
''Sudah?'' ucap Agam begitu Frisca selesai berbicara.
''Sudah. Dan kamu harus percaya padaku Gam!'' sahut Frisca.
Agam pun hanya mendengarkan apa yang Frisca katakan dengan acuh.
''Agam, apa kau akan tetap membiarkan aku berdiri di sini terus? Seharusnya kau mempersilakan aku masuk ke dalam. Aku ingin bertemu dengan om Hermawan. Om Hermawan ada di dalam kan? Aku udah kangen banget sama om Hermawan.'' ucap Frisca panjang lebar.
''Ayo kita masuk ke dalam!'' ucap Frisca sambil bergelayut manja di lengan Agam.
''Lepas!'' Agam mengehempaskan tangan Frisca dengan cepat.
''Agam, kamu kenapa sih?''
''Jangan bilang kalau ini semua gara-gara perempuan bayaran tadi?'' tuduh Frisca pada Ranum.
''Buka mata kamu, Gam! Dia itu perempuan murahan dan hanya mengincar harta kamu!'' ucap Frisca yang masih terus berusaha meraih tangan Agam.
''Jangan mendekat! Aku tidak akan membiarkan orang seperti mu mengotori rumahku.'' ucap Agam dingin.
'''Apa maksud kamu, Gam? Kok kamu ngomongnya kaya gitu sih.'' ucap Frisca dengan menampilkan wajah sedihnya.
''Tidak ku sangka setelah kita berpisah selama dua puluh tahun kau sangat berubah sekarang.'' ucap Agam dengan dingin. Jujur saja saat ini merasa begitu muak dengan perempuan yang berdiri di hadapannya.
''Berhenti bersandiwara di hadapanku karena aku sudah tahu semuanya!'' ucap Agam.
''A-apa maksud kamu?'' ucap Frisca dengan sedikit tergagap.
Lalu, Agam pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Lalu ia membuka ponsel itu dan menunjukkan sesuatu pada Frisca.
''Kamu pikir aku bodoh, hah!'' bentak Agam begitu menunjukkan sebuah video tentang bukti semua kejahatan dan akal busuk Frisca.
Melihat itu, Frisca pun mendadak menjadi diam membatu.
''Kenapa diam?'' tanya Agam dingin.
''Agam, itu semua nggak bener, Gam!'' ucap Frisca berusaha meyakinkan Agam.
''Aku hanya dijebak, Gam! Ada orang yang nggak suka sama aku.'' ucap Frisca dengan air mata yang mengalir di wajahnya.
''Sudahi air mata mu itu dan pergi dari tempat ini!'' usir Agam.
__ADS_1
''Agam! Aku mohon percayalah padaku! Itu semua nggak bener. Aku difitnah!'' ucap Frisca untuk mencoba membela dirinya sendiri.
Mendengar kegaduhan di depan rumahnya, Pak Hermawan ikut keluar untuk melihat keadaan yang terjadi.
''Ada apa ini?'' ucap Pak Hermawan saat melihat Agam bersama dengan seorang perempuan muda yang berpenampilan sangat berani itu.
''Om Hermawan, aku Frisca, om. Keponakan kesayangan om Hermawan.'' ucap Frisca yang langsung menghampiri Pak Hermawan untuk memohon perlindungan.
''Frisca?'' ucap Pak Hermawan sedikit terkejut karena melihat penampilan Frisca yang sekarang.
''Cih!'' Agam begitu muak dengan Frisca saat ini.
''Sebenarnya apa yang sedang terjadi?'' tanya Pak Hermawan tak mengerti.
''Pa, papa harus berhati-hati dengan perempuan itu!'' ucap Agam memperingatkan ayahnya.
''Enggak, om. Itu semua nggak bener. Aku hanya di fitnah.'' rengek Frisca dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya.
''Security!'' teriak Agam.
Mendengar teriakkan majikannya, kedua security yang berjaga di rumah Agam pun langsung menghampiri majikannya tersebut.
''Bawa dia keluar!'' perintah Agam.
''Ayo keluar!'' kedua security itu pun segera menjalankan perintah majikannya itu untuk membawa Frisca pergi dari rumah majikannya.
''Lepasin!'' maki Frisca.
''Jangan sentuh, gue!'' ucap Frisca dengan ekspresi jijik pada kedua security itu.
''Om Hermawan, tolongin aku om!'' rengek Frisca.
''Cepat, bawa dia pergi!'' seru Agam.
