Kidung Renjana

Kidung Renjana
Mainan baru


__ADS_3

''Dan pada detik ini juga aku ingin meminta restu dari papa. Aku akan segera menikahi Ranum, perempuan yang sangat aku cintai.'' ucap Agam dengan mantap dan penuh percaya diri.


Begitu Agam selesai mengutarakan maksud dan tujuannya membawa Ranum dan Elzein bertemu dengan ayahnya siang itu, suasana mendadak hening kembali. Lagi-lagi hanya suara hembusan angin yang memenuhi tempat itu. Sebelum Agam kembali berkata,


''Meskipun papa merasa keberatan dan marah denganku, aku akan tetap menikahi Ranum!'' ucap Agam dengan menggebu-gebu.


''Apa sudah kamu tanyakan pada perempuan di hadapanmu itu? Memangnya dia mau menikah denganmu?'' tanya Pak Hermawan.


''Tentu saja! Ranum mau menikah denganku. Iya kan, Num?'' tanya Agam pada Ranum.


Belum sempat Ranum menjawab pertanyaan dari Agam, kini ia pun sudah diberondong pertanyaan oleh Pak Hermawan.


''Apa kamu mau menikah dengan lelaki yang tidak bertanggung jawab seperti dia?'' tanya Pak Hermawan pada Ranum.


''Maksud papa apa? Siapa yang tidak bertanggung jawab?'' protes Agam.


''Diamlah! Papa tidak bertanya padamu.'' ucap Pak Hermawan.


''Haisss!'' kesal Agam.


''Nak Ranum, apa benar kamu mau menikah dengan dia?'' tunjuk Pak Hermawan pada putranya sendiri.


''Katakan saja! Kamu boleh saja menolaknya.'' ucap Pak Hermawan.


''Pa!'' sahut Agam.


''Diam!''


''Pikirkan matang-matang dan jangan mengambil keputusan yang terburu-buru. Apa kamu ingat, selama ini dia telah menyia-nyiakan kamu dan juga putramu.'' ucap Pak Hermawan.


''Pa, papa jangan berbicara seperti itu! Susah payah selama ini aku berusaha membujuk dan meminta maaf pada Ranum. Tapi kenapa papa malah berbicara seperti itu dan seolah-olah tidak mendukung anak papa sendiri.'' ucap Agam dengan sedikit amarahnya.


''Karena kamu pantas mendapatkan itu semua!'' jawab Pak Hermawan dingin.


''Tapi, pa?'' sahut Agam.


''Jujur saja papa sangat malu dengan apa yang sudah kamu lakukan selama ini pada Ranum dan juga cucu opa. Apa pernah papa mengajarimu untuk lari dari tanggung jawab? Lelaki sejati itu tidak pernah lari dari masalah dan kabur begitu saja. Tapi apa yang sudah kamu lakukan?'' ucap Pak Hermawan.


''Aku memang salah pa. Tapi kali ini aku akan perbaiki semuanya.'' jawab Agam.


''Ingat, Gam. Laki-laki yang dipegang itu omongannya! Buktikan itu!'' ucap Pak Hermawan.


Agam pun makin dibuat frustasi oleh ayahnya sendiri. Siang itu ia disidang habis-habisan layaknya seorang tersangka yang terbukti melakukan kejahatan.


''Pokoknya aku akan tetap menikahi Ranum!'' ucap Agam.


''Memang seharusnya seperti itu!'' jawab Pak Hermawan.


''Ma-maksud papa?'' beo Agam tak percaya.

__ADS_1


''Kau pikirkan saja sendiri.'' jawab Pak Hermawan.


''Apa papa merestui kami?'' seru Agam dengan senang.


''Yes!!'' sorak Agam begitu girang.


''Elzein, sini kemarilah nak...'' ucap Pak Hermawan mengalihkan pertanyaan Agam.


Elzein pun segera menghampiri Pak Hermawan dan duduk di dalam pangkuan lelaki itu.


''Cucu opa...'' ucap Pak Hermawan dengan haru begitu memeluk cucunya yang selama ini tidak pernah ia temui.


Ranum dan Agam pun merasa begitu bahagia dan merasakan haru yang teramat dalam. Agam tidak menyangka jika selama ini ayahnya telah mengetahui hubungannya dengan Ranum.


''Pa, kenapa papa begitu licik!'' protes Agam pada Pak Hermawan karena ia baru saja mengetahui kalau sebelumnya ayahnya itu telah bertemu dengan Ranum tanpa sepengetahuannya.


''Terserah kau mau bilang apa!'' ucap Pak Hermawan dengan terus bermain bersama cucunya.


