Kidung Renjana

Kidung Renjana
Janji Temu


__ADS_3

Deg! Seketika jantung Agam seolah berhenti berdetak untuk sejenak saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Ranum.


''Kenapa? Kenapa Ranum? Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi? Tidak.. tidak.. Aku tau kamu masih sangat mencintaiku...'' ucap Agam dengan kekalutan yang mulai menyeruak di hatinya.


''Agam, saat ini status kita hanyalah sebagai orang tua Elzein. Aku ibunya dan kamu adalah ayah kandungnya dan tidak lebih dari itu.'' kata Ranum dengan sedikit menjeda kalimatnya.


''Ranum, ayolah. Aku mohon kamu jangan seperti ini...'' pinta Agam.


''Aku tahu aku salah, bahkan sangat salah. Tapi tolong beri aku satu kesempatan lagi untuk menebus semua kesalahanku selama ini.'' pinta Agam dengan sungguh-sungguh.


''Agam, sudahlah...'' ucap Ranum.


''Nggak bisa Ranum, aku mohon.. Aku bisa gila jika kamu tetap seperti ini..'' potong Agam dengan kesedihan yang terlukis di wajahnya.


''Maaf aku nggak bisa dan aku mohon kamu mengertilah...'' ucap Ranum dengan memalingkan wajahnya dari hadapan lelaki yang kini tengah berdiri dengan menatap wajahnya, sendu.


''Nggak bisa! Aku akan buktikan kepadamu kalau aku benar-benar mencintai kamu. Aku sangat mencintai kalian. Aku sangat mencintaimu kamu Ranum, aku juga sangat menyayangi El! Nggak ada dan nggak pernah ada wanita lain dalam hidupku selain kamu. Asal kamu tahu, selama ini aku juga merasa sangat tersiksa berada jauh dari kalian.'' ucap Agam dengan setitik air mata yang mulai membasahi wajah tampannya.


''Ranum... aku mohon...'' pinta Agam dengan sangat mengiba dan memohon pada wanitanya itu.


''Agam, mengertilah.... Aku masih membutuhkan waktu untuk mencerna dan memahami semua ini.'' ucap Ranum dengan suara yang mulai terdengar serak karena tangisnya. Sebenarnya ia merasa tidak tega melihat Agam terus memohon dan mengiba seperti itu padanya, namun untuk memulai kembali kasih dengan Agam, jauh di dalam hatihya masih ada sesuatu yang terasa begitu mengganjal dan sangat menyesakkan.


''Harus bagaimana lagi aku membuktikan kepadamu? Aku benar-benar sungguh-sungguh, Ranum...'' ucap Agam yang mulai frustasi karena Ranum sama sekali tidak menerima kesungguhan hatinya.


''Aku mohon beri aku waktu. Aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya.'' jawab Ranum dengan cukup tegas.


''Karena terkadang kita harus merelakan sesuatu hal bukan karena kita menyerah atau merasa usai dan sudah. Tetapi mengerti dan memahami bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa untuk dipaksakan.'' jawab Ranum dengan lirih.


''Sekarang aku mohon pergilah dari sini....'' ucap Ranum dengan air matanya yang juga ikut berderai.


''Baiklah. Aku akan pergi sekarang. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Akan aku buktikan kalau aku benar-benar dan sungguh-sungguh. Dan, suatu saat nanti aku pastikan jika aku akan membawa kalian kembali ke dalam pelukanku.'' ucap Agam sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah Ranum.


Melupakan memang tak akan pernah mudah. Merelakan yang pernah ada menjadi tidak ada adalah sebuah kerumitan. Mungkinkah akan kembali sama rasa dan kasih itu? Karena bersamamu seperti mimpi semu, hanya bisa merasakan abadinya lara. Meski dalam hati tersimpan banyak doa, biarlah langit yang memutuskan.

__ADS_1


Ranum tak tahu lagi bagaimana caranya agar ia bisa menghentikan air matanya, karena impian-impian itu hanya sebatas dalam mimpi. Biarlah langit yang memutuskan tentang akhir cerita cinta kita.


...----------------...


Akhir minggu telah berlalu, kini tiba waktunya untuk menyambut awal hari yang baru. Seperti siang ini, tiba-tiba sebuah dering panggilan masuk ke dalam ponsel Ranum.


Kring!! Kring!!!