''Aarggggh!!!'' teriak Frisca dengan begitu frustasi.
Setelah kedua security itu berhasil membawa Frisca keluar dari rumahnya, Pak Hermawan pun segera menyusul Agam yang kini sudah berada di kamarnya.
Tok...tok..tok...
''Agam, ini papa!'' panggil Pak Hermawan.
__ADS_1
Lalu, Agam pun segera membukakan pintu untuk ayahnya tersebut.
''Papa ingin tahu yang sebenarnya?'' tanya Agam begitu membukakan pintu itu.
Agam berjalan ke arah jendela kamarnya untuk melihat pemandangan di luar sana. Lalu, ia menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar sebelum memulai ceritanya.
''Perusahaan om Sebastian yang di Singapura sudah bangkrut sekarang.'' Ucap Agam sambil menjeda kalimatnya.
''Beberapa waktu lalu, Om Sebastian menyerahkan perusahaan itu pada Frisca karena beliau ingin pensiun dan beristirahat. Namun, karena sikap licik dan kebodohan putrinya sendiri, perusahaan itu akhirnya terjebak hutang yang sangat besar sebelum akhirnya bangkrut.''
''Saat mengetahui perusahaannya diambang kehancuran, tiba-tiba saja om Sebastian drop dan saat ini beliau sakit stroke. Om Sebastian sekarang dititipkan di panti jompo oleh anaknya sendiri.'' ucap Agam sedikit kesal.
''Benarkah? Kenapa papa terlambat mengetahuinya.'' ucap Pak Hermawan merasa begitu menyesal karena baru sekarang mengetahui nasib malang sahabatnya itu.
''Iya, pa. Aku juga baru mengetahuinya belum lama ini saat aku menyelidiki tentang Frisca.'' jawab Agam.
''Agam, bawa om Sebastian ke sini. Biar papa yang akan mengurusnya. Om Sebastian adalah orang yang baik dan sangat berjasa dalam hidup papa.'' ucap Pak Hermawan.
''Papa tenang saja. Tanpa papa minta pun aku akan melakukan itu. Aku juga sudah menyuruh anak buahku untuk mengurus kepulangan om Sebastian kembali ke Indonesia. Dan aku juga sudah menyiapkan rumah sakit serta suster terbaik untuk merawat om Sebastian jika beliau sudah berhasil aku bawa kembali ke sini.'' jawab Agam.
''Papa sangat bangga padamu, nak.'' ucap Pak Hermawan sambil menepuk bahu putra semata wayangnya tersebut.
''Hm.''
''Lalu, soal Frisca?'' tanya Pak Hermawan dengan hati-hati.
''Seperti yang sudah papa ketahui sebelumnya, awalnya aku hanya ingin mencari tahu keberadaan Frisca. Aku juga ingin berterima kasih kepadanya karena dia telah membawa Ranum hadir dalam hidupku. Namun, setelah melakukan penyelidikan aku malah mendapatkan fakta-fakta yang cukup mengejutkan.'' ucap Agam.
''Informasi apa yang kamu dapatkan tentang Frisca?'' tanya Pak Hermawan penasaran.
''Frisca yang sekarang bukanlah Frisca yang kita kenal dua puluh tahun lalu. Dia sudah berubah.'' ucap Agam dengan menghembuskan nafasnya kasar.
''Kenapa? Ada apa dengannya sekarang?'' tanya Pak Hermawan tak mengerti. Jujur saja saat melihat Frisca tadi, Pak Hermawan juga merasa sedikit terkejut dan tak percaya saat melihat gadis kecilnya itu kini telah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cukup berani.
Agam pun kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar sebelum kembali melanjutkan ceritanya.
''Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini, tapi aku tidak ingin membuat papa menjadi salah paham.''
''Frisca telah salah mengambil jalan hidup, dia telah masuk ke dalam lubang hitam kehidupan, pa. Dia juga telah tidur dengan banyak bos-bos besar di kota ini untuk memenuhi gaya hidupnya yang glamour.'' ucap Agam dengan sedikit berat dan merasa iba pada sahabat kecilnya itu.
''Jangan sembarangan bicara kamu, Gam!'' ucap Pak Hermawan yang merasa tidak terima karena keponakan kesayangannya sekaligus putri sahabatnya dituduh seperti itu oleh anaknya sendiri.
__ADS_1
''Terserah papa mau percaya atau tidak, yang jelas itu memang kenyataannya.'' jawab Agam sambil berlalu meninggalkan ayahnya seorang diri.