalam hatinya ia merasa begitu haru saat menyaksikan orang-orang yang ia sayangi saling berpelukan dengan penuh kasih sayang.


''Cup...cup...cup.. Anak mama nggak usah nangis lagi. Sekarang El ganti baju dulu ya nak lalu cuci tangan dan cuci kaki juga. Lihat jam berapa sekarang, sudah waktunya untuk El istirahat.'' ucap Ranum pada Elzein begitu mereka melepas pelukan hangat itu.


''Iya, mama. Mama juga jangan sedih lagi ya...'' jawab Elzein dengan patuh dan langsung bergegas menuju kamarnya.


Selepas kepergian Elzein, kini hanya tinggal menyisakan Ranum dan juga Agam yang masih berada di ruangan itu.


''Tunggu sebentar, aku ambilkan minuman dulu.'' ucap Ranum yang kemudian bergegas menuju dapur untuk membuatkan minuman bagi Agam.

__ADS_1


''Silahkan diminum dulu kopinya.'' ucap Ranum pada Agam sembari meletakkan secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap di atas meja.


''Terima kasih.'' jawab Agam sambil menyeruput kopi hitam yang Ranum berikan.


''Hm. Terima kasih juga karena tadi sudah membantu kami.'' ucap Ranum.


''Tidak perlu berterima kasih, sudah seharusnya aku melakukan itu. Lagi pula ini semua juga karena salahku. Gara-gara sikap bodoh dan sikap tidak bertanggung jawabku pada kalian membuat kalian harus menanggung semua beban berat ini sendirian. Pasti masih banyak lagi cemoohan atau hal-hal lain yang lebih menyakitkan dari kejadian siang tadi yang sudah kalian alami selama ini tanpa kehadiranku.'' kata Agam dengan nada yang nampak sendu.


''Tidak usah terlalu dipikirkan, semua sudah berlalu.'' ucap Ranum dengan senyum dibibirnya.


''Ranum, aku benar-benar minta maaf.'' ucap Agam penuh dengan penyesalan.


''Sudahlah, semua juga sudah berlalu. Lagi pula kami juga sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini jadi jangan terlalu dipikirkan.'' jawab Ranum dengan menghembuskan nafasnya pelan.


''Lagi pula ini juga sudah menjadi pilihan hidupku sendiri. Dengan tetap membiarkannya ada dan hadir di dunia.'' ucap Ranum lagi.


''Maafkan aku....'' sahut Agam dengan lirih.


''Ranum?'' potong Agam.


''Namun, seiring dengan berjalannya waktu, rasa itu perlahan-lahan berubah. Naluriku sebagai seorang ibu tidak bisa mengabaikan itu. Naluri itu menuntunku untuk membiarkannya tetap ada. Meskipun aku tahu jika nantinya akan jauh lebih berat jalan yang harus aku tempuh, tapi aku percaya jika bersamanya aku pasti akan kuat. Dan saat bersamanya dunia akan kembali indah.'' ucap Ranum dengan menjeda kalimatnya.


''Lalu saat aku mendengar suara tangisnya untuk yang pertama kali, seketika duniaku benar-benar berubah. Aku menyadari kesalahanku dulu. Menyesal karena pernah menolak kehadirannya. Lalu, melihatnya tumbuh dan belajar lebih banyak, daripada yang pernah aku alami. Kemudian, aku kembali berpikir dan bersyukur di titik itu, betapa indahnya dunia karenanya." ucap Ranum dengan menitikkan air matanya.


Mendengar itu, Agam segera berhambur dan memeluk wanita pujaan hatinya itu dengan begitu erat.


''Maafkan aku... Maafkan karena kebodohananku membuat kalian harus mengalami kehidupan yang berat seperti ini.'' ucap Agam dengan matanya yang memerah.


''Karena keegoisanku kalian harus menderita. Aku tidak bisa membayangkan betapa kejamnya dunia selama ini pada kalian.'' ucap Agam lagi dengan sedikit terisak.

__ADS_1


Ranum tak kuasa lagi menahan air matanya yang ia pendam selama ini. Hanyut dalam pelukan lelaki yang kini ada dan memeluknya.


''Ranum, aku mohon beri aku satu kesempatan lagi untuk menebus semua kesalahanku di masa lalu.'' pinta Agam yang kini tengah bersujud di kaki wanita pujaan hatinya itu.


''Apa yang kamu lakukan, jangan seperti itu!'' ucap Ranum dengan memegang bahu Agam untuk memintanya beranjak dari hadapannya.


''Aku akan tetap seperti ini sampai kamu memaafkan semua kebodohananku.'' ucap Agam dengan air matanya yang sudah berderai.


''Bangunlah, jangan seperti ini. Aku sudah memaafkan kamu.'' jawab Ranum dengan air matanya yang juga ikut basah membasahi wajah cantiknya.


''Terima kasih... Terima kasih, Ranum....'' ucap Agam tanpa henti.


''Sekarang bangunlah.'' ucap Ranum.


Agam pun segera bangun dari sujudnya. Ia lalu menghadap dan menatap wanita pujaan hatinya itu.


''Terima kasih, terima kasih karena tetap membiarkannya ada.'' ucap Agam dengan tulus sambil menggenggam jemari lentik milik Ranum.


''Hm.'' Ranum pun hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum ke arah Agam.


Agam merasa begitu bahagia karena telah berhasil mendapatkan maaf dari Ranum.


''Tapi...'' ucap Ranum yang segera dipotong oleh Agam.


''Tapi apa?'' potong Agam dengan cepat dan seketika rasa takut menyelimuti hatinya.


Ranum pun menghirup udara banyak-banyak ke dalam paru-parunya sebelum kembali menghembuskannya dengan perlahan.


''Tapi untuk kembali seperti dulu lagi sepertinya aku nggak bisa.'' ucap Ranum.

__ADS_1


Deg! Seketika jantung Agam seolah berhenti berdetak mendengar ucapan Ranum.


__ADS_2