
Menjelang hari pernikahannya, Ranum memang tidak terlalu disibukkan dan dibuat pusing dengan segela persiapan pernikahan seperti yang sering terjadi pada beberapa calon pengantin pada umumnya. Dan, mulai hari ini ia juga telah mengajukan cuti spesial khusus bagi para karyawan yang hendak menikah.
Dan pada pagi ini, Ranum bangun lebih siang dari biasanya. Lalu ia pun berjalan menuju kamar putranya dan kembali memeluk putranya yang masih tertidur dengan lelap. Ia rapatkan lagi pelukannya pada tubuh mungil yang begitu ia cinta itu. Merasa sedikit terusik, Elzein pun sedikit menggeliat lalu kembali tertidur seolah merasakan kenyamanan yang sama.
''Oh, Tuhan. Rasanya sudah lama sekali aku tidak bisa sesantai ini.'' ucapnya lirih sambil terus memeluk putra semata wayangnya tersebut.
''Uhhh, rasanya nyaman sekali.'' imbuhnya lagi.
Tanpa ia sadari, ternyata Ranum kembali terlelap di pagi yang masih nampak gelap itu. Dan setelah beberapa saat berlalu, Ranum pun kembali mengerjapkan kelopak matanya untuk beradaptasi dengan terangnya mentari pagi yang menerobos masuk ke dalam ruangan melalui celah-celah tirai jendela di kamar bernuansa biru tua dan coklat muda itu.
Berulang kali Ranum mencoba membuka kedua matanya. Lalu tangannya meraba-raba sebuah nakas yang berada di dekat ranjang berbentuk dinosaurus itu untuk mengambil ponselnya dengan kedua matanya yang masih tertutup rapat seolah enggan terbuka.
''Jam berapa sih sekarang?'' ucapnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
''Ya ampun, sudah siang ternyata.'' ucap Ranum ketika melihat jam ponselnya sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Kruwek... kruwek... Terdengar sebuah suara yang cukup keras dari dalam perutnya.
''Duh, kok aku lapar banget ya.'' ucapnya lagi yang hendak bangkit dari ranjang empuk berbentuk dinosaurus itu. Ranum baru ingat, semalam ia memang melewatkan makan malamnya karena terlalu asyik menonton film bersama dengan Elzein.
''Pesan makanan atau masak ya? Aku lihat stok bahan makanan di kulkas dulu deh.'' gumamnya sambil mengumpulkan niat untuk turun dari ranjang yang nyaman dan empuk itu.
Saat Ranum hendak berjalan menuju dapur, tiba-tiba saja terdengar suara bel dari arah luar rumahnya.
''Siapa yang datang ya?'' gumamnya dalam hati.
Lalu Ranum pun segera bergegas menuju wastafel untuk mencuci wajah bangun tidurnya.
Ting tong! Suara bel yang terus berbunyi secara berulang-ulang kali.
''Sebentar! Nggak sabaran amat sih.'' gerutunya setelah mengeringkan wajahnya sambil berjalan menuju ke arah pintu.
Ting tong!
''Ya ampun, sabar woi!'' teriak Ranum namun sepertinya tidak terdengar dari arah luar karena bunyi bel itu masih terus berbunyi.
Ceklek! Suara pintu terbuka.
''Selamat pagi calon istriku!'' seru Agam dari balik pintu begitu Ranum membukakan pintu untuknya.
''Ternyata kamu, aku kira siapa.'' ucap Ranum yang nampak tidak terkejut melihat kedatangan calon suaminya.
''Kok gitu sih? Calon suami datang bukannya disambut dengan sebuah senyumana eh malah loyo gitu.'' gerutu Agam.
''Kamu sih datengnya kepagian.'' jawab Ranum.
''Oiya, aku membawa makanan untuk kalian.'' sahut Agam.
''Benarkah? Mana makanannya? Kebetulan sekali aku sudah sangat lapar.'' jawab Ranum sambil memindai barang bawaan calon suaminya itu namun tangannya nampak kosong dan tidak ada sebuah benda pun yang ia bawa.
__ADS_1
''Sebentar, aku ambilkan dulu di mobil.'' ucap Agam yang kembali berjalan menuju mobilnya untuk mengambil beberapa makanan yang sudah ia siapkan sejak subuh tadi.
''Tara!'' seru Agam sambil meletakan makanannya di atas meja.
''Wah, banyak banget!'' ucap Ranum dengan berbinar setelah melihat banyaknya makanan yang Agam bawa untuknya.
''Spesial untuk kamu. Aku sudah meminta bibi untuk memasak ini semua.'' ucap Agam.
