Kidung Renjana

Kidung Renjana
Memuji


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama bagi Hardy untuk menemukan siapa pelaku penyebar berita hoax mengenai gosip yang sedang beredar di perusahaan. Bahkan hanya dalam hitungan puluh menit saja pemilik nomor yang pertama kali menyebarkan berita itu sudah berhasil Hardy temukan.


''Bos, saya sudah menemukan siapa pelakunya.'' ucap Hardy begitu masuk ke dalam ruangan atasannya itu.


''Secepat itu?'' tanya Ranum tidak menyangka jika Hardy benar-benar akan menemukan pelakunya dalam waktu yang begitu singkat, Ranum pun dibuat kagum akan kemampuan asisten Agam tersebut.


''Sudah aku katakan bukan, jika Hardy sangat bisa diandalkan dalam urusan seperti ini.'' ucap Agam yang langsung membuat Hardy merasa tersipu senang karena jarang-jarang ia dipuji oleh bosnya.


''Jangan tersenyum seperti itu! Lihatlah wajahmu sekarang, sangat menggelikan!'' ucap Agam yang merasa geli melihat senyuman Hardy.


''Saya kan hanya merasa tersanjung bos. Jarang-jarang kan bos mau memuji saya, bahkan tidak pernah dan baru pertama kali ini lho.'' ucap Hardy dengan terkekeh.


''Haissss! Sekarang bukan waktunya bercanda!'' kesal Agam.


''Memangnya siapa yang sedang bercanda bos?'' tanya Hardy yang membuat Agam semakin kesal.


''Kalian berdua ini lucu sekali.'' sahut Ranum yang juga ikut terkekeh melihat interaksi dua orang pria dewasa di hadapannya.


''Sudah! Cepat katakan siapa orang itu!'' perintah Agam kembali ke mode serius.


''Oke.. oke.. Ini orangnya, bos.'' Hardy pun menunjukkan sebuah profil tentang seseorang yang telah menyebarkan gosip dan foto-foto Ranum yang sedang bersama dengan seorang pria.


''Tunggu dulu, bukankah dia...?'' gumam Ranum setelah melihat sebuah foto yang ada dalam profil yang ditunjukkan oleh Hardy.


''Segera panggil orang itu ke sini!'' perintah Agam.


''Baik, bos. Kalau begitu saya permisi dulu.'' pamit Agam untuk segera melaksanakan perintah atasannya tersebut.


''Kenapa dia dipanggil ke sini?'' tanya Ranum setelah kepergian Hardy dari tempat itu.


''Kamu lihat saja nanti.'' jawab Agam.


Di sisi ruangan lain masih di perusahaan Agam.


''Kak Tina, kakak dapat dari mana foto-foto itu?'' bisik Rani, salah seorang karyawan yang bekerja di perusahaan Agam.


''Sssttt... Diamlah jangan berbicara keras-keras! Jangan sampai ada orang yang tahu kalau gue adalah orang yang ngasih foto itu.'' bisik Tina mengingatkan.

__ADS_1


''Maaf, kak. Soalnya aku penasaran banget kok kak Tina bisa dapetin foto itu gitu lho.'' ucap Rani.


''Jangan bilang siapa-siapa tentang foto itu, awas aja loe kalau sampai bocor!'' ancam Tina.


''Iya, kak. Kakak tenang aja, aku bakalan tutup mulut kok.'' jawab Rani.


''Sekarang benar-benar terbukti kan kalau perempuan itu adalah cewek nggak bener!'' sahut Tina.


''Iya, kakak bener. Aku juga udah menduga sih sejak awal. Aku heran aja kenapa dia bisa kerja di sini ya, padahal kan dia single parents. Trus pernah hamil di luar nikah pula, mana orang yang udah ngehamilin nggak mau tanggung jawab lagi. Bukankah itu bisa mencoreng nama baik perusahaan ya kak?'' tanya Rani pada Tina.


''Ya... Apa lagi kalau bukan karena menjual diri dan merayu atasan kita, kalau dia nggak menggoda Pak Andre mana mungkin dia diterima kerja di sini. Denger-denger juga nih dari anak-anak yang lain tuh cewek lagi berusaha buat menggoda Pak Agam sekarang, bener-bener nggak tahu diri banget nggak tuh!'' sahut Tina dengan perasaan yang sangat kesal.