Setelah beberapa saat berbicara dan bersenda gurau, kini mereka berempat pun sudah berpindah tempat.


''Ratatouille!'' seru Elzein begitu melihat hidangan di atas meja makan itu.


''Apa kamu suka?'' tanya Pak Hermawan pada cucunya itu.


''El sangat suka opa! Ini adalah makanan kesukaan El!'' jawab Elzein dengan penuh semangat.


''Tentu saja opa!'' jawab Elzein dengan senang hati.


''Bagaimana rasanya?'' tanya Pak Hermawan.


''Sangat lezat! Rasanya sama persis seperti di restoran yang sering Elzein kunjungi bersama mama.'' jawab Elzein.


''Kenapa papa bisa tahu makanan kesukaan El?'' sahut Agam.


Pak Hermawan pun hanya tersenyum dan mengabaikan pertanyaan Agam tersebut.


''Haiss... Sudah aku duga!'' kesal Agam yang terlambat mengetahui jika selama ini ayahnya telah melakukan banyak penyelidikan terhadapnya.


''Kamu ini seorang pengusaha tapi kurang jeli terhadap apa yang tersembunyi di sekitarmu!'' ucap Pak Hermawan.


''Ini semua pasti gara-gara Hardy!'' gerutu Agam.


''Hahahaha...'' Pak Hermawan pun tak dapat menghentikan tawanya saat berhasil membuat kesal putra semata wayangnya tersebut.


Begitu pula dengan Ranum, ia juga merasa begitu lega setelah semua terjadi dengan baik.


''Setelah ini segera urus semua yang diperlukan terkait pernikahan kalian.'' ucap Pak Hermawan setelah menghabiskan makan siangnya.


''Baik, pa.'' jawab Agam sambil meletakkan sendok dan garpunya.

__ADS_1


''Emm, apa saya boleh berbicara?'' tanya Ranum dengan hati-hati.


''Katakan saja dan jangan sungkan.'' ucap Pak Hermawan.


''Jika papa tidak keberatan, saya hanya ingin pernikahan yang sederhana saja. Bukan karena apa, tapi saya hanya ingin pernikahan ini sah di mata negara dan agama. Itu semua sudah lebih dari cukup untuk saya.'' ucap Ranum dengan hati-hati.


''Saya harap kalian tidak salah paham dengan maksud perkataan saya.'' imbuhnya.


''Baiklah, papa setuju. Tapi kita tetap harus membuat perayaan dan mengumumkan pernikahan kalian untuk menghindari fitnah.'' ucap Pak Hermawan.


''Hm. Aku juga setuju saja yang penting kamu tetap merasa nyaman.'' sahut Agam dengan menatap wanitanya tersebut.


''Terima kasih.'' jawab Ranum senang.


''Hm.'' jawab Pak Hermawan dengan senyumnya.


''Setelah ini aku akan segera mendaftarkan pernikahan kita. Kamu tenang saja, biar aku yang mengurus semuanya. Kamu tinggal katakan saja mau konsep yang bagaimana.'' ucap Agam pada Ranum.


''Iya.''


Setelah selesai menghabiskan makan siang mereka, kini topik obrolan pun menjadi lebih santai dan ringan.


''Setelah kalian menikah nanti, kalian akan tinggal di sini kan?'' tanya Pak Hermawan lagi.


''Aku ikuti kemauan Ranum dan juga El saja, pa.'' sahut Agam.


''Ranum, kamu mau tinggal di sini?'' tanya Agam.


''Aku ikut kamu aja.'' jawab Ranum.


''Wah, papa sangat senang mendengarnya. Setelah ini rumah pasti akan menjadi lebih ramai.'' ucap Pak Hermawan senang.


''Apa El mau tinggal bersama opa?'' tanya Pak Hermawan.


''Iya, opa! El mau tinggal di sini.'' jawab Elzein.


''Kalau begitu, apa El mau berkeliling? Opa sudah siapakan tempat bermain untuk kamu di dekat taman belakang.'' ucap Pak Hermawan.


''Ayo, opa! El mau lihat sekarang!'' seru Elzein senang.


''Hati-hati ya, nak. Jangan nakal!''


''Siap, bos!''


Elzein dan Pak Hermawan pun berjalan bersama-sama meninggalkan Agam dan Ranum yang masih berada di meja makan itu.


''Lihatlah, sepertinya papa sangat senang. Dia seperti menemukan mainan baru!'' ucap Agam dengan terkekeh.


''Hus.. Kamu ini ngawur aja!''

__ADS_1


__ADS_2