''Wah, senangnya. Makasih....'' ucap Ranum dengan senyum lebarnya.
''Ngomong-ngomong dimana El?'' tanya Agam mencari keberadaan putranya.
''El masih tidur, sepertinya dia masih ngantuk karena kami semalam begadang.'' ucap Ranum sambil menata makanan itu ke dalam piring.
''Memangnya kalian habis ngapain kok begadang?'' tanya Agam.
''Nonton film.''
''Jadi kalian nonton film bersama tanpa mengajakku?'' protes Agam.
''Iya.'' jawab Ranum sambil menaruh nasi ke dalam piringnya.
''Sungguh teganya.'' ucap Agam dengan sendu.
''Ini tuh quality time antara ibu dan anak. Mumpung aku dan El sama-sama libur jadi kami memutuskan untuk menonton film di rumah. Setelah ini pasti akan sulit untukku bisa seperti itu lagi.'' ucap Ranum.
''Iya, tapi kan....'' belum sempat Ranum menyelesaikan ucapannya, sudah dipotong oleh Agam.
''Oh, aku tahu. Pasti kamu akan lebih banyak menghabiskan waktu denganku, kan?'' goda Agam dengan mengedipkan sebelah matanya.
''Apaan sih, dasar narsis!'' ucap Ranum.
''Tapi bener kan apa yang aku katakan?'' ucap Agam dengan terus menggoda calon istrinya itu.
''Tau ah, susah ngomong sama orang yang kePDan!'' jawab Ranum.
Agam pun hanya bisa tertawa puas karena telah berhasil menggoda calon istrinya itu.
''Mama? Papa?'' panggil seseorang yang sedang berdiri di dekat meja makan itu sambil menggosok-gosokan matanya dengan tangan.
''Eh anak papa udah bangun. Sini jagoan kita sarapan dulu..'' ucap Agam.
''Eits.... Cuci muka dulu!'' sahut Ranum.
''Iya, mama...'' jawab Elzein patuh.
Keluarga kecil itu pun menikmati sarapan pagi dengan perasaan bahagia dan diselingi dengan canda tawa yang semakin menambah hangat suasana.
...----------------...
__ADS_1
''Papa, jadi seharian ini kita hanya di rumah terus nih?'' tanya Elzein yang sudah merasa bosan karena sejak pagi ia hanya bermain-main saja di dalam rumah.
''Iya, sayang. Dua hari lagi kan papa dan mama akan menikah, ingat kan kata opa kemarin?'' tanya Agam pada Elzein.
''Inget, papa.'' jawab Elzein dengan sedikit sendu.
''Apa kamu bosan? Mau main balapan sama papa atau kita battle game aja?''
''Enggak ah, El bosan pa.'' jawab Elzein.
''Terus, apa lagi ya yang belum kita lakukan?'' ucap Agam dengan terus berpikir.
''Kita cari makan yuk, pa. El mulai laper lagi nih.'' ucap Elzein.
''Oke. Kamu mau makan apa memangnya?'' tanya Agam.
''Ratatouille!'' seru Elzein yang langsung kembali bersemangat.
''Oke. Let's go!'' seru Agam.
''Yey!''
''Eits, mama diajak juga dong masa ditinggal.'' ucap Agam mengingatkan.
''Oh iya, El hampir lupa. Mama ngapain sih lama banget di kamar. Dari tadi nggak keluar-keluar.'' gerutu Elzein.
''Samperin gih!'' perintah Agam.
''Iya, pa.''
Elzein pun segera berjalan menuju kamar mamanya untuk mengajak sang mama pergi bersama dengannya.
''Mama! Mama!'' panggil Elzein dengan cukup keras.
''Ya sayang!'' jawab Ranum yang ternyata sedang memasukan pakaian dan beberapa perlengkapannya ke dalam koper.
''Mama mau kemana? Kenapa bajunya di masukan ke dalam koper?'' tanya Elzein begitu tiba di kamar Ranum.
''Besok kan kita akan pindah ke rumah opa, apa El lupa?'' tanya Ranum.
''Oh, iya!'' ucap Elzein dengan senyumannya.
''Wah, ada yang udah siap mau pindahan nih?'' sahut Agam yang tiba-tiba saja sudah berada di dalam kamar itu.
''Ngapain kamu ke sini? Ini kan kamar cewek!'' ucap Ranum pada Agam.
''Ya elah, pelit amat dah!'' ucap Agam dengan memanyunkan bibirnya.
''Bentar lagi kan kita juga bakalan sekamar, seranjang seperaduan pula.'' ucap Agam yang hanya mampu ia pendam dalam hatinya.
__ADS_1