
Ranum segera melajukan kembali mobilnya untuk menuju kantor tempatnya bekerja. Entah mengapa jalanan siang yang sedikit mendung ini nampak sedikit lengang. Meskipun begitu, Ranun tidak lantas melajukan mobilnya dengan kecepatan yang penuh. Ia justru sedikit memperlambat laju kendaraannya agar bisa lebih berlama-lama menikmati jalanan yang nampak sedikit tenang itu. Ia buka lebar-lebar jendela kaca mobilnya agar udara bisa leluasa masuk dan menerpa kulitnya. Fokus pandangan matanya masih tertuju pada aspal jalanan yang ia lalui saat ini, namun hati dan pikirannya berkelana, masih terngiang-ngiang jelas mengenai pertemuannya dengan Pak Hermawan di restoran tadi.
''Nona Ranum, sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan pada anda.'' ucap Pak Hermawan dengan nada yang cukup serius begitu mereka menghabiskan makan siang itu.
Terang saja, baru mendengar ucapan Pak Hermawan seperti itu saja sudah membuat hati dan pikiran Ranum merasa sangat tidak tenang dan seperti terintimidasi. Tiba-tiba hatinya menjadi sesak, jemari tangannya terasa begitu dingin. Ia *******-***** sendiri jari-jari tangannya untuk sedikit meredakan kegugupannya. Saat itu, untuk sekedar menduga ataupun menerka pertanyaan-pertanyaan lain yang mungkin akan keluar dari mulut Pak Hermawan saja ia tak berani. Semua itu membuatnya semakin merasa terhimpit dan tak berani memikirkan tentang hal-hal lain apapun itu untuk detik itu juga.
''Bapak mau bertanya apa ya?'' jawab Ranum dengan sedikit terbata setelah terdiam untuk beberapa saat.
''Saya yakin kamu pasti sudah menduga dan memahami arah pembicaraan yang akan saya sampaikan kepada kamu.'' ucap Pak Hermawan seolah-olah bisa menebak isi kepala Ranum.
Ranum pun dibuat semakin merasa tak tenang. Ya, jauh di dalam hatinya sedari tadi ia memang sudah menduga jika arah pembicaraan siang ini pasti akan tertuju ke sana, pada sebuah kisah masa lalunya dengan Agam, putra Pak Hermawan.
''Nona Ranum, bisa tolong beri tahu pada saya apa yang sebenarnya pernah terjadi di antara kamu dan juga putra saya?'' tanya Pak Hermawan terus terang.
Deg!
Ranum menghela napas dengan berat. Pertanyaan dari Pak Hermawan membuat Ranum terasa semakin jatuh ke dalam jurang. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ranum benar-benar merasa sangat gugup. Rasanya saat ini ia hanya ingin segera berlari secepat kilat dan menghilang dari tempat itu. Namun ia tidak bisa, kaki-kakinya tiba-tiba saja menjadi lemas seolah-olah tiada bertulang.
''Katakan saja yang sebenarnya, saya hanya ingin mendengar cerita ini langsung dari kamu.'' ucap Pak Hermawan lagi karena ia hanya melihat Ranum yang terdiam dan nampak sedikit pucat.
Ranum pun mulai berkata dengan manik matanya yang nampak berkaca-kaca, air matanya yang terasa ingin tumpah saat itu juga namun tetap ia tahan dan ia masih mencoba untuk tetap tersenyum pada Pak Hermawan.
__ADS_1
''Se-sebenarnya.....'' Setelah kembali mengatur nafasnya, Ranum mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Agam beberapa tahun lalu.
''Jadi seperti itu..'' ucap Pak Hermawan dengan menganggukan kepalanya.
''Iya, pak.'' jawab Ranum yang merasa sedikit lega karena telah berhasil menceritakan yang sebenarnya terjadi pada Pak Hermawan, meskipun belum semua yang ia katakan pada orang yang kini sedang duduk di hadapannya itu.
''Saya minta maaf, saya tidak bermaksud membohongi dan menipu putra bapak. Saya terpaksa melakukan itu saat itu.'' ucap Ranum dengan kepalanya yang tertunduk.