''Wah, benar-benar nggak tau diri banget ya, kak. Amit-amit deh....'' jawab Rani dengan manggut-manggut.


Tanpa Tina dan Rani sadari saat mereka berdua sedang asyik membicarakan Ranum, di belakang mereka sudah berdiri sosok Hardy sejak beberapa saat lalu.


''Ehem!'' Hardy mencoba untuk memotong pembicaraan mereka berdua.


Sontak saja kedua perempuan itu langsung mendongak ke arah suara. Betapa salah tingkah dan terkejutnya mereka saat mengetahui asisten bos mereka tahu-tahu sudah berdiri di bekalangnya.


''Eh, Pak Hardy.'' sapa Tina dan Rani dengan segera berdiri dari duduknya.


''Hm.''


''Siapa diantara kalian yang bermana Tina Suhendar?'' tanya Hardy pada kedua perempuan yang sedang berdiri di hadapannya itu.


''Sa-saya pak.'' jawab Tina dengan terbata sambil mengangkat tangannya.


''Oh ya kamu, sekarang juga ikut saya ke ruangan Pak Agam.'' jawab Hardy.


'Memangnya ada apa ya pak?'' tanya Tina dengan cemas dan terkejut.


''Kamu tanyakan langsung saja pada beliau. Saya hanya diperintah oleh Pak Agam untuk memberitahukan dan meminta kamu, sekarang juga ke ruangan Pak Agam.'' ucap Hardy.


''Sekarang pak?'' tanya Tina tak percaya.


''Apa perkataan saya tadi kurang jelas?'' tanya Hardy lagi.

__ADS_1


''Ba-baik pak, jelas kok.'' jawab Tina dengan tergagap.


''Kalau begitu ikut saya sekarang!'' perintah Hardy.


''Eh, tunggu dulu, pak. Tapi kenapa ya pak kok tiba-tiba saja saya di minta ke ruangan Pak Agam?''


Hardy pun hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban atas pertanyaan yang Tina ajukan dan berjalan meninggalkan kedua perempuan itu di tempatnya.


''Duh, kenapa ya, Ran?'' tanya Tina pada Rani dengan perasaan was-was.


''Jangan-jangan kak Tina mau naik jabatan kali kak, secara diminta langsung ke ruangan Pak Agam gitu lho! Jarang-jarang kan karyawan seperti kita ini bisa masuk ke ruangannya Pak Agam.'' ucap Rani menduga-duga.


''Semoga saja. Kalau sampai itu benar loe bakalan gue traktir apa aja sampai loe puas!'' ucap Tina dengan senyumnya.


''Siap, kak!''


''Yaudah gue ke ruangan Pak Agam dulu, ya. Bye!'' ucap Tina yang segera mengikuti langkah panjang Hardy untuk menuju ruangan bos mereka.


''Kira-kira ada apa ya? Semoga Pak Hardy nggak denger apa yang gue omongin tadi, bisa-bisa nggak jadi naik jabatan deh gue.'' ucap Tina di dalam hatinya dengan perasaan harap-harap cemas.


Saat tiba di ruangan Agam, Tina berjalan dengan perlahan setelah dipersilakan masuk oleh Hardy.


''Selamat siang, pak.'' sapa Tina dengan penuh hormat.


''Duduk!'' sahut Agam singkat.


''Terima kasih, pak.'' Tina pun segera mendudukkan dirinya pada sebuah kursi tepat di depan meja Agam.


''Apa kamu tahu kenapa kamu ada di sini sekarang?'' tanya Agam dingin.


''Ti-tidak pak.'' jawab Tina gugup.


''Saya senang memiliki karyawan seperti kamu.'' ucap Agam dengan raut muka datar.


''Hah?'' Tina pun dibuat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar, seketika mulutnya pun ternganga karena tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


''Saya sudah melihat semua kerja keras mu selama ini.'' ucap Agam.

__ADS_1


''Bapak tidak sedang bercanda kan?'' tanya Tina dengan begitu antu dan sumringah.


''Ya, saya senang punya karyawan seperti kamu. Tapi...''


__ADS_2