Ranum pun segera meraih ponsel dari dalam tasnya. Dalam layar ponselnya terlihat sebuah panggilan dari nomor yang tidak ada di dalam kontak teleponnya.


''Nomor siapa lagi sih ini?'' gumam Ranum dan memilih untuk mengabaikan nomor tak dikenal itu.


Lagi, sebuah panggilan kembali berdering di ponselnya untuk kesekian kali. Dan pada panggilan kali ini Ranum pun memutuskan untuk mengangkat panggilan itu.


''Siapa sih nelpon mulu.'' gerutu Ranum karena merasa kesal pada panggilan yang terus berdering itu.


''Apaan sih, Num?'' sahut Maya dari seberang mejanya.


''Nggak tau, nomor asing dari tadi telepon mulu.'' jawab Ranum.


''Dih!'' decak Ranum namun pada akhirnya ia jawab juga telepon itu.


''Hallo?'' sapa Ranum begitu menggeser tanda hijau pada layar ponselnya.


''Selamat siang. Ya betul dengan saya sendiri. Emm, maaf sebelumnya saya berbicara dengan siapa ya?'' tanya Ranum dengan sopan.


''Ba-baik, pak. Bi-bisa.'' jawab Ranum dengan tergagap setelah mengetahui orang yang sedang meneleponnya.


''Iya, pak. Saya akan segera ke sana.'' jawab Ranum setelah mengakhiri percakapan di telepon itu.


Ranum segera meletakkan ponselnya di atas meja. Ia menata kembali debaran di jantungnya karena tidak menduga akan mendapatkan telepon itu.


''Kenapa?'' tanya Maya penasaran.

__ADS_1


''Aku harus segera ke restoran Bouttier.'' jawab Ranum.


''Mau ngapain?'' tanya Maya lagi.


''Nanti aja ya ceritanya, aku harus pergi sekarang.'' jawab Ranum sambil mengambil tas dan kunci mobilnya.


''Woi! Ranum, main kabur aja sih.'' ucap Maya yang pertanyaannya diabaikan oleh sahabatnya itu.


Ranum berjalan dengan perasaan yang tak tenang. Pikirannya berkelana entah kemana begitu mendapatkan telepon dari seseorang yang saat ini sudah menunggunya di restoran yang susah di janjikan padanya sebelumnya.


Bruk!


''Aduh!'' Ranum memegangi keningnya karena tanpa sengaja menabrak seorang laki-laki jangkung yang tak lain adalah Agam saat hendak berjalan menuju ke parkiran mobil.


''Ranum, kamu nggak kenapa-kenapa kan?'' tanya Agam begitu mengetahui orang yang menabraknya adalah Ranum.


''Nggak. Aku nggak papa.'' jawab Ranum cepat.


''Mau kemana? Kenapa buru-buru seperti itu?'' tanya Agam lagi.


Mendengar pertanyaan Agam, Ranum pun hanya menatap sosok lelaki jangkung di hadapannya itu dengan tatapan yang tak terbaca.


''Maaf aku harus pergi sekarang juga.'' jawab Ranum dengan berlalu. Ranum pun segera melangkah pergi meninggalkan Agam dan juga Hardy yang masih berdiri di tempat itu.


''Ranum!'' panggil Agam dengan keras karena Ranum pergi dengan begitu saja. Ia pun segera mengejar pujaan hatinya itu. Namun usahanya sia-sia karena Ranum telah melajukan mobilnya meninggalkan tempat parkir itu.


''Ayo cepat kejar! Kenapa diam saja!'' perintah Agam pada Hardy untuk segera masuk ke dalam mobil.


''Tapi bos kita kan sudah ada janji dengan Pak Ibrahim sekarang.'' jawab Hardy mengingatkan atasannya itu.


''Tunda saja! Sebelum Ranum pergi lebih jauh! Aku yakin pasti ada yang tidak beres!'' ucap Agam kesal.


''Nggak bisa bos, saat ini kita sudah ditunggu.'' ucap Hardy dengan menunjukkan sebuah panggilan pada layar ponselnya yang tertera sebuah panggilan telepon dari Robi, asisten Pak Ibrahim yang sudah menunggu mereka di tempat yang telah di janjikan.

__ADS_1


''Ah, sial!!'' gerutu Agam karena tak berhasil mengejar kepergian Ranum.


__ADS_2