
''Ya, saya senang punya karyawan seperti kamu. Tapi... Saya akan jauh lebih senang lagi jika karyawan seperti kamu tidak ada di perusahaan saya.'' ucap Agam dingin.
''Ma-maksud bapak apa?'' tanya Tina dengan raut muka yang langsung berubah drastis.
''Segera kemasi barang-barang kamu!'' ucap Agam.
''Tapi kenapa pak? Apa salah saya?'' tanya Tina tak terima dengan keputusan atasannya tersebut.
''Salah kamu? Saya perhatikan sudah sejak lama kerjamu tidak baik dan juga....'' Agam melirik ke arah Ranum yang muncul dari balik kamar khusus yang ada ruangan Agam.
Tina pun mengikuti arah pandangan mata atasannya itu, dan betapa terkejutnya ia saat sosok Ranum muncul dari ruangan itu.
''Apa kamu sudah memahami kesalahanmu yang kedua?'' tanya Agam dengan tatapan elangnya yang mampu membuat lawan bicaranya langsung tak berkutik saat itu juga.
...----------------...
Malam in langit terlihat sangat cantik, bintang-bintang bertaburan dengan kerlap-kerlipnya, dan bulan yang begitu menawan. Angin berhembus membuat rambut Ranum bergoyang terbawa sepoi angin.
Ranum terdiam sambil memandang hamparan luas langit malam. Hampir setiap hari, Ranum menumpahkan semua isi hatinya di taman belakang rumahnya. Baginya, tempat itu tenang dan mudah dijangkau, yang menjadi tempat favoritnya selama ini. Tidak lupa dengan buku dan pena favoritnya untuk menuliskan kejadian-kejadian yang ada di dalam hati dan pikirannya.
Akhir-akhir ini Ranum terlihat seperti banyak sekali memikirkan banyak hal. Dan pada malam ini kenangan-kenangan itu kembali menyeruak di kepalanya. Ranum menengadahkan kepalanya ke langit. Tak terasa mata yang sedari tadi memanas menahan tangis, akhirnya buliran kristal bening itu mengalir di pipi lembutnya.
Ranum mengingat kejadian enam tahun yang lalu. Saat keluarga kecil itu melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya dengan keadaan hujan yang mengguyur sangat hebat, ditambah lampu-lampu di pinggir jalan terlihat remang-remang, membuat penglihatan ayah Ranum tidak terlalu jelas.
Tidak disangka, mobil itu akhirnya masuk ke jurang yang sangat dalam. Dengan keadaan yang seperti ini, kemungkinannya jika berteriak meminta pertolongan, hanya 0,001 persen orang yang mendengar. Orang-orang yang ada di dalam mobil sudah tidak ada yang sadarkan diri, kecuali Ranum yang hanya setengah sadar. Samar-samar terlihat beberapa orang yang menemukan mobil mereka, dan mereka segera dilarikan menuju rumah sakit terdekat.
Beruntung Ranum dan ibunya selamat dari kecelakaan tunggal itu. Sedangkan ayah dan adik laki-lakinya yang masih berusia lima belas tahun harus pergi mendahuluinya. Ranum hanya mengalami luka-luka ringan pada lengan dan kakinya, sedangkan ibunya sempat koma dua bulan di rumah sakit kala itu sebelum akhirnya sadar untuk sebentar dan tak lama kemudian meninggal karena luka pada bagian belakang kepalanya.
Sejak kematian orang-orang yang begitu ia cintai, Ranum tumbuh menjadi pribadi yang murung, hingga akhirnya bertemu dengan seorang pria yang mampu mengubah sisi gelap dalam hidupnya. Pria itu mampu membawa kembali terang dunianya. Namun, bahagia itu juga tak bertahan lama karena Agam meninggalkannya bahkan juga membencinya.
__ADS_1
Ranum menangis sejadi-jadinya. Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, bengkak di matanya tak pernah luput dari wajah cantiknya. Hingga malaikat kecil dengan paras tampan mampu merubah hidupnya kembali. Ya, dia adalah Elzein, putra semata wayangnya hasil buah cintanya dengan Agam. Laki-laki yang berhasil berkali-kali menjungkir balikkan dunianya.
Ranum kembali teringat tentang peristiwa di ruangan Agam siang tadi. Dengan lantang Agam memberitahukan pada seluruh karyawannya jika ia adalah kekasihnya, ibu dari putra semata wayangnya.
