Kidung Renjana

Kidung Renjana
Tirani


__ADS_3

''Tidak usah terlalu dipikirkan dan jangan perdulikan omongan orang lain. Lagi pula kamu diterima kerja di perusahaan kan memang karena kemampuan yang kamu miliki dan juga atas dasar dari kualitas diri kamu sendiri. Bahkan aku sendiri pun tidak tahu kalau selama ini kamu bekerja di perusahaan papa.'' ucap Agam meyakinkan keraguan hati wanitanya tersebut.


''Iya, tapi....'' ucap Ranum ragu.


''Percaya padaku dan semua akan baik-baik saja!'' sahut Agam.


''Mama! Papa! Cepatlah. Nanti El keburu terlambat ini sekolahnya.'' teriak Elzein yang sudah berada di dalam mobil.


''Iya, nak.'' sahut Agam.


Agam pun kembali menatap Ranum dan mengulurkan tangannya untuk membawa Ranum segera naik ke dalam mobilnya. Setelah berpikir untuk sejenak, akhirnya Ranum pun bersedia ikut dan naik ke dalam mobilnya. Melihat itu, Agam pun tentu saja merasa sangat senang dan dapat tersenyum dengan puas karena akhirnya Ranum mau ikut bersamanya.


Di sepanjang perjalanan menuju sekolah Elzein, canda tawa tak pernah lepas dari wajah mereka. Dan keceriaan jelas tergambar di wajah Elzein, pagi ini ia merasa sangat bahagia sekali.


''Pulang sekolah nanti yang akan menjemput El siapa, ma?'' tanya Elzein.


''Tentu saja papa dan mama yang akan menjemput kamu.'' sahut Agam.


''Benarkah?'' seru Elzein dengan senang.


''Tentu saja, benar begitu kan mama?'' tanya Agam dengan menggoda perempuan yang sedang duduk di sebelah bangku kemudinya.


''Haisss!''


''Nanti El pulang lebih awal, kata bu Alice kamu nanti pulang jam dua siang karena semua guru akan menghadiri rapat tahunan. Jadi, mama akan meminta tolong pada papa Yuda untuk menjemput kamu.'' ucap Ranum.


''Kok Yuda?'' protes Agam begitu mendengar nama yang masih ia anggap sebagai rivalnya itu disebut oleh Ranum dan juga Elzein.


''Berhenti memanggil lelaki itu dengan sebutan papa. Ingat ya El, kamu sekarang sudah punya papa. Papa yang sungguhan!'' protes Agam tak terima.


''Iya-iya! Lagian juga yang berinisiatif memanggil Yuda dengan sebutan itu kan El sendiri.'' jawab Ranum tak mau kalah.


''Apa papa cemburu?'' goda Elzein dengan terkekeh.


''Tidak! Mana mungkin papa cemburu!'' elak Agam dengan tetap menjaga martabatnya.


''Dasar!'' sahut Ranum.


Dari kursi belakang, Elzein pun tak dapat menyembunyikan tawanya saat melihat ayahnya yang tak mau mengakui perasaan cemburu itu.


''Terus kalau bukan Yuda, lalu siapa lagi yang akan menjemput El nanti?'' tanya Ranum pada Agam.

__ADS_1


''Yah.... Harusnya papa dan mama dong yang jemput El...'' sahut Elzein dengan sedikit nada kecewa.


''Apa El tidak senang kalau papa Yuda yang menjemput kamu? Kalau mama sedang bekerja kan biasanya juga begitu, nak...'' ucap Ranum memberi pengertian pada putranya.


''El senang kok mama kalau dijemput sama papa Yuda, tapi El akan jauh lebih senang kalau papa dan mama yang menjemput El...'' ucap Elzein dengan mendudukkan kepalanya.


''Oke! Sesuai permintaan yang mulia, nanti mama dan papa yang akan menjemput kamu.'' ucap Agam dengan semangat.


''Tapi kan itu masih jam kerja, mana bisa aku meninggalkan kantor seenaknya sendiri.'' protes Ranum.


''Aku kan bos di sini, jadi kamu tidak perlu risau.'' jawab Agam santai.


''Mentang-mentang bos terus bisa seenaknya sendiri, gitu!'' ucap Ranum.


''Kan tidak setiap hari, lagi pula ini semua menyangkut kepentingan keluargaku, demi putra kandungku.'' jawab Agam dengan santai.


''Terserahlah!'' jawab Ranum kalah.