''Tidak apa-apa. Kamu juga tidak perlu meminta maaf pada saya.'' ucap Pak Hermawan.
''Terima kasih atas pengertian bapak.'' jawab Ranum singkat.
''Apakah benar jika putra saya adalah ayah biologis dari anak lelaki mu?'' tanya Pak Hermawan dengan gaya bicara yang terus terang.
Deg! Lagi-lagi Ranum dibuat mati kutu dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Pak Hermawan. Saat ini ia benar-benar merasa seperti sedang dalam ruang pesakitan yang kapan saja bisa langsung membunuh dan menghabisinya.
''Tenang saja, saya tidak akan menuntut dan menyalahkan kamu akan hal itu.''
''Saya juga tidak akan memberikan pilihan yang tentunya akan sangat mudah kamu pilih, dengan memberikan cek ratusan miliar rupiah lalu meminta kamu untuk pergi meninggalkan putra saya. Saya tidak seperti orang tua kaya yang sering ada di novel-novel ataupun di sinetron-sinetron itu. Bukankah bodoh orang yang dengan terang-terangan menolak cek ratusan miliar hanya demi mempertahankan dan tidak mau meninggalkan anak orang?'' ucap Pak Hermawan dengan sedikit terkekeh dan berusaha untuk mencairkan suasana.
Mendengar itu Ranum pun merasa sedikit lega. Pasalnya ia berpikir jika Pak Hermawan tidak akan sekejam apa yang ia pikirkan selama ini.
__ADS_1
''Maafkan saya pak, saya tidak bisa mengatakan itu.'' jawab Ranum dengan sopan.
''Nak Ranum, saya tidak akan merebut putra kamu dari hidupmu jika memang anak lelaki kecil itu adalah anak dari Agam yang tentu saja secara otomatis dia adalah cucu kandung saya juga.'' ucap Pak Hermawan.
''Saya hanya meminta satu hal pada kamu. Jika memang Agam benar-benar mencintai kamu, buatlah ia berusaha lebih keras lagi untuk membuktikannya pada kamu. Anak itu harus diberi pelajaran yang setimpal karena telah menyia-nyiakan seorang perempuan seperti kamu.'' ucap Pak Hermawan dengan nada yang nampak sedikit kesal.
''Ma-maksud bapak?'' tanya Ranum tak mengerti. Ia menautkan kedua alisnya tanda tak mengerti begitu mendengar apa yang Pak Hermawan katakan kepadanya.
''Ya, anak itu memang harus diberi pelajaran. Enak saja selama ini dia hidup bebas tanpa terbebani rasa tanggung jawab pada kamu dan juga anak kamu. Anak nakal itu harus diberi pelajaran.''
''Saya juga minta maaf pada nak Ranum karena selama ini ikut mengabaikan kehidupan nak Ranum dan juga cucu saya. Saya sebagai seorang ayah dan juga seorang laki-laki dewasa, benar-benar merasa malu dan sangat menyesali atas sikap tidak gentleman putra saya sendiri selama beberapa tahun ini. Nak Ranum, saya berpihak pada kamu.'' ucap Pak Hermawan lagi dengan menekankan kalimat terakhirnya.
Ranum semakin kehilangan kata-katanya saat mendengar dan mencerna semua yang Pak Hermawan katakan kepadanya.
''Saya juga ingin berterima kasih pada nak Ranum, karena tetap membiarkan cucu saya hadir dan ada di dunia ini.'' ucap Pak Hermawan lagi dengan tulus. Yang sontak saja membuat Ranum tak kuasa lagi membendung air matanya yang lolos begitu saja dari mata indahnya.
Ranum hanya bisa menganggukan kepalanya dan tidak dapat berbicara lagi begitu mendengar semua yang diutarakan oleh Pak Hermawan.
''Saya juga mohon tolong rahasiakan pertemuan kita ini dari siapapun, terutama dari Agam.'' ucap Pak Hermawan lagi.
''Baik pak, saya mengerti.'' sahut Ranum sambil menyeka air matanya yang jatuh begitu saja.
__ADS_1