''Apa kamu tahu siapa dia?'' tanya Agam pada Tina yang nampak terdiam kaku begitu melihat Ranum keluar dari ruangan khusus yang ada di ruangan kerjanya. Tina nampak ternganga dengan keringat yang jatuh membasahi dahinya, terkejut dan tak menyangka.
''Ya dia adalah Ranum, orang yang sangat aku cintai. Kekasih hatiku dan juga ibu dari putra kandungku. Orang yang sudah kamu jadikan bahan gosip tak bermutu itu.'' ucap Agam dengan menekankan setiap kata dalam kalimatnya.
Glek! Dengan susah payah Tina menelan ludahnya saat mendengar apa yang atasannya itu katakan.
''Kemasi barang-barangmu dan tinggalkan perusahaan ini detik ini juga!'' ucap Agam dingin dan tak terbantahkan.
''Tapi pak, bukan saya yang menyebarkan foto-foto itu!'' elak Tina masih berusaha untuk membela dirinya sendiri.
Namun, Agam tetap pada pendiriannya.
''Pak, saya nggak salah pak! Bukan saya yang menyebarkan foto itu!'' teriak Tina dengan histeris.
''Lepasin!'' maki Tina pada Hardy.
''Aaaggh!!!!! Bukan saya pak! Saya nggak salah!'' teriak Tina histeris.
Ranum pun merasa tak enak hati dan merasa kasihan pada Tina, namun ia tak dapat berbuat banyak. Ia tak punya kuasa dan tak berani memohon pada Agam, karena ia juga menyadari Agam melakukan semua itu untuk dirinya.
''Agam?'' panggil Ranum setelah Hardy berhasil membawa Tina keluar dari ruangan Agam.
''Aku melakukan ini bukan karena kamu, tapi dia memang seharusnya meninggalkan perusahaan ini sejak lama. Perempuan itu telah berulang kali melakukan kesalahan. Dan belum lama ini dia juga terbukti telah membocorkan ide perusahaan dan menjual ide itu pada perusahaan lain, hal itu tentu saja sangat merugikan perusahaan. Bahkan perusahaan harus merugi hingga ratusan juta rupiah.'' ucap Agam sebelum Ranum salah sangka pada keputusannya.
''Benarkah?'' tanya Ranum dengan terkejut.
__ADS_1
''Ya, proyek Amarta yang harus gagal karena ide kita ternyata dicuri oleh perusahaan lain, perempuan tadi lah yang ternyata membocorkan ide itu pada perusahaan Genta Buana.'' terang Agam.
''Astaga! Aku tidak menyangka jika Tina akan berbuat seperti itu.'' ucap Ranum.
''Hm, sekarang kamu sudah mengertikan?'' ucap Agam.
''Ya, aku mengerti.'' jawab Ranum dengan tulus.
''Kamu tenang saja, setelah ini berita dan gosip itu akan menghilang. Aku sudah meminta Hardy untuk mengurus semuanya.'' ucap Agam.
''Hah?'' Ranum pun menautkan kedua alisnya tanda tak mengerti.
''Apa kamu melaporkan Tina pada polisi?'' tanya Ranum.
''Kemari dan lihat lah dulu....'' Agam membawa Ranum untuk berjalan dan mendekat ke arah meja kerjanya.
''Ada apa?'' tanya Ranum penasaran.
Lalu, Agam pun mengambil remot dan mulai menyalakan televisi besar itu. Di sana nampak Tina yang sedang duduk tertunduk dan sedang menyampaikan permohonan maafnya secara terbuka pada Ranum yang langsung disiarkan melalui siaran televisi perusahaannya.
Begitu siaran permintaan maaf itu selesai di sampaikan oleh Tina, Ranum pun segera menoleh dan menatap Agam dengan lekat.
''Jangan menatapku seperti itu, lama-lama aku bisa pingsan dan nggak kuat jika kamu menatapku seperti itu..'' ucap Agam salah tingkah.
''Haiiiss!'' kesal Ranum karena mode seriusnya malah dikacaukan oleh Agam.
Lalu, Agam pun segera meriah tangan Ranum dan membawanya dalam genggamannya.
''Ranum, aku mencintaimu....''
__ADS_1