Melihat Ranum yang kalah berdebat, Agam dan Elzein pun saling melemparkan senyum dan saling mengacungkan jempol mereka.


Begitu tiba di sekolah Elzein, Ranum pun segera membantu Elzein untuk turun dari mobil dan merapikan semua perlengkapan sekolah Elzein.


''Iya, mama.'' jawab Elzein patuh dan segera menghampiri Agam.


''Masuklah!'' perintah Ranum.


''Mama.... El ingin diantar sampai ke dalam..'' rengek Elzein.


''Tumben? Memangnya kenapa?'' tanya Ranum.


''Soalnya hari ini El sangat senang sekali bisa diantar sekolah sama papa dan mama.'' jawab Elzein.


''Baiklah, ayo papa antar!'' sahut Agam.


Mereka bertiga pun berjalan beriringan dengan bergandengan tangan dengan posisi Elzein yang berada di tengah-tengah kedua orang tuanya. Sebenarnya Elzein ingin menunjukkan pada teman-temannya di sekolah kalau ia juga memiliki papa seperti teman-temannya yang lain. Elzein ingin menunjukkan pada semua orang kalau dia memiliki orang tua yang hebat dan sangat keren. Ia seolah ingin memberitahukan pada dunia jika ia memiliki keluarga yang utuh seperti teman-temannya yang lain.


Setelah mengantarkan Elzein sekolah, kini Agam dan Ranum pun kembali melaju menuju kantor mereka. Sejak meninggalkan sekolah Elzein tadi, di sepanjang perjalanan Ranum lebih banyak diam dan pandangannya terus menatap ke arah luar jendela mobil.


''Ada apa? Kamu nggak kenapa-kenapa kan? Aku perhatikan sejak tadi kamu hanya diam saja..'' tanya Agam.


''Aku ngga papa kok, aku cuma lagi lihat pemandangan di luar saja.'' jawab Ranum sekenanya.

__ADS_1


''Asal kamu tahu saja, aku lebih suka kamu yang cerewet dan selalu marah-marah padaku dari pada melihat kamu yang diam terus seperti ini.'' ucap Agam lagi.


''Apa kamu bilang tadi? Jadi menurut kamu aku ini cerewet dan pemarah, hah?'' tanya Ranum.


''Hahahah... Tuh kan marah lagi...'' ucap Agam dengan terkekeh.


''Kamu tuh nyebelin tau nggak!'' kesal Ranum.


''Jangan marah, aku hanya bercanda sayang.'' jawab Agam dengan terkekeh.


Deg!


Ranum langsung terdiam begitu mendengar apa yang baru saja Agam katakan. Begitu pula dengan Agam, ia jadi merasa tak enak hati dan malah menjadi canggung.


''Maaf jika aku lancang dan membuat kamu menjadi tidak nyaman dengan apa yang aku katakan tadi.'' ucap Agam yang takut jika Ranum akan kembali merasa tak nyaman bersamanya dan malah menjauhinya kembali.


Ranum pun hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia lebih memilih untuk tidak menjawab dan mengabaikan apa yang Agam katakan tadi.


Setelah lima belas menit perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di pelataran kantor. Agam pun segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus untuk para petinggi perusahaan.


''Sudah sampai!'' ucap Agam setelah memarkirkan mobilnya.


Lalu, ia pun kembali menatap wanita yang sedang duduk di sebelahnya itu yang masih terdiam.


''Kita turun dan masuk bersama-sama ya?'' ucap Agam.


''Tapi...'' Ranum menjeda kalimatnya.


''Apa kamu takut?'' tanya Agam dengan memperhatikan wajah Ranum lekat-lekat.


Lalu, Ranum pun berganti menatap Agam seolah-olah sedang mencari sesuatu di sana dan menyelami isi relung mata itu dalam-dalam.


''Jangan takut, ada aku.'' ucap Agam yang langsung meraih tangan Ranum dan membawa ke dalam genggaman tangannya.


''Akhir pekan nanti aku akan membawa kalian untuk bertemu dengan papa. Aku akan mengenalkan kamu dan juga Elzein pada papa. Dia pasti akan sangat senang bertemu dengan kalian.'' ucap Agam dengan sungguh-sungguh.


''Hm.'' Ranum pun mengangguk sebagai jawaban.


''Kalau begitu ayo kita turun sekarang!'' ajak Agam.


''Agam, tunggu dulu!'' seru Ranum menahan tangan kekar itu.

__ADS_1


__ADS_2